Puluhan Peserta dari Kukar Ikuti Pelatihan Peningkatan Kapasitas Tata Kelola Kelembagaan Koperasi

BAINDONESIA.CO – Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Diskop-UKM) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kembali menyelenggarakan program peningkatan kapasitas bagi gerakan koperasi melalui kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Tata Kelola Kelembagaan Koperasi. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 17 hingga 19 November 2025, bertempat di Hotel Grand Verona, Samarinda, dan diikuti oleh 60 peserta yang berasal dari berbagai koperasi di Kukar. Pelatihan dibuka secara resmi oleh Plt Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Kukar yang diwakili oleh Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Iska. Dalam laporannya, dia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya strategis pemerintah daerah untuk memperkuat kelembagaan koperasi agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman serta meningkatkan kualitas tata kelola yang akuntabel dan profesional. Ia menegaskan bahwa dasar pelaksanaan kegiatan ini merujuk pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian serta RKA/DPA Perubahan Dinas Koperasi dan UKM Kukar Tahun Anggaran 2025. Iska menekankan bahwa koperasi sebagai soko guru perekonomian harus memiliki kemampuan manajerial yang baik agar dapat memberikan manfaat optimal bagi anggota dan masyarakat. “Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan koperasi dalam mengelola lembaganya secara efektif, efisien, dan profesional,” ujarnya. Dia berharap pelatihan ini bisa menjadi ruang belajar bersama yang mampu memperkuat pemahaman peserta terkait prinsip tata kelola kelembagaan yang baik (good cooperative governance). Ia memaparkan sejumlah hasil yang diharapkan dari kegiatan ini, antara lain meningkatnya kepercayaan anggota terhadap koperasi, membaiknya kinerja organisasi, tumbuhnya partisipasi anggota, serta terciptanya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan koperasi. Dengan tata kelola yang kuat, Iska meyakini koperasi di Kukar dapat berkembang lebih berkelanjutan dan menjadi pilar penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Pelatihan ini menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi dan akademisi yang berkompeten di bidang perkoperasian. Adapun metode kegiatan dilakukan secara kombinasi melalui paparan materi, diskusi interaktif, serta sesi tanya jawab. Dengan keterlibatan 60 peserta yang merupakan pengurus dan pengawas koperasi dari berbagai desa di Kukar, pelatihan ini diharapkan mampu memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kapasitas kelembagaan koperasi di tingkat akar rumput. Dia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir dan menunjukkan komitmen dalam upaya memperbaiki tata kelola koperasi masing-masing. Ia berharap hasil pelatihan ini tidak hanya berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga dapat diterapkan secara nyata dalam proses pengelolaan koperasi. “Semoga kegiatan ini dapat memberikan kontribusi positif serta menjadi bahan evaluasi untuk pelaksanaan program serupa di masa mendatang,” tutupnya. Dengan dibukanya kegiatan ini, Pemkab Kukar menegaskan kembali komitmennya dalam mendorong koperasi sebagai pilar penggerak ekonomi kerakyatan. Penguatan kapasitas melalui pelatihan yang terstruktur dan berkelanjutan diharapkan dapat mendorong koperasi di Kukar menjadi organisasi yang modern, transparan, dan mampu bersaing di era transformasi ekonomi saat ini. (*) Penulis: Hanna Editor: Ufqil Mubin

Tim PKM Universitas Pamulang Bangun Pustaka untuk Tingkatkan Literasi Warga Depok

BAINDONESIA.CO – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Pamulang berhasil melaksanakan program pemberdayaan berbasis literasi melalui pembangunan Gazebo Pustaka Langit Literasi Keluarga (LLK) Kolong Sutet. Kegiatan ini merupakan implementasi dari Program Hibah Bima Kemdiktisaintek 2025, Kelompok Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, dengan ruang lingkup pemberdayaan kemitraan masyarakat dan fokus pada bidang sosial, humaniora, serta lingkungan hidup. Tim PKM Pemenang Hibah Bima Kemdiktisaintek 2025 Universitas Pamulang dalam rilisnya pada Selasa (16/9/2025) mengungkapkan program yang berlangsung selama satu tahun ini diusulkan mulai 2025 dengan melibatkan tim dosen Universitas Pamulang, yakni Jamaludin, S.E.I., M. Ec. Dev. (Ketua Tim, kepakaran Ekonomi Pembangunan), Dr. Thamrin, S.Pd., M.Pd. (kepakaran Penelitian dan Evaluasi Pendidikan), serta Nahoras Bona Simarmata, S.S., M.Hum. (kepakaran Sastra Inggris & Linguistik Penerjemahan). Dua mahasiswa program studi Manajemen juga turut serta, yaitu Intan Ali Septiana Zain (Manajemen Keuangan) dan Saudi Ega Putra (Manajemen SDM). Mitra utama kegiatan ini adalah Karang Taruna Unit 12 Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. Observasi awal menunjukkan sejumlah permasalahan yang dihadapi mitra, antara lain belum ada wahana literasi terbuka, pengalaman dalam mengelola program literasi berbasis komunitas yang minim, akses terhadap sumber daya edukatif yang minim, ketiadaan sistem pendampingan dan pelatihan berkelanjutan, serta kepemimpinan dan koordinasi yang lemah. Sebelum ada gazebo tersebut, kegiatan kampanye literasi dan lapak baca bersama berlangsung di lapangan tenis RT 002/RW 012. Meski suasananya ramai dan penuh semangat, para peserta, yang sebagian besar anak-anak sekolah dasar, harus beradaptasi dengan ruang terbuka tanpa tempat khusus membaca. Setelah gazebo didirikan, kegiatan literasi menjadi lebih nyaman dan terfokus. Ruang teduh tersebut kini dimanfaatkan tidak hanya sebagai tempat baca, tetapi juga ruang belajar, diskusi, rapat, hingga aktivitas warga lainnya. Fasilitas baru ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan budaya baca, pembentukan komunitas belajar aktif, serta kelahiran karya kolaboratif masyarakat. Tidak hanya menghadirkan fasilitas, tim juga berupaya memperkuat pengelolaan program literasi berbasis komunitas. Untuk itu, mereka melakukan studi banding ke Taman Baca Masyarakat Kolong Ciputat yang sudah berpengalaman sejak 2016. Dari diskusi tersebut, tim memperoleh wawasan penting terkait pengelolaan ruang baca yang konsisten, inovatif, dan adaptif. Selain itu, gazebo kini menyediakan 50 buku bacaan beragam, mulai dari komik, dongeng, ensiklopedia, hingga buku motivasi. Koleksi ini ditujukan untuk semua kalangan, dari anak-anak hingga orang tua, agar kebiasaan membaca dalam keluarga semakin tumbuh. Sebagai bentuk keberlanjutan, tim menyelenggarakan pelatihan Leadership for Literacy dengan melibatkan narasumber dari Ketua TBM Kolong Ciputat, akademisi Unindra, dan Ketua Tim Pengabdi Universitas Pamulang. Materi yang diberikan mencakup pengelolaan tempat literasi berkelanjutan, kepemimpinan komunitas, hingga manajemen konflik. Hasilnya, kapasitas kepemimpinan anggota Karang Taruna meningkat, strategi pengelolaan lebih terstruktur, serta lahir program literasi yang inovatif sesuai kebutuhan masyarakat. Untuk memastikan kegiatan literasi berjalan efektif, tim membentuk struktur organisasi Gazebo Pustaka LLK Kolong Sutet. Struktur ini bertujuan memperjelas peran dan tanggung jawab pengurus, memperkuat koordinasi, serta meningkatkan akuntabilitas program. Dengan begitu, gazebo tidak hanya hadir sebagai fasilitas fisik, tetapi juga pusat literasi terbuka yang dikelola secara profesional dan berdampak nyata bagi masyarakat sekitar. Kehadiran Gazebo Literasi ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara akademisi, mahasiswa, dan komunitas dapat menjawab persoalan minimnya akses literasi di masyarakat sekaligus menghadirkan ruang belajar bersama yang berkelanjutan. (*) Editor: Ufqil Mubin

Perekonomian Dunia dalam Bayang-Bayang Resesi

BAINDONESIA.CO – Perwakilan masyarakat Behshahr di parlemen Iran Gholamreza Syari’ati mengatakan bahwa kebijakan pertahanan, komersial, dan bea cukai Presiden Amerika Serikat Donald Trump berdampak negatif pada perekonomian dunia. Hal itu disampaikannya dalam percakapan dengan reporter Mehr News, perwakilan orang-orang Behshahr di Dewan Islam, mengacu pada alasan kenaikan harga emas dan dolar di pasar. “Kita telah menyaksikan kenaikan harga emas global dan rekor barunya selama beberapa waktu, dan kenaikan harga dalam negeri ini juga dipengaruhi oleh kenaikan harga emas di pasar dunia,” jelasnya. Semua kenaikan harga ini, sambung dia, adalah akibat dari keputusan politik keamanan, bea cukai, dan perdagangan Trump. Ia menyebut kebijakan-kebijakan pecinta perang Presiden Amerika di beberapa wilayah Timur Tengah dan dunia telah menyebabkan kenaikan harga emas serta dampak negatif lainnya terhadap perekonomian global. Gholamreza menegaskan, berbagai blok ekonomi di dunia harus menentang keputusan Trump dan mencegah dampak negatif dari keputusannya dengan mengadopsi kebijakan yang rasional dan independen. “Jika praktik Presiden Amerika ini terus berlanjut, kita pasti akan menyaksikan resesi ekonomi dunia,” pungkasnya. (*) Sumber: Mehrnews.com

