Puluhan Peserta dari Kukar Ikuti Pelatihan Peningkatan Kapasitas Tata Kelola Kelembagaan Koperasi

BAINDONESIA.CO – Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Diskop-UKM) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kembali menyelenggarakan program peningkatan kapasitas bagi gerakan koperasi melalui kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Tata Kelola Kelembagaan Koperasi. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 17 hingga 19 November 2025, bertempat di Hotel Grand Verona, Samarinda, dan diikuti oleh 60 peserta yang berasal dari berbagai koperasi di Kukar. Pelatihan dibuka secara resmi oleh Plt Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Kukar yang diwakili oleh Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Iska. Dalam laporannya, dia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya strategis pemerintah daerah untuk memperkuat kelembagaan koperasi agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman serta meningkatkan kualitas tata kelola yang akuntabel dan profesional. Ia menegaskan bahwa dasar pelaksanaan kegiatan ini merujuk pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian serta RKA/DPA Perubahan Dinas Koperasi dan UKM Kukar Tahun Anggaran 2025. Iska menekankan bahwa koperasi sebagai soko guru perekonomian harus memiliki kemampuan manajerial yang baik agar dapat memberikan manfaat optimal bagi anggota dan masyarakat. “Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan koperasi dalam mengelola lembaganya secara efektif, efisien, dan profesional,” ujarnya. Dia berharap pelatihan ini bisa menjadi ruang belajar bersama yang mampu memperkuat pemahaman peserta terkait prinsip tata kelola kelembagaan yang baik (good cooperative governance). Ia memaparkan sejumlah hasil yang diharapkan dari kegiatan ini, antara lain meningkatnya kepercayaan anggota terhadap koperasi, membaiknya kinerja organisasi, tumbuhnya partisipasi anggota, serta terciptanya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan koperasi. Dengan tata kelola yang kuat, Iska meyakini koperasi di Kukar dapat berkembang lebih berkelanjutan dan menjadi pilar penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Pelatihan ini menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi dan akademisi yang berkompeten di bidang perkoperasian. Adapun metode kegiatan dilakukan secara kombinasi melalui paparan materi, diskusi interaktif, serta sesi tanya jawab. Dengan keterlibatan 60 peserta yang merupakan pengurus dan pengawas koperasi dari berbagai desa di Kukar, pelatihan ini diharapkan mampu memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kapasitas kelembagaan koperasi di tingkat akar rumput. Dia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir dan menunjukkan komitmen dalam upaya memperbaiki tata kelola koperasi masing-masing. Ia berharap hasil pelatihan ini tidak hanya berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga dapat diterapkan secara nyata dalam proses pengelolaan koperasi. “Semoga kegiatan ini dapat memberikan kontribusi positif serta menjadi bahan evaluasi untuk pelaksanaan program serupa di masa mendatang,” tutupnya. Dengan dibukanya kegiatan ini, Pemkab Kukar menegaskan kembali komitmennya dalam mendorong koperasi sebagai pilar penggerak ekonomi kerakyatan. Penguatan kapasitas melalui pelatihan yang terstruktur dan berkelanjutan diharapkan dapat mendorong koperasi di Kukar menjadi organisasi yang modern, transparan, dan mampu bersaing di era transformasi ekonomi saat ini. (*) Penulis: Hanna Editor: Ufqil Mubin

Tim PKM Universitas Pamulang Bangun Pustaka untuk Tingkatkan Literasi Warga Depok

BAINDONESIA.CO – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Pamulang berhasil melaksanakan program pemberdayaan berbasis literasi melalui pembangunan Gazebo Pustaka Langit Literasi Keluarga (LLK) Kolong Sutet. Kegiatan ini merupakan implementasi dari Program Hibah Bima Kemdiktisaintek 2025, Kelompok Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, dengan ruang lingkup pemberdayaan kemitraan masyarakat dan fokus pada bidang sosial, humaniora, serta lingkungan hidup. Tim PKM Pemenang Hibah Bima Kemdiktisaintek 2025 Universitas Pamulang dalam rilisnya pada Selasa (16/9/2025) mengungkapkan program yang berlangsung selama satu tahun ini diusulkan mulai 2025 dengan melibatkan tim dosen Universitas Pamulang, yakni Jamaludin, S.E.I., M. Ec. Dev. (Ketua Tim, kepakaran Ekonomi Pembangunan), Dr. Thamrin, S.Pd., M.Pd. (kepakaran Penelitian dan Evaluasi Pendidikan), serta Nahoras Bona Simarmata, S.S., M.Hum. (kepakaran Sastra Inggris & Linguistik Penerjemahan). Dua mahasiswa program studi Manajemen juga turut serta, yaitu Intan Ali Septiana Zain (Manajemen Keuangan) dan Saudi Ega Putra (Manajemen SDM). Mitra utama kegiatan ini adalah Karang Taruna Unit 12 Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. Observasi awal menunjukkan sejumlah permasalahan yang dihadapi mitra, antara lain belum ada wahana literasi terbuka, pengalaman dalam mengelola program literasi berbasis komunitas yang minim, akses terhadap sumber daya edukatif yang minim, ketiadaan sistem pendampingan dan pelatihan berkelanjutan, serta kepemimpinan dan koordinasi yang lemah. Sebelum ada gazebo tersebut, kegiatan kampanye literasi dan lapak baca bersama berlangsung di lapangan tenis RT 002/RW 012. Meski suasananya ramai dan penuh semangat, para peserta, yang sebagian besar anak-anak sekolah dasar, harus beradaptasi dengan ruang terbuka tanpa tempat khusus membaca. Setelah gazebo didirikan, kegiatan literasi menjadi lebih nyaman dan terfokus. Ruang teduh tersebut kini dimanfaatkan tidak hanya sebagai tempat baca, tetapi juga ruang belajar, diskusi, rapat, hingga aktivitas warga lainnya. Fasilitas baru ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan budaya baca, pembentukan komunitas belajar aktif, serta kelahiran karya kolaboratif masyarakat. Tidak hanya menghadirkan fasilitas, tim juga berupaya memperkuat pengelolaan program literasi berbasis komunitas. Untuk itu, mereka melakukan studi banding ke Taman Baca Masyarakat Kolong Ciputat yang sudah berpengalaman sejak 2016. Dari diskusi tersebut, tim memperoleh wawasan penting terkait pengelolaan ruang baca yang konsisten, inovatif, dan adaptif. Selain itu, gazebo kini menyediakan 50 buku bacaan beragam, mulai dari komik, dongeng, ensiklopedia, hingga buku motivasi. Koleksi ini ditujukan untuk semua kalangan, dari anak-anak hingga orang tua, agar kebiasaan membaca dalam keluarga semakin tumbuh. Sebagai bentuk keberlanjutan, tim menyelenggarakan pelatihan Leadership for Literacy dengan melibatkan narasumber dari Ketua TBM Kolong Ciputat, akademisi Unindra, dan Ketua Tim Pengabdi Universitas Pamulang. Materi yang diberikan mencakup pengelolaan tempat literasi berkelanjutan, kepemimpinan komunitas, hingga manajemen konflik. Hasilnya, kapasitas kepemimpinan anggota Karang Taruna meningkat, strategi pengelolaan lebih terstruktur, serta lahir program literasi yang inovatif sesuai kebutuhan masyarakat. Untuk memastikan kegiatan literasi berjalan efektif, tim membentuk struktur organisasi Gazebo Pustaka LLK Kolong Sutet. Struktur ini bertujuan memperjelas peran dan tanggung jawab pengurus, memperkuat koordinasi, serta meningkatkan akuntabilitas program. Dengan begitu, gazebo tidak hanya hadir sebagai fasilitas fisik, tetapi juga pusat literasi terbuka yang dikelola secara profesional dan berdampak nyata bagi masyarakat sekitar. Kehadiran Gazebo Literasi ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara akademisi, mahasiswa, dan komunitas dapat menjawab persoalan minimnya akses literasi di masyarakat sekaligus menghadirkan ruang belajar bersama yang berkelanjutan. (*) Editor: Ufqil Mubin

Perekonomian Dunia dalam Bayang-Bayang Resesi

BAINDONESIA.CO – Perwakilan masyarakat Behshahr di parlemen Iran Gholamreza Syari’ati mengatakan bahwa kebijakan pertahanan, komersial, dan bea cukai Presiden Amerika Serikat Donald Trump berdampak negatif pada perekonomian dunia. Hal itu disampaikannya dalam percakapan dengan reporter Mehr News, perwakilan orang-orang Behshahr di Dewan Islam, mengacu pada alasan kenaikan harga emas dan dolar di pasar. “Kita telah menyaksikan kenaikan harga emas global dan rekor barunya selama beberapa waktu, dan kenaikan harga dalam negeri ini juga dipengaruhi oleh kenaikan harga emas di pasar dunia,” jelasnya. Semua kenaikan harga ini, sambung dia, adalah akibat dari keputusan politik keamanan, bea cukai, dan perdagangan Trump. Ia menyebut kebijakan-kebijakan pecinta perang Presiden Amerika di beberapa wilayah Timur Tengah dan dunia telah menyebabkan kenaikan harga emas serta dampak negatif lainnya terhadap perekonomian global. Gholamreza menegaskan, berbagai blok ekonomi di dunia harus menentang keputusan Trump dan mencegah dampak negatif dari keputusannya dengan mengadopsi kebijakan yang rasional dan independen. “Jika praktik Presiden Amerika ini terus berlanjut, kita pasti akan menyaksikan resesi ekonomi dunia,” pungkasnya. (*) Sumber: Mehrnews.com

