Peran BRICS dalam Pembangunan Berkelanjutan

BAINDONESIA.CO – Menurut laporan Kantor Berita Mehr yang mengutip TV BRICS, banyak pemimpin negara dan pakar meyakini bahwa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kecil kemungkinan dapat tercapai pada 2030 sesuai rencana awal. Di tengah situasi ini, BRICS tengah membentuk mekanisme alternatif untuk pembangunan negara-negara Global South (Selatan Global). Keberlanjutan ekonomi, lingkungan, dan sosial bagi negara-negara di seluruh dunia tercermin dalam 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang disahkan Majelis Umum PBB. Negara-negara BRICS secara aktif mengintegrasikan tujuan-tujuan tersebut ke dalam strategi nasional mereka. Kritik terhadap Model Keberlanjutan Seperangkat 17 tujuan yang saling terkait diperkenalkan pada 2015 sebagai cetak biru untuk mencapai masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi semua, dengan target pencapaian pada 2030. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kekhawatiran akan kegagalan memenuhi tenggat waktu tersebut semakin meningkat. Pada September 2025, pertemuan Menteri Luar Negeri G20 diselenggarakan di sela-sela Sidang ke-80 Majelis Umum PBB. Saat itu, Afrika Selatan memegang presidensi G20. Perwakilan G20 terutama menyoroti komitmen pendanaan untuk SDGs. Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, memperingatkan adanya risiko defisit pendanaan tahunan sebesar 4 triliun dolar. Kekurangan dana tersebut menghambat pemenuhan komitmen negara-negara hingga 2030. Para pakar menilai kekhawatiran ini beralasan, karena banyak lembaga keuangan internasional tidak menunjukkan komitmen yang memadai. Cyril Ramaphosa, Presiden Afrika Selatan, juga menyampaikan kekhawatiran serupa. Ia mencatat bahwa hingga 85 persen target SDGs terancam tidak tercapai. Tantangan seperti pertumbuhan ekonomi yang rendah, tingginya utang publik, pengetatan kondisi keuangan, dan keterbatasan anggaran telah melemahkan posisi banyak negara. Brasil juga menyatakan kekhawatiran atas mundurnya lembaga pemberi pinjaman internasional dari komitmen mereka mendukung negara berkembang dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Pada 2024, gagasan konsep pembangunan baru diajukan dalam Forum Akademik BRICS, dengan fokus utama pada transisi energi. Konsep ini menekankan pemanfaatan maksimal sumber daya terbarukan, sumber daya tak berwujud, serta terutama sumber daya intelektual seperti kecerdasan buatan, teknologi informasi, sistem energi sirkular, dan pertanian hijau. Gagasan ini berada dalam kerangka paradigma baru pembangunan berkelanjutan, di mana SDGs tidak sekadar bersifat deklaratif, melainkan dilaksanakan melalui investasi dan program efektif dalam kerja sama Selatan-Selatan. Ide utamanya adalah agar negara berkembang membiayai pembangunan mereka sendiri, bukan bergantung pada bantuan resmi pembangunan. Antonina Gomulina, dosen senior Departemen Ekonomi Global dan Statistik Universitas Negeri Yaroslavl, mengatakan kepada TV BRICS bahwa BRICS sedang membentuk mekanisme alternatif pembiayaan pembangunan berkelanjutan di negara berkembang, dengan New Development Bank sebagai lembaga kunci. Sejak 2015, bank ini memprioritaskan investasi jangka panjang di sektor-sektor dengan efek limpahan tinggi seperti energi bersih, penyediaan air, serta infrastruktur sosial dan lingkungan, yang selaras dengan SDG nomor 6, 7, 9, dan 13. Tulang Punggung Ekonomi Valery Abramov, doktor ekonomi dan anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Alam Rusia, menilai BRICS sebagai model baru untuk mencapai SDGs. Kerja sama negara-negara BRICS berlandaskan Strategi Kemitraan Ekonomi BRICS hingga 2025. Secara kolektif, negara-negara BRICS mencakup 30 persen daratan dunia, 43 persen populasi global, 21 persen PDB dunia, 17,3 persen perdagangan barang global, 12,7 persen perdagangan jasa global, dan 45 persen produksi pertanian dunia. Dengan kapasitas produksi dan potensi pasar sebesar itu, BRICS memainkan peran vital dalam ekonomi global dan secara logis dapat mengandalkan sumber dayanya sendiri untuk pembangunan. Hingga 2022, negara-negara BRICS menyumbang sekitar 42 persen produksi listrik energi terbarukan dunia, menunjukkan kontribusi nyata terhadap transisi energi global. SDGs Melalui Pembangunan Infrastruktur Total proyek yang disetujui New Development Bank untuk pembangunan Global South mencapai 39 miliar dolar. Dana tersebut dialokasikan untuk meningkatkan kapasitas energi bersih, mengurangi emisi karbon dioksida, membangun 35 ribu unit rumah, 43 sekolah, 1.400 kilometer terowongan dan kanal, serta 40.400 kilometer jalan. Para pakar juga menyoroti proyek besar seperti Taman Surya Benban di Mesir, yang menjadi elemen kunci strategi negara tersebut untuk mencapai 42 persen energi terbarukan dalam bauran energinya pada 2030. Proyek ini berkapasitas sekitar 1,6 gigawatt dan mendukung SDG nomor 7 dan 13. Di India, program Swachh Bharat Mission-Gramin membangun sekitar 90 juta fasilitas sanitasi antara 2014 hingga 2019, meningkatkan akses sanitasi dan mendukung SDG nomor 6, 3, 5, dan 11. Di Tiongkok, program Kota Spons dirancang untuk mengatasi banjir perkotaan, kelangkaan air, dan polusi akibat urbanisasi cepat dan perubahan iklim, sejalan dengan SDG nomor 11 dan 13. Antonina Gomulina juga mencontohkan proyek Sharjah Sustainable City di Uni Emirat Arab, yang menggunakan bangunan hemat energi, tenaga surya, dan sistem daur ulang air sebagai model kota berkelanjutan. Dimensi Sosial SDGs Meski demikian, negara-negara BRICS masih menghadapi tantangan seperti penyakit menular (tuberkulosis, kolera, dan lain-lain) serta resistensi antimikroba. Namun kerja sama di bidang kesehatan—termasuk telemedisin, pendidikan jarak jauh, dan pemanfaatan kecerdasan buatan—memberi potensi hasil positif. Pengembangan teknologi juga mendukung SDG nomor 4 melalui platform pendidikan bersama dan kerja sama universitas. Sejak 2024, negara-negara BRICS menunjukkan tren positif dalam inovasi dan digitalisasi, termasuk peningkatan pengguna internet dan akses ke layanan keuangan digital. Konsep kota pintar juga dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi layanan publik dan infrastruktur sosial, sehingga dengan biaya sama atau lebih rendah dapat dicapai hasil sosial yang lebih besar. Di India, program inklusi keuangan Pradhan Mantri Jan Dhan Yojana memperluas akses jutaan warga ke layanan perbankan. Di Brasil, inisiatif jaringan Global Compact mengoordinasikan dunia usaha untuk mengatasi masalah sosial. Di Tiongkok, pengurangan kesenjangan desa-kota menjadi prioritas. Di Rusia, kebijakan pengurangan ketimpangan mencakup kenaikan upah minimum dan dukungan keluarga. Di Indonesia, platform SDG Indonesia One mendukung pembiayaan pembangunan berkelanjutan. Dialog Antarbudaya dan SDG 16 SDG nomor 16 menjadi fondasi pembangunan berkelanjutan, karena masyarakat damai dan lembaga yang adil sangat penting bagi pencapaian seluruh tujuan PBB. Pada KTT BRICS di Johannesburg tahun 2023, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut dunia multipolar sebagai perkembangan positif, namun menekankan perlunya institusi internasional yang kuat. Negara-negara BRICS berupaya membangun platform dialog dan kerja sama antarbudaya sebagai bagian dari kekuatan lunak (soft power). Fleksibilitas agenda BRICS dinilai sebagai keunggulan karena memungkinkan solusi kolektif tanpa kewajiban formal yang kaku. Dengan demikian, dialog menjadi sarana untuk membangun nilai bersama, meredakan perbedaan politik, serta membentuk mekanisme alternatif pembangunan bagi negara-negara Global South dalam rangka mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB. (*) Sumber: Mehr News