Pj Gubernur Kaltim, Bupati, dan Forkopimda Kukar Bahas Pengendalian Inflasi

BAINDONESIA.CO – Pj Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) bersama Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menggelar rapat pembahasan strategi pengendalian inflasi di daerah pada tahun 2024. Rapat yang digelar di Ruang Serbaguna Kantor Bupati Kukar ini menjadi wujud komitmen bersama Pemda di Kaltim untuk menyatukan langkah yang akan diambil guna menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Dalam sesi wawancara bersama awak media, Pj Gubernur Kaltim Akmal Malik menyampaikan urgensi kerja sama lintas sektor dalam menghadapi tantangan inflasi. “Memang ini penting kolaborasi. Kami melakukan Raker bersama dengan Bupati agar bukan hanya perspektif Provinsi yang paham tapi Kabupaten juga paham. Kenapa ini saya tempatkan di Kukar? Karena Kukar adalah lumbung pangannya Kaltim,” ujarnya, Senin (12/2/2024). Rapat tersebut berfokus pada identifikasi faktor-faktor yang berpotensi memicu kenaikan inflasi di wilayah Kaltim. Sejumlah langkah konkret diambil dalam rapat tersebut, antara lain peningkatan pengawasan distribusi dan harga barang, upaya meningkatkan produksi, serta distribusi pangan lokal. “Petani kita sudah mulai produksi, tetapi kita enggak tahu anomali cuaca. Makanya sekarang Pak Bupati bersama-sama juga sudah menyiapkan langkah pompanisasi di samping juga melakukan diversifikasi pertanian,” tambah Akmal. Bupati Kukar Edi Damansyah menyoroti potensi inflasi yang dapat mempengaruhi stabilitas harga barang dan jasa di tingkat lokal. Dia menyampaikan bahwa melalui rapat ini Pemkab Kukar dapat mengidentifikasi sektor-sektor yang rentan terhadap kenaikan harga serta merumuskan kebijakan yang tepat untuk mengendalikan inflasi. “Tadi beras diinformasikan stok nasionalnya agar menjadi perhatian karena beberapa titik yang menyuplai agak sedikit menurun produksinya. Tadi juga yang jadi perhatian lombok, bawang putih, dan bawang merah,” ungkapnya. Rapat tersebut juga menekankan peran kepala daerah untuk mengawal program pengembangan pertanian di wilayah Kukar sebagai upaya pengendalian inflasi serta peran mereka dalam menjaga stabilitas harga. “Intinya kami ingatkan kepada semua kepala daerah-daerah yang produksi kantong-kantong pangan itu agar fokus dalam mengembangkan program pangan,” pungkas Edi. (jt/um)

Angka Kemiskinan di Kabupaten Kukar pada Periode 2018-2023

BAINDONESIA.CO – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyebut angka kemiskinan di Kukar selama 5 tahun terakhir mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Kepala BPS Kukar, Nur Wahid menjelaskan, angka kemiskinan di Kukar pada tahun 2018 mencapai 7,41 persen. Pada tahun 2019, angka kemiskinan menurun menjadi 7,20 persen. Dua tahun berikutnya tingkat kemiskinan di Kukar mencapai 7,99 persen akibat pandemi Covid-19. Pasca pandemi, pada tahun 2022 angka kemiskinan kembali menurun menjadi 7,96 persen. Tren penurunan ini berlanjut hingga tahun 2023 yang mencapai 7,61 persen. “Namun pada tahun 2022 dan 2023, yaitu pasca pandemi, kembali menurun sampai dengan sekarang,” jelas Wahid Kepala BPS Kukar pada Jumat (19/1/2024). Kenaikan angka kemiskinan di Kukar pada tahun 2020-2021 juga disebut Wahid karena dipengaruhi penambahan jumlah pendatang baru dari luar daerah. Berdasarkan analisis BPS, penurunan angka kemiskinan tersebut dipengaruhi berbagai program pembangunan ekonomi dan sosial yang diimplementasikan oleh Pemerintah Daerah Kukar. Program-program tersebut tak hanya fokus pada pemberdayaan ekonomi, tetapi juga mencakup aspek-aspek pendidikan dan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dia menjelaskan bahwa capaian ini sejalan dengan komitmen pemerintah daerah untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif. “Kami berupaya keras untuk mengurangi tingkat kemiskinan dengan menerapkan kebijakan yang berbasis data dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Meskipun angka kemiskinan di Kukar mengalami penurunan signifikan, beberapa kecamatan masih mengalami tantangan serius dari segi kemiskinan. Kata Wahid, pemerintah daerah berusaha merumuskan strategi lebih lanjut untuk menyelesaikan masalah tersebut, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di seluruh wilayah Kukar. (jt/um)

Keuntungan Investasi Emas

BAINDONESIA.CO – Pernah enggak kamu mikir, “Kenapa emas bisa punya nilai? Padahal itu kan cuma logam biasa.” Kali ini kita bakal coba bahas intinya secara

Kiat agar Usaha Kecil Jadi Besar

BAINDONESIA.CO – Usaha kecil bisa berkembang menjadi usaha besar. Syaratnya harus memenuhi sejumlah kriteria. Berikut kita bahas beberapa pola usaha kecil yang tumbuh menjadi usaha

Teuku Rezasyah: Indonesia Hadapi Tekanan sebagai Anggota BRICS

BAINDONESIA.CO – Pakar hubungan internasional Teuku Rezasyah menyatakan bahwa Indonesia saat ini memainkan peran strategis sebagai qualified middle power atau kekuatan kelas menengah yang berkualitas dalam tatanan global. Peran tersebut dijalankan dengan prinsip bebas aktif yang selama ini menjadi tradisi diplomasi Indonesia. “Kita sudah terbiasa menjalin sinergi melalui konsultasi dan konsensus tanpa memusuhi siapa pun. Ini ciri khas dari diplomasi Indonesia,” ujar Teuku dalam wawancara khusus di Metro TV sebagaimana dikutip media ini pada Senin (7/7/2025). Namun, dia memperingatkan bahwa tatanan global saat ini tengah berada di ambang ketidakstabilan serius akibat kebijakan sepihak mantan Presiden AS Donald Trump, yang kembali aktif di panggung politik global. “Apa yang dilakukan Donald Trump saat ini benar-benar luar biasa dan membahayakan,” tegasnya. Dia merujuk pada pernyataan pakar ekonomi Amerika Serikat, Jeffrey Sachs, yang menyebut bahwa Trump is wrecking the world economy. Teuku menyebut kebijakan-kebijakan Trump telah “mempordak-porandakan” stabilitas ekonomi global serta merusak struktur kerja sama multilateral seperti BRICS. BRICS yang awalnya terdiri dari lima negara utama—Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan—telah mengalami ekspansi besar dalam dua tahun terakhir. Tahun lalu, organisasi ini menambahkan enam anggota baru: Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Tahun ini, anggota baru kembali bergabung yakni Belarus, Nigeria, Thailand, dan Vietnam. Namun menurut Teuku, harapan besar terhadap BRICS justru berada di bawah tekanan. “Tindakan Trump kini juga menyasar BRICS. Ini bukan hanya tekanan terhadap Indonesia, tapi terhadap seluruh dunia,” jelasnya. Tahun ini BRICS mengangkat tema besar Strengthening Global South Cooperation for a More Inclusive and Sustainable Governance. Tujuannya adalah memperkuat kerja sama demi tata kelola global yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan. “Tapi harapan itu bisa runtuh karena tekanan unilateral dari Amerika Serikat,” ujar Teuku. Dia mengungkapkan bahwa Trump bahkan memberikan ultimatum kepada negara-negara yang belum melakukan konsultasi dengan pemerintah AS. “Konon, mereka diberi tenggat waktu hingga Rabu malam,” katanya. Trump juga disebut-sebut akan memperkenalkan kebijakan tarif sosial yang mulai diberlakukan pada tahun ini. “Langkah ini jelas akan menekan ekspor negara-negara berkembang dan memaksa negara-negara Global South tunduk dalam relasi yang tidak setara,” paparnya. Indonesia, lanjutnya, sangat mungkin terkena dampak langsung dari kebijakan ini. “Kita harus sadar bahwa ekonomi Amerika Serikat adalah yang terbesar di dunia saat ini. Tekanan ini bisa berdampak pada ekspor kita, pada pencapaian target ekonomi nasional, bahkan terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi kita secara keseluruhan,” tegasnya. Namun ia meyakini bahwa Indonesia tetap memiliki peluang untuk memainkan peran penting dalam meredam eskalasi global. “Sebagai qualified middle power, Indonesia harus memperkuat solidaritas dengan sesama anggota BRICS, menjaga prinsip bebas aktif, dan tetap mendorong tata kelola global yang adil dan setara,” pungkasnya. (*) Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Serangan Iran Lumpuhkan Perekonomian Israel

BAINDONESIA.CO – Dikutip Tasnim dari Wall Street Journal, perang Israel dengan Iran telah membebankan biaya ratusan juta Dolar atas Tel Aviv. Berdasarkan laporan Wall Street Journal dari para pakar, biaya terbesar yang mesti ditanggung Israel berhubungan dengan sistem pertahanan udara untuk mencegat serangan rudal Iran. “Sistem rudal Israel mungkin menelan biaya hingga 200 juta Dolar tiap harinya,” lapor Wall Street Journal. Sementara itu, harian Maariv melaporkan bahwa pasar-pasar di Tel Aviv lengang akibat gelombang serangan rudal Iran. “Separuh dari toko-tako Tel Aviv ditutup lantaran mencemaskan serangan-serangan berikutnya,” tulis Maariv. Di sisi lain, Unit Gawat Darurat Rezim Zionis mengumumkan perawatan 1.007 orang yang terluka akibat serangan rudal dan drone Iran. Serangan rudal Iran membuat ekonomi Rezim Zionis menghela napas-napas terakhirnya, setelah sebelum ini limbung akibat perang di Gaza. Kaburnya para inevestor, merosotnya pasar dan bursa saham, menurunnya nilai mata uang Shekel di hadapan Dolar, berhentinya penerbangan komersial internasional, larinya para wisatawan asing, dan mandeknya ekspor-impor di Tanah Pendudukan adalah bagian dari dampak langsung perang ini terhadap ekonomi Rezim Zionis. (*) Sumber: Poros Perlawanan