Pj Gubernur Kaltim, Bupati, dan Forkopimda Kukar Bahas Pengendalian Inflasi

BAINDONESIA.CO – Pj Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) bersama Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menggelar rapat pembahasan strategi pengendalian inflasi di daerah pada tahun 2024. Rapat yang digelar di Ruang Serbaguna Kantor Bupati Kukar ini menjadi wujud komitmen bersama Pemda di Kaltim untuk menyatukan langkah yang akan diambil guna menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Dalam sesi wawancara bersama awak media, Pj Gubernur Kaltim Akmal Malik menyampaikan urgensi kerja sama lintas sektor dalam menghadapi tantangan inflasi. “Memang ini penting kolaborasi. Kami melakukan Raker bersama dengan Bupati agar bukan hanya perspektif Provinsi yang paham tapi Kabupaten juga paham. Kenapa ini saya tempatkan di Kukar? Karena Kukar adalah lumbung pangannya Kaltim,” ujarnya, Senin (12/2/2024). Rapat tersebut berfokus pada identifikasi faktor-faktor yang berpotensi memicu kenaikan inflasi di wilayah Kaltim. Sejumlah langkah konkret diambil dalam rapat tersebut, antara lain peningkatan pengawasan distribusi dan harga barang, upaya meningkatkan produksi, serta distribusi pangan lokal. “Petani kita sudah mulai produksi, tetapi kita enggak tahu anomali cuaca. Makanya sekarang Pak Bupati bersama-sama juga sudah menyiapkan langkah pompanisasi di samping juga melakukan diversifikasi pertanian,” tambah Akmal. Bupati Kukar Edi Damansyah menyoroti potensi inflasi yang dapat mempengaruhi stabilitas harga barang dan jasa di tingkat lokal. Dia menyampaikan bahwa melalui rapat ini Pemkab Kukar dapat mengidentifikasi sektor-sektor yang rentan terhadap kenaikan harga serta merumuskan kebijakan yang tepat untuk mengendalikan inflasi. “Tadi beras diinformasikan stok nasionalnya agar menjadi perhatian karena beberapa titik yang menyuplai agak sedikit menurun produksinya. Tadi juga yang jadi perhatian lombok, bawang putih, dan bawang merah,” ungkapnya. Rapat tersebut juga menekankan peran kepala daerah untuk mengawal program pengembangan pertanian di wilayah Kukar sebagai upaya pengendalian inflasi serta peran mereka dalam menjaga stabilitas harga. “Intinya kami ingatkan kepada semua kepala daerah-daerah yang produksi kantong-kantong pangan itu agar fokus dalam mengembangkan program pangan,” pungkas Edi. (jt/um)

Angka Kemiskinan di Kabupaten Kukar pada Periode 2018-2023

BAINDONESIA.CO – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyebut angka kemiskinan di Kukar selama 5 tahun terakhir mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Kepala BPS Kukar, Nur Wahid menjelaskan, angka kemiskinan di Kukar pada tahun 2018 mencapai 7,41 persen. Pada tahun 2019, angka kemiskinan menurun menjadi 7,20 persen. Dua tahun berikutnya tingkat kemiskinan di Kukar mencapai 7,99 persen akibat pandemi Covid-19. Pasca pandemi, pada tahun 2022 angka kemiskinan kembali menurun menjadi 7,96 persen. Tren penurunan ini berlanjut hingga tahun 2023 yang mencapai 7,61 persen. “Namun pada tahun 2022 dan 2023, yaitu pasca pandemi, kembali menurun sampai dengan sekarang,” jelas Wahid Kepala BPS Kukar pada Jumat (19/1/2024). Kenaikan angka kemiskinan di Kukar pada tahun 2020-2021 juga disebut Wahid karena dipengaruhi penambahan jumlah pendatang baru dari luar daerah. Berdasarkan analisis BPS, penurunan angka kemiskinan tersebut dipengaruhi berbagai program pembangunan ekonomi dan sosial yang diimplementasikan oleh Pemerintah Daerah Kukar. Program-program tersebut tak hanya fokus pada pemberdayaan ekonomi, tetapi juga mencakup aspek-aspek pendidikan dan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dia menjelaskan bahwa capaian ini sejalan dengan komitmen pemerintah daerah untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif. “Kami berupaya keras untuk mengurangi tingkat kemiskinan dengan menerapkan kebijakan yang berbasis data dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Meskipun angka kemiskinan di Kukar mengalami penurunan signifikan, beberapa kecamatan masih mengalami tantangan serius dari segi kemiskinan. Kata Wahid, pemerintah daerah berusaha merumuskan strategi lebih lanjut untuk menyelesaikan masalah tersebut, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di seluruh wilayah Kukar. (jt/um)

Keuntungan Investasi Emas

BAINDONESIA.CO – Pernah enggak kamu mikir, “Kenapa emas bisa punya nilai? Padahal itu kan cuma logam biasa.” Kali ini kita bakal coba bahas intinya secara

Kiat agar Usaha Kecil Jadi Besar

BAINDONESIA.CO – Usaha kecil bisa berkembang menjadi usaha besar. Syaratnya harus memenuhi sejumlah kriteria. Berikut kita bahas beberapa pola usaha kecil yang tumbuh menjadi usaha

Teuku Rezasyah: Indonesia Hadapi Tekanan sebagai Anggota BRICS

BAINDONESIA.CO – Pakar hubungan internasional Teuku Rezasyah menyatakan bahwa Indonesia saat ini memainkan peran strategis sebagai qualified middle power atau kekuatan kelas menengah yang berkualitas dalam tatanan global. Peran tersebut dijalankan dengan prinsip bebas aktif yang selama ini menjadi tradisi diplomasi Indonesia. “Kita sudah terbiasa menjalin sinergi melalui konsultasi dan konsensus tanpa memusuhi siapa pun. Ini ciri khas dari diplomasi Indonesia,” ujar Teuku dalam wawancara khusus di Metro TV sebagaimana dikutip media ini pada Senin (7/7/2025). Namun, dia memperingatkan bahwa tatanan global saat ini tengah berada di ambang ketidakstabilan serius akibat kebijakan sepihak mantan Presiden AS Donald Trump, yang kembali aktif di panggung politik global. “Apa yang dilakukan Donald Trump saat ini benar-benar luar biasa dan membahayakan,” tegasnya. Dia merujuk pada pernyataan pakar ekonomi Amerika Serikat, Jeffrey Sachs, yang menyebut bahwa Trump is wrecking the world economy. Teuku menyebut kebijakan-kebijakan Trump telah “mempordak-porandakan” stabilitas ekonomi global serta merusak struktur kerja sama multilateral seperti BRICS. BRICS yang awalnya terdiri dari lima negara utama—Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan—telah mengalami ekspansi besar dalam dua tahun terakhir. Tahun lalu, organisasi ini menambahkan enam anggota baru: Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Tahun ini, anggota baru kembali bergabung yakni Belarus, Nigeria, Thailand, dan Vietnam. Namun menurut Teuku, harapan besar terhadap BRICS justru berada di bawah tekanan. “Tindakan Trump kini juga menyasar BRICS. Ini bukan hanya tekanan terhadap Indonesia, tapi terhadap seluruh dunia,” jelasnya. Tahun ini BRICS mengangkat tema besar Strengthening Global South Cooperation for a More Inclusive and Sustainable Governance. Tujuannya adalah memperkuat kerja sama demi tata kelola global yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan. “Tapi harapan itu bisa runtuh karena tekanan unilateral dari Amerika Serikat,” ujar Teuku. Dia mengungkapkan bahwa Trump bahkan memberikan ultimatum kepada negara-negara yang belum melakukan konsultasi dengan pemerintah AS. “Konon, mereka diberi tenggat waktu hingga Rabu malam,” katanya. Trump juga disebut-sebut akan memperkenalkan kebijakan tarif sosial yang mulai diberlakukan pada tahun ini. “Langkah ini jelas akan menekan ekspor negara-negara berkembang dan memaksa negara-negara Global South tunduk dalam relasi yang tidak setara,” paparnya. Indonesia, lanjutnya, sangat mungkin terkena dampak langsung dari kebijakan ini. “Kita harus sadar bahwa ekonomi Amerika Serikat adalah yang terbesar di dunia saat ini. Tekanan ini bisa berdampak pada ekspor kita, pada pencapaian target ekonomi nasional, bahkan terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi kita secara keseluruhan,” tegasnya. Namun ia meyakini bahwa Indonesia tetap memiliki peluang untuk memainkan peran penting dalam meredam eskalasi global. “Sebagai qualified middle power, Indonesia harus memperkuat solidaritas dengan sesama anggota BRICS, menjaga prinsip bebas aktif, dan tetap mendorong tata kelola global yang adil dan setara,” pungkasnya. (*) Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Serangan Iran Lumpuhkan Perekonomian Israel

BAINDONESIA.CO – Dikutip Tasnim dari Wall Street Journal, perang Israel dengan Iran telah membebankan biaya ratusan juta Dolar atas Tel Aviv. Berdasarkan laporan Wall Street Journal dari para pakar, biaya terbesar yang mesti ditanggung Israel berhubungan dengan sistem pertahanan udara untuk mencegat serangan rudal Iran. “Sistem rudal Israel mungkin menelan biaya hingga 200 juta Dolar tiap harinya,” lapor Wall Street Journal. Sementara itu, harian Maariv melaporkan bahwa pasar-pasar di Tel Aviv lengang akibat gelombang serangan rudal Iran. “Separuh dari toko-tako Tel Aviv ditutup lantaran mencemaskan serangan-serangan berikutnya,” tulis Maariv. Di sisi lain, Unit Gawat Darurat Rezim Zionis mengumumkan perawatan 1.007 orang yang terluka akibat serangan rudal dan drone Iran. Serangan rudal Iran membuat ekonomi Rezim Zionis menghela napas-napas terakhirnya, setelah sebelum ini limbung akibat perang di Gaza. Kaburnya para inevestor, merosotnya pasar dan bursa saham, menurunnya nilai mata uang Shekel di hadapan Dolar, berhentinya penerbangan komersial internasional, larinya para wisatawan asing, dan mandeknya ekspor-impor di Tanah Pendudukan adalah bagian dari dampak langsung perang ini terhadap ekonomi Rezim Zionis. (*) Sumber: Poros Perlawanan

Iran Serang Pusat Energi Rezim Israel

BAINDONESIA.CO – Gelombang kedua serangan rudal Iran dalam Operasi Janji Sejati 3, yang diluncurkan sebagai respons atas agresi militer rezim Zionis, berhasil mengenai berbagai target strategis di Wilayah Pendudukan Palestina. Menurut laporan Kantor Berita Mehr pada Minggu 15 Juni, puluhan rudal dan pesawat nirawak Iran ditembakkan ke posisi-posisi militer rezim Zionis. Operasi ofensif ini dilakukan oleh Divisi Kedirgantaraan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dengan nama sandi “Wahai Ali bin Abi Thalib (a.s)”. Serangan tersebut berhasil menembus beberapa lapisan sistem pertahanan udara Israel pada malam perayaan Idul Ghadir. Para pejabat tinggi Iran menegaskan bahwa setiap aksi agresi dari rezim Zionis akan direspons dengan tindakan keras dan tegas. Sebagai bentuk balasan atas serangan brutal yang dilancarkan oleh Israel, ratusan rudal balistik berbagai jenis ditembakkan dari sejumlah lokasi ke Wilayah Pendudukan. Serangan ini memanfaatkan kesiapan penuh dan kemampuan tinggi sistem pertahanan Iran. Pernyataan IRGC Terkait Tahap Lanjutan Operasi “Janji Sejati 3” Dalam pernyataan resmi terbaru, IRGC mengonfirmasi bahwa fasilitas produksi bahan bakar jet tempur dan pusat-pusat pasokan energi milik rezim Zionis telah menjadi sasaran gelombang baru serangan drone dan rudal dalam Operasi Janji Sejati 3. Berikut kutipan dari pengumuman resmi IRGC, Humas No. 2: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih” “Maka seranglah mereka sebagaimana mereka telah menyerang kalian…” (Surah Al-Baqarah:194) IRGC menyatakan bahwa operasi ofensif gabungan ini akan terus diperluas dan ditingkatkan intensitasnya apabila agresi militer dari pihak Israel tetap berlanjut. Sistem pertahanan kedirgantaraan milik IRGC, di bawah komando jaringan terpadu dan markas gabungan pertahanan udara Republik Islam Iran, telah berhasil mencegat dan menghancurkan tiga rudal jelajah, sepuluh drone, serta puluhan wahana udara tak berawak milik tentara Zionis di wilayah konflik. (*) Sumber: Poros Perlawanan