Ekonomi Amerika di Bawah Tekanan Tarif, Bukti Kegagalan Strategi Donald Trump

BAINDONESIA.CO – Menyusul putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) terkait pembatalan tarif perdagangan yang diberlakukan pemerintahan Donald Trump, salah satu kebijakan ekonomi paling kontroversial dalam beberapa tahun terakhir di AS, kini menghadapi tantangan serius. Keputusan ini, yang mendapat sorotan luas di kalangan politik dan ekonomi negara tersebut, kembali menempatkan dampak kebijakan sepihak dan perang dagang Washington dalam pusat perhatian. Tarif yang diberlakukan dengan tujuan resmi melindungi produksi dalam negeri dan memperkuat lapangan kerja, dalam praktiknya justru meningkatkan biaya bagi konsumen dan pelaku usaha Amerika serta memicu banyak kritik, bahkan di dalam negeri sendiri. Kini, putusan lembaga peradilan tertinggi AS membuka ruang baru untuk mengevaluasi dampak ekonomi dan politik dari kebijakan tersebut. Kebijakan tarif Trump telah menjadi salah satu tantangan utama bagi ekonomi Amerika. Pemerintahan Trump, dengan tujuan mendukung produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor, memberlakukan tarif tinggi terhadap barang-barang asing dan memperkenalkannya sebagai alat untuk pertumbuhan ekonomi serta peningkatan lapangan kerja. Namun kenyataannya, kebijakan ini bukan saja tidak menghasilkan hasil yang diharapkan, tetapi biaya utamanya justru ditanggung oleh rakyat dan perusahaan Amerika sendiri. Analisis menunjukkan bahwa lebih dari 80 hingga 90 persen biaya tarif ditanggung oleh konsumen dan perusahaan domestik, sementara hanya sebagian kecil yang dialihkan kepada eksportir asing. Fakta sederhana namun penting ini menunjukkan bahwa klaim Trump bahwa negara-negara lain membayar biaya tarif tersebut, pada praktiknya tidak benar. Keluarga-keluarga Amerika terpaksa membayar harga kebijakan ini melalui kenaikan harga barang impor, dan perusahaan pun harus mengompensasi biaya dengan mengurangi margin keuntungan atau menaikkan harga. Tarif dan Peningkatan Tekanan Ekonomi Kenaikan tarif berarti meningkatnya biaya hidup bagi masyarakat biasa. Setiap rumah tangga Amerika rata-rata harus mengeluarkan sekitar 1.000 dolar lebih banyak untuk membeli barang. Jumlah ini menambah tekanan pada keluarga, terutama dalam kondisi inflasi dan tingginya biaya hidup. Barang-barang kebutuhan pokok seperti bahan makanan, pakaian, dan peralatan rumah tangga mengalami kenaikan harga paling besar, sehingga mempersulit kehidupan sehari-hari masyarakat. Tekanan ekonomi ini tidak hanya terbatas pada biaya langsung. Kenaikan harga dapat menurunkan konsumsi domestik dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Perusahaan untuk menutup biaya tambahan terpaksa mengurangi investasi atau melakukan pemutusan hubungan kerja, yang berarti berkurangnya peluang kerja dan tekanan lebih besar pada pasar tenaga kerja. Dalam praktiknya, tarif Trump alih-alih mendukung produksi dalam negeri, justru menciptakan rangkaian dampak negatif bagi ekonomi dan masyarakat. Kesenjangan antara Janji dan Realitas Pemerintahan Trump selalu memperkenalkan tarif sebagai alat untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan memperkuat produksi domestik. Namun realitas ekonomi menunjukkan bahwa kebijakan tarif tidak hanya gagal mencapai tujuan tersebut, tetapi juga meningkatkan tekanan finansial terhadap konsumen dan perusahaan. Perusahaan harus menutup biaya tambahan dengan mengurangi margin keuntungan atau menaikkan harga, sementara konsumen menghadapi biaya nyata dari kebijakan perdagangan tersebut. Bahkan sejumlah anggota Partai Republik di Kongres juga menentang kebijakan tarif Trump, yang menunjukkan adanya kekhawatiran dan perbedaan pandangan di dalam partai yang berkuasa. Penentangan ini secara jelas menunjukkan bahwa dampak negatif tarif terhadap ekonomi dan kehidupan masyarakat tidak lagi dapat disangkal. Dampak terhadap Lapangan Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi Walaupun secara tampak laporan ekonomi menunjukkan pertumbuhan relatif ekonomi Amerika, kajian lebih mendalam memperlihatkan bahwa pertumbuhan tersebut tidak seimbang dan terbatas pada sektor tertentu. Sektor jasa, khususnya kesehatan dan perawatan sosial, menyumbang porsi besar dari pertumbuhan lapangan kerja, sementara sektor-sektor ekonomi lainnya mengalami perlambatan atau bahkan penurunan lapangan kerja. Situasi ini menunjukkan bahwa ekonomi Amerika masih rapuh dan kenaikan tarif dapat memperburuk kerentanan tersebut. Tarif dapat menurunkan daya saing perusahaan dan mengurangi insentif investasi. Ketika perusahaan harus membayar biaya tambahan, sumber daya finansial untuk pengembangan dan inovasi menjadi lebih terbatas, yang pada akhirnya dapat membatasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dengan demikian, kebijakan tarif Trump bukan hanya tidak menguntungkan produksi domestik, tetapi juga dapat menghambat pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Tarif dan Tekanan terhadap Konsumen Beban utama tarif berada di pundak konsumen Amerika. Barang-barang yang dibeli masyarakat setiap hari, mulai dari bahan makanan hingga peralatan rumah tangga dan pakaian, mengalami kenaikan harga. Sementara Trump mengklaim bahwa tarif akan menurunkan harga atau membantu produsen domestik, kenyataannya masyarakatlah yang membayar langsung biaya kebijakan ini. Tekanan finansial terutama dirasakan oleh kelas menengah dan berpenghasilan rendah, serta berdampak negatif pada kesejahteraan umum. Kenaikan harga ini juga dapat mengubah pola konsumsi. Keluarga terpaksa mengurangi pembelian barang non-esensial, yang dapat menurunkan permintaan domestik dan pada akhirnya memperlambat pertumbuhan ekonomi. Pada praktiknya, tarif justru membebankan tekanan ekonomi kepada rakyat dalam negeri, bukan kepada negara asing. Kegagalan Kebijakan Propagandis Trump Salah satu slogan utama kampanye ekonomi Trump adalah menurunkan harga dan melindungi konsumen. Namun pengalaman praktis menunjukkan bahwa kebijakan tarif bukan saja gagal mencapai tujuan tersebut, tetapi juga menambah beban bagi warga. Bahkan barang-barang yang dijanjikan akan mengalami penurunan harga justru menghadapi fluktuasi dan kenaikan, sehingga janji pengurangan biaya hidup tidak terwujud. Kegagalan kebijakan ini tidak hanya menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan kebijakan ekonomi, tetapi juga menunjukkan bahwa penggunaan instrumen tarif tanpa analisis mendalam dan perkiraan dampak nyata dapat menghasilkan hasil yang berlawanan. Dampak Jangka Panjang Tarif Dalam jangka panjang, kebijakan tarif Trump dapat memberikan dampak merusak terhadap daya saing ekonomi Amerika. Ketika perusahaan harus membayar tarif tinggi, sumber daya finansial untuk investasi dalam pengembangan, inovasi, dan teknologi menjadi lebih terbatas. Hal ini dapat menurunkan produktivitas dan daya saing ekonomi serta mengurangi kemampuan Amerika di pasar global. Selain itu, kenaikan biaya produksi dapat menyebabkan penurunan ekspor, karena produsen harus menawarkan produk dengan harga lebih tinggi, yang menurunkan daya saing mereka. Pada akhirnya, tarif bukan memperkuat produksi domestik, melainkan berpotensi melemahkan posisi ekonomi Amerika di pasar global dan menimbulkan dampak negatif jangka panjang. Pengalaman terbaru Amerika menunjukkan bahwa kebijakan tarif, meskipun dengan tujuan mendukung produksi dan lapangan kerja domestik, pada praktiknya justru membebankan biaya utama kepada rakyat dan perusahaan dalam negeri. Kenaikan harga barang, tekanan terhadap konsumen, dan penurunan daya saing ekonomi merupakan contoh dampak negatif kebijakan tersebut. Dengan demikian, kebijakan tarif Trump bukan saja gagal mewujudkan hasil yang dijanjikan, tetapi juga meningkatkan tekanan ekonomi terhadap keluarga dan perusahaan serta membahayakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (*) Sumber: Mehr News

Ketika Modal Bank Tidak Cukup, Bagaimana Ketidakseimbangan Memicu Inflasi?

BAINDONESIA.CO – Menurut laporan wartawan Mehr, dalam beberapa tahun terakhir ketidakseimbangan bank telah menjadi salah satu konsep yang paling sering dibahas dalam literatur ekonomi nasional. Meski secara lahiriah terlihat teknis dan terbatas pada neraca bank, dalam praktiknya dampaknya dapat dirasakan langsung pada daya beli rumah tangga, harga barang, dan stabilitas ekonomi makro. Data dan bukti mengenai kondisi sistem perbankan hingga akhir 2026 menunjukkan bahwa ketidakseimbangan bukanlah fenomena sementara, melainkan hasil akumulasi bertahap dari satu kelemahan mendasar: penurunan kronis kecukupan modal bank. Dalam situasi di mana bank seharusnya berperan sebagai peredam guncangan ekonomi, lemahnya modal justru membuat lembaga ini menjadi sumber transfer risiko ke seluruh perekonomian. Hasilnya adalah meningkatnya ketergantungan bank pada sumber daya bank sentral, pertumbuhan likuiditas tanpa penopang yang memadai, dan pada akhirnya lonjakan inflasi. Pilar yang Terlupakan Kecukupan modal, dalam definisi paling sederhana, adalah rasio antara modal bank terhadap aset tertimbang menurut risiko. Indikator ini menunjukkan sejauh mana bank mampu menyerap potensi kerugian. Dalam standar internasional, rasio ini bukan hanya kewajiban pengawasan, tetapi juga prasyarat stabilitas keuangan. Namun, laporan pengawasan dan laporan keuangan agregat jaringan perbankan hingga 2026 menunjukkan bahwa kecukupan modal secara keseluruhan berada jauh di bawah tingkat aman. Dalam beberapa kasus, modal riil bank praktis kehilangan kemampuan untuk menutup risiko aset, dan neraca menjadi sangat tidak seimbang. Kondisi ini bukan akibat satu faktor tunggal. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah tren berjalan bersamaan dan menggerus modal bank: meningkatnya kredit bermasalah serta pinjaman yang tidak kembali secara efektif mengubah sebagian besar aset bank menjadi aset berkualitas rendah. Di sisi lain, keterlibatan luas bank dalam aktivitas bisnis dan kepemilikan aset tidak likuid telah mengunci sumber daya dan mengurangi fleksibilitas neraca. Selain itu, pertumbuhan nominal neraca bank tanpa peningkatan modal yang sepadan menyebabkan rasio kecukupan modal terus melemah. Sederhananya, bank menjadi lebih besar, tetapi tidak menjadi lebih kuat. Konsekuensi Tak Terhindarkan Ketika kecukupan modal melemah, ketidakseimbangan bukan lagi kemungkinan, melainkan konsekuensi yang tak terelakkan. Bank yang tidak memiliki modal cukup akan terguncang bahkan oleh guncangan ekonomi kecil—mulai dari peningkatan kredit macet, fluktuasi suku bunga, hingga penurunan nilai aset. Ketidakseimbangan ini muncul dalam beberapa bentuk: Pertama, ketidakseimbangan likuiditas. Ketidakmampuan bank memenuhi kewajiban jangka pendek tanpa bergantung pada sumber eksternal. Kedua, ketidakseimbangan neraca. Ketika nilai riil aset lebih rendah dari kewajiban, meski secara akuntansi nominal mungkin tersembunyi. Ketiga, ketidakseimbangan pendapatan. Ketika pendapatan operasional bahkan tidak mampu menutup biaya berjalan dan kerugian akumulatif. Dalam kondisi seperti ini, pilihan bank menjadi terbatas. Penambahan modal dari pemegang saham sulit dilakukan karena rendahnya daya tarik dan adanya kerugian akumulatif. Penjualan aset juga memakan waktu dan biaya karena sifatnya yang tidak likuid. Akibatnya, cara termudah adalah bergantung pada sumber daya bank sentral—baik melalui overdraft maupun jalur kredit. Dari Neraca Bank ke Inflasi Salah satu kekeliruan analitis yang umum adalah memandang ketidakseimbangan perbankan dan inflasi sebagai dua fenomena terpisah. Padahal pengalaman hingga 2026 menunjukkan adanya hubungan kausal yang jelas. Lemahnya kecukupan modal mendorong bank ke dalam ketidakseimbangan. Ketidakseimbangan meningkatkan kebutuhan terhadap sumber eksternal. Kebutuhan ini pada akhirnya dipenuhi melalui bank sentral, yang menyebabkan peningkatan basis moneter. Pertumbuhan basis moneter, melalui efek pengganda, berubah menjadi pertumbuhan likuiditas—yang dengan jeda waktu akan tercermin dalam kenaikan tingkat harga umum. Komponen pertumbuhan likuiditas menjelang 2025 menunjukkan bahwa utang bank kepada bank sentral memiliki kontribusi signifikan. Artinya, sebagian inflasi yang terjadi bukan semata akibat guncangan eksternal atau defisit anggaran pemerintah, tetapi juga akibat langsung ketidakseimbangan bank. Inflasi dari jalur ini bersifat kronis. Selama neraca bank tidak direformasi dan kecukupan modal tidak dipulihkan, siklus penciptaan uang yang tidak stabil akan terus berlanjut. Biaya Ketidakseimbangan Ketidakseimbangan perbankan pada akhirnya menjadi biaya publik. Inflasi yang lahir dari lemahnya modal bank berdampak tidak merata pada berbagai lapisan masyarakat. Rumah tangga bergaji tetap dan kelompok berpendapatan rendah paling terdampak oleh penurunan daya beli, sementara pemilik aset riil memiliki peluang untuk melindungi sebagian nilai kekayaannya. Selain itu, inflasi yang berkelanjutan akibat ketidakseimbangan ini juga mengguncang ekspektasi inflasi. Pelaku ekonomi dalam situasi ketidakstabilan moneter cenderung mempersingkat horizon investasi, yang pada gilirannya menekan pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini, ekonom Ali Saadondi menyatakan bahwa masalah utama sistem perbankan bukan kekurangan likuiditas, melainkan kekurangan modal. Selama kecukupan modal tidak dipulihkan, setiap injeksi likuiditas atau kontrol administratif atas neraca hanya menunda masalah, sementara biayanya ditransfer ke masyarakat dalam bentuk inflasi. Menurutnya, pengalaman tahun 2025 hingga 2026 dengan jelas menunjukkan bahwa pengendalian inflasi secara berkelanjutan tidak mungkin tanpa reformasi struktur modal bank. Bank dengan kecukupan modal rendah praktis tidak mampu menyerap kerugian; setiap guncangan kecil akhirnya dipindahkan ke bank sentral. Ia menambahkan bahwa inflasi jenis ini merupakan “pajak tersembunyi” yang dipungut secara tidak merata—paling membebani pegawai bergaji tetap, pensiunan, dan kelompok berpendapatan rendah—sementara sumber inflasi tersembunyi dalam neraca bank. Fokus semata pada pembatasan pertumbuhan neraca atau pengetatan kredit tanpa menyelesaikan masalah modal tidak akan menghentikan siklus ini. Reformasi nyata harus dimulai dari peningkatan modal, transparansi kualitas aset, dan pengakuan kerugian akumulatif. Meski reformasi kecukupan modal memerlukan biaya dan waktu, kegagalan melakukannya akan menimbulkan biaya yang jauh lebih besar bagi perekonomian. Kita dapat memilih membayar biaya reformasi hari ini, atau terus membayar biaya inflasi kronis selama bertahun-tahun dari kantong rakyat. Reformasi Harus Dimulai dari Mana? Ketidakseimbangan bank tidak dapat diatasi dengan solusi jangka pendek atau fokus pada beberapa lembaga tertentu. Ini adalah hasil dari kelemahan sistemik yang berpusat pada kecukupan modal. Selama bank beroperasi dengan modal yang tidak memadai, risiko akan terus berpindah ke neraca bank sentral, dan inflasi akan menjadi konsekuensi akhirnya. Reformasi memerlukan serangkaian langkah terkoordinasi: peningkatan modal secara nyata, transparansi kualitas aset, pembatasan aktivitas bisnis non-perbankan, dan pengurangan ketergantungan struktural ekonomi pada sumber pembiayaan perbankan. Tanpa langkah-langkah ini, ketidakseimbangan perbankan akan tetap menjadi salah satu akar utama inflasi dalam perekonomian Iran, meskipun sesekali ditekan melalui kebijakan pengendalian sementara. (*) Sumber: Mehr News