Iran Serang Pusat Energi Rezim Israel

BAINDONESIA.CO – Gelombang kedua serangan rudal Iran dalam Operasi Janji Sejati 3, yang diluncurkan sebagai respons atas agresi militer rezim Zionis, berhasil mengenai berbagai target strategis di Wilayah Pendudukan Palestina. Menurut laporan Kantor Berita Mehr pada Minggu 15 Juni, puluhan rudal dan pesawat nirawak Iran ditembakkan ke posisi-posisi militer rezim Zionis. Operasi ofensif ini dilakukan oleh Divisi Kedirgantaraan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dengan nama sandi “Wahai Ali bin Abi Thalib (a.s)”. Serangan tersebut berhasil menembus beberapa lapisan sistem pertahanan udara Israel pada malam perayaan Idul Ghadir. Para pejabat tinggi Iran menegaskan bahwa setiap aksi agresi dari rezim Zionis akan direspons dengan tindakan keras dan tegas. Sebagai bentuk balasan atas serangan brutal yang dilancarkan oleh Israel, ratusan rudal balistik berbagai jenis ditembakkan dari sejumlah lokasi ke Wilayah Pendudukan. Serangan ini memanfaatkan kesiapan penuh dan kemampuan tinggi sistem pertahanan Iran. Pernyataan IRGC Terkait Tahap Lanjutan Operasi “Janji Sejati 3” Dalam pernyataan resmi terbaru, IRGC mengonfirmasi bahwa fasilitas produksi bahan bakar jet tempur dan pusat-pusat pasokan energi milik rezim Zionis telah menjadi sasaran gelombang baru serangan drone dan rudal dalam Operasi Janji Sejati 3. Berikut kutipan dari pengumuman resmi IRGC, Humas No. 2: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih” “Maka seranglah mereka sebagaimana mereka telah menyerang kalian…” (Surah Al-Baqarah:194) IRGC menyatakan bahwa operasi ofensif gabungan ini akan terus diperluas dan ditingkatkan intensitasnya apabila agresi militer dari pihak Israel tetap berlanjut. Sistem pertahanan kedirgantaraan milik IRGC, di bawah komando jaringan terpadu dan markas gabungan pertahanan udara Republik Islam Iran, telah berhasil mencegat dan menghancurkan tiga rudal jelajah, sepuluh drone, serta puluhan wahana udara tak berawak milik tentara Zionis di wilayah konflik. (*) Sumber: Poros Perlawanan

Teuku Rezasyah: Indonesia Hadapi Tekanan sebagai Anggota BRICS

BAINDONESIA.CO – Pakar hubungan internasional Teuku Rezasyah menyatakan bahwa Indonesia saat ini memainkan peran strategis sebagai qualified middle power atau kekuatan kelas menengah yang berkualitas dalam tatanan global. Peran tersebut dijalankan dengan prinsip bebas aktif yang selama ini menjadi tradisi diplomasi Indonesia. “Kita sudah terbiasa menjalin sinergi melalui konsultasi dan konsensus tanpa memusuhi siapa pun. Ini ciri khas dari diplomasi Indonesia,” ujar Teuku dalam wawancara khusus di Metro TV sebagaimana dikutip media ini pada Senin (7/7/2025). Namun, dia memperingatkan bahwa tatanan global saat ini tengah berada di ambang ketidakstabilan serius akibat kebijakan sepihak mantan Presiden AS Donald Trump, yang kembali aktif di panggung politik global. “Apa yang dilakukan Donald Trump saat ini benar-benar luar biasa dan membahayakan,” tegasnya. Dia merujuk pada pernyataan pakar ekonomi Amerika Serikat, Jeffrey Sachs, yang menyebut bahwa Trump is wrecking the world economy. Teuku menyebut kebijakan-kebijakan Trump telah “mempordak-porandakan” stabilitas ekonomi global serta merusak struktur kerja sama multilateral seperti BRICS. BRICS yang awalnya terdiri dari lima negara utama—Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan—telah mengalami ekspansi besar dalam dua tahun terakhir. Tahun lalu, organisasi ini menambahkan enam anggota baru: Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Tahun ini, anggota baru kembali bergabung yakni Belarus, Nigeria, Thailand, dan Vietnam. Namun menurut Teuku, harapan besar terhadap BRICS justru berada di bawah tekanan. “Tindakan Trump kini juga menyasar BRICS. Ini bukan hanya tekanan terhadap Indonesia, tapi terhadap seluruh dunia,” jelasnya. Tahun ini BRICS mengangkat tema besar Strengthening Global South Cooperation for a More Inclusive and Sustainable Governance. Tujuannya adalah memperkuat kerja sama demi tata kelola global yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan. “Tapi harapan itu bisa runtuh karena tekanan unilateral dari Amerika Serikat,” ujar Teuku. Dia mengungkapkan bahwa Trump bahkan memberikan ultimatum kepada negara-negara yang belum melakukan konsultasi dengan pemerintah AS. “Konon, mereka diberi tenggat waktu hingga Rabu malam,” katanya. Trump juga disebut-sebut akan memperkenalkan kebijakan tarif sosial yang mulai diberlakukan pada tahun ini. “Langkah ini jelas akan menekan ekspor negara-negara berkembang dan memaksa negara-negara Global South tunduk dalam relasi yang tidak setara,” paparnya. Indonesia, lanjutnya, sangat mungkin terkena dampak langsung dari kebijakan ini. “Kita harus sadar bahwa ekonomi Amerika Serikat adalah yang terbesar di dunia saat ini. Tekanan ini bisa berdampak pada ekspor kita, pada pencapaian target ekonomi nasional, bahkan terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi kita secara keseluruhan,” tegasnya. Namun ia meyakini bahwa Indonesia tetap memiliki peluang untuk memainkan peran penting dalam meredam eskalasi global. “Sebagai qualified middle power, Indonesia harus memperkuat solidaritas dengan sesama anggota BRICS, menjaga prinsip bebas aktif, dan tetap mendorong tata kelola global yang adil dan setara,” pungkasnya. (*) Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Serangan Iran Lumpuhkan Perekonomian Israel

BAINDONESIA.CO – Dikutip Tasnim dari Wall Street Journal, perang Israel dengan Iran telah membebankan biaya ratusan juta Dolar atas Tel Aviv. Berdasarkan laporan Wall Street Journal dari para pakar, biaya terbesar yang mesti ditanggung Israel berhubungan dengan sistem pertahanan udara untuk mencegat serangan rudal Iran. “Sistem rudal Israel mungkin menelan biaya hingga 200 juta Dolar tiap harinya,” lapor Wall Street Journal. Sementara itu, harian Maariv melaporkan bahwa pasar-pasar di Tel Aviv lengang akibat gelombang serangan rudal Iran. “Separuh dari toko-tako Tel Aviv ditutup lantaran mencemaskan serangan-serangan berikutnya,” tulis Maariv. Di sisi lain, Unit Gawat Darurat Rezim Zionis mengumumkan perawatan 1.007 orang yang terluka akibat serangan rudal dan drone Iran. Serangan rudal Iran membuat ekonomi Rezim Zionis menghela napas-napas terakhirnya, setelah sebelum ini limbung akibat perang di Gaza. Kaburnya para inevestor, merosotnya pasar dan bursa saham, menurunnya nilai mata uang Shekel di hadapan Dolar, berhentinya penerbangan komersial internasional, larinya para wisatawan asing, dan mandeknya ekspor-impor di Tanah Pendudukan adalah bagian dari dampak langsung perang ini terhadap ekonomi Rezim Zionis. (*) Sumber: Poros Perlawanan

Iran Serang Pusat Energi Rezim Israel

BAINDONESIA.CO – Gelombang kedua serangan rudal Iran dalam Operasi Janji Sejati 3, yang diluncurkan sebagai respons atas agresi militer rezim Zionis, berhasil mengenai berbagai target strategis di Wilayah Pendudukan Palestina. Menurut laporan Kantor Berita Mehr pada Minggu 15 Juni, puluhan rudal dan pesawat nirawak Iran ditembakkan ke posisi-posisi militer rezim Zionis. Operasi ofensif ini dilakukan oleh Divisi Kedirgantaraan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dengan nama sandi “Wahai Ali bin Abi Thalib (a.s)”. Serangan tersebut berhasil menembus beberapa lapisan sistem pertahanan udara Israel pada malam perayaan Idul Ghadir. Para pejabat tinggi Iran menegaskan bahwa setiap aksi agresi dari rezim Zionis akan direspons dengan tindakan keras dan tegas. Sebagai bentuk balasan atas serangan brutal yang dilancarkan oleh Israel, ratusan rudal balistik berbagai jenis ditembakkan dari sejumlah lokasi ke Wilayah Pendudukan. Serangan ini memanfaatkan kesiapan penuh dan kemampuan tinggi sistem pertahanan Iran. Pernyataan IRGC Terkait Tahap Lanjutan Operasi “Janji Sejati 3” Dalam pernyataan resmi terbaru, IRGC mengonfirmasi bahwa fasilitas produksi bahan bakar jet tempur dan pusat-pusat pasokan energi milik rezim Zionis telah menjadi sasaran gelombang baru serangan drone dan rudal dalam Operasi Janji Sejati 3. Berikut kutipan dari pengumuman resmi IRGC, Humas No. 2: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih” “Maka seranglah mereka sebagaimana mereka telah menyerang kalian…” (Surah Al-Baqarah:194) IRGC menyatakan bahwa operasi ofensif gabungan ini akan terus diperluas dan ditingkatkan intensitasnya apabila agresi militer dari pihak Israel tetap berlanjut. Sistem pertahanan kedirgantaraan milik IRGC, di bawah komando jaringan terpadu dan markas gabungan pertahanan udara Republik Islam Iran, telah berhasil mencegat dan menghancurkan tiga rudal jelajah, sepuluh drone, serta puluhan wahana udara tak berawak milik tentara Zionis di wilayah konflik. (*) Sumber: Poros Perlawanan