Teuku Rezasyah: Indonesia Hadapi Tekanan sebagai Anggota BRICS

BAINDONESIA.CO – Pakar hubungan internasional Teuku Rezasyah menyatakan bahwa Indonesia saat ini memainkan peran strategis sebagai qualified middle power atau kekuatan kelas menengah yang berkualitas dalam tatanan global. Peran tersebut dijalankan dengan prinsip bebas aktif yang selama ini menjadi tradisi diplomasi Indonesia. “Kita sudah terbiasa menjalin sinergi melalui konsultasi dan konsensus tanpa memusuhi siapa pun. Ini ciri khas dari diplomasi Indonesia,” ujar Teuku dalam wawancara khusus di Metro TV sebagaimana dikutip media ini pada Senin (7/7/2025). Namun, dia memperingatkan bahwa tatanan global saat ini tengah berada di ambang ketidakstabilan serius akibat kebijakan sepihak mantan Presiden AS Donald Trump, yang kembali aktif di panggung politik global. “Apa yang dilakukan Donald Trump saat ini benar-benar luar biasa dan membahayakan,” tegasnya. Dia merujuk pada pernyataan pakar ekonomi Amerika Serikat, Jeffrey Sachs, yang menyebut bahwa Trump is wrecking the world economy. Teuku menyebut kebijakan-kebijakan Trump telah “mempordak-porandakan” stabilitas ekonomi global serta merusak struktur kerja sama multilateral seperti BRICS. BRICS yang awalnya terdiri dari lima negara utama—Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan—telah mengalami ekspansi besar dalam dua tahun terakhir. Tahun lalu, organisasi ini menambahkan enam anggota baru: Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Tahun ini, anggota baru kembali bergabung yakni Belarus, Nigeria, Thailand, dan Vietnam. Namun menurut Teuku, harapan besar terhadap BRICS justru berada di bawah tekanan. “Tindakan Trump kini juga menyasar BRICS. Ini bukan hanya tekanan terhadap Indonesia, tapi terhadap seluruh dunia,” jelasnya. Tahun ini BRICS mengangkat tema besar Strengthening Global South Cooperation for a More Inclusive and Sustainable Governance. Tujuannya adalah memperkuat kerja sama demi tata kelola global yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan. “Tapi harapan itu bisa runtuh karena tekanan unilateral dari Amerika Serikat,” ujar Teuku. Dia mengungkapkan bahwa Trump bahkan memberikan ultimatum kepada negara-negara yang belum melakukan konsultasi dengan pemerintah AS. “Konon, mereka diberi tenggat waktu hingga Rabu malam,” katanya. Trump juga disebut-sebut akan memperkenalkan kebijakan tarif sosial yang mulai diberlakukan pada tahun ini. “Langkah ini jelas akan menekan ekspor negara-negara berkembang dan memaksa negara-negara Global South tunduk dalam relasi yang tidak setara,” paparnya. Indonesia, lanjutnya, sangat mungkin terkena dampak langsung dari kebijakan ini. “Kita harus sadar bahwa ekonomi Amerika Serikat adalah yang terbesar di dunia saat ini. Tekanan ini bisa berdampak pada ekspor kita, pada pencapaian target ekonomi nasional, bahkan terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi kita secara keseluruhan,” tegasnya. Namun ia meyakini bahwa Indonesia tetap memiliki peluang untuk memainkan peran penting dalam meredam eskalasi global. “Sebagai qualified middle power, Indonesia harus memperkuat solidaritas dengan sesama anggota BRICS, menjaga prinsip bebas aktif, dan tetap mendorong tata kelola global yang adil dan setara,” pungkasnya. (*) Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Serangan Iran Lumpuhkan Perekonomian Israel

BAINDONESIA.CO – Dikutip Tasnim dari Wall Street Journal, perang Israel dengan Iran telah membebankan biaya ratusan juta Dolar atas Tel Aviv. Berdasarkan laporan Wall Street Journal dari para pakar, biaya terbesar yang mesti ditanggung Israel berhubungan dengan sistem pertahanan udara untuk mencegat serangan rudal Iran. “Sistem rudal Israel mungkin menelan biaya hingga 200 juta Dolar tiap harinya,” lapor Wall Street Journal. Sementara itu, harian Maariv melaporkan bahwa pasar-pasar di Tel Aviv lengang akibat gelombang serangan rudal Iran. “Separuh dari toko-tako Tel Aviv ditutup lantaran mencemaskan serangan-serangan berikutnya,” tulis Maariv. Di sisi lain, Unit Gawat Darurat Rezim Zionis mengumumkan perawatan 1.007 orang yang terluka akibat serangan rudal dan drone Iran. Serangan rudal Iran membuat ekonomi Rezim Zionis menghela napas-napas terakhirnya, setelah sebelum ini limbung akibat perang di Gaza. Kaburnya para inevestor, merosotnya pasar dan bursa saham, menurunnya nilai mata uang Shekel di hadapan Dolar, berhentinya penerbangan komersial internasional, larinya para wisatawan asing, dan mandeknya ekspor-impor di Tanah Pendudukan adalah bagian dari dampak langsung perang ini terhadap ekonomi Rezim Zionis. (*) Sumber: Poros Perlawanan

Iran Serang Pusat Energi Rezim Israel

BAINDONESIA.CO – Gelombang kedua serangan rudal Iran dalam Operasi Janji Sejati 3, yang diluncurkan sebagai respons atas agresi militer rezim Zionis, berhasil mengenai berbagai target strategis di Wilayah Pendudukan Palestina. Menurut laporan Kantor Berita Mehr pada Minggu 15 Juni, puluhan rudal dan pesawat nirawak Iran ditembakkan ke posisi-posisi militer rezim Zionis. Operasi ofensif ini dilakukan oleh Divisi Kedirgantaraan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dengan nama sandi “Wahai Ali bin Abi Thalib (a.s)”. Serangan tersebut berhasil menembus beberapa lapisan sistem pertahanan udara Israel pada malam perayaan Idul Ghadir. Para pejabat tinggi Iran menegaskan bahwa setiap aksi agresi dari rezim Zionis akan direspons dengan tindakan keras dan tegas. Sebagai bentuk balasan atas serangan brutal yang dilancarkan oleh Israel, ratusan rudal balistik berbagai jenis ditembakkan dari sejumlah lokasi ke Wilayah Pendudukan. Serangan ini memanfaatkan kesiapan penuh dan kemampuan tinggi sistem pertahanan Iran. Pernyataan IRGC Terkait Tahap Lanjutan Operasi “Janji Sejati 3” Dalam pernyataan resmi terbaru, IRGC mengonfirmasi bahwa fasilitas produksi bahan bakar jet tempur dan pusat-pusat pasokan energi milik rezim Zionis telah menjadi sasaran gelombang baru serangan drone dan rudal dalam Operasi Janji Sejati 3. Berikut kutipan dari pengumuman resmi IRGC, Humas No. 2: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih” “Maka seranglah mereka sebagaimana mereka telah menyerang kalian…” (Surah Al-Baqarah:194) IRGC menyatakan bahwa operasi ofensif gabungan ini akan terus diperluas dan ditingkatkan intensitasnya apabila agresi militer dari pihak Israel tetap berlanjut. Sistem pertahanan kedirgantaraan milik IRGC, di bawah komando jaringan terpadu dan markas gabungan pertahanan udara Republik Islam Iran, telah berhasil mencegat dan menghancurkan tiga rudal jelajah, sepuluh drone, serta puluhan wahana udara tak berawak milik tentara Zionis di wilayah konflik. (*) Sumber: Poros Perlawanan

Felix Zulhendri Ingatkan Bahaya Gula dan Karbohidrat dalam Kehidupan

BAINDONESIA.CO – Praktisi kesehatan Indonesia Felix Zulhendri kembali mengingatkan masyarakat tentang bahaya konsumsi gula dan karbohidrat berlebih dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pernyataan terbarunya, Felix menyebut bahwa kita kini hidup di lingkungan ekstrem yang mendorong konsumsi makanan tidak sehat secara masif, dan oleh karena itu, dibutuhkan keputusan ekstrem pula untuk menjaga kesehatan. “Saya selalu berkaca. Kalau perut saya mulai buncit sedikit, saya tahu itu tandanya saya makan karbohidrat dan gula terlalu banyak. Maka saya langsung hentikan karbohidrat selama 1-2 hari, dan 2-3 hari kemudian saya cek lagi. Biasanya perut kembali rata,” ujarnya sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Malaka pada Kamis (10/7/2025). Menurutnya, pengelolaan konsumsi gula dan karbohidrat harus menjadi kesadaran personal, bukan hanya sebagai bagian dari program diet. “Kita tidak pernah kekurangan gula dan karbohidrat, karena ke mana pun kita pergi, pasti selalu ada unsur itu. Yang sebenarnya kita kekurangan justru adalah protein dan lemak sehat,” tambahnya. Felix menyoroti kondisi masyarakat modern yang nyaris tak bisa lepas dari makanan manis. Ia mencontohkan dengan mengajak masyarakat melihat rak-rak minimarket. “Coba saja ke minimarket, 95 hingga 99 persen isinya adalah produk berbasis gula dan karbohidrat olahan. Maka kita perlu mengambil keputusan yang berani: kelola konsumsi kita, atau kita akan jadi korban,” tegasnya. Selain risiko diabetes dan obesitas, dia mengungkapkan hasil diskusinya dengan seorang dokter di unit hemodialisis (cuci darah) di salah satu rumah sakit di Sumatera Utara. Ia terkejut ketika mendengar bahwa pasien-pasien cuci darah kini semakin muda. “Pasiennya sekarang usia 20, 30, 40 tahun. Dulu usia 50 ke atas. Ini perubahan besar. Dan ini jelas terkait dengan pola makan modern: makanan ultra-proses, konsumsi gula berlebih, diabetes, hipertensi—semua saling berkaitan dan merusak ginjal,” katanya. Felix juga menyoroti sikap generasi muda yang merasa masih kuat dan sehat sehingga mengabaikan risiko jangka panjang. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out), menurutnya, menjadi pemicu utama gaya hidup makan sembarangan. “Banyak yang bilang, ‘Ah, mumpung masih muda, makan aja apa pun.’ Tapi mereka lupa, lingkungan kita sekarang jauh lebih beracun dibanding zaman orang tua kita. Makanan sekarang kebanyakan ultra-proses. Jadi tidak bisa dibandingkan,” tegasnya. Ia mengingatkan bahwa orang-orang dulu bisa makan banyak tanpa efek samping berat karena hidup mereka lebih aktif dan makanan mereka alami. “Sekarang beda. Kalau kita makan sembarangan, dampaknya nyata dan cepat,” katanya. Meski menyarankan untuk membatasi konsumsi gula, Felix mengakui bahwa kebutuhan akan rasa manis adalah sesuatu yang wajar. Oleh karena itu, ia menyarankan alternatif sehat seperti: Pertama, monk fruit extract. Pemanis alami yang tidak meningkatkan kadar gula darah. Kedua, stevia. Tanaman pemanis yang juga tidak berdampak pada lonjakan gula. Namun, ia mengingatkan bahwa bahkan pemanis alami pun harus dikontrol. “Rasa manis itu adiktif. Jadi jangan dari pagi sampai malam makan manis terus,” ujarnya. Felix kembali menekankan pentingnya konsumsi protein dan lemak sehat, seperti telur dan daging. Menurutnya, dua jenis zat gizi ini dapat membantu tubuh merasa kenyang lebih lama karena memicu hormon kenyang, tidak seperti gula yang hanya memberi efek kenyang sesaat. “Kalau saya sarapan tiga butir telur bebek, saya tidak akan lapar sampai siang. Tapi kalau saya makan nasi goreng sepiring penuh, dua jam kemudian saya lapar lagi,” katanya. Dia menutup pesannya dengan peringatan keras: manusia modern kini terlalu mudah terjebak dalam pola makan yang destruktif. Maka, mengelola konsumsi gula dan karbohidrat bukan hanya pilihan, tapi keharusan. “Ini bukan soal diet. Ini soal bertahan hidup di lingkungan yang tidak bersahabat dengan kesehatan. Kita harus sadar, bertindak, dan mengambil keputusan ekstrim jika ingin tetap sehat,” pungkasnya. (*) Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Konsumsi Gula dan Karbohidrat di Indonesia Dinilai Berlebihan, Praktisi Kesehatan: Ini Masalah Serius Bangsa