Dampak Perang Iran-Israel: Harga Minyak Mentah Naik ke Level Tertinggi selama Enam Bulan Terakhir

BAINDONESIA.CO – Harga minyak dunia melesat naik ke level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Mengutip Reuters, harga minyak berjangka jenis Brent naik US$1,88 atau 2,44 persen ke level US$78,89 per barel. Sementara itu harga minyak WTI naik US$1,87 persen ke level 2,53 persen ke US$75,71 per barel. Dengan kenaikan itu, Brent telah naik 13 persen sejak konflik Iran dan Israel dimulai pada 13 Juni. Sementara WTI telah naik sekitar 10 persen. Analis menyebut lonjakan harga dipicu oleh aksi campur tangan yang dilakukan Presiden AS Donald Trump dalam perang antara Iran dan Israel yang berkecamuk dalam dua minggu belakangan ini. Diketahui, Trump ikut campur dalam perang dengan membantu Israel menggempur 3 fasilitas yang disebut-sebut sebagai tempat pengembangan senjata nuklir Iran. Analis menyebut campur tangan Trump dalam perang Iran-Israel meningkatkan kekhawatiran pasar atas ketegangan lebih lanjut yang semakin menjadi. Pasar khawatir kalau itu terjadi bisa mengganggu pasokan minyak mentah dari Iran. Dengan kapasitas produksi minyak yang terbesar ketiga OPEC, serangan terhadap Iran pasti akan berdampak besar ke pasokan minyak. Apalagi setelah serangan itu terjadi, Iran mengancam menutup Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah global. Press TV Iran melaporkan parlemen mereka menyetujui tindakan untuk menutup selat tersebut. “Risiko ancaman dan kerusakan fasilitas infrastruktur minyak semakin meningkat,” kata analis senior Sparta Commodities June Goh. Meskipun ada rute pipa alternatif keluar dari wilayah tersebut, masih akan ada volume minyak mentah yang tidak dapat diekspor sepenuhnya jika Selat Hormuz tidak dapat diakses. (*) Sumber: CNN Indonesia

Perekonomian Dunia dalam Bayang-Bayang Resesi

BAINDONESIA.CO – Perwakilan masyarakat Behshahr di parlemen Iran Gholamreza Syari’ati mengatakan bahwa kebijakan pertahanan, komersial, dan bea cukai Presiden Amerika Serikat Donald Trump berdampak negatif pada perekonomian dunia. Hal itu disampaikannya dalam percakapan dengan reporter Mehr News, perwakilan orang-orang Behshahr di Dewan Islam, mengacu pada alasan kenaikan harga emas dan dolar di pasar. “Kita telah menyaksikan kenaikan harga emas global dan rekor barunya selama beberapa waktu, dan kenaikan harga dalam negeri ini juga dipengaruhi oleh kenaikan harga emas di pasar dunia,” jelasnya. Semua kenaikan harga ini, sambung dia, adalah akibat dari keputusan politik keamanan, bea cukai, dan perdagangan Trump. Ia menyebut kebijakan-kebijakan pecinta perang Presiden Amerika di beberapa wilayah Timur Tengah dan dunia telah menyebabkan kenaikan harga emas serta dampak negatif lainnya terhadap perekonomian global. Gholamreza menegaskan, berbagai blok ekonomi di dunia harus menentang keputusan Trump dan mencegah dampak negatif dari keputusannya dengan mengadopsi kebijakan yang rasional dan independen. “Jika praktik Presiden Amerika ini terus berlanjut, kita pasti akan menyaksikan resesi ekonomi dunia,” pungkasnya. (*) Sumber: Mehrnews.com

Keuntungan Investasi Emas

BAINDONESIA.CO – Pernah enggak kamu mikir, “Kenapa emas bisa punya nilai? Padahal itu kan cuma logam biasa.” Kali ini kita bakal coba bahas intinya secara

Kiat agar Usaha Kecil Jadi Besar

BAINDONESIA.CO – Usaha kecil bisa berkembang menjadi usaha besar. Syaratnya harus memenuhi sejumlah kriteria. Berikut kita bahas beberapa pola usaha kecil yang tumbuh menjadi usaha

Ketegangan di Selat Hormuz Dorong Harga Minyak Naik

BAINDONESIA.CO – Menurut laporan kantor berita Mehr yang mengutip Reuters, harga minyak pada perdagangan Jumat (20/2/2026) menguat seiring meningkatnya kekhawatiran tentang potensi konflik di Selat Hormuz; sebuah jalur yang membawa harga mendekati level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Harga minyak mentah Brent Laut Utara naik 30 sen, atau 0,40 persen, menjadi 71,96 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) naik 35 sen, atau 0,53 persen, dan diperdagangkan pada level 66,78 dolar AS per barel. Setelah Presiden AS, Donald Trump, memperingatkan bahwa “hal-hal yang sangat buruk” akan terjadi jika tidak tercapai kesepakatan dengan Iran terkait program nuklirnya, harga minyak mencapai level tertinggi dalam sekitar enam bulan terakhir. Di sisi lain, Iran beberapa hari setelah penutupan sementara Selat Hormuz dalam rangka latihan militer, menggelar latihan angkatan laut bersama dengan Rusia; langkah yang semakin meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai keamanan jalur strategis tersebut. Iran sebagai salah satu produsen besar minyak berada di seberang Semenanjung Arab yang kaya minyak dan di sisi lain Selat Hormuz; jalur perairan yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global. Setiap ketegangan atau konflik di kawasan ini dapat mengganggu pasokan minyak ke pasar global dan memicu kenaikan harga. Selain risiko geopolitik, laporan mengenai penurunan persediaan minyak mentah serta pembatasan ekspor di beberapa produsen dan eksportir minyak terbesar dunia juga turut menopang harga. Berdasarkan laporan Administrasi Informasi Energi AS yang dirilis Kamis (19/2/2026), cadangan minyak mentah negara tersebut turun 9 juta barel, sementara tingkat pemanfaatan kilang dan volume ekspor meningkat. Selain itu, data dari lembaga JODI menunjukkan bahwa ekspor minyak Arab Saudi—sebagai eksportir minyak terbesar dunia—pada bulan Desember turun menjadi 6,988 juta barel per hari, level terendah sejak September 2025. Dalam perkembangan lain, tingkat inflasi tahunan konsumen Jepang pada Januari mencapai 2 persen, yang merupakan laju paling lambat dalam dua tahun terakhir; hal ini berpotensi mengurangi tekanan terhadap bank sentral Jepang untuk menaikkan suku bunga. Suku bunga rendah di negara-negara pengimpor minyak besar, termasuk Jepang, biasanya dipandang sebagai faktor pendukung harga minyak mentah, karena dapat memperkuat pembiayaan dan permintaan energi. (*) Sumber: Mehr News

Lonjakan Harga Minyak Mentah di Pasar Global

BAINDONESIA.CO – Menurut laporan wartawan Mehr, harga minyak mentah dunia pada perdagangan Rabu malam, 18 Februari 2025, mencatat lonjakan signifikan yang mengompensasi penurunan sehari sebelumnya. Meningkatnya ketegangan geopolitik setelah gagalnya perundingan damai Rusia–Ukraina serta belum tercapainya hasil dalam pembicaraan nuklir Iran–Amerika Serikat (AS) kembali memuncakkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak. Dalam perdagangan Rabu lalu di pasar global, harga minyak mentah Brent Laut Utara naik 3,8 persen dibanding harga penutupan sebelumnya dan menembus level 70 dolar per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga meningkat lebih dari 4,6 persen, naik dari level terendah hariannya hingga mencapai 65 dolar per barel. Namun, pada saat laporan ini disusun, kedua indeks minyak tersebut sedikit terkoreksi dari level tertinggi hariannya dan diperdagangkan sedikit di bawah puncak tersebut. Dari Ukraina hingga Teluk Persia Pasar minyak yang dalam beberapa sesi terakhir dipengaruhi gelombang optimisme atas kemajuan diplomasi, tiba-tiba berbalik arah. Perundingan damai Rusia dan Ukraina yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa di Jenewa berakhir hanya setelah dua jam tanpa hasil yang jelas. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyebut pembicaraan itu “sulit” dan menuduh Rusia menghambat proses. Di sisi lain, Vladimir Medinsky, negosiator utama Rusia, menggunakan nada yang lebih diplomatis dan mengumumkan kemungkinan putaran baru dalam waktu dekat, tetapi ketiadaan kemajuan segera telah mengurangi kepercayaan pasar. Secara paralel, berdasarkan laporan situs Trading Economics, perundingan nuklir Iran dan AS juga belum menghasilkan kesimpulan yang jelas. Wakil Presiden AS, JD Vance, dengan nada tegas menyatakan bahwa Teheran tidak menghormati “garis merah” Washington dalam negosiasi, dan jika diplomasi gagal, opsi militer mungkin akan dipertimbangkan. Pernyataan ini muncul di tengah laporan tentang latihan militer laut gabungan Iran dan Rusia di Laut Oman dan utara Samudra Hindia—wilayah yang berdekatan dengan Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia. Meski pejabat Iran menggambarkan pembicaraan sebagai “konstruktif”, perbedaan penilaian ini meningkatkan ketidakpastian di pasar. Data Mingguan dan Risiko Pasokan Selain perkembangan politik, pelaku pasar juga menantikan rilis data mingguan cadangan minyak mentah AS. Laporan American Petroleum Institute (API) dirilis hari Rabu dan data resmi dari Energy Information Administration (EIA) dipublikasikan pada hari Kamis. Analisis menunjukkan kemungkinan peningkatan cadangan minyak mentah pekan lalu, sementara cadangan bensin dan produk distilasi lainnya diperkirakan menurun. Data ini dapat meningkatkan volatilitas dalam jangka pendek. Pasar Menanti Kejelasan Di satu sisi terdapat harapan akan tercapainya kesepakatan diplomatik, namun di sisi lain ada risiko meningkatnya konflik yang membuat pasar berada dalam kondisi tidak menentu dan penuh ketidakpastian. Mengingat belum adanya hasil nyata dari perundingan saat ini serta berlanjutnya manuver militer di kawasan, tampaknya risiko geopolitik akan tetap menjadi pendorong utama harga hingga tercapai kejelasan lebih lanjut dalam proses diplomatik. (*) Sumber: Mehr News