Felix Zulhendri Ingatkan Bahaya Gula dan Karbohidrat dalam Kehidupan

BAINDONESIA.CO – Praktisi kesehatan Indonesia Felix Zulhendri kembali mengingatkan masyarakat tentang bahaya konsumsi gula dan karbohidrat berlebih dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pernyataan terbarunya, Felix menyebut bahwa kita kini hidup di lingkungan ekstrem yang mendorong konsumsi makanan tidak sehat secara masif, dan oleh karena itu, dibutuhkan keputusan ekstrem pula untuk menjaga kesehatan. “Saya selalu berkaca. Kalau perut saya mulai buncit sedikit, saya tahu itu tandanya saya makan karbohidrat dan gula terlalu banyak. Maka saya langsung hentikan karbohidrat selama 1-2 hari, dan 2-3 hari kemudian saya cek lagi. Biasanya perut kembali rata,” ujarnya sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Malaka pada Kamis (10/7/2025). Menurutnya, pengelolaan konsumsi gula dan karbohidrat harus menjadi kesadaran personal, bukan hanya sebagai bagian dari program diet. “Kita tidak pernah kekurangan gula dan karbohidrat, karena ke mana pun kita pergi, pasti selalu ada unsur itu. Yang sebenarnya kita kekurangan justru adalah protein dan lemak sehat,” tambahnya. Felix menyoroti kondisi masyarakat modern yang nyaris tak bisa lepas dari makanan manis. Ia mencontohkan dengan mengajak masyarakat melihat rak-rak minimarket. “Coba saja ke minimarket, 95 hingga 99 persen isinya adalah produk berbasis gula dan karbohidrat olahan. Maka kita perlu mengambil keputusan yang berani: kelola konsumsi kita, atau kita akan jadi korban,” tegasnya. Selain risiko diabetes dan obesitas, dia mengungkapkan hasil diskusinya dengan seorang dokter di unit hemodialisis (cuci darah) di salah satu rumah sakit di Sumatera Utara. Ia terkejut ketika mendengar bahwa pasien-pasien cuci darah kini semakin muda. “Pasiennya sekarang usia 20, 30, 40 tahun. Dulu usia 50 ke atas. Ini perubahan besar. Dan ini jelas terkait dengan pola makan modern: makanan ultra-proses, konsumsi gula berlebih, diabetes, hipertensi—semua saling berkaitan dan merusak ginjal,” katanya. Felix juga menyoroti sikap generasi muda yang merasa masih kuat dan sehat sehingga mengabaikan risiko jangka panjang. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out), menurutnya, menjadi pemicu utama gaya hidup makan sembarangan. “Banyak yang bilang, ‘Ah, mumpung masih muda, makan aja apa pun.’ Tapi mereka lupa, lingkungan kita sekarang jauh lebih beracun dibanding zaman orang tua kita. Makanan sekarang kebanyakan ultra-proses. Jadi tidak bisa dibandingkan,” tegasnya. Ia mengingatkan bahwa orang-orang dulu bisa makan banyak tanpa efek samping berat karena hidup mereka lebih aktif dan makanan mereka alami. “Sekarang beda. Kalau kita makan sembarangan, dampaknya nyata dan cepat,” katanya. Meski menyarankan untuk membatasi konsumsi gula, Felix mengakui bahwa kebutuhan akan rasa manis adalah sesuatu yang wajar. Oleh karena itu, ia menyarankan alternatif sehat seperti: Pertama, monk fruit extract. Pemanis alami yang tidak meningkatkan kadar gula darah. Kedua, stevia. Tanaman pemanis yang juga tidak berdampak pada lonjakan gula. Namun, ia mengingatkan bahwa bahkan pemanis alami pun harus dikontrol. “Rasa manis itu adiktif. Jadi jangan dari pagi sampai malam makan manis terus,” ujarnya. Felix kembali menekankan pentingnya konsumsi protein dan lemak sehat, seperti telur dan daging. Menurutnya, dua jenis zat gizi ini dapat membantu tubuh merasa kenyang lebih lama karena memicu hormon kenyang, tidak seperti gula yang hanya memberi efek kenyang sesaat. “Kalau saya sarapan tiga butir telur bebek, saya tidak akan lapar sampai siang. Tapi kalau saya makan nasi goreng sepiring penuh, dua jam kemudian saya lapar lagi,” katanya. Dia menutup pesannya dengan peringatan keras: manusia modern kini terlalu mudah terjebak dalam pola makan yang destruktif. Maka, mengelola konsumsi gula dan karbohidrat bukan hanya pilihan, tapi keharusan. “Ini bukan soal diet. Ini soal bertahan hidup di lingkungan yang tidak bersahabat dengan kesehatan. Kita harus sadar, bertindak, dan mengambil keputusan ekstrim jika ingin tetap sehat,” pungkasnya. (*) Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Konsumsi Gula dan Karbohidrat di Indonesia Dinilai Berlebihan, Praktisi Kesehatan: Ini Masalah Serius Bangsa

BAINDONESIA.CO – Praktisi kesehatan Indonesia Felix Zulhendri mengungkapkan keprihatinannya terhadap pola konsumsi masyarakat Indonesia yang dinilai terlalu tinggi dalam mengonsumsi gula dan karbohidrat, tetapi sangat rendah dalam konsumsi protein. Pernyataan ini ia sampaikan berdasarkan data yang diambilnya dari Statista dan juga pengalaman lapangan serta pengamatan pribadi. Menurut Felix, setiap orang Indonesia mengonsumsi rata-rata 120 kilogram beras per tahun, 30 kilogram tepung terigu, dan 30 kilogram gula pasir tambahan. “Kalau dijumlahkan, masyarakat Indonesia mengonsumsi sekitar 180 kilogram karbohidrat dan gula per orang per tahun, sedangkan konsumsi protein seperti daging, ayam, dan telur hanya 10 kilogram per orang per tahun,” ungkapnya sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Malaka pada Kamis (10/7/2025). Ia menekankan bahwa ketimpangan ini menyebabkan masyarakat jauh lebih rentan terhadap penyakit kronis, terutama diabetes, obesitas, dan hipertensi. “Bayangkan, kita konsumsi karbohidrat dan gula 18 kali lebih banyak daripada protein. Ini sangat mengganggu keseimbangan metabolisme tubuh,” ujarnya. Felix menjelaskan bahwa karbohidrat seperti nasi, roti, mie instan, kentang, dan sereal memiliki kandungan zat pati (starch), yaitu rantai gula yang di dalam tubuh akan berubah menjadi glukosa. “Semua makanan itu, pada dasarnya, akan menjadi gula dalam tubuh kita. Dan inilah akar dari banyak penyakit tidak menular (non-communicable diseases),” tambahnya. Dalam sebuah studi di salah satu kabupaten di Bali, kata Felix, ditemukan bahwa 1 dari 4 remaja mengalami pre-diabetes atau sudah diabetes. “Bayangkan kalau anak-anak remaja saja 25% sudah seperti itu, maka saya percaya bahwa di kalangan orang dewasa bisa mencapai 50%, dan itu masuk akal,” ujarnya. Dia juga menyoroti beban yang harus ditanggung oleh sistem kesehatan nasional. “Makanya BPJS kita kewalahan. Penyakit-penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi itu biayanya luar biasa besar. Saya lihat sendiri bagaimana keluarga-keluarga mengeluarkan biaya besar untuk cek lab, obat, dan dokter spesialis,” tegasnya. Ia juga menjelaskan bahwa gula memiliki efek adiktif yang tinggi. “Gula sangat kuat dalam menstimulasi dopamin, hormon yang memberikan perasaan senang. Maka wajar banyak orang susah sekali lepas dari makanan manis, roti, dan makanan olahan tepung lainnya,” ujarnya. Karena itu, Felix mengimbau agar masyarakat mulai mengurangi konsumsi makanan tinggi gula dan karbohidrat, serta meningkatkan asupan protein hewani seperti telur dan daging. Menurutnya, protein dan lemak hewani membantu memicu hormon-hormon kenyang, yang memberi rasa kenyang lebih lama dan mencegah keinginan untuk ngemil terus-menerus. “Salah satu kesalahan pola makan masyarakat kita adalah terlalu sering makan. Sarapan, lalu ngemil jam 10, makan siang, ngemil sore, makan malam, lalu makan lagi sebelum tidur. Ini karena makanan kita tinggi karbohidrat yang cepat bikin lapar lagi,” ujarnya. Felix menegaskan bahwa dirinya bukan anti karbohidrat atau anti gula. Dia tetap mengonsumsi nasi dan kentang, namun secara terukur dan sesuai kebutuhan aktivitas fisik. “Kalau saya tahu saya akan olahraga intens, saya tingkatkan konsumsi karbohidrat. Tapi kalau tidak, saya kurangi,” jelasnya. Ia menutup penjelasannya dengan ajakan kepada masyarakat untuk mulai menyadari apa yang dikonsumsi sehari-hari. “Ini bukan sekadar soal makan, ini soal masa depan bangsa. Kalau produktivitas kita hancur karena kesehatan yang buruk, bagaimana kita bisa bersaing sebagai bangsa yang besar?” pungkasnya. (*) Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Lima Sikap Ahlulbait Indonesia terkait Tragedi Kemanusiaan di Suriah

BAINDONESIA.CO – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (ABI) Ustadz Zahir Yahya menyampaikan pernyataan sikap ABI terkait tragedi kemanusiaan yang terjadi di Suriah sejak Desember 2024, khususnya terhadap komunitas Alawi yang menjadi korban kekerasan sektarian. Pertama, ABI mengutuk dengan keras pembantaian sejumlah besar warga sipil Alawi di wilayah pesisir Suriah, termasuk Latakia dan Tartus. Tindakan pembunuhan massal, penjarahan, penghancuran rumah-rumah serta pengusiran paksa warga merupakan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional, termasuk Konvensi Jenewa yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Kedua, ABI menyatakan solidaritas penuh terhadap komunitas Alawi serta seluruh kelompok minoritas yang terdampak, termasuk Kristen dan etnis lainnya. ABI juga mengimbau Pemerintah Indonesia untuk bersikap tegas dan adil dalam menyikapi tragedi ini. Pihaknya meminta Pemerintah Indonesia mengecam segala bentuk kekerasan tanpa memihak kelompok tertentu; mendorong penyelesaian damai berdasarkan keadilan dan hak asasi manusia, serta menggunakan saluran diplomasi untuk membantu korban dan pengungsi tanpa diskriminasi. Ketiga, ABI menyerukan penghentian segera segala bentuk kekerasan terhadap warga sipil di Suriah. Ormas Islam tersebut juga mendesak PBB dan seluruh anggota masyarakat dunia untuk segera mengambil langkah nyata untuk menghentikan pembantaian; menjatuhkan sanksi kepada para pelaku kejahatan perang, dan mendorong intervensi kemanusiaan guna menyelamatkan korban dan pengungsi. Keempat, ABI mendukung pembentukan komisi penyelidikan independen di bawah naungan PBB untuk mengusut pembantaian ini dan mengadili semua pihak yang bertanggung jawab melalui Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Kelima, Suriah adalah negara yang kaya keberagaman. “Kami menegaskan bahwa semua kelompok berhak hidup dengan aman, tanpa diskriminasi. Kami mendorong dialog nasional untuk menghentikan konflik dan mencegah perang saudara lebih lanjut,” tegas Ustadz Zahir dalam siaran pers yang dikutip media ini pada Minggu (16/3/2025). Dia berharap tragedi ini segera berakhir, dan Suriah kembali menjadi tanah yang damai bagi semua warganya. “Semoga Allah SWT memberikan pahala dan kekuatan kepada para korban dan membimbing dunia untuk menegakkan keadilan dan perdamaian,” tutupnya. (*) Editor: Ufqil Mubin