BAINDONESIA.CO – Praktisi kesehatan Indonesia Felix Zulhendri mengungkapkan keprihatinannya terhadap pola konsumsi masyarakat Indonesia yang dinilai terlalu tinggi dalam mengonsumsi gula dan karbohidrat, tetapi sangat rendah dalam konsumsi protein. Pernyataan ini ia sampaikan berdasarkan data yang diambilnya dari Statista dan juga pengalaman lapangan serta pengamatan pribadi. Menurut Felix, setiap orang Indonesia mengonsumsi rata-rata 120 kilogram beras per tahun, 30 kilogram tepung terigu, dan 30 kilogram gula pasir tambahan. “Kalau dijumlahkan, masyarakat Indonesia mengonsumsi sekitar 180 kilogram karbohidrat dan gula per orang per tahun, sedangkan konsumsi protein seperti daging, ayam, dan telur hanya 10 kilogram per orang per tahun,” ungkapnya sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Malaka pada Kamis (10/7/2025). Ia menekankan bahwa ketimpangan ini menyebabkan masyarakat jauh lebih rentan terhadap penyakit kronis, terutama diabetes, obesitas, dan hipertensi. “Bayangkan, kita konsumsi karbohidrat dan gula 18 kali lebih banyak daripada protein. Ini sangat mengganggu keseimbangan metabolisme tubuh,” ujarnya. Felix menjelaskan bahwa karbohidrat seperti nasi, roti, mie instan, kentang, dan sereal memiliki kandungan zat pati (starch), yaitu rantai gula yang di dalam tubuh akan berubah menjadi glukosa. “Semua makanan itu, pada dasarnya, akan menjadi gula dalam tubuh kita. Dan inilah akar dari banyak penyakit tidak menular (non-communicable diseases),” tambahnya. Dalam sebuah studi di salah satu kabupaten di Bali, kata Felix, ditemukan bahwa 1 dari 4 remaja mengalami pre-diabetes atau sudah diabetes. “Bayangkan kalau anak-anak remaja saja 25% sudah seperti itu, maka saya percaya bahwa di kalangan orang dewasa bisa mencapai 50%, dan itu masuk akal,” ujarnya. Dia juga menyoroti beban yang harus ditanggung oleh sistem kesehatan nasional. “Makanya BPJS kita kewalahan. Penyakit-penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi itu biayanya luar biasa besar. Saya lihat sendiri bagaimana keluarga-keluarga mengeluarkan biaya besar untuk cek lab, obat, dan dokter spesialis,” tegasnya. Ia juga menjelaskan bahwa gula memiliki efek adiktif yang tinggi. “Gula sangat kuat dalam menstimulasi dopamin, hormon yang memberikan perasaan senang. Maka wajar banyak orang susah sekali lepas dari makanan manis, roti, dan makanan olahan tepung lainnya,” ujarnya. Karena itu, Felix mengimbau agar masyarakat mulai mengurangi konsumsi makanan tinggi gula dan karbohidrat, serta meningkatkan asupan protein hewani seperti telur dan daging. Menurutnya, protein dan lemak hewani membantu memicu hormon-hormon kenyang, yang memberi rasa kenyang lebih lama dan mencegah keinginan untuk ngemil terus-menerus. “Salah satu kesalahan pola makan masyarakat kita adalah terlalu sering makan. Sarapan, lalu ngemil jam 10, makan siang, ngemil sore, makan malam, lalu makan lagi sebelum tidur. Ini karena makanan kita tinggi karbohidrat yang cepat bikin lapar lagi,” ujarnya. Felix menegaskan bahwa dirinya bukan anti karbohidrat atau anti gula. Dia tetap mengonsumsi nasi dan kentang, namun secara terukur dan sesuai kebutuhan aktivitas fisik. “Kalau saya tahu saya akan olahraga intens, saya tingkatkan konsumsi karbohidrat. Tapi kalau tidak, saya kurangi,” jelasnya. Ia menutup penjelasannya dengan ajakan kepada masyarakat untuk mulai menyadari apa yang dikonsumsi sehari-hari. “Ini bukan sekadar soal makan, ini soal masa depan bangsa. Kalau produktivitas kita hancur karena kesehatan yang buruk, bagaimana kita bisa bersaing sebagai bangsa yang besar?” pungkasnya. (*) Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Lima Sikap Ahlulbait Indonesia terkait Tragedi Kemanusiaan di Suriah

BAINDONESIA.CO – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (ABI) Ustadz Zahir Yahya menyampaikan pernyataan sikap ABI terkait tragedi kemanusiaan yang terjadi di Suriah sejak Desember 2024, khususnya terhadap komunitas Alawi yang menjadi korban kekerasan sektarian. Pertama, ABI mengutuk dengan keras pembantaian sejumlah besar warga sipil Alawi di wilayah pesisir Suriah, termasuk Latakia dan Tartus. Tindakan pembunuhan massal, penjarahan, penghancuran rumah-rumah serta pengusiran paksa warga merupakan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional, termasuk Konvensi Jenewa yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Kedua, ABI menyatakan solidaritas penuh terhadap komunitas Alawi serta seluruh kelompok minoritas yang terdampak, termasuk Kristen dan etnis lainnya. ABI juga mengimbau Pemerintah Indonesia untuk bersikap tegas dan adil dalam menyikapi tragedi ini. Pihaknya meminta Pemerintah Indonesia mengecam segala bentuk kekerasan tanpa memihak kelompok tertentu; mendorong penyelesaian damai berdasarkan keadilan dan hak asasi manusia, serta menggunakan saluran diplomasi untuk membantu korban dan pengungsi tanpa diskriminasi. Ketiga, ABI menyerukan penghentian segera segala bentuk kekerasan terhadap warga sipil di Suriah. Ormas Islam tersebut juga mendesak PBB dan seluruh anggota masyarakat dunia untuk segera mengambil langkah nyata untuk menghentikan pembantaian; menjatuhkan sanksi kepada para pelaku kejahatan perang, dan mendorong intervensi kemanusiaan guna menyelamatkan korban dan pengungsi. Keempat, ABI mendukung pembentukan komisi penyelidikan independen di bawah naungan PBB untuk mengusut pembantaian ini dan mengadili semua pihak yang bertanggung jawab melalui Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Kelima, Suriah adalah negara yang kaya keberagaman. “Kami menegaskan bahwa semua kelompok berhak hidup dengan aman, tanpa diskriminasi. Kami mendorong dialog nasional untuk menghentikan konflik dan mencegah perang saudara lebih lanjut,” tegas Ustadz Zahir dalam siaran pers yang dikutip media ini pada Minggu (16/3/2025). Dia berharap tragedi ini segera berakhir, dan Suriah kembali menjadi tanah yang damai bagi semua warganya. “Semoga Allah SWT memberikan pahala dan kekuatan kepada para korban dan membimbing dunia untuk menegakkan keadilan dan perdamaian,” tutupnya. (*) Editor: Ufqil Mubin