Qalibaf: Tindakan Rezim Israel Serupa Kejahatan Nazi

BAINDONESIA.CO – Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf dalam sebuah pertemuan tentang kepatuhan terhadap hukum internasional, menggambarkan tindakan rezim Israel di Gaza sebagai sesuatu yang mengingatkan pada kejahatan Nazi. Qalibaf dalam pidatonya pada pertemuan mengenai kepatuhan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB untuk menjamin perdamaian serta keamanan internasional—yang digelar di sela-sela Konferensi Dunia ke-6 Para Ketua Parlemen di Jenewa pada hari Selasa—menyatakan: “Kejahatan di Gaza bukan sekadar krisis regional, melainkan peringatan global.” Menurut Pars Today, Qalibaf menambahkan: “Rezim Zionis sedang menjalankan kejahatan dengan tenang dan penuh perencanaan—suatu kejahatan yang seakan muncul dari mimpi buruk sejarah paling mengerikan.” Ia menegaskan: “Tindakan rezim Israel di Gaza mengingatkan pada kejahatan Nazi. Setiap keterlambatan untuk melawan Israel sama saja dengan menjadi kaki tangan kejahatan Nazi abad ke-21. Jika Nazi abad ke-21 menang di Gaza, apinya akan menyebar ke bagian lain dunia.” (*) Sumber: Pars Today

Ketegangan di Selat Hormuz Dorong Harga Minyak Naik

BAINDONESIA.CO – Menurut laporan kantor berita Mehr yang mengutip Reuters, harga minyak pada perdagangan Jumat (20/2/2026) menguat seiring meningkatnya kekhawatiran tentang potensi konflik di Selat Hormuz; sebuah jalur yang membawa harga mendekati level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Harga minyak mentah Brent Laut Utara naik 30 sen, atau 0,40 persen, menjadi 71,96 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) naik 35 sen, atau 0,53 persen, dan diperdagangkan pada level 66,78 dolar AS per barel. Setelah Presiden AS, Donald Trump, memperingatkan bahwa “hal-hal yang sangat buruk” akan terjadi jika tidak tercapai kesepakatan dengan Iran terkait program nuklirnya, harga minyak mencapai level tertinggi dalam sekitar enam bulan terakhir. Di sisi lain, Iran beberapa hari setelah penutupan sementara Selat Hormuz dalam rangka latihan militer, menggelar latihan angkatan laut bersama dengan Rusia; langkah yang semakin meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai keamanan jalur strategis tersebut. Iran sebagai salah satu produsen besar minyak berada di seberang Semenanjung Arab yang kaya minyak dan di sisi lain Selat Hormuz; jalur perairan yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global. Setiap ketegangan atau konflik di kawasan ini dapat mengganggu pasokan minyak ke pasar global dan memicu kenaikan harga. Selain risiko geopolitik, laporan mengenai penurunan persediaan minyak mentah serta pembatasan ekspor di beberapa produsen dan eksportir minyak terbesar dunia juga turut menopang harga. Berdasarkan laporan Administrasi Informasi Energi AS yang dirilis Kamis (19/2/2026), cadangan minyak mentah negara tersebut turun 9 juta barel, sementara tingkat pemanfaatan kilang dan volume ekspor meningkat. Selain itu, data dari lembaga JODI menunjukkan bahwa ekspor minyak Arab Saudi—sebagai eksportir minyak terbesar dunia—pada bulan Desember turun menjadi 6,988 juta barel per hari, level terendah sejak September 2025. Dalam perkembangan lain, tingkat inflasi tahunan konsumen Jepang pada Januari mencapai 2 persen, yang merupakan laju paling lambat dalam dua tahun terakhir; hal ini berpotensi mengurangi tekanan terhadap bank sentral Jepang untuk menaikkan suku bunga. Suku bunga rendah di negara-negara pengimpor minyak besar, termasuk Jepang, biasanya dipandang sebagai faktor pendukung harga minyak mentah, karena dapat memperkuat pembiayaan dan permintaan energi. (*) Sumber: Mehr News

Lonjakan Harga Minyak Mentah di Pasar Global

BAINDONESIA.CO – Menurut laporan wartawan Mehr, harga minyak mentah dunia pada perdagangan Rabu malam, 18 Februari 2025, mencatat lonjakan signifikan yang mengompensasi penurunan sehari sebelumnya. Meningkatnya ketegangan geopolitik setelah gagalnya perundingan damai Rusia–Ukraina serta belum tercapainya hasil dalam pembicaraan nuklir Iran–Amerika Serikat (AS) kembali memuncakkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak. Dalam perdagangan Rabu lalu di pasar global, harga minyak mentah Brent Laut Utara naik 3,8 persen dibanding harga penutupan sebelumnya dan menembus level 70 dolar per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga meningkat lebih dari 4,6 persen, naik dari level terendah hariannya hingga mencapai 65 dolar per barel. Namun, pada saat laporan ini disusun, kedua indeks minyak tersebut sedikit terkoreksi dari level tertinggi hariannya dan diperdagangkan sedikit di bawah puncak tersebut. Dari Ukraina hingga Teluk Persia Pasar minyak yang dalam beberapa sesi terakhir dipengaruhi gelombang optimisme atas kemajuan diplomasi, tiba-tiba berbalik arah. Perundingan damai Rusia dan Ukraina yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa di Jenewa berakhir hanya setelah dua jam tanpa hasil yang jelas. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyebut pembicaraan itu “sulit” dan menuduh Rusia menghambat proses. Di sisi lain, Vladimir Medinsky, negosiator utama Rusia, menggunakan nada yang lebih diplomatis dan mengumumkan kemungkinan putaran baru dalam waktu dekat, tetapi ketiadaan kemajuan segera telah mengurangi kepercayaan pasar. Secara paralel, berdasarkan laporan situs Trading Economics, perundingan nuklir Iran dan AS juga belum menghasilkan kesimpulan yang jelas. Wakil Presiden AS, JD Vance, dengan nada tegas menyatakan bahwa Teheran tidak menghormati “garis merah” Washington dalam negosiasi, dan jika diplomasi gagal, opsi militer mungkin akan dipertimbangkan. Pernyataan ini muncul di tengah laporan tentang latihan militer laut gabungan Iran dan Rusia di Laut Oman dan utara Samudra Hindia—wilayah yang berdekatan dengan Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia. Meski pejabat Iran menggambarkan pembicaraan sebagai “konstruktif”, perbedaan penilaian ini meningkatkan ketidakpastian di pasar. Data Mingguan dan Risiko Pasokan Selain perkembangan politik, pelaku pasar juga menantikan rilis data mingguan cadangan minyak mentah AS. Laporan American Petroleum Institute (API) dirilis hari Rabu dan data resmi dari Energy Information Administration (EIA) dipublikasikan pada hari Kamis. Analisis menunjukkan kemungkinan peningkatan cadangan minyak mentah pekan lalu, sementara cadangan bensin dan produk distilasi lainnya diperkirakan menurun. Data ini dapat meningkatkan volatilitas dalam jangka pendek. Pasar Menanti Kejelasan Di satu sisi terdapat harapan akan tercapainya kesepakatan diplomatik, namun di sisi lain ada risiko meningkatnya konflik yang membuat pasar berada dalam kondisi tidak menentu dan penuh ketidakpastian. Mengingat belum adanya hasil nyata dari perundingan saat ini serta berlanjutnya manuver militer di kawasan, tampaknya risiko geopolitik akan tetap menjadi pendorong utama harga hingga tercapai kejelasan lebih lanjut dalam proses diplomatik. (*) Sumber: Mehr News

Qalibaf: Tindakan Rezim Israel Serupa Kejahatan Nazi

BAINDONESIA.CO – Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf dalam sebuah pertemuan tentang kepatuhan terhadap hukum internasional, menggambarkan tindakan rezim Israel di Gaza sebagai sesuatu yang mengingatkan pada kejahatan Nazi. Qalibaf dalam pidatonya pada pertemuan mengenai kepatuhan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB untuk menjamin perdamaian serta keamanan internasional—yang digelar di sela-sela Konferensi Dunia ke-6 Para Ketua Parlemen di Jenewa pada hari Selasa—menyatakan: “Kejahatan di Gaza bukan sekadar krisis regional, melainkan peringatan global.” Menurut Pars Today, Qalibaf menambahkan: “Rezim Zionis sedang menjalankan kejahatan dengan tenang dan penuh perencanaan—suatu kejahatan yang seakan muncul dari mimpi buruk sejarah paling mengerikan.” Ia menegaskan: “Tindakan rezim Israel di Gaza mengingatkan pada kejahatan Nazi. Setiap keterlambatan untuk melawan Israel sama saja dengan menjadi kaki tangan kejahatan Nazi abad ke-21. Jika Nazi abad ke-21 menang di Gaza, apinya akan menyebar ke bagian lain dunia.” (*) Sumber: Pars Today

Felix Zulhendri Ingatkan Bahaya Gula dan Karbohidrat dalam Kehidupan

BAINDONESIA.CO – Praktisi kesehatan Indonesia Felix Zulhendri kembali mengingatkan masyarakat tentang bahaya konsumsi gula dan karbohidrat berlebih dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pernyataan terbarunya, Felix menyebut bahwa kita kini hidup di lingkungan ekstrem yang mendorong konsumsi makanan tidak sehat secara masif, dan oleh karena itu, dibutuhkan keputusan ekstrem pula untuk menjaga kesehatan. “Saya selalu berkaca. Kalau perut saya mulai buncit sedikit, saya tahu itu tandanya saya makan karbohidrat dan gula terlalu banyak. Maka saya langsung hentikan karbohidrat selama 1-2 hari, dan 2-3 hari kemudian saya cek lagi. Biasanya perut kembali rata,” ujarnya sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Malaka pada Kamis (10/7/2025). Menurutnya, pengelolaan konsumsi gula dan karbohidrat harus menjadi kesadaran personal, bukan hanya sebagai bagian dari program diet. “Kita tidak pernah kekurangan gula dan karbohidrat, karena ke mana pun kita pergi, pasti selalu ada unsur itu. Yang sebenarnya kita kekurangan justru adalah protein dan lemak sehat,” tambahnya. Felix menyoroti kondisi masyarakat modern yang nyaris tak bisa lepas dari makanan manis. Ia mencontohkan dengan mengajak masyarakat melihat rak-rak minimarket. “Coba saja ke minimarket, 95 hingga 99 persen isinya adalah produk berbasis gula dan karbohidrat olahan. Maka kita perlu mengambil keputusan yang berani: kelola konsumsi kita, atau kita akan jadi korban,” tegasnya. Selain risiko diabetes dan obesitas, dia mengungkapkan hasil diskusinya dengan seorang dokter di unit hemodialisis (cuci darah) di salah satu rumah sakit di Sumatera Utara. Ia terkejut ketika mendengar bahwa pasien-pasien cuci darah kini semakin muda. “Pasiennya sekarang usia 20, 30, 40 tahun. Dulu usia 50 ke atas. Ini perubahan besar. Dan ini jelas terkait dengan pola makan modern: makanan ultra-proses, konsumsi gula berlebih, diabetes, hipertensi—semua saling berkaitan dan merusak ginjal,” katanya. Felix juga menyoroti sikap generasi muda yang merasa masih kuat dan sehat sehingga mengabaikan risiko jangka panjang. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out), menurutnya, menjadi pemicu utama gaya hidup makan sembarangan. “Banyak yang bilang, ‘Ah, mumpung masih muda, makan aja apa pun.’ Tapi mereka lupa, lingkungan kita sekarang jauh lebih beracun dibanding zaman orang tua kita. Makanan sekarang kebanyakan ultra-proses. Jadi tidak bisa dibandingkan,” tegasnya. Ia mengingatkan bahwa orang-orang dulu bisa makan banyak tanpa efek samping berat karena hidup mereka lebih aktif dan makanan mereka alami. “Sekarang beda. Kalau kita makan sembarangan, dampaknya nyata dan cepat,” katanya. Meski menyarankan untuk membatasi konsumsi gula, Felix mengakui bahwa kebutuhan akan rasa manis adalah sesuatu yang wajar. Oleh karena itu, ia menyarankan alternatif sehat seperti: Pertama, monk fruit extract. Pemanis alami yang tidak meningkatkan kadar gula darah. Kedua, stevia. Tanaman pemanis yang juga tidak berdampak pada lonjakan gula. Namun, ia mengingatkan bahwa bahkan pemanis alami pun harus dikontrol. “Rasa manis itu adiktif. Jadi jangan dari pagi sampai malam makan manis terus,” ujarnya. Felix kembali menekankan pentingnya konsumsi protein dan lemak sehat, seperti telur dan daging. Menurutnya, dua jenis zat gizi ini dapat membantu tubuh merasa kenyang lebih lama karena memicu hormon kenyang, tidak seperti gula yang hanya memberi efek kenyang sesaat. “Kalau saya sarapan tiga butir telur bebek, saya tidak akan lapar sampai siang. Tapi kalau saya makan nasi goreng sepiring penuh, dua jam kemudian saya lapar lagi,” katanya. Dia menutup pesannya dengan peringatan keras: manusia modern kini terlalu mudah terjebak dalam pola makan yang destruktif. Maka, mengelola konsumsi gula dan karbohidrat bukan hanya pilihan, tapi keharusan. “Ini bukan soal diet. Ini soal bertahan hidup di lingkungan yang tidak bersahabat dengan kesehatan. Kita harus sadar, bertindak, dan mengambil keputusan ekstrim jika ingin tetap sehat,” pungkasnya. (*) Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Konsumsi Gula dan Karbohidrat di Indonesia Dinilai Berlebihan, Praktisi Kesehatan: Ini Masalah Serius Bangsa