Peluang Hilirisasi Rempah di Indonesia

Oleh: Kuntoro Boga Andri* Indonesia pernah menjadi pusat rempah dunia, puncak kejayaan yang menuntun armada bangsa-bangsa Eropa berlayar menembus samudra demi cengkeh Maluku, pala Banda, dan lada Sumatera. Ironisnya, setelah berabad-abad berlalu, sebagian besar rempah Nusantara masih keluar negeri dalam rupa bahan mentah. Berangkat dari keinginan untuk keluar dari jebakan skema “jual bahan mentah” inilah kemudian lahir agenda nasional hilirisasi rempah. Pemerintah kini mematok rempah sebagai garda depan kebangkitan industri dan perdagangan global, dengan tujuan jelas, yaitu mendongkrak devisa sekaligus menaikkan kesejahteraan jutaan petani kecil. Di tingkat nasional, hilirisasi ditempatkan sebagai kebijakan prioritas industrialisasi. Program lintas-kementerian Indonesia Spice Up The World (ISUTW) yang diluncurkan tahun 2021 menargetkan ekspor bumbu olahan 2 miliar dolar AS dan 4.000 restoran Indonesia di mancanegara. Kementerian Perdagangan memfasilitasi festival, pameran, hingga negosiasi FTA, PTA, dan CEPA agar bumbu siap saji, minyak esensial, maupun oleoresin produksi domestik kian mulus menembus pasar global. Di hulu, Kementerian Pertanian memperkuat kualitas benih dan pascapanen. Sementara itu Kementerian Perindustrian menyiapkan road map peningkatan kapasitas Industri Kecil dan Menengah (IKM) rempah, dari teknologi pengeringan, penggilingan, destilasi, sampai penjaminan mutu agar produk Nusantara mampu bersaing di ritel premium dan segmen horeka (hotel, restoran, kafe) dunia. Aksi serupa bergema di daerah. Sumatera Barat, penyumbang 90 persen gambir dunia, tengah merampungkan Peraturan Gubernur tentang Tata Niaga Gambir untuk mengakselerasi produksi tanin dan katekin berkelas industri. Lampung menggulirkan proyek Lada Lestari sambil menyiapkan pabrik oleoresin lada hitam. Maluku, Maluku Utara, dan Papua menggelar expo jalur rempah demi mengangkat pala, cengkeh, dan vanili endemik. Seluruh dorongan regulatif ini bermuara pada cita-cita hilirisasi terpadu dari kebun petani sampai industri dan pasar global. Industri Pengolahan Rempah Modernisasi lini pengolahan, mulai dari mesin pengering, grinder, hingga kemasan kedap udara, menjadi kunci pengerek nilai tambah rempah Nusantara. Di sentra‐sentra pengolahan, pekerja kini tidak sekadar menjemur dan menimbang lada hitam, tetapi menyeleksi butir, menggiling, lalu mengemasnya dalam sachet bermerek yang memenuhi standar HACCP. Transformasi teknologi ini menandai pergeseran paradigma, yaitu rempah harus diproses prima di tanah air sebelum melanglang ke pasar global. Di Sumatera Utara, andaliman atau “merica Batak” yang dahulu hanya dijual segar, telah diolah UMKM Intan Damanik menjadi teh andaliman kemasan seharga Rp 28.000 per 24 gram, berlipat ganda dari harga jual bahan mentah. Kisah serupa tampak pada kemiri, kunyit, hingga jahe instan, menjadi bukti bahwa hilirisasi mampu melipatkan pendapatan petani sekaligus membuka ceruk pasar baru, meski produksi masih terbatas oleh peralatan sederhana dan skala usaha yang kecil. Namun, sebagian besar komoditas strategis seperti pala, cengkeh, kayu manis, masih berhenti pada pengeringan dan sortasi. Minyak atsiri pala, oleoresin cengkeh, hingga bubuk kayu manis belum digarap optimal karena investasi alat ekstraksi mahal, pasokan bahan baku tak stabil, dan preferensi importir yang masih condong pada bahan mentah. Di Lampung, rencana pabrik oleoresin lada tersendat oleh fluktuasi produksi. Pelaku industri pun mengusulkan model multi‐spice extractor agar utilitas pabrik terjaga sepanjang tahun dan risiko pasokan terkelola. Untuk menutup celah itu, pemerintah dan lembaga riset mempercepat pelepasan varietas unggul, pendampingan Good Agricultural Practices, restrukturisasi mesin IKM, hingga program kemasan dan sertifikasi halal–HACCP. Skema koperasi modern dan korporatisasi petani, seperti KSU Bangkit Mandiri pengolah gambir katekin di Sumatera Barat, membuktikan integrasi hulu-hilir dapat lahir dari level komunitas. Ke depan, sinergi pemerintah, swasta, peneliti, dan petani harus dipacu agar rempah olahan Indonesia tampil sebagai produk premium yang aman, konsisten, dan berdaya saing di etalase dunia. Potensi Ekspor Di tengah tren global menuju gaya hidup sehat dan konsumsi alami, prospek rempah dan bumbu olahan Indonesia semakin menjanjikan. Permintaan dunia terhadap produk spice dan herb diperkirakan menembus 25,6 miliar dolar AS pada 2029 dengan pertumbuhan 5,18 persen per tahun. Jahe, kunyit, sereh, dan rempah khas Nusantara lainnya makin dicari sebagai bahan pangan, suplemen, maupun produk herbal. Indonesia, yang kini berada di posisi 10 besar eksportir rempah global dengan pangsa pasar 2,7 persen, memiliki peluang besar untuk memperluas cakupan ekspor, terutama melalui hilirisasi produk. Pangsa ini tergolong kecil dibanding kapasitas Indonesia sebagai produsen rempah utama dunia, menandakan potensi yang masih belum tergarap secara optimal. Secara kinerja, ekspor rempah Indonesia mulai menunjukkan tren positif. Nilai ekspor bumbu dan rempah olahan tumbuh 17,29 persen pada Januari-Mei 2024, mencapai 422,7 juta dolar AS. Ini menunjukkan kontribusi produk hilir seperti minyak atsiri dan ekstrak makin dominan dalam ekspor nasional. Komoditas pala dan gambir menjadi contoh keberhasilan, di mana ekspor pala Indonesia sejumlah 26.461 ton pada 2021, menyumbang devisa hampir 198 juta dolar AS. Sementara gambir dari Sumatera Barat mencatat ekspor 90 juta dolar AS pada 2022. Ini menunjukkan bahwa diversifikasi produk dan peningkatan kualitas dapat mendongkrak daya saing di pasar internasional. Namun, keberhasilan ini tidak lepas dari tantangan berat. Salah satunya adalah standar kualitas dan keamanan pangan yang makin ketat, terutama di Eropa dan Amerika Serikat. Rempah Indonesia sempat ditolak karena isu aflatoksin, kontaminan, dan residu pestisida. Negara-negara tujuan juga mensyaratkan fumigasi, iradiasi, dan uji laboratorium. Pemerintah memperkuat pengawasan mutu dan mendampingi pelaku usaha untuk memenuhi sertifikasi HACCP, ISO 22000, dan SNI rempah. Tantangan lain datang dari logistik dan distribusi. Sentra rempah di Maluku, Papua, dan pedalaman Sumatra menghadapi hambatan infrastruktur, yang meningkatkan biaya distribusi. Di samping tantangan teknis, Indonesia juga menghadapi tekanan kompetitif dari negara lain seperti Vietnam, India, dan Sri Lanka. Vietnam kini unggul dalam ekspor lada olahan, India mendominasi pasar curcumin dan minyak pala. Untuk bersaing, Indonesia harus menonjolkan keunggulan khas rempahnya, seperti lada hitam Lampung yang pedas harum, kayu manis Kerinci yang kaya sinamaldehid, dan vanili Papua yang premium. Diferensiasi ini perlu diperkuat dengan pengembangan indikasi geografis (IG) dan strategi branding. Pemerintah pun terus membuka akses pasar melalui perjanjian dagang seperti IA-CEPA yang menghapus bea masuk sejumlah rempah di Australia. Di saat yang sama, inovasi produk harus dipacu, dari ekstrak jahe merah, kunyit organik, hingga oleoresin cengkeh untuk bahan e-cigarette flavor. Hilirisasi rempah bukan sekadar strategi ekonomi, melainkan langkah strategis untuk mengembalikan pamor Indonesia sebagai pusat rempah dunia di era modern. Dengan dukungan kebijakan yang semakin terstruktur, kemajuan teknologi pengolahan, dan promosi yang agresif ke pasar internasional, peluang Indonesia untuk meningkatkan nilai ekspor rempah sekaligus menyejahterakan petani kian terbuka lebar. (*Kepala Pusat BRMP Perkebunan Kementerian Pertanian) Sumber: Antara

