BAINDONESIA.CO – Menurut laporan wartawan Mehr, harga minyak mentah dunia pada perdagangan Rabu malam, 18 Februari 2025, mencatat lonjakan signifikan yang mengompensasi penurunan sehari sebelumnya.
Meningkatnya ketegangan geopolitik setelah gagalnya perundingan damai Rusia–Ukraina serta belum tercapainya hasil dalam pembicaraan nuklir Iran–Amerika Serikat (AS) kembali memuncakkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak.
Dalam perdagangan Rabu lalu di pasar global, harga minyak mentah Brent Laut Utara naik 3,8 persen dibanding harga penutupan sebelumnya dan menembus level 70 dolar per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga meningkat lebih dari 4,6 persen, naik dari level terendah hariannya hingga mencapai 65 dolar per barel.
Namun, pada saat laporan ini disusun, kedua indeks minyak tersebut sedikit terkoreksi dari level tertinggi hariannya dan diperdagangkan sedikit di bawah puncak tersebut.
Dari Ukraina hingga Teluk Persia
Pasar minyak yang dalam beberapa sesi terakhir dipengaruhi gelombang optimisme atas kemajuan diplomasi, tiba-tiba berbalik arah. Perundingan damai Rusia dan Ukraina yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa di Jenewa berakhir hanya setelah dua jam tanpa hasil yang jelas.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyebut pembicaraan itu “sulit” dan menuduh Rusia menghambat proses.
Di sisi lain, Vladimir Medinsky, negosiator utama Rusia, menggunakan nada yang lebih diplomatis dan mengumumkan kemungkinan putaran baru dalam waktu dekat, tetapi ketiadaan kemajuan segera telah mengurangi kepercayaan pasar.
Secara paralel, berdasarkan laporan situs Trading Economics, perundingan nuklir Iran dan AS juga belum menghasilkan kesimpulan yang jelas.
Wakil Presiden AS, JD Vance, dengan nada tegas menyatakan bahwa Teheran tidak menghormati “garis merah” Washington dalam negosiasi, dan jika diplomasi gagal, opsi militer mungkin akan dipertimbangkan.
Pernyataan ini muncul di tengah laporan tentang latihan militer laut gabungan Iran dan Rusia di Laut Oman dan utara Samudra Hindia—wilayah yang berdekatan dengan Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia.
Meski pejabat Iran menggambarkan pembicaraan sebagai “konstruktif”, perbedaan penilaian ini meningkatkan ketidakpastian di pasar.
Data Mingguan dan Risiko Pasokan
Selain perkembangan politik, pelaku pasar juga menantikan rilis data mingguan cadangan minyak mentah AS. Laporan American Petroleum Institute (API) dirilis hari Rabu dan data resmi dari Energy Information Administration (EIA) dipublikasikan pada hari Kamis.
Analisis menunjukkan kemungkinan peningkatan cadangan minyak mentah pekan lalu, sementara cadangan bensin dan produk distilasi lainnya diperkirakan menurun. Data ini dapat meningkatkan volatilitas dalam jangka pendek.
Pasar Menanti Kejelasan
Di satu sisi terdapat harapan akan tercapainya kesepakatan diplomatik, namun di sisi lain ada risiko meningkatnya konflik yang membuat pasar berada dalam kondisi tidak menentu dan penuh ketidakpastian.
Mengingat belum adanya hasil nyata dari perundingan saat ini serta berlanjutnya manuver militer di kawasan, tampaknya risiko geopolitik akan tetap menjadi pendorong utama harga hingga tercapai kejelasan lebih lanjut dalam proses diplomatik. (*)
Sumber: Mehr News