BAINDONESIA.CO – Praktisi kesehatan Indonesia Felix Zulhendri mengungkapkan keprihatinannya terhadap pola konsumsi masyarakat Indonesia yang dinilai terlalu tinggi dalam mengonsumsi gula dan karbohidrat, tetapi sangat rendah dalam konsumsi protein. Pernyataan ini ia sampaikan berdasarkan data yang diambilnya dari Statista dan juga pengalaman lapangan serta pengamatan pribadi. Menurut Felix, setiap orang Indonesia mengonsumsi rata-rata 120 kilogram beras per tahun, 30 kilogram tepung terigu, dan 30 kilogram gula pasir tambahan. “Kalau dijumlahkan, masyarakat Indonesia mengonsumsi sekitar 180 kilogram karbohidrat dan gula per orang per tahun, sedangkan konsumsi protein seperti daging, ayam, dan telur hanya 10 kilogram per orang per tahun,” ungkapnya sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Malaka pada Kamis (10/7/2025). Ia menekankan bahwa ketimpangan ini menyebabkan masyarakat jauh lebih rentan terhadap penyakit kronis, terutama diabetes, obesitas, dan hipertensi. “Bayangkan, kita konsumsi karbohidrat dan gula 18 kali lebih banyak daripada protein. Ini sangat mengganggu keseimbangan metabolisme tubuh,” ujarnya. Felix menjelaskan bahwa karbohidrat seperti nasi, roti, mie instan, kentang, dan sereal memiliki kandungan zat pati (starch), yaitu rantai gula yang di dalam tubuh akan berubah menjadi glukosa. “Semua makanan itu, pada dasarnya, akan menjadi gula dalam tubuh kita. Dan inilah akar dari banyak penyakit tidak menular (non-communicable diseases),” tambahnya. Dalam sebuah studi di salah satu kabupaten di Bali, kata Felix, ditemukan bahwa 1 dari 4 remaja mengalami pre-diabetes atau sudah diabetes. “Bayangkan kalau anak-anak remaja saja 25% sudah seperti itu, maka saya percaya bahwa di kalangan orang dewasa bisa mencapai 50%, dan itu masuk akal,” ujarnya. Dia juga menyoroti beban yang harus ditanggung oleh sistem kesehatan nasional. “Makanya BPJS kita kewalahan. Penyakit-penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi itu biayanya luar biasa besar. Saya lihat sendiri bagaimana keluarga-keluarga mengeluarkan biaya besar untuk cek lab, obat, dan dokter spesialis,” tegasnya. Ia juga menjelaskan bahwa gula memiliki efek adiktif yang tinggi. “Gula sangat kuat dalam menstimulasi dopamin, hormon yang memberikan perasaan senang. Maka wajar banyak orang susah sekali lepas dari makanan manis, roti, dan makanan olahan tepung lainnya,” ujarnya. Karena itu, Felix mengimbau agar masyarakat mulai mengurangi konsumsi makanan tinggi gula dan karbohidrat, serta meningkatkan asupan protein hewani seperti telur dan daging. Menurutnya, protein dan lemak hewani membantu memicu hormon-hormon kenyang, yang memberi rasa kenyang lebih lama dan mencegah keinginan untuk ngemil terus-menerus. “Salah satu kesalahan pola makan masyarakat kita adalah terlalu sering makan. Sarapan, lalu ngemil jam 10, makan siang, ngemil sore, makan malam, lalu makan lagi sebelum tidur. Ini karena makanan kita tinggi karbohidrat yang cepat bikin lapar lagi,” ujarnya. Felix menegaskan bahwa dirinya bukan anti karbohidrat atau anti gula. Dia tetap mengonsumsi nasi dan kentang, namun secara terukur dan sesuai kebutuhan aktivitas fisik. “Kalau saya tahu saya akan olahraga intens, saya tingkatkan konsumsi karbohidrat. Tapi kalau tidak, saya kurangi,” jelasnya. Ia menutup penjelasannya dengan ajakan kepada masyarakat untuk mulai menyadari apa yang dikonsumsi sehari-hari. “Ini bukan sekadar soal makan, ini soal masa depan bangsa. Kalau produktivitas kita hancur karena kesehatan yang buruk, bagaimana kita bisa bersaing sebagai bangsa yang besar?” pungkasnya. (*) Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Lima Sikap Ahlulbait Indonesia terkait Tragedi Kemanusiaan di Suriah

BAINDONESIA.CO – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (ABI) Ustadz Zahir Yahya menyampaikan pernyataan sikap ABI terkait tragedi kemanusiaan yang terjadi di Suriah sejak Desember 2024, khususnya terhadap komunitas Alawi yang menjadi korban kekerasan sektarian. Pertama, ABI mengutuk dengan keras pembantaian sejumlah besar warga sipil Alawi di wilayah pesisir Suriah, termasuk Latakia dan Tartus. Tindakan pembunuhan massal, penjarahan, penghancuran rumah-rumah serta pengusiran paksa warga merupakan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional, termasuk Konvensi Jenewa yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Kedua, ABI menyatakan solidaritas penuh terhadap komunitas Alawi serta seluruh kelompok minoritas yang terdampak, termasuk Kristen dan etnis lainnya. ABI juga mengimbau Pemerintah Indonesia untuk bersikap tegas dan adil dalam menyikapi tragedi ini. Pihaknya meminta Pemerintah Indonesia mengecam segala bentuk kekerasan tanpa memihak kelompok tertentu; mendorong penyelesaian damai berdasarkan keadilan dan hak asasi manusia, serta menggunakan saluran diplomasi untuk membantu korban dan pengungsi tanpa diskriminasi. Ketiga, ABI menyerukan penghentian segera segala bentuk kekerasan terhadap warga sipil di Suriah. Ormas Islam tersebut juga mendesak PBB dan seluruh anggota masyarakat dunia untuk segera mengambil langkah nyata untuk menghentikan pembantaian; menjatuhkan sanksi kepada para pelaku kejahatan perang, dan mendorong intervensi kemanusiaan guna menyelamatkan korban dan pengungsi. Keempat, ABI mendukung pembentukan komisi penyelidikan independen di bawah naungan PBB untuk mengusut pembantaian ini dan mengadili semua pihak yang bertanggung jawab melalui Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Kelima, Suriah adalah negara yang kaya keberagaman. “Kami menegaskan bahwa semua kelompok berhak hidup dengan aman, tanpa diskriminasi. Kami mendorong dialog nasional untuk menghentikan konflik dan mencegah perang saudara lebih lanjut,” tegas Ustadz Zahir dalam siaran pers yang dikutip media ini pada Minggu (16/3/2025). Dia berharap tragedi ini segera berakhir, dan Suriah kembali menjadi tanah yang damai bagi semua warganya. “Semoga Allah SWT memberikan pahala dan kekuatan kepada para korban dan membimbing dunia untuk menegakkan keadilan dan perdamaian,” tutupnya. (*) Editor: Ufqil Mubin

Sikap, Gerak, dan Perjuangan Kader HMI

Oleh: Arif Sofyandi* Kader-kader HMI adalah kader-kader yang dibentuk dengan keteguhan iman, kedalaman ilmu, dan ketulusan amal. Karena itu, setiap sikap, gerak, dan langkah mereka merupakan pancaran cahaya keabadian. Ketika mereka turun ke jalan dan membela hak-hak kaum tertindas (mustadafin) maka tidak lain perjuangan mereka adalah perjuangan pengabdian sebagai insan muabid yang benar-benar menjadi abdi yang taat kepada Tuhannya. Tak jarang ketika mereka turun ke jalan, kemudian kita melihat dan menyaksikan pemandangan yang begitu istimewa. Ketika mereka mendengarkan azan, mereka meninggalkan seluruh aktivitas dan memenuhi panggilan Tuhan. Sikap dan perjuangan mereka di lingkungan akademik dan sosial merupakan manifestasi dari konsepsi khitah perjuangan sebagai kitab dan pedoman perjuangan bagi setiap kader HMI. Tidak akan ditemukan nilai-nilai perjuangannya kecuali untuk kemaslahatan bersama. Tidak perlu ditanya komitmen perjuangan mereka terhadap kaum-kaum mustadafin karena pada diri mereka telah tertanam nilai-nilai mujahid yang suatu waktu akan mereka aktifkan untuk berjihad di jalan Allah. Begitu pula dengan bacaan, analisa, kepekaan sosial, dan wawasan keilmuan mereka. Sejak awal basic training, telah ditanamkan pada jiwa mereka tentang nilai-nilai mujtahid yang senantiasa berijtihad dengan kapasitas dan kualitas keilmuannya, tentu sesuai dengan problematika sosial yang terjadi. Selain itu, mereka dibentuk menjadi insan mujadid yang pada diri mereka telah tertanam nilai-nilai pembaruan. Artinya, mereka tidak bisa melihat dan membiarkan kemungkaran terjadi di lingkungan sosial kecuali mereka akan mengambil bagian untuk menegakkan yang makruf dan mencegah yang mungkar. Mereka akan mendidik, mengajarkan, menggerakkan dan sekaligus menjadi inspirasi bagi publik dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Khittoh Perjuangan bahwa perjuangan harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan demi terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhoi oleh Allah Swt. Sebagaimana diikrarkan oleh setiap kader HMI bahwa sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah hanya untuk Allah Tuhan Semesta Alam. Karena itu, tidak ada pengabdian bagi kader HMI kecuali pengabdian kepada Allah. Tidak ada mujtahid bagi kader HMI kecuali berijtihad di jalan Allah. Tidak ada mujahid bagi kader HMI kecuali berjihad di jalan Allah dan tidak ada mujadid bagi kader HMI kecuali menjadi pembaru di jalan Allah Swt. (*Alumni Himpunan Mahasiswa Islam)  