Inovasi Digital Berkelanjutan: Peran Kontrol Strategis dan Orkestrasi

Oleh: Dr. Joko Rurianto* Dalam lanskap bisnis digital yang semakin kompetitif, inovasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis untuk bertahan dan berkembang. Namun, inovasi yang hanya berfokus pada kecepatan dan teknologi tanpa mempertimbangkan keberlanjutan dapat menimbulkan risiko jangka panjang. Oleh karena itu, penting bagi pelaku industri digital untuk mengadopsi pendekatan inovasi yang berkelanjutan yakni menciptakan solusi digital yang tidak hanya efisien dan adaptif, tetapi juga berdampak positif secara sosial. Dengan demikian, bisnis digital dapat membangun fondasi yang kuat untuk pertumbuhan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Dua konsep yang menjadi kunci dalam keberhasilan inovasi digital adalah strategic control dan performansi orkestrasi. Keduanya berperan penting dalam memastikan bahwa inovasi tidak hanya terjadi, tetapi juga memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi organisasi dan masyarakat. Menjaga Arah Menurut John A Pearce dan Richard B Robinson dalam buku Strategi Manajemen (2003), strategic control merupakan bagian dari manajemen strategis yang berfungsi untuk memantau dan menilai kinerja strategi secara berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa strategi tetap selaras dengan perubahan lingkungan eksternal dan internal organisasi. Pendapat ini ditegaskan lagi oleh Donald L Sull, Profesor dari London Business School, yang dalam artikelnya bersama Alejandro Ruelas-Gossi menekankan bahwa kontrol strategis harus bersifat dinamis dan fleksibel. Ia menyatakan bahwa dalam dunia yang penuh ketidakpastian, organisasi harus mampu mengadaptasi strategi secara cepat berdasarkan data dan insight yang terus berkembang. Dalam konteks digital, kontrol strategis mencakup monitoring terhadap implementasi strategi digital, evaluasi efektivitas teknologi dan proses digital, serta penyesuaian arah strategi berdasarkan data dan insight terbaru. Strategic control memungkinkan organisasi untuk tetap adaptif dan responsif terhadap perubahan teknologi, perilaku konsumen, dan dinamika pasar. Tanpa kontrol strategis yang kuat, inovasi digital berisiko menjadi inisiatif yang terputus-putus, tidak terintegrasi, atau bahkan gagal memberikan nilai tambah. Mengelola Kompleksitas Digital Sementara kontrol strategis berfokus pada arah dan pengawasan, performansi orkestrasi adalah kemampuan organisasi untuk menyelaraskan berbagai elemen dalam ekosistem digital—teknologi, sumber daya manusia, proses bisnis, dan mitra eksternal—agar bekerja secara sinergis. Dalam dunia digital yang kompleks, orkestrasi performansi menjadi krusial karena beberapa hal di antaranya organisasi tidak lagi bekerja secara silo, melainkan dalam jaringan kolaboratif; teknologi digital seperti AI, cloud, dan IoT membutuhkan integrasi lintas fungsi dan sistem; kecepatan inovasi menuntut koordinasi yang efisien dan fleksibel; dan orkestrasi yang baik memungkinkan organisasi untuk mengoptimalkan performa digital secara menyeluruh, bukan hanya pada satu aspek teknologi atau proses. Dalam artikel Strategic Orchestration yang diterbitkan London Business School, dua profesor terkemuka, Donald L. Sull dan Alejandro Ruelas-Gossi, menekankan bahwa orkestrasi strategis adalah pendekatan yang memungkinkan perusahaan untuk masuk ke pasar lebih cepat, beradaptasi dengan perubahan lingkungan, mengurangi kebutuhan modal, serta melayani segmen pasar yang sebelumnya tidak menguntungkan. Mereka mencontohkan bagaimana perusahaan seperti Apple, Nestlé, dan CEMEX berhasil membangun ekosistem mitra yang saling melengkapi untuk menciptakan nilai yang tidak bisa dicapai sendirian. Apple, misalnya, tidak lagi mencoba mengembangkan semua komponen sendiri, tetapi mengorkestrasi jaringan penyedia konten dan aksesori untuk menciptakan pengalaman pengguna yang mulus. Sull dan Ruelas-Gossi menyimpulkan bahwa dalam dunia yang semakin kompleks, kemampuan untuk mengorkestrasi sumber daya eksternal dan internal secara strategis adalah kunci untuk bertahan dan berkembang. Di Indonesia, beberapa perusahaan telah menunjukkan keberhasilan dalam menerapkan strategic control dan orkestrasi performansi dalam inovasi digital mereka. BUMN penyedia layanan digital, Telkomsel misalnya, telah melakukan berbagai terobosan seperti mengembangkan ekosistem digital melalui beberapa platform, mengintegrasikan teknologi AI untuk layanan pelanggan dan analitik data, serta bermitra dengan startup lokal dan institusi pendidikan untuk mendorong inovasi dan pengembangan talenta digital. Kontrol strategis di sini terlihat dalam arah kebijakan digital yang konsisten dan terukur, sementara orkestrasi performansi tercermin dalam kolaborasi lintas sektor yang memperkuat ekosistem digital nasional. Contoh lain adalah Gojek, yang berhasil mengorkestrasi layanan transportasi, pembayaran, logistik, dan gaya hidup dalam satu platform. Layanan transportasi online ini tidak hanya mengembangkan teknologi internal, tetapi juga bermitra dengan ribuan UMKM dan penyedia layanan untuk menciptakan nilai bersama. Tantangan dan Solusi Dalam proses orkestrasi inovasi digital, organisasi menghadapi sejumlah tantangan yang kompleks. Pertama, fragmentasi data dan sistem menjadi hambatan utama dalam menciptakan integrasi lintas fungsi. Ketika data tersebar di berbagai platform yang tidak saling terhubung, pengambilan keputusan strategis menjadi lambat dan tidak akurat. Kedua, kurangnya talenta digital yang memahami strategi dan teknologi menyebabkan kesenjangan antara visi digital dan implementasi teknis. Banyak organisasi memiliki tenaga ahli teknologi, namun belum tentu memiliki pemahaman strategis yang mendalam. Ketiga, resistensi terhadap perubahan budaya organisasi sering kali menghambat proses transformasi digital. Inovasi membutuhkan fleksibilitas dan kolaborasi, namun budaya birokratis dan hierarkis dapat memperlambat adaptasi. Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan solusi yang terstruktur dan berorientasi pada orkestrasi performansi. Salah satunya adalah membangun dashboard strategis berbasis data real-time yang memungkinkan pemantauan kinerja dan penyesuaian strategi secara cepat dan akurat. Selain itu, organisasi perlu menerapkan model orkestrasi berbasis agile dan DevOps, yang mendorong kolaborasi lintas tim dan iterasi cepat dalam pengembangan solusi digital. Terakhir, pelatihan lintas fungsi menjadi kunci untuk meningkatkan pemahaman strategis dan teknis secara bersamaan, sehingga setiap bagian organisasi dapat berkontribusi dalam ekosistem inovasi yang terintegrasi. Dengan pendekatan ini, orkestrasi tidak hanya menjadi alat koordinasi, tetapi juga fondasi untuk menciptakan nilai bisnis yang berkelanjutan. Strategic control dan performansi orkestrasi bukanlah konsep teknis semata, melainkan fondasi manajerial yang menentukan keberhasilan inovasi digital. Di tengah perubahan yang cepat dan kompleks, organisasi yang mampu mengendalikan arah strateginya dan mengorkestrasi sumber daya secara efektif akan menjadi pemimpin dalam era digital. Seperti yang ditegaskan oleh Donald Sull dan Alejandro Ruelas-Gossi, strategic orchestration adalah jawaban atas tantangan inovasi di pasar yang dinamis dan kompetitif. Dengan pendekatan ini, perusahaan tidak hanya menciptakan teknologi, tetapi juga membangun ekosistem yang berkelanjutan dan inklusif. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan digital global. Dengan strategic control yang kuat dan orkestrasi performansi yang cerdas, kita dapat mewujudkan visi digital nasional yang inklusif, efisien, dan berdaya saing tinggi. (*Profesional di PT Telkomsel, aktif menulis jurnal pemasaran strategis dan literasi teknologi digital dalam praktik bisnis modern) Sumber: Antara