Keteladanan Hidup dari Para Maksumin

Oleh: Imam Ali Khamenei Rasulullah dan keluarganya yang suci adalah manusia-manusia yang menjadi hujjah bagi seluruh manusia. Mereka adalah figur yang menunjukkan bahwa beragam konsep kebaikan yang diajarkan oleh agama Islam ternyata bisa dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, menjadi tugas kitalah untuk meneladani segenap sifat baik Maksumin. Bagi mereka yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat, maka kewajiban mereka adalah mengajak masyarakat untuk meneladani seluruh peri kehidupan Maksumin. Pertama, bisa dipercaya. Rasulullah dan keluarganya dikenal sebagai orang-orang yang jujur dan amanah. Sejak masa jahiliah, Rasulullah sudah memiliki julukan Al-Amin (orang yang sangat dipercaya). Masyarakat Arab biasa menitipkan barang berharga yang mereka miliki kepada beliau dan mereka yakin bahwa barang yang mereka titipkan itu akan kembali ke tangan mereka seperti semula. Bahkan setelah beliau memulai dakwah Islam sekalipun, dan mayoritas masyarakat Quraisy memusuhinya, mereka—termasuk orang-orang yang memusuhinya—masih mempercayainya dan tetap menitipkan barang berharga mereka kepada beliau. Kedua, sabar. Sabar adalah salah satu sifat yang sangat penting bagi keberhasilan sebuah perjuangan. Inilah yang dimiliki oleh Maksumin, dan bisa kita lihat dari catatan kehidupan mereka. Kesabaran mereka sampai pada taraf kemampuan menahan diri dalam menghadapi perkara tertentu di mana orang lain tidak akan mampu melakukannya, jika perkara tersebut menimpanya. Inilah yang sering lolos dari pengamatan kita. Banyak di antara kita yang ingin memiliki kemuliaan seperti Maksumin, tapi, kita tidak mau menjalani prosesnya, termasuk di antaranya adalah bersikap sabar dalam menghadapi beragam ujian, cobaan, dan rintangan yang datang menghadang. Ketiga, pemaaf. Rasulullah dan keluarganya ‘alaihimus-salam adalah orang-orang yang sangat pemaaf. Sifat ini sangat penting sebagai daya tarik yang luar biasa dan menjadi jaminan bagi keberhasilan sebuah langkah dakwah di mana pun dan kapan pun. Seringkali mereka memperlakukan musuh-musuh dengan cara yang sangat tidak biasa. Sebagai contoh, setelah fathul Makkah, Rasulullah saw memberikan amnesti umum kepada semua orang Makkah yang selama puluhan tahun melakukan keburukan kepada Rasulullah. Tindakan ini sangat menyentuh hati banyak pihak, sehingga banyak dari mereka, yang dengan mendengar peristiwa ini, langsung masuk Islam. Keempat, menjaga kerapian dan kebersihan. Maksumin memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kerapian dan kebersihan. Rasulullah saw sejak kecil dikenal sangat menyukai kebersihan dan kerapian. Di masa remaja, beliau selalu merapikan rambut beliau. Kemudian di masa muda, selain merapikan rambut, beliau pun selalu merapikan janggutnya. Setelah Islam tersebar dan beliau telah menginjak usia lanjut, beliau tetap sangat memperhatikan masalah kebersihan. Memang benar bahwa baju beliau adalah baju lama dan terkadang terdapat jahitan di sana-sini. Namun, baju yang penuh tambalan itu tetap terkesan bersih. Semua ini sangat berpengaruh dalam aktivitas, pergaulan, dan kesehatan seseorang. Harap diketahui bahwa perkara-perkara yang tampaknya remeh ini sebenarnya memiliki pengaruh besar dalam jiwa seseorang. Kelima, ramah. Rasulullah dan keluarganya dikenal sebagai pribadi-pribadi yang ramah. Perilaku mereka di tengah-tengah masyarakat sangatlah baik. Kesedihan hanya akan ditampakkan saat mereka sedang menyendiri. Mereka selalu memberikan salam kepada setiap orang yang mereka temui. Mereka juga melarang siapa saja mencela atau berkata buruk kepada selainnya. Mereka tidak pernah menghina atau berkata buruk kepada orang lain. Wajah mereka selalu ceria di hadapan orang-orang miskin dan kaum papa. Keenam, istikamah. Istikamah atau konsistensi dalam menjalankan kebaikan adalah faktor lain yang menjadi kunci keberhasilan Rasulullah dan keluarganya yang suci. Sepanjang sejarah, keberhasilan yang dicapai oleh orang-orang besar selalu saja disertai dengan sikap konsisten mereka dalam meraih apa yang dicita-citakan. Hal seperti ini pula yang ditunjukkan oleh Rasulullah dan keluarganya yang suci. Bahkan, sikap konsisten Rasulullah itu sedemikian kuat sehingga beliau mampu membangun peradaban yang luar biasa tinggi di atas kegersangan peradaban jahiliah di lembah tandus Hijaz. Berbagai macam sifat baik yang ditunjukkan oleh Rasulullah dan keluarganya itu, selain memberikan penjelasan kepada kita terkait dengan rahasia keberhasilan mereka, juga menjadi teladan bagi para pengikutnya. Jika kita ingin berhasil dalam kehidupan kita, milikilah sifat-sifat baik itu. Rasulullah dan keluarganya yang suci ada dan hidup di dunia ini untuk menjadi contoh bagi kita semua. (*) Sumber: Dikutip dari rubrik Suara DS, Buletin Al-Wilayah, edisi 22, April 2018, Rajab 1439H

Inovasi Digital Berkelanjutan: Peran Kontrol Strategis dan Orkestrasi

Oleh: Dr. Joko Rurianto* Dalam lanskap bisnis digital yang semakin kompetitif, inovasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis untuk bertahan dan berkembang. Namun, inovasi yang hanya berfokus pada kecepatan dan teknologi tanpa mempertimbangkan keberlanjutan dapat menimbulkan risiko jangka panjang. Oleh karena itu, penting bagi pelaku industri digital untuk mengadopsi pendekatan inovasi yang berkelanjutan yakni menciptakan solusi digital yang tidak hanya efisien dan adaptif, tetapi juga berdampak positif secara sosial. Dengan demikian, bisnis digital dapat membangun fondasi yang kuat untuk pertumbuhan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Dua konsep yang menjadi kunci dalam keberhasilan inovasi digital adalah strategic control dan performansi orkestrasi. Keduanya berperan penting dalam memastikan bahwa inovasi tidak hanya terjadi, tetapi juga memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi organisasi dan masyarakat. Menjaga Arah Menurut John A Pearce dan Richard B Robinson dalam buku Strategi Manajemen (2003), strategic control merupakan bagian dari manajemen strategis yang berfungsi untuk memantau dan menilai kinerja strategi secara berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa strategi tetap selaras dengan perubahan lingkungan eksternal dan internal organisasi. Pendapat ini ditegaskan lagi oleh Donald L Sull, Profesor dari London Business School, yang dalam artikelnya bersama Alejandro Ruelas-Gossi menekankan bahwa kontrol strategis harus bersifat dinamis dan fleksibel. Ia menyatakan bahwa dalam dunia yang penuh ketidakpastian, organisasi harus mampu mengadaptasi strategi secara cepat berdasarkan data dan insight yang terus berkembang. Dalam konteks digital, kontrol strategis mencakup monitoring terhadap implementasi strategi digital, evaluasi efektivitas teknologi dan proses digital, serta penyesuaian arah strategi berdasarkan data dan insight terbaru. Strategic control memungkinkan organisasi untuk tetap adaptif dan responsif terhadap perubahan teknologi, perilaku konsumen, dan dinamika pasar. Tanpa kontrol strategis yang kuat, inovasi digital berisiko menjadi inisiatif yang terputus-putus, tidak terintegrasi, atau bahkan gagal memberikan nilai tambah. Mengelola Kompleksitas Digital Sementara kontrol strategis berfokus pada arah dan pengawasan, performansi orkestrasi adalah kemampuan organisasi untuk menyelaraskan berbagai elemen dalam ekosistem digital—teknologi, sumber daya manusia, proses bisnis, dan mitra eksternal—agar bekerja secara sinergis. Dalam dunia digital yang kompleks, orkestrasi performansi menjadi krusial karena beberapa hal di antaranya organisasi tidak lagi bekerja secara silo, melainkan dalam jaringan kolaboratif; teknologi digital seperti AI, cloud, dan IoT membutuhkan integrasi lintas fungsi dan sistem; kecepatan inovasi menuntut koordinasi yang efisien dan fleksibel; dan orkestrasi yang baik memungkinkan organisasi untuk mengoptimalkan performa digital secara menyeluruh, bukan hanya pada satu aspek teknologi atau proses. Dalam artikel Strategic Orchestration yang diterbitkan London Business School, dua profesor terkemuka, Donald L. Sull dan Alejandro Ruelas-Gossi, menekankan bahwa orkestrasi strategis adalah pendekatan yang memungkinkan perusahaan untuk masuk ke pasar lebih cepat, beradaptasi dengan perubahan lingkungan, mengurangi kebutuhan modal, serta melayani segmen pasar yang sebelumnya tidak menguntungkan. Mereka mencontohkan bagaimana perusahaan seperti Apple, Nestlé, dan CEMEX berhasil membangun ekosistem mitra yang saling melengkapi untuk menciptakan nilai yang tidak bisa dicapai sendirian. Apple, misalnya, tidak lagi mencoba mengembangkan semua komponen sendiri, tetapi mengorkestrasi jaringan penyedia konten dan aksesori untuk menciptakan pengalaman pengguna yang mulus. Sull dan Ruelas-Gossi menyimpulkan bahwa dalam dunia yang semakin kompleks, kemampuan untuk mengorkestrasi sumber daya eksternal dan internal secara strategis adalah kunci untuk bertahan dan berkembang. Di Indonesia, beberapa perusahaan telah menunjukkan keberhasilan dalam menerapkan strategic control dan orkestrasi performansi dalam inovasi digital mereka. BUMN penyedia layanan digital, Telkomsel misalnya, telah melakukan berbagai terobosan seperti mengembangkan ekosistem digital melalui beberapa platform, mengintegrasikan teknologi AI untuk layanan pelanggan dan analitik data, serta bermitra dengan startup lokal dan institusi pendidikan untuk mendorong inovasi dan pengembangan talenta digital. Kontrol strategis di sini terlihat dalam arah kebijakan digital yang konsisten dan terukur, sementara orkestrasi performansi tercermin dalam kolaborasi lintas sektor yang memperkuat ekosistem digital nasional. Contoh lain adalah Gojek, yang berhasil mengorkestrasi layanan transportasi, pembayaran, logistik, dan gaya hidup dalam satu platform. Layanan transportasi online ini tidak hanya mengembangkan teknologi internal, tetapi juga bermitra dengan ribuan UMKM dan penyedia layanan untuk menciptakan nilai bersama. Tantangan dan Solusi Dalam proses orkestrasi inovasi digital, organisasi menghadapi sejumlah tantangan yang kompleks. Pertama, fragmentasi data dan sistem menjadi hambatan utama dalam menciptakan integrasi lintas fungsi. Ketika data tersebar di berbagai platform yang tidak saling terhubung, pengambilan keputusan strategis menjadi lambat dan tidak akurat. Kedua, kurangnya talenta digital yang memahami strategi dan teknologi menyebabkan kesenjangan antara visi digital dan implementasi teknis. Banyak organisasi memiliki tenaga ahli teknologi, namun belum tentu memiliki pemahaman strategis yang mendalam. Ketiga, resistensi terhadap perubahan budaya organisasi sering kali menghambat proses transformasi digital. Inovasi membutuhkan fleksibilitas dan kolaborasi, namun budaya birokratis dan hierarkis dapat memperlambat adaptasi. Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan solusi yang terstruktur dan berorientasi pada orkestrasi performansi. Salah satunya adalah membangun dashboard strategis berbasis data real-time yang memungkinkan pemantauan kinerja dan penyesuaian strategi secara cepat dan akurat. Selain itu, organisasi perlu menerapkan model orkestrasi berbasis agile dan DevOps, yang mendorong kolaborasi lintas tim dan iterasi cepat dalam pengembangan solusi digital. Terakhir, pelatihan lintas fungsi menjadi kunci untuk meningkatkan pemahaman strategis dan teknis secara bersamaan, sehingga setiap bagian organisasi dapat berkontribusi dalam ekosistem inovasi yang terintegrasi. Dengan pendekatan ini, orkestrasi tidak hanya menjadi alat koordinasi, tetapi juga fondasi untuk menciptakan nilai bisnis yang berkelanjutan. Strategic control dan performansi orkestrasi bukanlah konsep teknis semata, melainkan fondasi manajerial yang menentukan keberhasilan inovasi digital. Di tengah perubahan yang cepat dan kompleks, organisasi yang mampu mengendalikan arah strateginya dan mengorkestrasi sumber daya secara efektif akan menjadi pemimpin dalam era digital. Seperti yang ditegaskan oleh Donald Sull dan Alejandro Ruelas-Gossi, strategic orchestration adalah jawaban atas tantangan inovasi di pasar yang dinamis dan kompetitif. Dengan pendekatan ini, perusahaan tidak hanya menciptakan teknologi, tetapi juga membangun ekosistem yang berkelanjutan dan inklusif. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan digital global. Dengan strategic control yang kuat dan orkestrasi performansi yang cerdas, kita dapat mewujudkan visi digital nasional yang inklusif, efisien, dan berdaya saing tinggi. (*Profesional di PT Telkomsel, aktif menulis jurnal pemasaran strategis dan literasi teknologi digital dalam praktik bisnis modern) Sumber: Antara

Kebijakan Singkong Indonesia, Industri Tumbuh Petani Untung

Oleh: Prof. Dr. Ir. Andi Muhammad Syakir, Dr. Ir. Prama Yufdy, Dr. Ir. Ahmad Junaedi, Dr. Kartika Noerwijati, dan Dr. Destika Cahyana Presiden Prabowo Subianto berulangkali menegaskan pentingnya swasembada pangan dan energi dalam berbagai kesempatan. Presiden melalui Menteri Pertanian Andi Amran Sulaeman dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono bahkan mengarahkan komoditas pangan yang perlu diperhatikan bukan hanya padi dan jagung, tetapi juga singkong yang baru-baru ini menarik perhatian publik di akar rumput dan di media sosial. Pemerintah akan menerapkan larangan impor terbatas untuk memproteksi petani singkong Indonesia sekaligus memperkuat ekosistem singkong nasional. Singkong bukan sekadar singkong rebus atau singkong goreng yang menjadi sumber pangan masyarakat kecil, tetapi dalam bentuk tepung tapioka yang menjadi penopang industri. Tepung tapioka menjadi penopang bukan hanya industri pangan, tetapi juga industri nonpangan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan berbagai lapisan masyarakat dari yang paling bawah hingga papan atas. Singkong juga sumber pakan ternak hingga bioenergi dalam bentuk bioetanol. Menurut Dyah Susilokarti, Direktur Aneka Kacang dan Umbi, Kementerian Pertanian, Indonesia merupakan lima besar produsen dunia singkong. Rata-rata produksi singkong nasional pada lima tahun terakhir, 2020-2024, sebesar 15,7 juta ton per tahun dengan luas tanam 611 ribu ha dan luas panen 602 ribu ha. Rata-rata produktivitas singkong nasional mencapai 26,17 ton per ha. Pada 2024, produksi singkong sebesar 15,1 juta ton. Angka itu cenderung turun dibanding produksi pada 2020 dan 2023 yang masing-masing mencapai 16,2 juta ton dan 16,7 juta ton. Sebaliknya angka impor cenderung naik dan angka ekspor cenderung turun. Data 2024 menunjukkan angka impor menembus 277 ribu ton yang menandakan kebutuhan dalam negeri belum mampu dipenuhi mandiri dari sisi kuantitas maupun kualitas bahan baku. Padahal, jutaan petani menggantungkan hidup dari singkong. Tim perumus pada Focus Group Discussion dengan tema Dampak Larangan Impor Tapioka dan Prospek Hilirisasi Industri Singkong yang digelar Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI) pada akhir bulan lalu mengungkap terdapat perbedaan pemahaman antara petani sebagai produsen dan dunia industri sebagai pengguna awal singkong. Varietas yang ditanam petani di Lampung sangat beragam dan lebih mengutamakan hasil panen tinggi. Petani menanam dengan memilih varietas yang hasil panen tinggi karena menjual hasil panen berdasarkan bobot semata, sementara industri membeli berdasarkan kadar pati. Industri membutuhkan singkong dengan kadar pati 24 persen. Tentu singkong yang kadar patinya kurang dari 24 persen harganya rendah. Petani merugi karena pendapatan berkurang, demikian pula industri harus membeli lebih banyak bahan baku. Pada kondisi itulah produk impor dari Thailand dan Vietnam lebih menggiurkan industri karena harga lebih murah dan kualitas lebih konsisten. Larangan impor total sudah pasti menguntungkan petani, tetapi industri menjadi terhambat, sehingga dibutuhkan larangan impor terbatas yang berkeadilan. Pemerintah sudah selayaknya mempersiapkan ekosistem hulu-hilir yang mampu menggantikan suplai impor secara berkelanjutan dengan prinsip industri tumbuh dan petani untung. Dalam konteks inilah kemitraan antara petani dan industri menjadi kunci. Di Provinsi Lampung, sebagai sentra singkong yang berkontribusi pada lebih dari 50 persen produksi nasional, model kemitraan yang baik telah diterapkan PT Umas Jaya. Industri dan petani bermitra dengan menanam varietas unggul yang telah disepakati dan jadwal tanam yang teratur serta pendampingan teknis. Dengan cara itu petani dan pengusaha dapat untung. Namun, kemitraan tersebut masih terbatas. Untuk melindungi petani, pemerintah telah menetapkan harga jual di pabrik sebesar Rp 1.350 per kg. Tapi pada kenyataannya masih banyak petani yang menerima harga di bawah Rp 1.000 per kg. Bahkan ada yang sampai Rp 600 per kg. Oleh karena itu pola-pola kemitraan seperti close loop system perlu diperluas dan diperkuat dalam bentuk regulasi khusus. Kemitraan bukan hanya untuk pendampingan teknis, tapi juga sekaligus menampung hasil petani dengan harga yang disepakati serta sesuai dengan regulasi pemerintah. Varietas Unggul Prof. Sumarno, salah satu pakar agronomi senior, mengusulkan agar petani singkong dibagi dua kelompok yakni petani singkong industri dan petani singkong pangan. Petani industri perlu didaftarkan secara resmi (registered cassava farmer), menjalankan budi daya sesuai standard operating procedure (SOP), dan mendapatkan pembinaan serta kontrak harga dengan industri. Menurut Sumarno, industri juga harus menyampaikan kebutuhan singkong per tahun secara terbuka, agar perencanaan produksi nasional lebih sinkron. Pemerintah diharapkan tidak hanya menjadi wasit, tetapi juga fasilitator utama dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan industri dan petani. Salah satu tantangan mendasar dalam budi daya singkong adalah umur panen yang relatif panjang, mencapai 9-12 bulan. Namun kini sudah tersedia varietas unggul berumur genjah 7 bulan yang dapat menghasilkan 30 ton per hektar dengan kadar pati di atas 20 persen. Beberapa di antaranya adalah Vamas 1, UK 1 Agritan, Ukage 1, Ukage 2, dan Ukage 3. Ketersediaan benih varietas unggul yang bermutu perlu diupayakan bersama. Pemerintah perlu melakukan percepatan produksi benih, pembangunan demplot varietas unggul di sentra produksi, serta distribusi benih ke petani melalui koperasi atau kelompok tani binaan. Pada saat bersamaan, BRIN juga tengah membangun varietas unggul baru. Tapi proses ini memerlukan waktu 5-10 tahun karena panjangnya siklus tanaman dan tingginya biaya riset. Pemerintah perlu meningkatkan alokasi anggaran riset jika ingin swasembada singkong tidak sebatas wacana. Di sisi produktivitas, masih banyak petani singkong yang memanen di kisaran 17 ton per ha meskipun produktivitas nasional sudah mencapai 26,17 ton per ha dan potensi genetik singkong dapat mencapai 30 ton bahkan lebih. Lebarnya kesenjangan hasil ini dapat dipersempit dengan modernisasi manajemen agribisnis singkong, mulai dari pemupukan presisi, rotasi tanaman untuk menjaga kesuburan tanah, hingga digitalisasi informasi produksi dan pasar. Petani juga membutuhkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus singkong dengan tenor yang sesuai umur panen. Demikian pula data kebutuhan industri dan produksi petani harus dikelola dalam neraca komoditas singkong nasional yang transparan dan berbasis spasial. Terakhir, larangan impor tapioka tidak boleh hanya menjadi kebijakan perlindungan sesaat. Tetapi harus menjadi batu loncatan menuju transformasi industri singkong yang inklusif dan berkelanjutan. Tagline berupa “industri harus tumbuh dan petani harus untung” menjadi kata kunci yang harus dipahami semua pihak. Dengan dukungan riset, regulasi yang tepat, dan kemitraan yang adil, singkong dapat menjadi fondasi kedaulatan pangan dan energi nasional. Sudah saatnya bangsa Indonesia membatasi impor komoditas yang dapat ditanam sendiri dan membangun sistem pangan yang berpihak pada petani sehingga bangsa Indonesia dapat berdaulat pangan. (*Pengurus Pusat Perhimpunan Agronomi Indonesia dan Peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional)

Menyoal Kepemilikan Senjata Api Warga Bima

Oleh: Dedi Purwanto* Sungguh akhir tahun yang mencabik-cabik akal sehat dan hati nurani. Di tengah gempuran politik yang bergerak seperti bom waktu di permukaan bumi manusia yang bernama Bima, kematian dan kehilangan yang berbaris rapi bagaikan janji sepasang kekasih yang datang silih berganti. Ujung tahun yang sangat melelahkan. Bebera waktu lalu, awan panas juga datang dari Desa Renda dan Cenggu, yang bergejolak atas dasar klaim kebenaran masing-masing. Konflik antar desa tersebut sangat disayangkan karena disertai penggunaan senjata api sebagai alat dalam konflik. Sekarang beberapa korban jiwa sudah berjatuhan dan sejumlah rumah mengalami kerusakan sangat parah. Belum lagi dampaknya secara ekonomi, psikologis, dan politik. Selain konflik Renda dan Cenggu, dalam waktu yang bersamaan terjadi konflik antara warga Desa Ngali, yang menjadikan senjata api sebagai media untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Kasus-kasus tersebut entah apa penyebabnya. Kami tidak akan mengurai penyebab konflik itu, tetapi kami hanya mencoba menelusuri lorong hampa tentang penggunanaan senjata api. Apakah masyarakat (sipil) bisa memiliki senjata api? Kalau bisa, bagaimana masyarakat dapat memilikinya? Bagaimana peran kepolisian dalam penggunaan senjata api di Kabupaten Bima, khususnya di Kecamatan Belo? Dasar Hukum Kepemilikan Senjata Api Sudah menjadi rahasia umum bahwa di beberapa kecamatan, khususnya di Belo Selatan, sangat marak sekali penggunaan senjata api. Kita lihat dalam setiap konflik yang terjadi di kecamatan tersebut, entah itu konflik antar individu maupun konflik antar desa, apa pun jenis konfliknya selalu dipertontonkan penggunaan senjata api baik yang legal maupun ilegal. Kebanyakan senjata api yang digunakan berstatus ilegal. Hal ini jika kita amati dari syarat kepemilikan dan jenis senjata api. Peraturan Kapolri Nomor 82 Tahun 2004 mengatur siapa saja yang boleh memiliki senjata api di kalangan sipil. Ada beberapa golongan kelompok sipil yang boleh memiliki senjata api. Beberapa golongan yang dimaksud di antaranya direktur utama, menteri, pejabat pemerintahan, pengusaha utama, komisaris, pengacara, dan dokter. Selain golongan tertentu, warga sipil diperbolehkan memiliki senjata api dengan ketentuan ketat. Hal ini berdasarkan ketentuan Pasal 81 dan Pasal 81 ayat (2) Peraturan Kapolri Nomor 1 Tahun 2022. Prosedur untuk memiliki senjata api terlebih dulu dilihat dari sisi urgensinya. Kepemilikan senjata api bagi warga sipil hanya diperuntukkan sebagai alat pertahanan diri. Warga sipil tidak boleh menggunakannya jika tidak dibutuhkan. Dan senjata api yang dimiliki warga tidak boleh dipertontonkan di depan umum, apalagi untuk menakut-nakuti orang lain. Selain itu, dalam aturan kepemilikan senjata api, para calon pemilik senjata api harus memiliki keterampilan menembak selama tiga tahun. Mereka juga akan diuji melalui tes psikologi, tes kesehatan, keterangan tidak pernah terlibat pidana sebelumnya, batasan usia minimal 21 tahun dan maksimal 65 tahun, dan beberapa syarat admnistrasi lainnya. Calon pemilik senjata api juga harus secara resmi mendapatkan surat izin yang disebut Izin Khusus Senjata Api (IKSHA) dari instansi atau kantor yang bertanggung jawab atas kepemilikan senjata api. Izin ini pun harus diperpanjang setiap tahun. Pasal 3 Peraturan Kepolisian RI Nomor 1 Tahun 2022 tentang Perizinan Senjata Api Organik Polri mengatur perizinan senjata api non organik Polri/TNI serta perizinan peralatan keamanan yang digolongkan senjata api. Senjata api yang boleh digunakan oleh warga sipil selain Polri/TNI hanya senjata api peluru tajam, senjata api peluru karet dan senjata api peluru gas. Jenis senjata api tersebut digunakan untuk kepentingan Polsus, PPNS, Satpam, Satpol PP, olahraga, bela diri, dan badan usaha. Beberapa golongan warga sipil yang diperbolehkan memiliki senjata api tentu harus berdasarkan aturan yang ketat dan syarat-syarat sesuai ketentuan yang berlaku berdasakan hal-hal yang disampaikan oleh penulis di atas. Selain termuat dalam aturan tersebut, juga bisa dipelajari lebih teliti mengenai mekanisme, syarat, dan batasan terhadap senjata api pada UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1948 tentang Mencabut Peraturan Dewan Pertahanan Negara Nomor 14 dan Menetapkan Peraturan tentang Pendaftaran dan Pemberian Izin Pemakaian Senjata Api, dan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga. Mengenai jenis senjata api yang diperbolehkan untuk dimiliki, untuk senjata standar Polri yang selanjutnya disebut senjata api organik Polri adalah senjata api kaliber 5,5 milimeter ke atas dengan sistem kerja manual, semi otomatis dan atau otomatis, serta telah dimodifikasi, termasuk amunisi, granat dan bahan peledak untuk keamanan dan ketertiban masyarakat. Senjata api non organik Polri atau TNI adalah senjata api kaliber 4,5 milimeter ke atas dengan sistem kerja manual dan atau semi otomatis untuk kepentingan olahraga, bela diri, dan pengemban fungsi kepolisian lainnya. Sedangkan jenis senjata api sipil adalah senjata api genggam jenis revolver kaliber 32, kaliber 25, atau kaliber 22, senjata api bahu jenis shotgun kaliber 12 mm, dan senjata api bahu kaliber 12 GA dan kaliber 22. Pidana Kepemilikan Senjata Api Ilegal Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 (UU Darurat 12/1951) merupakan salah satu peraturan yang mengatur kepemilikan senjata api secara umum dan tindakan pidana. Pasal 1 ayat (1) UU Darurat 12/1951 mencakup sanksi pidana yang menjerat setiap orang dalam aspek kepemilikan, pembuatan, hingga pengeluaran senjata api dari Indonesia tanpa alasan dan izin yang jelas. Sanksi pidana bagi para pemilik senjata api ilegal tersebut melingkupi: pidana mati, pidana penjara seumur hidup, pidana penjara sementara setinggi-tingginya 20 tahun. Namun, dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP baru) pada tahun 2025 kelak, maka sanksi pidana akan berubah menjadi (Pasal 306 KUHP): pidana penjara paling lama 15 Tahun. Peran Kepolisian dalam Pengawasan Senjata Api Mengacu pada beberapa konflik yang kami sampaikan tersebut, maka dapat kita tarik benang merah bahwa kepemilikkan senjata api menggunakan jalur legal berarti dasar hukum kepemilikannya harus memenuhi syarat-syarat seperti yang tertuang dalam Peraturan Kepolisian RI Nomor 1 Tahun 2022. Tetapi, mengacu pada realitas yang terjadi, warga yang terlibat dalam perang tersebut bukan golongan Polsus, PPNS, Satpam, dan Satpol PP, dan bukan juga penggiat olahraga profesional seperti dalam Peraturan Kapolri 1/2022 tersebut. Dilihat dari latar belakang masyarakat yang kebanyakan petani, maka bisa dipastikan cara mereka memperoleh senjata api melalu jalur ilegal. Dan seharunsya polisi serius mengurus hal ini. Bukan saja menggunakan upaya represif, tetapi lebih dimasifkan lagi upaya preventif. Selama ini kepolisian terlihat lalai menggunakan usaha preventif dan repsesif di wilayah Kecamatan Belo. Kepolisian lebih suka datang untuk menengahi dengan maksud mencegah konflik yang

Penulis. (Istimewa)

Membaca Pidato SHN dalam Bingkai The Art of War

Oleh: Dr. Muhsin Labib* Banyak dari para pendukung kemerdekaan Palestina menanti pidato SHN dan mengharapkan dia menyatakan perang terbuka terhadap Israel lalu mengerahkan ribuan pasukannya untuk memasuki wilayah rezim iblis itu dan menembakkan ribuan rudal ke ibu kota dan kota-kota lainnya. Anggapan dan ekspektasi ini lumrah karena tema perang kerap dipahami secara sempit dan sederhana sebagai aksi militer  semata yang dilakukan antar dua negara karena dorongan balas dendam atau tuntutan atas hak yang dirampas dan sebagainya tanpa menyertakan variabel konteks geopolitik yang melingkupinya dan sejumlah faktor penting seperi, waktu, tempat, strategi dan lainnya yang secara niscaya menentukan efektivitas dan hasil yang diinginkan. Ada banyak definisi dan pengertian perang bergantung kepada salah satu aspek yang dipandang, antara lain tujuan, teknik, sarana, medan dan sebagainya. Bahkan pengertian perang telah mengalami ekspansi meliputi semua konflik militer dan non militer seperti ekonomi, perdagangan, budaya, diplomatik, media dan lainnya. Ia juga tidak hanya berlaku dalam konfrontasi militer antar dua negara, namun juga meliputi pemberontakan faksi tertentu terhadap pemerintah atau faksi lain dalam negara. Perang juga bisa dianggap sebagai salah satu mekanisme perundingan juga usaha menaikkan posisi tawar dalam arena persaingan. Bagi Sun Tzu, Jenderal Tiongkok kuno, perang adalah seni, sebagaimana dituangkan dalam magnus opusnya The Art of War. Karena itu, tak mengherankan bila sebagian orang, terutama yang merawat pandangan sinis stereotipe sektarianisme terhadap Hezbollah dan Poros Perlawanan yang berada dalam lingkaran pengaruh Iran, meski membenci Hezbollah, menuntutnya terjun ke arena bukan karena pro perlawanan tapi ingin Hezbollah menjadi musuh dalam negeri karena dianggap menyeret Lebanon yang sedang terpuruk secara ekonomi ke dalam konflik terbuka dengan Israel di luar wilayah perbatasan yang disengketakan sebagai justifikasi menuntutnya melucuti senjatanya. Respons negatif semacam ini telah diwakili oleh pernyataan salah satu pejabat dan pangeran Arab Saudi. Bila kita mau meluangkan sedikit waktu untuk membaca secara rasional dan objektif pidato Sayid Hasan Nasrullah (SHN), mungkin kita bisa memperluas wawasan geopolitik dan meredefenisi kata perang dan menang secara lebih komprehensif. Hezbollah, sebagai entitas sosial dan politik juga militer dalam Lebanon, menghadapi dua situasi pelik, internal dan eksternal. Situasi politik Lebanon sejak hampir 1 tahun mengalami kevakuman presiden dan kabinet akibat polarisasi diametrikal yang diciptakan oleh kekuatan politik global (AS, Perancis dan Barat) dan regional (Arab Saudi yang menentang opsi militer dalam isu Palestina via faksi-faksi anti Poros Perlawanan dan Iran yang mendukung opsi militer yang direpresentasi oleh Hezbollah). Krisis kepemipinan politik ini menjadi penyebab utama ambruknya ekonomi Lebanon hingga menyentuh level kebangkrutan. Situasi aktual domestik ini dan posisi Iran yang sedang berusaha menjaga stabilitas negeri dengan mengatasi masalah ekonomi akibat embargo dan sanksi-sanksi serta kemelut Yaman yang diduduki oleh Saudi dan Emirat, juga situasi Suriah dan Irak yang belum stabil akibat intervensi AS dan faksi-faksi buatannya mendorong Hezbollah untuk menunda realisasi “Perang Terbuka” dan lebih memilih konsolidasi seraya tetap memainkan jurus “ambiguitas” yang membuat pihak lawan internal di Lebanon dan eksternal terutama AS dan Israel cemas tak kepalang Sejak agresi Israel di Jalur Gaza menyusul operasi “Badai Al-Aqsa” pada tanggal 7 Oktober, untuk kali pertama Sekretaris Jenderal Hezbollah SHN tampil ke publik pada Jumat 4 November dalam pidato penting. Pidatonya dinantikan oleh para pemimpin dan masyarakat dunia, karena diyakini menentukan arah konflik yang sedang berlangsung di kawasan. Dalam awal pidatonya yang memakan waktu lebih dari satu jam, SHN menggambarkan batasan peran organisasinya dan poros resistensi dalam perang tersebut, berdasarkan dua tujuan realistis: Pertama, menghentikan agresi Israel di Jalur Gaza. Kedua, mempertahankan eksistensi Hamas dan faksi-faksi perlawanan Palestina dalam keadaan apa pun, dengan imbalan menggerakkan pertempuran di garis depan Lebanon, berdasarkan pada dua faktor: Pertama, perkembangan perang di Jalur Gaza. Kedua, perilaku pasukan Israel terhadap Lebanon. Ini mengungkapkan karakter gerakan perlawanan dan memberikan definisi baru tentang kemenangan dalam konfrontasi. “Hanya karena mereka tetap berada di garis depan Jalur Gaza dan tidak membebaskan para tahanan kecuali dalam kondisi tertentu juga merupakan sebuah kemenangan,” tandasnya. Setidaknya pidato yang menyimpan meta makna dan tela-teki yang cukup misterius dan ambigu itu, SHN menyampaikan beberapa pesan penting sebagai berikut: Pertama, menepis secara implisit anggapan bahwa keputusan untuk melancarkan operasi “Badai Al-Aqsa” dan kerahasiaan operasi yang dilakukan tanpa sepengetahuan para pemimpin “Poros Perlawanan”. Kedua, mengisyaratkan bahwa keputusan dan inisiasi penyerangan faksi-faksi perlawanan di Gaza bersifat lokal dan tidak bersumber dari komando Iran, meskipun mendukung sepenuhnya. Ini bisa dipahami bahwa operasi “Badai Aqsa” merupakan aksi spontan demi memanfaatkan kelengahan Israel yang sedang mengalami kemelut politik domestik. Ketiga, menekankan keterlibatan Hezbollah dalam perang ini, dan menegaskan bahwa tujuan paling menonjol yang dicapai oleh Front Lebanon adalah memecah fokus Israel dan menguras tenaga tentaranya. SHN mengatakan bahwa sepertiga tentara pendudukan berada di front utara, dan setengah dari kemampuan angkatan laut, seperempat dari angkatan udara, sekitar setengah dari sistem Iron Dome telah diduduki, dan sekitar 43 pemukiman di dekatnya dievakuasi dari Lebanon. Keempat, menyebut AS sebagai pihak yang bertanggung jawab secara langsung atas agresi Israel di Gaza, dan bahwa nasib perang tersebut dan kemungkinan perluasannya ke wilayah lain bergantung kepada perilaku pemerintah AS dalam arah ini. Kelima, menyatakan kesiapan dan persiapan untuk menghadapi armada AS, dan menekankan bahwa eskalasi Israel dengan Hezbollah akan mengarah pada perang regional. “Siapa pun yang ingin mencegah perang regional harus segera menghentikan agresi terhadap Gaza.” Keenam, mengonfirmasi peran penting faksi perlawanan di Irak, dan organisasi Ansarullah di Yaman, seraya menerbitkan ancaman bahwa kepentingan AS di wilayah, terutama sejumlah pangkalan militernya adalah target yang dibidik dalam konfrontasi. Ketujuh, mengimbau kepada negara-negara dan rezim-rezim Arab agar memberikan tekanan untuk menghentikan agresi Israel, dengan menyerukan penggunaan kekuatan ekonomi mereka dan kepentingan-kepentingan yang terkait dengan AS dan Israel, seperti gas, minyak, dan berbagai pasokan. Kedelapan, mengumumkan bahwa perbatasan Lebanon dengan Palestina, bersamaan dengan pertempuran militer antara Hezbollah dan pasukan Israel, akan tetap terbuka untuk operasi infiltrasi ke wilayah Israel. SHN menegaskan dengan tegas bahwa nasib wilayah tersebut sebelum operasi “Banjir Al-Aqsa” tidak sama dengan setelahnya, karena fakta kembalinya isu Palestina ke permukaan dan legitimasi dalam skala global bagi operasi tersebut. Karena itu, dia menyebutkan empat isu penting yang menjadi perhatian utama masyarakat dunia, yaitu: Pertama, nasib ribuan tahanan di penjara-penjara Israel. Kedua, posisi sakral Masjid Al-Aqsa yang terus menjadi sasaran pelecehan.

Perbedaan antara “Jihadis” Suriah dengan Pejuang Palestina

Oleh: Dina Sulaeman* Masih banyak yang berusaha mencampuradukkan antara “jihadis” (alias teroris) Suriah dengan gerakan perjuangan kemerdekaan di Palestina. Saya akan jelaskan dengan singkat. Pertama, tahun 2012, beberapa faksi di Suriah, mulai angkat senjata untuk menggulingkan Presiden Assad. Alasan yang mereka pakai untuk menggalang dukungan: “Assad itu Syiah yang membantai Sunni.” Jelas ini hoaks, tapi sangat banyak yang percaya. Kedua, siapa saja yang angkat senjata? Ikhwanul Muslimin (IM) Suriah, Hizbut Tahrir Suriah (ini berdasarkan klaim HT Indonesia/HTI; saat saya ke Suriah dan mewawancarai beberapa tokoh, mereka tidak tahu bahwa ada HT di Suriah), Al Qaida Suriah (Jabhah Al Nusra), dan sejak 2013, muncul ISIS (ISIS ini “cucu” Al Qaida, akar ideologinya sama). Ketiga, IM mendapatkan dukungan dana dari Turki, Qatar, AS, Prancis, Inggris, dll, “markas” mereka ada di Turki, dan membentuk “Free Syrian Army” (FSA). FSA terdiri dari banyak milisi,  salah satunya yang terkenal “Jaysh Al Islam”. Jadi kalau kalian lihat ada netizen, atau ustaz, atau lembaga donasi pernah kibarin bendera FSA, kalian paham ya, afiliasinya ke siapa. Keempat, Saudi juga mendanai proyek penggulingan Asssad, tapi karena Saudi anti IM, uangnya masuk ke faksi lain, yaitu faksi Al Qaida. Makanya Qatar dan Saudi pernah berantem (putus hubungan diplomatik) karena beda jagoan di lapangan. Kelima, Al Qaida (Al Nusra) tahun 2013 pecah, sebagian gabung dengan ISIS. Al Nusra sudah dinyatakan sebagai teroris oleh PBB, mereka pun ganti nama jadi “Haiat Tahrir Al Syam” (HTS), saat ini masih aktif ngebomin warga Suriah, pusatnya di Idlib. Jadi kalau ada lembaga mengepul donasi untuk Suriah, tapi dianterinnya ke Idlib, kalian tau, mereka temenan sama siapa. Soalnya, pemerintah Suriah dan PBB saja enggak bisa masuk Idlib. HTS ini temenan juga sama milisi-milisi IM, sama-sama bercokol di Idlib. Keenam, militer Suriah (dibantu militer Rusia), selama perang Gaza ini, sibuk mengurusi para teroris di Idlib ini. Mereka mengebom pusat-pusat persembunyian para teroris di Idlib, dengan tujuan utama, mengambil alih lagi Provinsi Idlib dari tangan teroris itu. Ketujuh, kalian ngeh enggak: para teroris yang mengaku mujahidin itu kan selalu mengaku pro Palestina; kok malah meningkatkan intensitas serangan bom kepada warga Suriah ketika Gaza sedang diserang Israel? Buat yang intens ngikutin perang Suriah sejak 2011, enggak aneh. ISIS saja pernah minta maaf ke Israel karena salah ngebom; bomnya nyasar ke Israel. Kepentingan para teroris Suriah sama dengan kepentingan Israel, yaitu mereka sama-sama ingin Assad terguling. Kedelapan, kenapa kok Israel ingin Assad terguling? Karena, pemerintah Suriah sejak zaman dulu, selalu membantu perjuangan bersenjata Palestina (bukan sebatas kasih donasi ala-ala negara Arab-Teluk). Kini pun, supaya Asad enggak bisa bantu Palestina, mereka bikin sibuk Suriah dengan aksi-aksi bom para teroris berkedok jihad. Kesembilan, pejuang Palestina pernah membuat  kesalahan fatal yaitu: ikut dalam proyek penggulingan Assad. Pimpinan Hamas, Ismail Haniyah dan Khaled Mash’al, pernah ikut mengibarkan bendera FSA. Lalu, mereka mengungsi ke Qatar sampai sekarang. Kesepuluh, tapi namanya politik itu dinamis ya. Kalian juga lihat di Indonesia gimana, pas Pilpres berantem, eh kemudian rivalnya diangkat jadi menteri. Nah, sama, orang-orang Arab pun demikian. Hamas pun kan terdiri dari faksi-faksi. Ada faksi yang enggak setuju sama keputusan Haniyeh dan Mash’al yang salah itu, misalnya Yahya Sinwar. Apalagi, gara-gara itu, Iran menghentikan dukungannya ke Hamas, padahal, yang benar-benar konsisten dukung Hamas ya cuman Iran (ini diakui oleh Sinwar). Hamas pun berhenti ikut-ikutan ngurusin Suriah. Kesebelas, tahun 2017, terjadi pergeseran politik besar di Hamas, mereka tidak lagi menyebut Ikhwanul Muslimin dalam Piagam Hamas 2017 (beda dengan piagam awal tahun 1987); artinya, mereka tidak lagi mengaku berideologi IM. Hamas juga memperbaiki hubungan dengan Iran. Kedua belas, tahun 2021, Ismail Haniyeh datang ke Tehran, hadir dalam pemakaman Jenderal Qassem Soleimani yang dibunuh oleh AS. Haniyeh menyebut Soleimani “syahid Al Quds”. Ini pengakuan atas besarnya peran Soleimani (Iran) bagi perjuangan di Palestina. Ketiga belas, tahun 2022, Yahya Sinwar berpidato: Iranlah yang membantu Hamas, baik dana maupun teknologi; Hamas akan memperkuat hubungan dengan pejuang muqawwamah lain (yang sama-sama melawan AS dan Israel), yaitu Hizbullah Lebanon, Irak, Yaman, dan akan memperbaiki hubungan dengan Assad-Suriah. Keempat belas, intinya: perjuangan di Palestina adalah perjuangan kemerdekaan; pemerintah Indonesia pun secara resmi menyebut Palestina belum merdeka. Perjuangan kemerdekaan bukan terorisme. Sebaliknya, “mujahidin” di Suriah masuk kategori teroris karena mereka mau menggulingkan pemerintahan yang sah dengan cara-cara teror. Suriah itu negara merdeka, demokratis, dan bukan penjajah. Kelima belas, tapi apa pun itu, yang penting, semua orang, apa pun agama, ras, atau alirannya, mari sama-sama bantu bangsa Palestina sampai merdeka. Bantu mereka melawan Israel, si paling teroris, the real terrorist. (*Pengamat Timur Tengah)