Panggilan Revolusi Kesadaran: Mengurai Dimensi Sosial Puasa  dalam Pemikiran Ali Syariati

Oleh: Ismail Amin* Dalam lembaran-lembaran transkrip pemikiran Ali Syariati, puasa bukan sekadar ritual tubuh yang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah panggilan revolusi bagi kesadaran. Dalam kacamata pemikir asal Iran ini, puasa adalah laku spiritual yang menyimpan letupan sosial. Sebuah momentum untuk melampaui keterasingan individu menuju empati yang membumi. Syariati, dalam narasi filsafat sosialnya, menjelaskan bahwa puasa tak semata-mata urusan hubungan vertikal dengan Tuhan. Di balik ritme lapar dan haus, tersembunyi makna yang lebih tajam, yaitu pengalaman kolektif yang mempertemukan manusia pada nasib yang sama. Ketika seseorang menahan lapar, ia sedang melatih rasa kekurangan yang kerap menjadi keseharian kaum tertindas. Dalam ketelanjangan rasa lapar itu, dinding tebal antara si kenyang dan si lapar runtuh. Namun, Syariati tidak berhenti pada empati yang melankolis. Baginya, puasa adalah tindakan sosial yang subversif. Lapar dan dahaga yang sengaja dihayati menjadi jalan isolasi dari dominasi nafsu, bukan hanya nafsu biologis, tetapi juga nafsu konsumsi dan kerakusan yang menopang tatanan kapitalistik. Dalam tafsir ini, puasa adalah protes diam-diam terhadap hegemoni pasar yang menanamkan kebutuhan semu dalam pikiran manusia modern. Dalam bahasa yang penuh gelegak, Syariati menuliskan: “Puasa adalah menolak. Menolak membekukan tubuh. Menolak melekat pada dunia materi. Ia adalah latihan pelepasan bagi manusia, agar ia menjadi tuan atas dirinya sendiri, sebelum ia bisa menjadi tuan atas nasib masyarakatnya.” Dimensi puasa sosial yang diusung Syariati menempatkan spiritualitas sebagai energi perubahan sosial. Ia melawan gagasan agama yang membiarkan manusia larut dalam penjualan pribadi. Puasa bukan perayaan mistik yang meromantisasi penderitaan, tetapi jalan menuju kesadaran kritis. Dalam tubuh yang lapar, manusia belajar bahwa kehidupan bukan semata-mata soal akumulasi, tetapi soal berbagi. Dalam rasa haus yang merajam kerongkongan, manusia dipaksa melihat bahwa kesejahteraan yang dinikmati segelintir orang hanyalah potret yang diam-diam dirampas dari banyak orang. Syariati menegaskan bahwa puasa adalah solidaritas dalam bentuk yang paling esensial. Ia menulis, “Dengan berpuasa, orang kaya, meskipun hanya untuk sementara, dapat merasakan apa yang dialami orang miskin sepanjang hidupnya. Ini bukan sekadar pengorbanan, tetapi pengenalan mendalam terhadap realitas sosial yang membelah masyarakat.” Di balik ritual yang tampak sunyi itu, tersimpan energi sosial yang bisa menjadi benih revolusi. Syariati percaya bahwa masyarakat yang menjalani kehidupan dengan kesadaran kritis akan melahirkan generasi yang tidak hanya beriman, tetapi juga berani melawan ketidakadilan. Bagi Syariati, puasa adalah latihan untuk membangkitkan kesadaran diri, yaitu kesadaran diri yang melimpah menjadi empati sosial, membangkitkan rasa tanggung jawab atas nasib sesama. Di zaman ketika kapitalisme telah menjadikan konsumsi sebagai panglima kehidupan, puasa syariat menawarkan jalan sunyi yang nyaris revolusioner. Ia mengingatkan bahwa kebebasan sejati bukan terletak pada kemampuan membeli, melainkan pada kemampuan melepaskan. Dalam tiap sahur yang senyap dan tiap berbuka yang sederhana, barangkali Syariati ingin mengatakan bahwa revolusi sosial bisa bermula dari hal-hal kecil, dari sepotong roti yang dibelah, dari gelas air yang ditunda, dari kesadaran bahwa lapar hari ini adalah bagian dari lapar manusia lainnya di seluruh dunia. Puasa, dalam tafsir Syariati, adalah latihan menjadi manusia yang baru, yaitu manusia yang tidak hanya berdoa, tetapi juga gelisah melihat dunia yang timpang. Puasa bukan sekedar menahan, tapi juga memerdekakan. Dan di tengah gangguan dunia modern yang memberikan kenyamanan, mungkin itulah yang paling kita butuhkan. (*Cendekiawan Muslim) Bahan bacaan: Karya-karya Ali Syariah: Doa, Tangisan dan Perlawanan Haji Syahadah, Bangkit dan Bersaksi Islam, Agama Protes

Yaman Mendukung Penuh Palestina

Oleh: Sayyid Abdul Malik Al-Houthi* Selama 75 tahun, musuh Zionis-Yahudi-Israel terus melanjutkan agresinya terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza (dengan cara) melakukan kejahatan paling keji. Musuh Zionis menargetkan rakyat Palestina dengan segala cara pemusnahan, pembunuhan dengan segala cara brutal, kelaparan, pengepungan, dan menghalangi makanan dan obat-obatan. Tentara musuh menjadikan rumah sakit Gaza dinyatakan sebagai target utama operasi daratnya dan mengumumkan operasi militer di Rumah Sakit Al-Shifa dan lainnya dengan perilaku yang belum pernah terjadi sebelumnya. Negara-negara yang berperang biasanya menyatakan pangkalan-pangkalan strategis dan militer sebagai sasarannya, sedangkan musuh Israel dengan berani menyatakan rumah sakit sebagai sasarannya. Musuh Israel menargetkan semua orang di rumah sakit Gaza, termasuk pasien, yang terluka, dan personel medis, dan ini merupakan pencapaian militer yang dapat ia banggakan. Musuh Israel menargetkan pertemuan para pengungsi, bahkan di sekolah-sekolah UNRWA, dan tidak peduli bahwa mereka berada di bawah perlindungan United Nations, dan berulang kali menargetkan mereka tanpa malu-malu. Musuh Israel melanjutkan kebrutalannya, dan ketika gagal dalam pertempuran lapangan, mereka melakukan pemboman tanpa pandang bulu terhadap warga sipil di Jalur Gaza. Keadaan kelaparan di Gaza telah mencapai tingkat kematian akibat kelaparan, dan akses terhadap obat-obatan telah sepenuhnya dicegah dalam sebuah kejahatan yang sangat keji. Kasus-kasus penargetan Zionis bahkan mencakup bayi dan bayi prematur yang terbaring di bagian perawatan rumah sakit, dengan kecenderungan kriminal yang mencerminkan realitas Zionis-Yahudi. Zionis Yahudi adalah kumpulan kebencian, permusuhan ekstrem, dan kriminalitas, yang sama sekali tidak memiliki perasaan dan perasaan manusiawi. Amerika adalah mitra Zionis dalam semua kejahatan mereka sejak awal. Mereka mengirim ahli militer untuk manajemen dan perencanaan serta memberi mereka ribuan bom penghancur. Amerika memberi Zionis senjata yang dilarang secara internasional, memberi mereka dukungan material untuk membiayai operasi militer, dan mengirim pesawat pengintai untuk menyumbangkan informasi. Dengan segala bentuk dukungan militer dan finansial, Amerika memberikan dukungan politik kepada entitas musuh dan perlindungan di lingkungan regional Palestina. Amerika mengarahkan ancaman ke semua negara di kawasan terhadap kerja sama apa pun dengan rakyat Palestina. Amerika ingin mengancam negara-negara di kawasan itu agar memberikan kondisi yang cukup bagi Zionis untuk melakukan pembantaian di Gaza tanpa ada keberatan dari siapa pun. Bahkan pada tingkat memperkenalkan makanan dan obat-obatan dan mengirimkannya kepada rakyat Palestina di Gaza, tidak ada yang masuk kecuali setelah persetujuan Amerika dan Israel. Amerika adalah cabang lain dari Zionisme Yahudi global, yang dibanggakan dan dinyatakan oleh Presiden Amerika sebagai afiliasinya, dan dia bergerak dari sudut pandang itu. Mereka yang bergerak di Amerika untuk mendukung Israel dalam tindakannya terhadap rakyat Palestina adalah Zionis Amerika, lobi Zionis Yahudi yang menggerakkan Amerika bahkan melampaui kepentingannya. Amerika mengubah basisnya di wilayah tersebut menjadi pendukung musuh Zionis, dan semua gudang senjatanya, bahkan di negara-negara Arab, digunakan untuk mendukung Israel. Setiap resolusi yang disebut gencatan senjata di United Nations mendapat penolakan dari Amerika dan bersikeras untuk melanjutkan pembunuhan dan kejahatan di Gaza. Orang Amerika yang mengaku sebagai sponsor perdamaian di Timur Tengah menolak keputusan gencatan senjata di Gaza dan bersikeras membunuh warga sipil. Amerika mencegah gerakan apa pun untuk melindungi warga sipil di Palestina, dan menghalangi upaya apa pun untuk menyediakan makanan dan obat-obatan yang dibutuhkan rakyat Palestina. Amerika dan Israel adalah sayap Zionisme Yahudi global yang menargetkan bangsa Islam dan masyarakat manusia dengan konspirasi brutalnya. Gerakan Inggris, yang sejak awal memimpin pendirian entitas Zionis, saat ini terus bergerak mendukung Zionis. Kami juga melihat dukungan terhadap gerakan Zionis di beberapa negara Eropa, termasuk Prancis, Italia, dan Jerman, yang masing-masing memiliki sejarah kelam dan catatan kriminal yang mengerikan. Ketika lobi Zionis menggerakkan rezim-rezim Barat, mereka membuat mereka bahkan mengingkari nilai-nilai liberal, sehingga mereka bergerak seolah-olah gila, tanpa nilai-nilai kemanusiaan dan sebagai produk kebijakan hutan. Tugas Umat Islam Merupakan tugas umat Islam saat ini untuk mengambil sikap serius, praktis, dan efektif dengan pendekatan tulus untuk mendukung rakyat Palestina. Beberapa negara Arab memutuskan hubungan mereka dengan negara-negara Barat karena mereka mengatakan sepatah kata pun dalam menggambarkan perilaku mereka dan menghina raja atau pangeran, atau ketika mereka bergerak melawan negara Arab atau Muslim lain. Negara-negara yang bertindak keras terhadap negara Arab atau Muslim mana pun, kita lihat dalam keadaan apatis terhadap isu-isu utama bangsa, seperti penindasan terhadap rakyat Palestina. Negara-negara ini sudah sampai disibukkan dengan menari, menyanyi, kompetisi anjing, dan hal-hal yang sangat sepele serta mengabaikan pembantaian besar-besaran di Palestina. Terkadang muncul suara-suara buruk di negara-negara Arab yang menyalahkan rakyat Palestina dan mujahidinnya serta menghina posisi apa pun yang mendukung mereka. Negara-negara Arab tidak puas dengan melalaikan tanggung jawab dalam mendukung rakyat Palestina, namun mereka mulai menertawakan mereka dan mujahidin mereka, menghina mereka, dan memutarbalikkan dukungan apa pun terhadap mereka. Kami tidak mengharapkan adanya peran positif dari Amerika dan negara-negara Eropa untuk kepentingan rakyat Palestina, karena mereka selalu berada dalam posisi ketidakadilan, tirani, arogansi, dan penjarahan rakyat. Tanggung jawab terbesar atas penderitaan rakyat Palestina terletak pada dunia Islam dan umat Islam di seluruh dunia, yang memiliki suara dan posisi. Tanggung jawab umat Islam terhadap Palestina adalah mengambil sikap serius dan memberikan segala bentuk dukungan kepada rakyat Palestina, baik materiil maupun militer, dan ini adalah tugas mereka. Jika Amerika dan Eropa datang dari ujung dunia untuk bekerja sama dengan penjajah yang menindas, lalu mengapa bangsa kita tidak berdiri berdasarkan afiliasi dan kepentingannya dengan rakyat Palestina yang tertindas? Posisi di tingkat umum, termasuk KTT Riyadh, adalah posisi yang lemah, hanya pernyataan yang berisi tuntutan, dan semuanya berakhir setelah pernyataan tersebut. Poros perlawanan berada pada tingkat dukungan militer, media dan rakyat dan melakukan demonstrasi, sementara di beberapa negara Arab mereka bahkan melarang demonstrasi. Apakah ada gerakan keilmuan dari mereka yang mengeluarkan fatwa tentang perlunya jihad jika isunya adalah perselisihan di Suriah atau menyasar rakyat Yaman atau Irak dan lain-lain? Di mana suara ulama yang mengeluarkan fatwa wajibnya jihad dalam mendukung rakyat Palestina? Apa yang membenarkan sikap diam, mengabaikan, dan bahkan menyalahkan rakyat Palestina dan mujahidinnya? Peran Rakyat Yaman Rakyat Yaman yang kami sayangi bergerak untuk mengambil posisi yang tepat di semua tingkatan dan mengumumkan pemberian segala bentuk dukungan kepada rakyat Palestina. Orang-orang terkasih kami bergerak dalam posisi yang benar untuk menyatakan perang terhadap musuh Zionis-Yahudi-Israel, dan menggerakkan kekuatan rudal mereka dan berbaris untuk menargetkan musuh Zionis. Rakyat kami bergerak