AI dan Produktivitas: Peluang, Tantangan, dan Keadilan Ekonomi

Oleh: Dr. Aswin Rivai* Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi salah satu tonggak revolusi industri generasi keempat yang paling berpengaruh dalam dekade terakhir. AI diyakini mampu membawa perubahan besar dalam produktivitas, efisiensi, dan penciptaan nilai tambah di hampir seluruh sektor ekonomi. Di tingkat global, banyak analis dan pelaku usaha menaruh harapan tinggi bahwa AI akan meningkatkan produktivitas secara substansial. Akan tetapi, meskipun peningkatan produktivitas mungkin tercapai, manfaatnya belum tentu tersebar merata dalam bentuk peningkatan pendapatan atau penciptaan lapangan kerja yang inklusif. Hal yang sama berlaku di Indonesia. Indonesia sebagai negara berkembang dengan struktur ekonomi yang kompleks menghadapi tantangan yang unik. Dari sekitar 140 juta angkatan kerja pada tahun 2023, lebih dari 57 persen di antaranya bekerja di sektor informal. Sektor ini mencakup pekerjaan di bidang perdagangan kecil, pertanian skala kecil, dan jasa pribadi yang sebagian besar bersifat non-tradable, atau tidak terhubung langsung dengan perdagangan internasional. Artinya, sektor-sektor ini tidak hanya memiliki produktivitas yang rendah, tetapi juga cenderung luput dari inovasi teknologi skala besar, termasuk AI. Sementara itu, sektor tradable di Indonesia yang meliputi manufaktur, industri padat teknologi, dan beberapa bentuk jasa digital hanya menyerap sekitar 20 persen tenaga kerja, tetapi menyumbang lebih dari 40 persen PDB nasional. Dalam beberapa dekade terakhir, perbedaan produktivitas antara sektor tradable dan non-tradable terus melebar. Contohnya, produktivitas per pekerja di sektor manufaktur besar bisa mencapai Rp 400 juta per tahun, sedangkan di sektor pertanian hanya sekitar Rp 60 juta–Rp 70 juta. Jika penerapan AI hanya terkonsentrasi di sektor tradable, maka kesenjangan produktivitas dan pendapatan antarsektor bisa semakin dalam, memperburuk ketimpangan sosial dan ekonomi. Namun, AI tetap menawarkan potensi besar bagi Indonesia jika diarahkan dengan strategi yang inklusif. Dalam sektor pertanian yang menyerap hampir 29 persen tenaga kerja, AI dapat digunakan untuk memprediksi pola cuaca, mengoptimalkan penggunaan pupuk, dan meningkatkan hasil panen. Di sektor logistik dan transportasi, penggunaan AI untuk manajemen rantai pasok bisa menurunkan biaya distribusi barang hingga 15–20 persen. Sektor kesehatan, yang menghadapi kekurangan dokter di daerah tertinggal (rasio dokter hanya 0,47 per 1.000 penduduk), juga dapat memanfaatkan AI untuk diagnosis awal berbasis gambar dan rekam medis. Di sisi lain, potensi dampak disrupsi akibat AI terhadap tenaga kerja tidak boleh diabaikan. Beberapa studi internasional, seperti laporan McKinsey Global Institute, memperkirakan bahwa sekitar 375 juta pekerja secara global perlu berganti profesi atau meningkatkan keterampilan karena otomatisasi berbasis AI sebelum tahun 2030. Dalam konteks Indonesia, sektor yang paling rentan adalah administrasi, manufaktur berulang, dan pekerjaan jasa sederhana yang mudah dikodekan (codifiable tasks). Dalam data BPS tahun 2022, lebih dari 20 juta pekerja berada pada posisi yang rentan terhadap otomatisasi karena keterampilan rendah dan tugas rutin. Jika tidak dikelola dengan baik, transisi ini dapat menimbulkan lonjakan pengangguran jangka pendek, tekanan terhadap daya tawar pekerja, serta memperbesar jurang ketimpangan. Apalagi, tingkat elastisitas permintaan dalam beberapa sektor di Indonesia cenderung rendah. Artinya, meskipun AI menurunkan biaya produksi dan harga, tidak selalu terjadi peningkatan permintaan yang cukup untuk menyerap pekerja yang terdampak. Untuk itu, arah kebijakan harus menyasar pada tiga pilar utama. Pertama, mengembangkan ekosistem AI yang berpihak pada augmentasi atau pelengkap tenaga kerja manusia, bukan sekadar pengganti. Kedua, menyiapkan sistem pendidikan dan pelatihan ulang (reskilling) yang masif dan adaptif. Ketiga, memastikan terciptanya permintaan baru terhadap tenaga kerja, terutama melalui proyek-proyek nasional. Pilar pertama dapat dicapai dengan mendorong pengembangan AI yang bersifat kolaboratif, seperti yang disebut oleh Haupt dan Brynjolfsson melalui evaluasi centaur, yakni sistem di mana manusia dan AI bekerja sama dalam menyelesaikan tugas. Misalnya, dalam sektor pendidikan, AI dapat digunakan untuk membantu guru dalam memberikan evaluasi individual siswa, bukan menggantikan peran guru secara penuh. Pemerintah dapat memberikan insentif kepada startup dan perusahaan teknologi yang mengembangkan AI berbasis kolaborasi, bukan otomatisasi penuh, seperti chatbot untuk layanan pelanggan yang tetap memerlukan supervisi manusia. Pilar kedua, yakni pendidikan dan pelatihan ulang, sangat mendesak. Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam hal kualitas SDM. Data World Bank menunjukkan bahwa skor Indeks Modal Manusia (Human Capital Index) Indonesia pada 2020 adalah 0,54, artinya anak yang lahir di Indonesia hanya akan mencapai 54 persen dari produktivitas optimal jika memperoleh pendidikan dan kesehatan yang maksimal. Oleh karena itu, Balai Latihan Kerja (BLK) dan program kartu prakerja perlu direformasi agar mampu menyasar pelatihan AI dasar, analitik data, dan keterampilan digital lainnya, terutama bagi generasi muda dan pekerja terdampak. Pilar ketiga, yakni penciptaan permintaan tenaga kerja baru, dapat ditempuh melalui proyek infrastruktur digital dan hijau yang masif. Pemerintah Prabowo-Gibran telah mengisyaratkan komitmen untuk mendorong hilirisasi industri, swasembada pangan, dan pengembangan energi terbarukan. Semua inisiatif ini berpotensi menciptakan jutaan lapangan kerja baru jika disertai dengan digitalisasi berbasis AI. Misalnya, pembangunan infrastruktur energi surya dan bioenergi berbasis data cuaca dan konsumsi lokal akan membuka lapangan kerja teknik, konstruksi, hingga perawatan sistem berbasis AI. Pemerintah juga dapat belajar dari pengalaman sebelumnya ketika terjadi transformasi digital di era 2000-an. Banyak pekerjaan rutin tergantikan oleh mesin atau outsourcing ke luar negeri, sementara lapangan kerja baru di sektor digital belum cukup menyerap tenaga kerja eksisting. Agar hal ini tidak terulang, pemerintah perlu menciptakan skenario transisi yang adil. Salah satu pendekatan adalah dengan menyediakan tunjangan transisi dan insentif relokasi kerja bagi pekerja terdampak otomatisasi. Selain itu, pengembangan AI yang etis dan inklusif juga penting untuk menghindari bias dan ketimpangan baru. Misalnya, algoritma penyaluran kredit berbasis AI di sektor keuangan dapat menciptakan diskriminasi jika data pelatihan yang digunakan mencerminkan bias sosial ekonomi tertentu. Oleh karena itu, lembaga seperti OJK dan Komdigi perlu mengembangkan regulasi audit algoritma dan transparansi penggunaan AI di sektor publik dan privat. Sementara itu, potensi besar AI dalam riset dan inovasi juga harus dimaksimalkan. Sebagai contoh, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman atau LIPI dapat memanfaatkan AI seperti AlphaFold milik DeepMind untuk mempercepat riset struktur protein atau pengembangan vaksin lokal. Hal ini sejalan dengan target Indonesia dalam menciptakan kemandirian di bidang farmasi dan kesehatan. Menurut laporan e-Conomy SEA 2023 yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, potensi ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai 360 miliar dolar AS pada 2030, terbesar di Asia Tenggara. Jika AI dimanfaatkan secara strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital tersebut, maka akan tercipta efek berantai yang kuat terhadap produktivitas nasional, lapangan kerja, dan daya saing global. Namun, semua ini memerlukan kerangka kebijakan nasional yang kuat. Pemerintah Indonesia sudah

Boneka Amerika untuk Menjalankan Proyek-Proyek Regional

Oleh: Muhammad Mahdi Rahimi* Pada peringatan Operasi Banjir Al-Aqsa, 7 Oktober 2024, Abu Ubaida, juru bicara Brigade Qassam, menyampaikan poin menarik dalam pesan videonya kepada masyarakat dunia: “Setelah musuh mencapai tahap akhir dalam merencanakan serangan besar terhadap Perlawanan di Gaza, kami melancarkan pukulan pendahuluan terhadap mereka.” Penilaian kelompok Perlawanan di Gaza ini sangat sejalan dengan rencana komprehensif Amerika Serikat untuk kawasan Asia Barat. Sebuah rencana yang dijelaskan oleh Imam Khamenei dalam pidatonya pada 4 Oktober 2024 sebagai berikut: “Ketekunan AS dan sekutunya dalam menjamin keamanan rezim perampas hanyalah kedok untuk kebijakan mematikan mereka—yakni mengubah rezim [Zionis] menjadi alat untuk menguasai seluruh sumber daya kawasan ini dan menggunakannya dalam konflik-konflik besar dunia. Kebijakan mereka adalah menjadikan rezim [Zionis] sebagai gerbang ekspor energi dari kawasan ke dunia Barat, sekaligus memfasilitasi impor barang dan teknologi dari Barat ke kawasan ini. Pendekatan ini menjamin kelangsungan hidup rezim perampas dan meningkatkan ketergantungan seluruh kawasan padanya.” Demi mencapai tujuan ini, dalam dua tahun terakhir, Amerika telah menyajikan “menu terbuka” berupa segala hal yang bisa mendukung mesin pembunuh rezim Zionis, sambil dengan penuh semangat menyaksikan pembantaian terhadap warga sipil dan militer di kawasan—dari Gaza hingga Teheran. Pemboman tanpa pandang bulu terhadap Gaza dimulai sehari setelah 7 Oktober. Intensitas serangannya begitu tinggi, hingga Kepala Staf Militer Zionis, yang kemudian mengundurkan diri, menyatakan bahwa “dalam 48 jam pertama perang, kami membom 1.500 target,” sementara Netanyahu mengeluh, “Kenapa kita tidak membom 5.000 target?” Jelas, target-target itu bukan hanya sasaran militer, dan memang tidak diniatkan demikian. Kurang dari 72 jam sejak perang dimulai, sekitar 600 warga Palestina syahid dan lebih dari 1.000 lainnya terluka, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak. Skala penghancuran ini melampaui kapasitas industri militer Zionis sendiri, dan justru sesuai dengan tujuan Amerika di kawasan: pengusiran rakyat Palestina dari Gaza dan pergeseran keseimbangan kekuasaan kawasan ke arah Israel—melalui kampanye genosida dan pembersihan etnis. Front terbaru yang dibuka Amerika dan Israel adalah Iran. Pada pagi hari tanggal 13 Juni 2025, rezim Zionis menargetkan sejumlah gedung di Iran dengan tujuan membunuh komandan militer dan ilmuwan nuklir. Sebagian besar bangunan tersebut terletak di kawasan padat penduduk. Dalam satu kasus, demi membunuh seorang ilmuwan nuklir di timur laut Teheran, rezim membunuh lebih dari 60 orang, termasuk anak-anak, di dalam kompleks perumahan. Pada malam terakhir sebelum gencatan senjata, rezim menargetkan rumah keluarga syahid Sayyid Mohammad Reza Sedighi Saber, seorang ilmuwan nuklir, di Iran utara. Ia, istrinya, ketiga anak mereka, dan total sepuluh anggota keluarga tewas. Dalam wacana media Barat, semua ini dibenarkan sebagai “kerusakan sampingan,” padahal dalam banyak kasus serangan langsung menyasar warga sipil. Contohnya adalah pemboman di Lapangan Quds, Teheran utara, di mana demi menghancurkan pipa air utama, rezim membom jalan yang sedang dipenuhi mobil-mobil menunggu lampu merah. Meski kejahatan ini terus terjadi, selama perang 12 hari antara Iran dan Israel, serangan roket terhadap target vital di wilayah pendudukan terus berlangsung setiap hari. Di Gaza, operasi kelompok Perlawanan terhadap tentara Israel pun tak pernah berhenti hingga kini. Kegagalan rencana regional Amerika dan Israel menjadi jelas. Namun, bom tidak hanya jatuh di Gaza dan Teheran. Front Perlawanan adalah penghalang utama proyek regional Amerika. Setelah Gaza dan sebelum Iran, Hizbullah di Lebanon menjadi target kedua bom Amerika. Setelah Hizbullah membagi fokus militer Israel dengan membantu rakyat tertindas Gaza, banyak bom Amerika diarahkan ke Lebanon. Selama hampir setahun bentrokan terkendali dan 66 hari perang penuh, banyak desa di selatan Lebanon hancur total. Dalam dua upaya pembunuhan terhadap Sekjen Hizbullah, syahid Nasrallah dan syahid Safieddine, lebih dari 150 ton bom Amerika dijatuhkan ke Beirut. Lebih dari 3.000 orang terbunuh, dan kerusakan besar terjadi di Beirut, Baalbek, Tyre, dan kota-kota pendukung Perlawanan lainnya. Dengan dalih palsu menargetkan gudang senjata, rezim Zionis justru membom bank, pusat komunitas, rumah warga, dan lahan pertanian. Target bom Amerika berikutnya yang dijatuhkan dari jet Israel adalah Yaman. Fasilitas sipil seperti penyimpanan minyak, pembangkit listrik, pelabuhan, dan bandara dibombardir demi melemahkan tekad rakyat Yaman dalam membela Gaza. Namun, satu tanda kegagalan terbesar Zionis di Yaman adalah bahwa, selain saat gencatan senjata di Gaza, serangan Yaman terhadap rezim pendudukan tidak pernah berhenti. Bom dan peluru bukan satu-satunya senjata yang diberikan Amerika kepada rezim Zionis. Dalam serangan terhadap Iran, puluhan pesawat pengisi bahan bakar Amerika setiap hari mengawal jet tempur rezim untuk mengebom Iran. Sejak awal perang Gaza, kapal induk Amerika dikerahkan ke kawasan untuk menjaga perbatasan rezim. Mereka bahkan langsung terlibat dalam perang di Yaman untuk melawan ancaman Ansarullah terhadap Israel. Amerika juga mempersiapkan landasan politik bagi perang rezim Zionis: dengan mengacaukan negosiasi nuklir, mengesahkan resolusi IAEA, dan terus menyebarkan propaganda soal program nuklir Iran, AS membuka jalan politik bagi serangan ke Iran. Empat veto terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB adalah lampu hijau paling terang bagi Israel untuk melanjutkan genosida di Gaza. Di Lebanon, Amerika mendukung kelompok anti-Perlawanan dan menghalangi solidaritas nasional, serta membenarkan agresi Israel sebagai “pembelaan diri.” Bentuk bantuan lain adalah dukungan intelijen. Satelit dan radar Amerika aktif membantu Israel sepanjang perang dengan Iran. Sejak awal perang, layanan kecerdasan buatan besar seperti Google Project Nimbus digunakan untuk mengumpulkan informasi dan membangun database target Israel. Di Gaza, AI ini membunuh begitu banyak warga sipil dan anak-anak hingga akhirnya menargetkan satu komandan Hamas. Di Lebanon, skala spionase terhadap perangkat elektronik warga sangat tinggi—hingga CCTV toko kecil pun jadi alat pembunuhan Israel. Transformasi teknologi menjadi senjata ini memicu protes dari karyawan perusahaan seperti Google dan mahasiswa di kampus-kampus Amerika, yang kemudian dipecat dan dikeluarkan dari kampus. Akhirnya, Amerika berusaha menutupi kejahatan rezim proxy-nya dalam dua tahun terakhir perang kawasan. Seperti dijelaskan dalam catatan The loosen grip, upaya media Barat—khususnya Amerika—justru menjadi kegagalan terbesar mereka, meski proses dehumanisasi terhadap rakyat kawasan, kelompok Perlawanan, dan para pemimpinnya tetap dijalankan oleh media Amerika. Seluruh kejahatan dua tahun terakhir ini harus dilihat sebagai bagian dari puzzle besar rencana Amerika di kawasan. Amerika Serikat, sebagai hegemoni yang tengah runtuh, butuh mengonsolidasikan kendalinya atas Asia Barat. Untuk itu, ia melemparkan bonekanya—rezim Zionis—ke atas rakyat kawasan. Dunia kini telah menyaksikan bahwa hak asasi manusia dan hukum internasional tak berarti apa-apa bagi mereka. Saat bertentangan dengan tujuan, mereka akan menjatuhkan bom bahkan ke Mahkamah Internasional

BA Indonesia: Katalisator Perubahan

Oleh: Ufqil Mubin* Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan kata “katalisator” sebagai seseorang atau sesuatu yang menyebabkan terjadinya perubahan dan menimbulkan kejadian baru atau mempercepat suatu peristiwa. Sementara kata “perubahan”, KBBI mengartikannya berubah, peralihan, dan pertukaran. Definisinya, peralihan dari suatu keadaan yang kurang ideal ke kondisi ideal. Dalam konteks ini, perubahan bermakna dari suatu keadaan negatif ke positif. Dua kata inilah—katalisator dan perubahan—yang menjadi tagline dari baindonesia.co, yang secara resmi berdiri pada 1 September 2023. Media ini berfokus pada berita-berita ekonomi. Namun, tidak berarti mengabaikan berbagai isu aktual terkait politik, pendidikan, sosial, budaya, dan lainnya. Karena itu dalam penyajiannya, konten-konten baaindonesia.co akan didominasi oleh konten ekonomi, yang persentasenya sekitar 60 persen. Konten-konten yang disajikan media ini bermuara pada keinginan kuat kami untuk mendorong penerapan Pancasila dalam sistem perekonomian Indonesia, yang secara spesifik menampung aspirasi tentang solusi terhadap masalah kemiskinan, keterbelakangan, pengangguran, ketimpangan antara penduduk miskin dan kaya, serta patologi-patologi perekonomian yang akarnya adalah penjajahan dan eksploitasi. Latar Belakang Media daring ini merupakan “anak kandung” pertama beritaalternatif.com, yang telah didirikan pada 7 Juni 2021 oleh Muhammad Fauzi, Ahmad Fauzi, dan saya. Selama dua tahun itu, beritaalternatif.com telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik dari sisi kunjungan atau pembaca maupun ekspansi dari sisi bisnis dan biro ke daerah-daerah di Provinsi Kalimantan Timur. Pembentukan baindonesia.co tentu saja telah melewati proses diskusi dan musyawarah yang alot di internal kami. Barang kali ada yang bertanya, mengapa membentuk media baru lagi? Bukankah sudah cukup dengan memperluas cakupan pembaca dan bisnis lewat beritaalternatif.com? Apakah sumber daya manusianya sudah tersedia? Apakah dukungan finansialnya tersedia? Semua pertanyaan tersebut juga muncul dalam benak saya saat memutuskan untuk mengajukan pembentukan baindonesia.co. Pertanyaan-pertanyaan tersebut saya jawab secara detail dalam bagian berikut ini: Pertama, keberadaan media-media daring yang telah terbentuk di Indonesia, sependek ingatan dan pengetahuan saya, belum mencerminkan dan mewakili aspirasi kami dalam menyajikan konten yang mendorong kebijakan berkeadilan dalam aspek perekonomian di Tanah Air. Ringkasnya, media-media arus utama di Republik ini belum secara spesifik menyajikan konten di bidang ekonomi sebagaimana tujuan pembentukan baindonesia.co. Kedua, induk dari media ini, yakni beritaalternatif.com, menyajikan konten-konten yang lebih umum, yang sebagian besarnya konten di bidang politik dalam pengertian luas—di dalamnya mencakup pula bidang hukum dan pendidikan. Sedangkan baindonesia.co berkonsentrasi pada konten-konten yang sebagian besar berisi berita-berita ekonomi. Ketiga, pembentukan media ini diakui atau pun tidak, semula tak berada dalam perencanaan kami yang secara tersurat tercatat di tingkat manajemen beritaalternatif.com. Meski begitu, keinginan untuk melakukan ekspansi dan perluasan jaringan media telah berkali-kali saya sampaikan dalam rapat formal maupun informal manajemen media tersebut. Jika ditinjau dari berbagai aspek, pembentukan baindonesia.co bertepatan dengan momentum yang saya nilai sangat tepat di tengah pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah-daerah di Provinsi Kalimantan Timur. Sejak semula, saat membentuk beritaalternatif.com, terang saja bahwa kami mendirikan media tersebut di tengah keterbatasan di berbagai aspek: finansial, sumber daya manusia, juga tidak disertai kajian mendalam tentang bisnis berikut perluasannya. Kala itu, kami hanya memiliki modal semangat dan visi yang bertumpu pada keinginan kuat kami untuk berkontribusi mengisi kekosongan di tengah menjamurnya media daring di Indonesia. Saat ini, setelah dua tahun berlalu, sumber daya manusia kami sudah tersedia serta jaringan bisnis media pun sudah terbuka lebar. Karena itu, momentum melahirkan “anak kandung” beritaalternatif.com telah berada dalam kondisi dan waktu yang tepat. Pada akhir tulisan ini, lewat media daring baindonesia.co, kami ingin berkontribusi dan berperan lebih luas dalam kancah pembentukan narasi dan gagasan di tengah publik Indonesia, juga menawarkan perspektif kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah, sehingga bisa dijadikan bahan dalam pengambilan kebijakan untuk mendorong keadilan dan kesejahteraan bangsa ini. (*Direktur Utama Baindonesia.co)

Sikap, Gerak, dan Perjuangan Kader HMI

Oleh: Arif Sofyandi* Kader-kader HMI adalah kader-kader yang dibentuk dengan keteguhan iman, kedalaman ilmu, dan ketulusan amal. Karena itu, setiap sikap, gerak, dan langkah mereka merupakan pancaran cahaya keabadian. Ketika mereka turun ke jalan dan membela hak-hak kaum tertindas (mustadafin) maka tidak lain perjuangan mereka adalah perjuangan pengabdian sebagai insan muabid yang benar-benar menjadi abdi yang taat kepada Tuhannya. Tak jarang ketika mereka turun ke jalan, kemudian kita melihat dan menyaksikan pemandangan yang begitu istimewa. Ketika mereka mendengarkan azan, mereka meninggalkan seluruh aktivitas dan memenuhi panggilan Tuhan. Sikap dan perjuangan mereka di lingkungan akademik dan sosial merupakan manifestasi dari konsepsi khitah perjuangan sebagai kitab dan pedoman perjuangan bagi setiap kader HMI. Tidak akan ditemukan nilai-nilai perjuangannya kecuali untuk kemaslahatan bersama. Tidak perlu ditanya komitmen perjuangan mereka terhadap kaum-kaum mustadafin karena pada diri mereka telah tertanam nilai-nilai mujahid yang suatu waktu akan mereka aktifkan untuk berjihad di jalan Allah. Begitu pula dengan bacaan, analisa, kepekaan sosial, dan wawasan keilmuan mereka. Sejak awal basic training, telah ditanamkan pada jiwa mereka tentang nilai-nilai mujtahid yang senantiasa berijtihad dengan kapasitas dan kualitas keilmuannya, tentu sesuai dengan problematika sosial yang terjadi. Selain itu, mereka dibentuk menjadi insan mujadid yang pada diri mereka telah tertanam nilai-nilai pembaruan. Artinya, mereka tidak bisa melihat dan membiarkan kemungkaran terjadi di lingkungan sosial kecuali mereka akan mengambil bagian untuk menegakkan yang makruf dan mencegah yang mungkar. Mereka akan mendidik, mengajarkan, menggerakkan dan sekaligus menjadi inspirasi bagi publik dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Khittoh Perjuangan bahwa perjuangan harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan demi terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhoi oleh Allah Swt. Sebagaimana diikrarkan oleh setiap kader HMI bahwa sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah hanya untuk Allah Tuhan Semesta Alam. Karena itu, tidak ada pengabdian bagi kader HMI kecuali pengabdian kepada Allah. Tidak ada mujtahid bagi kader HMI kecuali berijtihad di jalan Allah. Tidak ada mujahid bagi kader HMI kecuali berjihad di jalan Allah dan tidak ada mujadid bagi kader HMI kecuali menjadi pembaru di jalan Allah Swt. (*Alumni Himpunan Mahasiswa Islam)