BA Indonesia: Katalisator Perubahan

Oleh: Ufqil Mubin* Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan kata “katalisator” sebagai seseorang atau sesuatu yang menyebabkan terjadinya perubahan dan menimbulkan kejadian baru atau mempercepat suatu peristiwa. Sementara kata “perubahan”, KBBI mengartikannya berubah, peralihan, dan pertukaran. Definisinya, peralihan dari suatu keadaan yang kurang ideal ke kondisi ideal. Dalam konteks ini, perubahan bermakna dari suatu keadaan negatif ke positif. Dua kata inilah—katalisator dan perubahan—yang menjadi tagline dari baindonesia.co, yang secara resmi berdiri pada 1 September 2023. Media ini berfokus pada berita-berita ekonomi. Namun, tidak berarti mengabaikan berbagai isu aktual terkait politik, pendidikan, sosial, budaya, dan lainnya. Karena itu dalam penyajiannya, konten-konten baaindonesia.co akan didominasi oleh konten ekonomi, yang persentasenya sekitar 60 persen. Konten-konten yang disajikan media ini bermuara pada keinginan kuat kami untuk mendorong penerapan Pancasila dalam sistem perekonomian Indonesia, yang secara spesifik menampung aspirasi tentang solusi terhadap masalah kemiskinan, keterbelakangan, pengangguran, ketimpangan antara penduduk miskin dan kaya, serta patologi-patologi perekonomian yang akarnya adalah penjajahan dan eksploitasi. Latar Belakang Media daring ini merupakan “anak kandung” pertama beritaalternatif.com, yang telah didirikan pada 7 Juni 2021 oleh Muhammad Fauzi, Ahmad Fauzi, dan saya. Selama dua tahun itu, beritaalternatif.com telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik dari sisi kunjungan atau pembaca maupun ekspansi dari sisi bisnis dan biro ke daerah-daerah di Provinsi Kalimantan Timur. Pembentukan baindonesia.co tentu saja telah melewati proses diskusi dan musyawarah yang alot di internal kami. Barang kali ada yang bertanya, mengapa membentuk media baru lagi? Bukankah sudah cukup dengan memperluas cakupan pembaca dan bisnis lewat beritaalternatif.com? Apakah sumber daya manusianya sudah tersedia? Apakah dukungan finansialnya tersedia? Semua pertanyaan tersebut juga muncul dalam benak saya saat memutuskan untuk mengajukan pembentukan baindonesia.co. Pertanyaan-pertanyaan tersebut saya jawab secara detail dalam bagian berikut ini: Pertama, keberadaan media-media daring yang telah terbentuk di Indonesia, sependek ingatan dan pengetahuan saya, belum mencerminkan dan mewakili aspirasi kami dalam menyajikan konten yang mendorong kebijakan berkeadilan dalam aspek perekonomian di Tanah Air. Ringkasnya, media-media arus utama di Republik ini belum secara spesifik menyajikan konten di bidang ekonomi sebagaimana tujuan pembentukan baindonesia.co. Kedua, induk dari media ini, yakni beritaalternatif.com, menyajikan konten-konten yang lebih umum, yang sebagian besarnya konten di bidang politik dalam pengertian luas—di dalamnya mencakup pula bidang hukum dan pendidikan. Sedangkan baindonesia.co berkonsentrasi pada konten-konten yang sebagian besar berisi berita-berita ekonomi. Ketiga, pembentukan media ini diakui atau pun tidak, semula tak berada dalam perencanaan kami yang secara tersurat tercatat di tingkat manajemen beritaalternatif.com. Meski begitu, keinginan untuk melakukan ekspansi dan perluasan jaringan media telah berkali-kali saya sampaikan dalam rapat formal maupun informal manajemen media tersebut. Jika ditinjau dari berbagai aspek, pembentukan baindonesia.co bertepatan dengan momentum yang saya nilai sangat tepat di tengah pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah-daerah di Provinsi Kalimantan Timur. Sejak semula, saat membentuk beritaalternatif.com, terang saja bahwa kami mendirikan media tersebut di tengah keterbatasan di berbagai aspek: finansial, sumber daya manusia, juga tidak disertai kajian mendalam tentang bisnis berikut perluasannya. Kala itu, kami hanya memiliki modal semangat dan visi yang bertumpu pada keinginan kuat kami untuk berkontribusi mengisi kekosongan di tengah menjamurnya media daring di Indonesia. Saat ini, setelah dua tahun berlalu, sumber daya manusia kami sudah tersedia serta jaringan bisnis media pun sudah terbuka lebar. Karena itu, momentum melahirkan “anak kandung” beritaalternatif.com telah berada dalam kondisi dan waktu yang tepat. Pada akhir tulisan ini, lewat media daring baindonesia.co, kami ingin berkontribusi dan berperan lebih luas dalam kancah pembentukan narasi dan gagasan di tengah publik Indonesia, juga menawarkan perspektif kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah, sehingga bisa dijadikan bahan dalam pengambilan kebijakan untuk mendorong keadilan dan kesejahteraan bangsa ini. (*Direktur Utama Baindonesia.co)

Sepuluh Ciri Orang yang Sok Pintar

Oleh: Rhenald Kasali* Dr. Phil, seorang host acara televisi, suatu ketika kedatangan tamu dan sombong sekali tamunya itu, bahkan kemudian dia mengatakan bahwa ibunya tidak relevan. Karena apa? Karena tidak memiliki banyak followers, sedangkan dia banyak follower. Dr. Phil kemudian mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang yang semakin terkenal egonya semakin mengecil”. Nah, seperti apa orang-orang yang pura-pura pintar? Saya kira perlu kita ulas. Beberapa orang mengatakan kepada saya, itu bukan pura-pura pintar, tapi itu namanya sok pintar. Mereka adalah orang yang sombong dalam kebodohannya. Entah mengapa belakangan ini cukup banyak, mungkin karena banyak orang yang pansos; yang ingin cepat terkenal, yang ingin cepat cari follower, dan akhirnya gegabah. Menabrak kiri kanan. Tapi, baiklah. Kita perlu mengenali siapa saja mereka dan mengapa mereka seperti itu? Pertama, cirinya adalah mereka dibesarkan dalam peradaban sekolah multiple choice, yaitu pilihannya a, b, c, atau d. Ada 4 pilihan, pilih salah satu. Sehingga kemudian hanya ada satu kebenaran. Kedua, mereka biasanya merasa hanya ada satu kebenaran. Seperti warna hitam atau putih. Benar atau salah. Mereka langsung bilang kalau tidak hitam, dia putih, karena mereka tahunya hanya dua warna. Padahal, di antara hitam dan putih itu ada banyak warna, termasuk abu-abu. Ketiga, mereka bersuara keras, tapi tidak dianggap oleh orang lain. Kenapa begitu? Orang lain juga tidak mau menganggap dia karena orang ini berkelahi dengan dirinya sendiri. Egonya sangat besar sekali. Dia merasa dirinya jago dalam segala hal. Keempat, mereka biasanya adalah orang yang beranggapan dirinya pintar karena bisa mendapatkan banyak follower. Kelima, mereka lebih banyak fokusnya padahal how daripada mereka mencari why. Mereka ingin melompat pada kesimpulannya. Misalnya saja ketika membahas tentang warung Ubnormal banyak ditutup. Mereka langsung mengatakan warung Upnormal ditutup kenapa karena target segmennya. Tidak jelas pricing-nya. Konsumennya begini. Ya, itulah marketing one on one. Dia tidak cari dulu why-nya, tapi dia langsung melompat kepada how-nya Atau sama saja dengan crafting. Sebagian orang langsung menyimpulkan itu pakaian bekas, tapi sebetulnya setelah kita kaji, ini merupakan sampah dari best fashion. Kalau kita enggak dalami, kita enggak paham, kita akan mengambil kesimpulan begitu. Cepat melompat. Kita pikir, kita benar. Seperti ini biasanya sangat menyesatkan. Keenam, mereka bisa yakin sekali; berani sekali. Namanya juga orang tahu sedikit. Kalau tahu sedikit, kita berani sekali. Tapi begitu kita tahu banyak, biasanya kita merasa rasanya kita belum tahu apa-apa. Ketujuh, orang-orang seperti ini biasanya cepat sekali merasa kecewa. Saya kecewa. Kata mereka. Kenapa begitu? Makanya saya perlu ingatkan, kalau suka jangan terlalu suka. Kalau senang jangan terlalu senang. Biasa saja. Nanti Anda akan cepat kecewa. Cepat kecewa kenapa ? Karena mereka juga terlalu cepat menarik kesimpulan. Kedelapan, mereka biasa berpikirnya linier. Linier itu garis lurus. Kita ingin menyederhanakan segala sesuatu. Habis a, maka b. Habis b, maka c. Kesembilan, di luar garis lurus ini kita anggapnya eror. Padahal eror ini bisa jadi adalah anomali, apalagi erornya tinggi sekali. Itu adalah out layer. Orang-orang yang berpikir linear enggak mau pusing dengan out layer itu. Harus dibersihkan. Ini salah. Padahal, para ahli belakangan menyimpulkan dan menemukan out layer ini adalah sesuatu yang memberikan inside yang sangat penting sekali. Kesepuluh, mereka berpikirnya adalah konvergen. Menyambung. Mereka hanya ingin mendapatkan satu jawaban saja. Padahal di era sosial media dan teknologi seperti ini, dalam peradaban yang konstruktif memisahkan, hari esok kita bisa melihat kebenaran masa lalu. Ada kebenaran masa depan. Ada jjuga kebenaran yang kita percaya. Karena suatu alasan tertentu, ada kebenaran lainnya. Inilah yang disebut sebagai berpikir divergent. Biasanya itu dimiliki oleh siapa? Mereka yang memiliki perspektif yang luas. Yang senang membaca buku. Senang dengan art and science. Senang eksplorasi. Kurang lebih seperti itu. Jadi, Anda jangan buru-buru langsung ingin menyimpulkan dengan pendekatan yang bersifat konvergence. Contoh dalam kehidupan ini. Semakin banyak kita melihat kebenaran yang selalu bertengkar satu sama lain. Anda masih ingat ketika pada tahun 2016 tiba-tiba Indonesia mengenal taksi online dan ojek online. Yang marah siapa? Mereka yang tinggal di pangkalan taksi-taksi itu marah terhadap ojek online dan taksi online. Ini ada dua kebenaran. Saya katakan, inilah yang disebut sebagai era baru sharing resources. Jadi, lama-lama akan bergabung juga. Sekarang terbukti bergabung. Tetapi, kita tetap memerlukan ojek-ojek pangkalan. Kita tetap memerlukan taksi-taksi yang kita kenal. Hidupnya memang ada dua-duanya. Sama-sama benar. Sama seperti misalnya Anda membeli makanan. Makanan itu biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran. Sekarang dikenal dengan nama Genetically Modified Organism (GMO), yang merupakan hasil rekayasa genetika. Sekarang makin banyak sekali produk-produk seperti itu, tetapi ini adalah produk dari sains. Belum lama ini di Filipina ada sekelompok orang melakukan riset. Penemuannya disebut dengan golden rice, yaitu beras yang mengandung beta karoten atau banyak sekali vitamin A untuk menolong masyarakat di Asia yang kesulitan mendapatkan vitamin A. Tetapi, apa yang terjadi? Mereka diserang oleh sekelompok orang yang mengatakan bahwa penemuan ini merusak kehidupan di masa depan. Mereka menghancurkannya, karena mereka adalah penganut dari organic food tersebut. Makanan-makanan organik. Kedua aliran ini, yang satu adalah organik, dan lainnya natural food. Satu lagi, yang sekarang menikmati segala sesuatu karena adanya teknologi dan sains. Sama saja ketika Anda membaca sekarang populasi telah mencapai 8 miliar. Bumi ini padat sekali. Semakin panas, kotor, penuh sampah, dan alam begitu rusak karena terjadi population boom atau ledakan penduduk. Tapi, pada saat yang bersamaan juga terjadi fertility rate atau tingkat kesuburan berkurang di sejumlah negara. Banyak sekali penduduk yang sudah tidak mempunyai anak atau punya anak kurang lebih satu. Jadi, jumlah penduduk mau tidak mau mengalami penurunan. Dua-duanya juga sama-sama benar. Kemudian, sama saja Ketika Anda melihat Tembok Berlin roboh. Kemudian era komunisme berakhir. Masuklah era mekanisme pasar atau kapitalisme. Tapi, Vietnam tidak mau menyebut dirinya sebagai negara kapitalis, tapi juga tidak mau menyebut dirinya sosialis atau komunis. Mereka mengatakan negara kami adalah mekanisme pasar di bawah kepemimpinan sosialime. Bingung kan Anda. Karena sebagian orang masih mengatakan kalau tidak kapitalis, pasti ini komunis, karena mereka berpikir hitam atau putih. Terakhir, saya kira contohnya adalah dalam dunia pendidikan kita sering kali memisahkan antara science dengan fiction. Padahal dua-duanya hidup berdampingan. Inilah yang sekarang kita lihat. Segala sesuatu yang berdasarkan imajinasi dari dunia fiksi sudah mulai menjadi sains. Sains dan fiction hendaknya jangan dipisahkan. Akhirnya, saya ingin menutup dengan apa yang disampaikan oleh tokoh-tokoh hebat, “Orang-orang yang benar-benar cerdas adalah mereka yang tidak menonjolkan kepintarannya di depan orang-orang yang berpura-pura pintar.” Imam Syafi’i pernah mengingatkan, “Lebih baik kita berdebat dengan 100 orang pintar daripada berdebat dengan satu orang bodoh, karena orang

Kebijakan Singkong Indonesia, Industri Tumbuh Petani Untung

Oleh: Prof. Dr. Ir. Andi Muhammad Syakir, Dr. Ir. Prama Yufdy, Dr. Ir. Ahmad Junaedi, Dr. Kartika Noerwijati, dan Dr. Destika Cahyana Presiden Prabowo Subianto berulangkali menegaskan pentingnya swasembada pangan dan energi dalam berbagai kesempatan. Presiden melalui Menteri Pertanian Andi Amran Sulaeman dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono bahkan mengarahkan komoditas pangan yang perlu diperhatikan bukan hanya padi dan jagung, tetapi juga singkong yang baru-baru ini menarik perhatian publik di akar rumput dan di media sosial. Pemerintah akan menerapkan larangan impor terbatas untuk memproteksi petani singkong Indonesia sekaligus memperkuat ekosistem singkong nasional. Singkong bukan sekadar singkong rebus atau singkong goreng yang menjadi sumber pangan masyarakat kecil, tetapi dalam bentuk tepung tapioka yang menjadi penopang industri. Tepung tapioka menjadi penopang bukan hanya industri pangan, tetapi juga industri nonpangan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan berbagai lapisan masyarakat dari yang paling bawah hingga papan atas. Singkong juga sumber pakan ternak hingga bioenergi dalam bentuk bioetanol. Menurut Dyah Susilokarti, Direktur Aneka Kacang dan Umbi, Kementerian Pertanian, Indonesia merupakan lima besar produsen dunia singkong. Rata-rata produksi singkong nasional pada lima tahun terakhir, 2020-2024, sebesar 15,7 juta ton per tahun dengan luas tanam 611 ribu ha dan luas panen 602 ribu ha. Rata-rata produktivitas singkong nasional mencapai 26,17 ton per ha. Pada 2024, produksi singkong sebesar 15,1 juta ton. Angka itu cenderung turun dibanding produksi pada 2020 dan 2023 yang masing-masing mencapai 16,2 juta ton dan 16,7 juta ton. Sebaliknya angka impor cenderung naik dan angka ekspor cenderung turun. Data 2024 menunjukkan angka impor menembus 277 ribu ton yang menandakan kebutuhan dalam negeri belum mampu dipenuhi mandiri dari sisi kuantitas maupun kualitas bahan baku. Padahal, jutaan petani menggantungkan hidup dari singkong. Tim perumus pada Focus Group Discussion dengan tema Dampak Larangan Impor Tapioka dan Prospek Hilirisasi Industri Singkong yang digelar Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI) pada akhir bulan lalu mengungkap terdapat perbedaan pemahaman antara petani sebagai produsen dan dunia industri sebagai pengguna awal singkong. Varietas yang ditanam petani di Lampung sangat beragam dan lebih mengutamakan hasil panen tinggi. Petani menanam dengan memilih varietas yang hasil panen tinggi karena menjual hasil panen berdasarkan bobot semata, sementara industri membeli berdasarkan kadar pati. Industri membutuhkan singkong dengan kadar pati 24 persen. Tentu singkong yang kadar patinya kurang dari 24 persen harganya rendah. Petani merugi karena pendapatan berkurang, demikian pula industri harus membeli lebih banyak bahan baku. Pada kondisi itulah produk impor dari Thailand dan Vietnam lebih menggiurkan industri karena harga lebih murah dan kualitas lebih konsisten. Larangan impor total sudah pasti menguntungkan petani, tetapi industri menjadi terhambat, sehingga dibutuhkan larangan impor terbatas yang berkeadilan. Pemerintah sudah selayaknya mempersiapkan ekosistem hulu-hilir yang mampu menggantikan suplai impor secara berkelanjutan dengan prinsip industri tumbuh dan petani untung. Dalam konteks inilah kemitraan antara petani dan industri menjadi kunci. Di Provinsi Lampung, sebagai sentra singkong yang berkontribusi pada lebih dari 50 persen produksi nasional, model kemitraan yang baik telah diterapkan PT Umas Jaya. Industri dan petani bermitra dengan menanam varietas unggul yang telah disepakati dan jadwal tanam yang teratur serta pendampingan teknis. Dengan cara itu petani dan pengusaha dapat untung. Namun, kemitraan tersebut masih terbatas. Untuk melindungi petani, pemerintah telah menetapkan harga jual di pabrik sebesar Rp 1.350 per kg. Tapi pada kenyataannya masih banyak petani yang menerima harga di bawah Rp 1.000 per kg. Bahkan ada yang sampai Rp 600 per kg. Oleh karena itu pola-pola kemitraan seperti close loop system perlu diperluas dan diperkuat dalam bentuk regulasi khusus. Kemitraan bukan hanya untuk pendampingan teknis, tapi juga sekaligus menampung hasil petani dengan harga yang disepakati serta sesuai dengan regulasi pemerintah. Varietas Unggul Prof. Sumarno, salah satu pakar agronomi senior, mengusulkan agar petani singkong dibagi dua kelompok yakni petani singkong industri dan petani singkong pangan. Petani industri perlu didaftarkan secara resmi (registered cassava farmer), menjalankan budi daya sesuai standard operating procedure (SOP), dan mendapatkan pembinaan serta kontrak harga dengan industri. Menurut Sumarno, industri juga harus menyampaikan kebutuhan singkong per tahun secara terbuka, agar perencanaan produksi nasional lebih sinkron. Pemerintah diharapkan tidak hanya menjadi wasit, tetapi juga fasilitator utama dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan industri dan petani. Salah satu tantangan mendasar dalam budi daya singkong adalah umur panen yang relatif panjang, mencapai 9-12 bulan. Namun kini sudah tersedia varietas unggul berumur genjah 7 bulan yang dapat menghasilkan 30 ton per hektar dengan kadar pati di atas 20 persen. Beberapa di antaranya adalah Vamas 1, UK 1 Agritan, Ukage 1, Ukage 2, dan Ukage 3. Ketersediaan benih varietas unggul yang bermutu perlu diupayakan bersama. Pemerintah perlu melakukan percepatan produksi benih, pembangunan demplot varietas unggul di sentra produksi, serta distribusi benih ke petani melalui koperasi atau kelompok tani binaan. Pada saat bersamaan, BRIN juga tengah membangun varietas unggul baru. Tapi proses ini memerlukan waktu 5-10 tahun karena panjangnya siklus tanaman dan tingginya biaya riset. Pemerintah perlu meningkatkan alokasi anggaran riset jika ingin swasembada singkong tidak sebatas wacana. Di sisi produktivitas, masih banyak petani singkong yang memanen di kisaran 17 ton per ha meskipun produktivitas nasional sudah mencapai 26,17 ton per ha dan potensi genetik singkong dapat mencapai 30 ton bahkan lebih. Lebarnya kesenjangan hasil ini dapat dipersempit dengan modernisasi manajemen agribisnis singkong, mulai dari pemupukan presisi, rotasi tanaman untuk menjaga kesuburan tanah, hingga digitalisasi informasi produksi dan pasar. Petani juga membutuhkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus singkong dengan tenor yang sesuai umur panen. Demikian pula data kebutuhan industri dan produksi petani harus dikelola dalam neraca komoditas singkong nasional yang transparan dan berbasis spasial. Terakhir, larangan impor tapioka tidak boleh hanya menjadi kebijakan perlindungan sesaat. Tetapi harus menjadi batu loncatan menuju transformasi industri singkong yang inklusif dan berkelanjutan. Tagline berupa “industri harus tumbuh dan petani harus untung” menjadi kata kunci yang harus dipahami semua pihak. Dengan dukungan riset, regulasi yang tepat, dan kemitraan yang adil, singkong dapat menjadi fondasi kedaulatan pangan dan energi nasional. Sudah saatnya bangsa Indonesia membatasi impor komoditas yang dapat ditanam sendiri dan membangun sistem pangan yang berpihak pada petani sehingga bangsa Indonesia dapat berdaulat pangan. (*Pengurus Pusat Perhimpunan Agronomi Indonesia dan Peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional)