Puluhan Peserta dari Kukar Ikuti Pelatihan Peningkatan Kapasitas Tata Kelola Kelembagaan Koperasi

BAINDONESIA.CO – Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Diskop-UKM) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kembali menyelenggarakan program peningkatan kapasitas bagi gerakan koperasi melalui kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Tata Kelola Kelembagaan Koperasi. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 17 hingga 19 November 2025, bertempat di Hotel Grand Verona, Samarinda, dan diikuti oleh 60 peserta yang berasal dari berbagai koperasi di Kukar. Pelatihan dibuka secara resmi oleh Plt Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Kukar yang diwakili oleh Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Iska. Dalam laporannya, dia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya strategis pemerintah daerah untuk memperkuat kelembagaan koperasi agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman serta meningkatkan kualitas tata kelola yang akuntabel dan profesional. Ia menegaskan bahwa dasar pelaksanaan kegiatan ini merujuk pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian serta RKA/DPA Perubahan Dinas Koperasi dan UKM Kukar Tahun Anggaran 2025. Iska menekankan bahwa koperasi sebagai soko guru perekonomian harus memiliki kemampuan manajerial yang baik agar dapat memberikan manfaat optimal bagi anggota dan masyarakat. “Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan koperasi dalam mengelola lembaganya secara efektif, efisien, dan profesional,” ujarnya. Dia berharap pelatihan ini bisa menjadi ruang belajar bersama yang mampu memperkuat pemahaman peserta terkait prinsip tata kelola kelembagaan yang baik (good cooperative governance). Ia memaparkan sejumlah hasil yang diharapkan dari kegiatan ini, antara lain meningkatnya kepercayaan anggota terhadap koperasi, membaiknya kinerja organisasi, tumbuhnya partisipasi anggota, serta terciptanya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan koperasi. Dengan tata kelola yang kuat, Iska meyakini koperasi di Kukar dapat berkembang lebih berkelanjutan dan menjadi pilar penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Pelatihan ini menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi dan akademisi yang berkompeten di bidang perkoperasian. Adapun metode kegiatan dilakukan secara kombinasi melalui paparan materi, diskusi interaktif, serta sesi tanya jawab. Dengan keterlibatan 60 peserta yang merupakan pengurus dan pengawas koperasi dari berbagai desa di Kukar, pelatihan ini diharapkan mampu memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kapasitas kelembagaan koperasi di tingkat akar rumput. Dia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir dan menunjukkan komitmen dalam upaya memperbaiki tata kelola koperasi masing-masing. Ia berharap hasil pelatihan ini tidak hanya berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga dapat diterapkan secara nyata dalam proses pengelolaan koperasi. “Semoga kegiatan ini dapat memberikan kontribusi positif serta menjadi bahan evaluasi untuk pelaksanaan program serupa di masa mendatang,” tutupnya. Dengan dibukanya kegiatan ini, Pemkab Kukar menegaskan kembali komitmennya dalam mendorong koperasi sebagai pilar penggerak ekonomi kerakyatan. Penguatan kapasitas melalui pelatihan yang terstruktur dan berkelanjutan diharapkan dapat mendorong koperasi di Kukar menjadi organisasi yang modern, transparan, dan mampu bersaing di era transformasi ekonomi saat ini. (*) Penulis: Hanna Editor: Ufqil Mubin

Tim PKM Universitas Pamulang Bangun Pustaka untuk Tingkatkan Literasi Warga Depok

BAINDONESIA.CO – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Pamulang berhasil melaksanakan program pemberdayaan berbasis literasi melalui pembangunan Gazebo Pustaka Langit Literasi Keluarga (LLK) Kolong Sutet. Kegiatan ini merupakan implementasi dari Program Hibah Bima Kemdiktisaintek 2025, Kelompok Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, dengan ruang lingkup pemberdayaan kemitraan masyarakat dan fokus pada bidang sosial, humaniora, serta lingkungan hidup. Tim PKM Pemenang Hibah Bima Kemdiktisaintek 2025 Universitas Pamulang dalam rilisnya pada Selasa (16/9/2025) mengungkapkan program yang berlangsung selama satu tahun ini diusulkan mulai 2025 dengan melibatkan tim dosen Universitas Pamulang, yakni Jamaludin, S.E.I., M. Ec. Dev. (Ketua Tim, kepakaran Ekonomi Pembangunan), Dr. Thamrin, S.Pd., M.Pd. (kepakaran Penelitian dan Evaluasi Pendidikan), serta Nahoras Bona Simarmata, S.S., M.Hum. (kepakaran Sastra Inggris & Linguistik Penerjemahan). Dua mahasiswa program studi Manajemen juga turut serta, yaitu Intan Ali Septiana Zain (Manajemen Keuangan) dan Saudi Ega Putra (Manajemen SDM). Mitra utama kegiatan ini adalah Karang Taruna Unit 12 Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. Observasi awal menunjukkan sejumlah permasalahan yang dihadapi mitra, antara lain belum ada wahana literasi terbuka, pengalaman dalam mengelola program literasi berbasis komunitas yang minim, akses terhadap sumber daya edukatif yang minim, ketiadaan sistem pendampingan dan pelatihan berkelanjutan, serta kepemimpinan dan koordinasi yang lemah. Sebelum ada gazebo tersebut, kegiatan kampanye literasi dan lapak baca bersama berlangsung di lapangan tenis RT 002/RW 012. Meski suasananya ramai dan penuh semangat, para peserta, yang sebagian besar anak-anak sekolah dasar, harus beradaptasi dengan ruang terbuka tanpa tempat khusus membaca. Setelah gazebo didirikan, kegiatan literasi menjadi lebih nyaman dan terfokus. Ruang teduh tersebut kini dimanfaatkan tidak hanya sebagai tempat baca, tetapi juga ruang belajar, diskusi, rapat, hingga aktivitas warga lainnya. Fasilitas baru ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan budaya baca, pembentukan komunitas belajar aktif, serta kelahiran karya kolaboratif masyarakat. Tidak hanya menghadirkan fasilitas, tim juga berupaya memperkuat pengelolaan program literasi berbasis komunitas. Untuk itu, mereka melakukan studi banding ke Taman Baca Masyarakat Kolong Ciputat yang sudah berpengalaman sejak 2016. Dari diskusi tersebut, tim memperoleh wawasan penting terkait pengelolaan ruang baca yang konsisten, inovatif, dan adaptif. Selain itu, gazebo kini menyediakan 50 buku bacaan beragam, mulai dari komik, dongeng, ensiklopedia, hingga buku motivasi. Koleksi ini ditujukan untuk semua kalangan, dari anak-anak hingga orang tua, agar kebiasaan membaca dalam keluarga semakin tumbuh. Sebagai bentuk keberlanjutan, tim menyelenggarakan pelatihan Leadership for Literacy dengan melibatkan narasumber dari Ketua TBM Kolong Ciputat, akademisi Unindra, dan Ketua Tim Pengabdi Universitas Pamulang. Materi yang diberikan mencakup pengelolaan tempat literasi berkelanjutan, kepemimpinan komunitas, hingga manajemen konflik. Hasilnya, kapasitas kepemimpinan anggota Karang Taruna meningkat, strategi pengelolaan lebih terstruktur, serta lahir program literasi yang inovatif sesuai kebutuhan masyarakat. Untuk memastikan kegiatan literasi berjalan efektif, tim membentuk struktur organisasi Gazebo Pustaka LLK Kolong Sutet. Struktur ini bertujuan memperjelas peran dan tanggung jawab pengurus, memperkuat koordinasi, serta meningkatkan akuntabilitas program. Dengan begitu, gazebo tidak hanya hadir sebagai fasilitas fisik, tetapi juga pusat literasi terbuka yang dikelola secara profesional dan berdampak nyata bagi masyarakat sekitar. Kehadiran Gazebo Literasi ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara akademisi, mahasiswa, dan komunitas dapat menjawab persoalan minimnya akses literasi di masyarakat sekaligus menghadirkan ruang belajar bersama yang berkelanjutan. (*) Editor: Ufqil Mubin

Perekonomian Dunia dalam Bayang-Bayang Resesi

BAINDONESIA.CO – Perwakilan masyarakat Behshahr di parlemen Iran Gholamreza Syari’ati mengatakan bahwa kebijakan pertahanan, komersial, dan bea cukai Presiden Amerika Serikat Donald Trump berdampak negatif pada perekonomian dunia. Hal itu disampaikannya dalam percakapan dengan reporter Mehr News, perwakilan orang-orang Behshahr di Dewan Islam, mengacu pada alasan kenaikan harga emas dan dolar di pasar. “Kita telah menyaksikan kenaikan harga emas global dan rekor barunya selama beberapa waktu, dan kenaikan harga dalam negeri ini juga dipengaruhi oleh kenaikan harga emas di pasar dunia,” jelasnya. Semua kenaikan harga ini, sambung dia, adalah akibat dari keputusan politik keamanan, bea cukai, dan perdagangan Trump. Ia menyebut kebijakan-kebijakan pecinta perang Presiden Amerika di beberapa wilayah Timur Tengah dan dunia telah menyebabkan kenaikan harga emas serta dampak negatif lainnya terhadap perekonomian global. Gholamreza menegaskan, berbagai blok ekonomi di dunia harus menentang keputusan Trump dan mencegah dampak negatif dari keputusannya dengan mengadopsi kebijakan yang rasional dan independen. “Jika praktik Presiden Amerika ini terus berlanjut, kita pasti akan menyaksikan resesi ekonomi dunia,” pungkasnya. (*) Sumber: Mehrnews.com

Pj Gubernur Kaltim, Bupati, dan Forkopimda Kukar Bahas Pengendalian Inflasi

BAINDONESIA.CO – Pj Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) bersama Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menggelar rapat pembahasan strategi pengendalian inflasi di daerah pada tahun 2024. Rapat yang digelar di Ruang Serbaguna Kantor Bupati Kukar ini menjadi wujud komitmen bersama Pemda di Kaltim untuk menyatukan langkah yang akan diambil guna menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Dalam sesi wawancara bersama awak media, Pj Gubernur Kaltim Akmal Malik menyampaikan urgensi kerja sama lintas sektor dalam menghadapi tantangan inflasi. “Memang ini penting kolaborasi. Kami melakukan Raker bersama dengan Bupati agar bukan hanya perspektif Provinsi yang paham tapi Kabupaten juga paham. Kenapa ini saya tempatkan di Kukar? Karena Kukar adalah lumbung pangannya Kaltim,” ujarnya, Senin (12/2/2024). Rapat tersebut berfokus pada identifikasi faktor-faktor yang berpotensi memicu kenaikan inflasi di wilayah Kaltim. Sejumlah langkah konkret diambil dalam rapat tersebut, antara lain peningkatan pengawasan distribusi dan harga barang, upaya meningkatkan produksi, serta distribusi pangan lokal. “Petani kita sudah mulai produksi, tetapi kita enggak tahu anomali cuaca. Makanya sekarang Pak Bupati bersama-sama juga sudah menyiapkan langkah pompanisasi di samping juga melakukan diversifikasi pertanian,” tambah Akmal. Bupati Kukar Edi Damansyah menyoroti potensi inflasi yang dapat mempengaruhi stabilitas harga barang dan jasa di tingkat lokal. Dia menyampaikan bahwa melalui rapat ini Pemkab Kukar dapat mengidentifikasi sektor-sektor yang rentan terhadap kenaikan harga serta merumuskan kebijakan yang tepat untuk mengendalikan inflasi. “Tadi beras diinformasikan stok nasionalnya agar menjadi perhatian karena beberapa titik yang menyuplai agak sedikit menurun produksinya. Tadi juga yang jadi perhatian lombok, bawang putih, dan bawang merah,” ungkapnya. Rapat tersebut juga menekankan peran kepala daerah untuk mengawal program pengembangan pertanian di wilayah Kukar sebagai upaya pengendalian inflasi serta peran mereka dalam menjaga stabilitas harga. “Intinya kami ingatkan kepada semua kepala daerah-daerah yang produksi kantong-kantong pangan itu agar fokus dalam mengembangkan program pangan,” pungkas Edi. (jt/um)

Angka Kemiskinan di Kabupaten Kukar pada Periode 2018-2023

BAINDONESIA.CO – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyebut angka kemiskinan di Kukar selama 5 tahun terakhir mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Kepala BPS Kukar, Nur Wahid menjelaskan, angka kemiskinan di Kukar pada tahun 2018 mencapai 7,41 persen. Pada tahun 2019, angka kemiskinan menurun menjadi 7,20 persen. Dua tahun berikutnya tingkat kemiskinan di Kukar mencapai 7,99 persen akibat pandemi Covid-19. Pasca pandemi, pada tahun 2022 angka kemiskinan kembali menurun menjadi 7,96 persen. Tren penurunan ini berlanjut hingga tahun 2023 yang mencapai 7,61 persen. “Namun pada tahun 2022 dan 2023, yaitu pasca pandemi, kembali menurun sampai dengan sekarang,” jelas Wahid Kepala BPS Kukar pada Jumat (19/1/2024). Kenaikan angka kemiskinan di Kukar pada tahun 2020-2021 juga disebut Wahid karena dipengaruhi penambahan jumlah pendatang baru dari luar daerah. Berdasarkan analisis BPS, penurunan angka kemiskinan tersebut dipengaruhi berbagai program pembangunan ekonomi dan sosial yang diimplementasikan oleh Pemerintah Daerah Kukar. Program-program tersebut tak hanya fokus pada pemberdayaan ekonomi, tetapi juga mencakup aspek-aspek pendidikan dan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dia menjelaskan bahwa capaian ini sejalan dengan komitmen pemerintah daerah untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif. “Kami berupaya keras untuk mengurangi tingkat kemiskinan dengan menerapkan kebijakan yang berbasis data dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Meskipun angka kemiskinan di Kukar mengalami penurunan signifikan, beberapa kecamatan masih mengalami tantangan serius dari segi kemiskinan. Kata Wahid, pemerintah daerah berusaha merumuskan strategi lebih lanjut untuk menyelesaikan masalah tersebut, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di seluruh wilayah Kukar. (jt/um)

Keuntungan Investasi Emas

BAINDONESIA.CO – Pernah enggak kamu mikir, “Kenapa emas bisa punya nilai? Padahal itu kan cuma logam biasa.” Kali ini kita bakal coba bahas intinya secara

Kiat agar Usaha Kecil Jadi Besar

BAINDONESIA.CO – Usaha kecil bisa berkembang menjadi usaha besar. Syaratnya harus memenuhi sejumlah kriteria. Berikut kita bahas beberapa pola usaha kecil yang tumbuh menjadi usaha

Teuku Rezasyah: Indonesia Hadapi Tekanan sebagai Anggota BRICS

BAINDONESIA.CO – Pakar hubungan internasional Teuku Rezasyah menyatakan bahwa Indonesia saat ini memainkan peran strategis sebagai qualified middle power atau kekuatan kelas menengah yang berkualitas dalam tatanan global. Peran tersebut dijalankan dengan prinsip bebas aktif yang selama ini menjadi tradisi diplomasi Indonesia. “Kita sudah terbiasa menjalin sinergi melalui konsultasi dan konsensus tanpa memusuhi siapa pun. Ini ciri khas dari diplomasi Indonesia,” ujar Teuku dalam wawancara khusus di Metro TV sebagaimana dikutip media ini pada Senin (7/7/2025). Namun, dia memperingatkan bahwa tatanan global saat ini tengah berada di ambang ketidakstabilan serius akibat kebijakan sepihak mantan Presiden AS Donald Trump, yang kembali aktif di panggung politik global. “Apa yang dilakukan Donald Trump saat ini benar-benar luar biasa dan membahayakan,” tegasnya. Dia merujuk pada pernyataan pakar ekonomi Amerika Serikat, Jeffrey Sachs, yang menyebut bahwa Trump is wrecking the world economy. Teuku menyebut kebijakan-kebijakan Trump telah “mempordak-porandakan” stabilitas ekonomi global serta merusak struktur kerja sama multilateral seperti BRICS. BRICS yang awalnya terdiri dari lima negara utama—Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan—telah mengalami ekspansi besar dalam dua tahun terakhir. Tahun lalu, organisasi ini menambahkan enam anggota baru: Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Tahun ini, anggota baru kembali bergabung yakni Belarus, Nigeria, Thailand, dan Vietnam. Namun menurut Teuku, harapan besar terhadap BRICS justru berada di bawah tekanan. “Tindakan Trump kini juga menyasar BRICS. Ini bukan hanya tekanan terhadap Indonesia, tapi terhadap seluruh dunia,” jelasnya. Tahun ini BRICS mengangkat tema besar Strengthening Global South Cooperation for a More Inclusive and Sustainable Governance. Tujuannya adalah memperkuat kerja sama demi tata kelola global yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan. “Tapi harapan itu bisa runtuh karena tekanan unilateral dari Amerika Serikat,” ujar Teuku. Dia mengungkapkan bahwa Trump bahkan memberikan ultimatum kepada negara-negara yang belum melakukan konsultasi dengan pemerintah AS. “Konon, mereka diberi tenggat waktu hingga Rabu malam,” katanya. Trump juga disebut-sebut akan memperkenalkan kebijakan tarif sosial yang mulai diberlakukan pada tahun ini. “Langkah ini jelas akan menekan ekspor negara-negara berkembang dan memaksa negara-negara Global South tunduk dalam relasi yang tidak setara,” paparnya. Indonesia, lanjutnya, sangat mungkin terkena dampak langsung dari kebijakan ini. “Kita harus sadar bahwa ekonomi Amerika Serikat adalah yang terbesar di dunia saat ini. Tekanan ini bisa berdampak pada ekspor kita, pada pencapaian target ekonomi nasional, bahkan terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi kita secara keseluruhan,” tegasnya. Namun ia meyakini bahwa Indonesia tetap memiliki peluang untuk memainkan peran penting dalam meredam eskalasi global. “Sebagai qualified middle power, Indonesia harus memperkuat solidaritas dengan sesama anggota BRICS, menjaga prinsip bebas aktif, dan tetap mendorong tata kelola global yang adil dan setara,” pungkasnya. (*) Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Serangan Iran Lumpuhkan Perekonomian Israel

BAINDONESIA.CO – Dikutip Tasnim dari Wall Street Journal, perang Israel dengan Iran telah membebankan biaya ratusan juta Dolar atas Tel Aviv. Berdasarkan laporan Wall Street Journal dari para pakar, biaya terbesar yang mesti ditanggung Israel berhubungan dengan sistem pertahanan udara untuk mencegat serangan rudal Iran. “Sistem rudal Israel mungkin menelan biaya hingga 200 juta Dolar tiap harinya,” lapor Wall Street Journal. Sementara itu, harian Maariv melaporkan bahwa pasar-pasar di Tel Aviv lengang akibat gelombang serangan rudal Iran. “Separuh dari toko-tako Tel Aviv ditutup lantaran mencemaskan serangan-serangan berikutnya,” tulis Maariv. Di sisi lain, Unit Gawat Darurat Rezim Zionis mengumumkan perawatan 1.007 orang yang terluka akibat serangan rudal dan drone Iran. Serangan rudal Iran membuat ekonomi Rezim Zionis menghela napas-napas terakhirnya, setelah sebelum ini limbung akibat perang di Gaza. Kaburnya para inevestor, merosotnya pasar dan bursa saham, menurunnya nilai mata uang Shekel di hadapan Dolar, berhentinya penerbangan komersial internasional, larinya para wisatawan asing, dan mandeknya ekspor-impor di Tanah Pendudukan adalah bagian dari dampak langsung perang ini terhadap ekonomi Rezim Zionis. (*) Sumber: Poros Perlawanan

Iran Serang Pusat Energi Rezim Israel

BAINDONESIA.CO – Gelombang kedua serangan rudal Iran dalam Operasi Janji Sejati 3, yang diluncurkan sebagai respons atas agresi militer rezim Zionis, berhasil mengenai berbagai target strategis di Wilayah Pendudukan Palestina. Menurut laporan Kantor Berita Mehr pada Minggu 15 Juni, puluhan rudal dan pesawat nirawak Iran ditembakkan ke posisi-posisi militer rezim Zionis. Operasi ofensif ini dilakukan oleh Divisi Kedirgantaraan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dengan nama sandi “Wahai Ali bin Abi Thalib (a.s)”. Serangan tersebut berhasil menembus beberapa lapisan sistem pertahanan udara Israel pada malam perayaan Idul Ghadir. Para pejabat tinggi Iran menegaskan bahwa setiap aksi agresi dari rezim Zionis akan direspons dengan tindakan keras dan tegas. Sebagai bentuk balasan atas serangan brutal yang dilancarkan oleh Israel, ratusan rudal balistik berbagai jenis ditembakkan dari sejumlah lokasi ke Wilayah Pendudukan. Serangan ini memanfaatkan kesiapan penuh dan kemampuan tinggi sistem pertahanan Iran. Pernyataan IRGC Terkait Tahap Lanjutan Operasi “Janji Sejati 3” Dalam pernyataan resmi terbaru, IRGC mengonfirmasi bahwa fasilitas produksi bahan bakar jet tempur dan pusat-pusat pasokan energi milik rezim Zionis telah menjadi sasaran gelombang baru serangan drone dan rudal dalam Operasi Janji Sejati 3. Berikut kutipan dari pengumuman resmi IRGC, Humas No. 2: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih” “Maka seranglah mereka sebagaimana mereka telah menyerang kalian…” (Surah Al-Baqarah:194) IRGC menyatakan bahwa operasi ofensif gabungan ini akan terus diperluas dan ditingkatkan intensitasnya apabila agresi militer dari pihak Israel tetap berlanjut. Sistem pertahanan kedirgantaraan milik IRGC, di bawah komando jaringan terpadu dan markas gabungan pertahanan udara Republik Islam Iran, telah berhasil mencegat dan menghancurkan tiga rudal jelajah, sepuluh drone, serta puluhan wahana udara tak berawak milik tentara Zionis di wilayah konflik. (*) Sumber: Poros Perlawanan

Teuku Rezasyah: Indonesia Hadapi Tekanan sebagai Anggota BRICS

BAINDONESIA.CO – Pakar hubungan internasional Teuku Rezasyah menyatakan bahwa Indonesia saat ini memainkan peran strategis sebagai qualified middle power atau kekuatan kelas menengah yang berkualitas dalam tatanan global. Peran tersebut dijalankan dengan prinsip bebas aktif yang selama ini menjadi tradisi diplomasi Indonesia. “Kita sudah terbiasa menjalin sinergi melalui konsultasi dan konsensus tanpa memusuhi siapa pun. Ini ciri khas dari diplomasi Indonesia,” ujar Teuku dalam wawancara khusus di Metro TV sebagaimana dikutip media ini pada Senin (7/7/2025). Namun, dia memperingatkan bahwa tatanan global saat ini tengah berada di ambang ketidakstabilan serius akibat kebijakan sepihak mantan Presiden AS Donald Trump, yang kembali aktif di panggung politik global. “Apa yang dilakukan Donald Trump saat ini benar-benar luar biasa dan membahayakan,” tegasnya. Dia merujuk pada pernyataan pakar ekonomi Amerika Serikat, Jeffrey Sachs, yang menyebut bahwa Trump is wrecking the world economy. Teuku menyebut kebijakan-kebijakan Trump telah “mempordak-porandakan” stabilitas ekonomi global serta merusak struktur kerja sama multilateral seperti BRICS. BRICS yang awalnya terdiri dari lima negara utama—Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan—telah mengalami ekspansi besar dalam dua tahun terakhir. Tahun lalu, organisasi ini menambahkan enam anggota baru: Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Tahun ini, anggota baru kembali bergabung yakni Belarus, Nigeria, Thailand, dan Vietnam. Namun menurut Teuku, harapan besar terhadap BRICS justru berada di bawah tekanan. “Tindakan Trump kini juga menyasar BRICS. Ini bukan hanya tekanan terhadap Indonesia, tapi terhadap seluruh dunia,” jelasnya. Tahun ini BRICS mengangkat tema besar Strengthening Global South Cooperation for a More Inclusive and Sustainable Governance. Tujuannya adalah memperkuat kerja sama demi tata kelola global yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan. “Tapi harapan itu bisa runtuh karena tekanan unilateral dari Amerika Serikat,” ujar Teuku. Dia mengungkapkan bahwa Trump bahkan memberikan ultimatum kepada negara-negara yang belum melakukan konsultasi dengan pemerintah AS. “Konon, mereka diberi tenggat waktu hingga Rabu malam,” katanya. Trump juga disebut-sebut akan memperkenalkan kebijakan tarif sosial yang mulai diberlakukan pada tahun ini. “Langkah ini jelas akan menekan ekspor negara-negara berkembang dan memaksa negara-negara Global South tunduk dalam relasi yang tidak setara,” paparnya. Indonesia, lanjutnya, sangat mungkin terkena dampak langsung dari kebijakan ini. “Kita harus sadar bahwa ekonomi Amerika Serikat adalah yang terbesar di dunia saat ini. Tekanan ini bisa berdampak pada ekspor kita, pada pencapaian target ekonomi nasional, bahkan terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi kita secara keseluruhan,” tegasnya. Namun ia meyakini bahwa Indonesia tetap memiliki peluang untuk memainkan peran penting dalam meredam eskalasi global. “Sebagai qualified middle power, Indonesia harus memperkuat solidaritas dengan sesama anggota BRICS, menjaga prinsip bebas aktif, dan tetap mendorong tata kelola global yang adil dan setara,” pungkasnya. (*) Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Serangan Iran Lumpuhkan Perekonomian Israel

BAINDONESIA.CO – Dikutip Tasnim dari Wall Street Journal, perang Israel dengan Iran telah membebankan biaya ratusan juta Dolar atas Tel Aviv. Berdasarkan laporan Wall Street Journal dari para pakar, biaya terbesar yang mesti ditanggung Israel berhubungan dengan sistem pertahanan udara untuk mencegat serangan rudal Iran. “Sistem rudal Israel mungkin menelan biaya hingga 200 juta Dolar tiap harinya,” lapor Wall Street Journal. Sementara itu, harian Maariv melaporkan bahwa pasar-pasar di Tel Aviv lengang akibat gelombang serangan rudal Iran. “Separuh dari toko-tako Tel Aviv ditutup lantaran mencemaskan serangan-serangan berikutnya,” tulis Maariv. Di sisi lain, Unit Gawat Darurat Rezim Zionis mengumumkan perawatan 1.007 orang yang terluka akibat serangan rudal dan drone Iran. Serangan rudal Iran membuat ekonomi Rezim Zionis menghela napas-napas terakhirnya, setelah sebelum ini limbung akibat perang di Gaza. Kaburnya para inevestor, merosotnya pasar dan bursa saham, menurunnya nilai mata uang Shekel di hadapan Dolar, berhentinya penerbangan komersial internasional, larinya para wisatawan asing, dan mandeknya ekspor-impor di Tanah Pendudukan adalah bagian dari dampak langsung perang ini terhadap ekonomi Rezim Zionis. (*) Sumber: Poros Perlawanan

Iran Serang Pusat Energi Rezim Israel

BAINDONESIA.CO – Gelombang kedua serangan rudal Iran dalam Operasi Janji Sejati 3, yang diluncurkan sebagai respons atas agresi militer rezim Zionis, berhasil mengenai berbagai target strategis di Wilayah Pendudukan Palestina. Menurut laporan Kantor Berita Mehr pada Minggu 15 Juni, puluhan rudal dan pesawat nirawak Iran ditembakkan ke posisi-posisi militer rezim Zionis. Operasi ofensif ini dilakukan oleh Divisi Kedirgantaraan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dengan nama sandi “Wahai Ali bin Abi Thalib (a.s)”. Serangan tersebut berhasil menembus beberapa lapisan sistem pertahanan udara Israel pada malam perayaan Idul Ghadir. Para pejabat tinggi Iran menegaskan bahwa setiap aksi agresi dari rezim Zionis akan direspons dengan tindakan keras dan tegas. Sebagai bentuk balasan atas serangan brutal yang dilancarkan oleh Israel, ratusan rudal balistik berbagai jenis ditembakkan dari sejumlah lokasi ke Wilayah Pendudukan. Serangan ini memanfaatkan kesiapan penuh dan kemampuan tinggi sistem pertahanan Iran. Pernyataan IRGC Terkait Tahap Lanjutan Operasi “Janji Sejati 3” Dalam pernyataan resmi terbaru, IRGC mengonfirmasi bahwa fasilitas produksi bahan bakar jet tempur dan pusat-pusat pasokan energi milik rezim Zionis telah menjadi sasaran gelombang baru serangan drone dan rudal dalam Operasi Janji Sejati 3. Berikut kutipan dari pengumuman resmi IRGC, Humas No. 2: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih” “Maka seranglah mereka sebagaimana mereka telah menyerang kalian…” (Surah Al-Baqarah:194) IRGC menyatakan bahwa operasi ofensif gabungan ini akan terus diperluas dan ditingkatkan intensitasnya apabila agresi militer dari pihak Israel tetap berlanjut. Sistem pertahanan kedirgantaraan milik IRGC, di bawah komando jaringan terpadu dan markas gabungan pertahanan udara Republik Islam Iran, telah berhasil mencegat dan menghancurkan tiga rudal jelajah, sepuluh drone, serta puluhan wahana udara tak berawak milik tentara Zionis di wilayah konflik. (*) Sumber: Poros Perlawanan

Felix Zulhendri Ingatkan Bahaya Gula dan Karbohidrat dalam Kehidupan

BAINDONESIA.CO – Praktisi kesehatan Indonesia Felix Zulhendri kembali mengingatkan masyarakat tentang bahaya konsumsi gula dan karbohidrat berlebih dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pernyataan terbarunya, Felix menyebut bahwa kita kini hidup di lingkungan ekstrem yang mendorong konsumsi makanan tidak sehat secara masif, dan oleh karena itu, dibutuhkan keputusan ekstrem pula untuk menjaga kesehatan. “Saya selalu berkaca. Kalau perut saya mulai buncit sedikit, saya tahu itu tandanya saya makan karbohidrat dan gula terlalu banyak. Maka saya langsung hentikan karbohidrat selama 1-2 hari, dan 2-3 hari kemudian saya cek lagi. Biasanya perut kembali rata,” ujarnya sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Malaka pada Kamis (10/7/2025). Menurutnya, pengelolaan konsumsi gula dan karbohidrat harus menjadi kesadaran personal, bukan hanya sebagai bagian dari program diet. “Kita tidak pernah kekurangan gula dan karbohidrat, karena ke mana pun kita pergi, pasti selalu ada unsur itu. Yang sebenarnya kita kekurangan justru adalah protein dan lemak sehat,” tambahnya. Felix menyoroti kondisi masyarakat modern yang nyaris tak bisa lepas dari makanan manis. Ia mencontohkan dengan mengajak masyarakat melihat rak-rak minimarket. “Coba saja ke minimarket, 95 hingga 99 persen isinya adalah produk berbasis gula dan karbohidrat olahan. Maka kita perlu mengambil keputusan yang berani: kelola konsumsi kita, atau kita akan jadi korban,” tegasnya. Selain risiko diabetes dan obesitas, dia mengungkapkan hasil diskusinya dengan seorang dokter di unit hemodialisis (cuci darah) di salah satu rumah sakit di Sumatera Utara. Ia terkejut ketika mendengar bahwa pasien-pasien cuci darah kini semakin muda. “Pasiennya sekarang usia 20, 30, 40 tahun. Dulu usia 50 ke atas. Ini perubahan besar. Dan ini jelas terkait dengan pola makan modern: makanan ultra-proses, konsumsi gula berlebih, diabetes, hipertensi—semua saling berkaitan dan merusak ginjal,” katanya. Felix juga menyoroti sikap generasi muda yang merasa masih kuat dan sehat sehingga mengabaikan risiko jangka panjang. Fenomena FOMO (Fear of Missing Out), menurutnya, menjadi pemicu utama gaya hidup makan sembarangan. “Banyak yang bilang, ‘Ah, mumpung masih muda, makan aja apa pun.’ Tapi mereka lupa, lingkungan kita sekarang jauh lebih beracun dibanding zaman orang tua kita. Makanan sekarang kebanyakan ultra-proses. Jadi tidak bisa dibandingkan,” tegasnya. Ia mengingatkan bahwa orang-orang dulu bisa makan banyak tanpa efek samping berat karena hidup mereka lebih aktif dan makanan mereka alami. “Sekarang beda. Kalau kita makan sembarangan, dampaknya nyata dan cepat,” katanya. Meski menyarankan untuk membatasi konsumsi gula, Felix mengakui bahwa kebutuhan akan rasa manis adalah sesuatu yang wajar. Oleh karena itu, ia menyarankan alternatif sehat seperti: Pertama, monk fruit extract. Pemanis alami yang tidak meningkatkan kadar gula darah. Kedua, stevia. Tanaman pemanis yang juga tidak berdampak pada lonjakan gula. Namun, ia mengingatkan bahwa bahkan pemanis alami pun harus dikontrol. “Rasa manis itu adiktif. Jadi jangan dari pagi sampai malam makan manis terus,” ujarnya. Felix kembali menekankan pentingnya konsumsi protein dan lemak sehat, seperti telur dan daging. Menurutnya, dua jenis zat gizi ini dapat membantu tubuh merasa kenyang lebih lama karena memicu hormon kenyang, tidak seperti gula yang hanya memberi efek kenyang sesaat. “Kalau saya sarapan tiga butir telur bebek, saya tidak akan lapar sampai siang. Tapi kalau saya makan nasi goreng sepiring penuh, dua jam kemudian saya lapar lagi,” katanya. Dia menutup pesannya dengan peringatan keras: manusia modern kini terlalu mudah terjebak dalam pola makan yang destruktif. Maka, mengelola konsumsi gula dan karbohidrat bukan hanya pilihan, tapi keharusan. “Ini bukan soal diet. Ini soal bertahan hidup di lingkungan yang tidak bersahabat dengan kesehatan. Kita harus sadar, bertindak, dan mengambil keputusan ekstrim jika ingin tetap sehat,” pungkasnya. (*) Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Konsumsi Gula dan Karbohidrat di Indonesia Dinilai Berlebihan, Praktisi Kesehatan: Ini Masalah Serius Bangsa

BAINDONESIA.CO – Praktisi kesehatan Indonesia Felix Zulhendri mengungkapkan keprihatinannya terhadap pola konsumsi masyarakat Indonesia yang dinilai terlalu tinggi dalam mengonsumsi gula dan karbohidrat, tetapi sangat rendah dalam konsumsi protein. Pernyataan ini ia sampaikan berdasarkan data yang diambilnya dari Statista dan juga pengalaman lapangan serta pengamatan pribadi. Menurut Felix, setiap orang Indonesia mengonsumsi rata-rata 120 kilogram beras per tahun, 30 kilogram tepung terigu, dan 30 kilogram gula pasir tambahan. “Kalau dijumlahkan, masyarakat Indonesia mengonsumsi sekitar 180 kilogram karbohidrat dan gula per orang per tahun, sedangkan konsumsi protein seperti daging, ayam, dan telur hanya 10 kilogram per orang per tahun,” ungkapnya sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Malaka pada Kamis (10/7/2025). Ia menekankan bahwa ketimpangan ini menyebabkan masyarakat jauh lebih rentan terhadap penyakit kronis, terutama diabetes, obesitas, dan hipertensi. “Bayangkan, kita konsumsi karbohidrat dan gula 18 kali lebih banyak daripada protein. Ini sangat mengganggu keseimbangan metabolisme tubuh,” ujarnya. Felix menjelaskan bahwa karbohidrat seperti nasi, roti, mie instan, kentang, dan sereal memiliki kandungan zat pati (starch), yaitu rantai gula yang di dalam tubuh akan berubah menjadi glukosa. “Semua makanan itu, pada dasarnya, akan menjadi gula dalam tubuh kita. Dan inilah akar dari banyak penyakit tidak menular (non-communicable diseases),” tambahnya. Dalam sebuah studi di salah satu kabupaten di Bali, kata Felix, ditemukan bahwa 1 dari 4 remaja mengalami pre-diabetes atau sudah diabetes. “Bayangkan kalau anak-anak remaja saja 25% sudah seperti itu, maka saya percaya bahwa di kalangan orang dewasa bisa mencapai 50%, dan itu masuk akal,” ujarnya. Dia juga menyoroti beban yang harus ditanggung oleh sistem kesehatan nasional. “Makanya BPJS kita kewalahan. Penyakit-penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi itu biayanya luar biasa besar. Saya lihat sendiri bagaimana keluarga-keluarga mengeluarkan biaya besar untuk cek lab, obat, dan dokter spesialis,” tegasnya. Ia juga menjelaskan bahwa gula memiliki efek adiktif yang tinggi. “Gula sangat kuat dalam menstimulasi dopamin, hormon yang memberikan perasaan senang. Maka wajar banyak orang susah sekali lepas dari makanan manis, roti, dan makanan olahan tepung lainnya,” ujarnya. Karena itu, Felix mengimbau agar masyarakat mulai mengurangi konsumsi makanan tinggi gula dan karbohidrat, serta meningkatkan asupan protein hewani seperti telur dan daging. Menurutnya, protein dan lemak hewani membantu memicu hormon-hormon kenyang, yang memberi rasa kenyang lebih lama dan mencegah keinginan untuk ngemil terus-menerus. “Salah satu kesalahan pola makan masyarakat kita adalah terlalu sering makan. Sarapan, lalu ngemil jam 10, makan siang, ngemil sore, makan malam, lalu makan lagi sebelum tidur. Ini karena makanan kita tinggi karbohidrat yang cepat bikin lapar lagi,” ujarnya. Felix menegaskan bahwa dirinya bukan anti karbohidrat atau anti gula. Dia tetap mengonsumsi nasi dan kentang, namun secara terukur dan sesuai kebutuhan aktivitas fisik. “Kalau saya tahu saya akan olahraga intens, saya tingkatkan konsumsi karbohidrat. Tapi kalau tidak, saya kurangi,” jelasnya. Ia menutup penjelasannya dengan ajakan kepada masyarakat untuk mulai menyadari apa yang dikonsumsi sehari-hari. “Ini bukan sekadar soal makan, ini soal masa depan bangsa. Kalau produktivitas kita hancur karena kesehatan yang buruk, bagaimana kita bisa bersaing sebagai bangsa yang besar?” pungkasnya. (*) Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Lima Sikap Ahlulbait Indonesia terkait Tragedi Kemanusiaan di Suriah

BAINDONESIA.CO – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (ABI) Ustadz Zahir Yahya menyampaikan pernyataan sikap ABI terkait tragedi kemanusiaan yang terjadi di Suriah sejak Desember 2024, khususnya terhadap komunitas Alawi yang menjadi korban kekerasan sektarian. Pertama, ABI mengutuk dengan keras pembantaian sejumlah besar warga sipil Alawi di wilayah pesisir Suriah, termasuk Latakia dan Tartus. Tindakan pembunuhan massal, penjarahan, penghancuran rumah-rumah serta pengusiran paksa warga merupakan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional, termasuk Konvensi Jenewa yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Kedua, ABI menyatakan solidaritas penuh terhadap komunitas Alawi serta seluruh kelompok minoritas yang terdampak, termasuk Kristen dan etnis lainnya. ABI juga mengimbau Pemerintah Indonesia untuk bersikap tegas dan adil dalam menyikapi tragedi ini. Pihaknya meminta Pemerintah Indonesia mengecam segala bentuk kekerasan tanpa memihak kelompok tertentu; mendorong penyelesaian damai berdasarkan keadilan dan hak asasi manusia, serta menggunakan saluran diplomasi untuk membantu korban dan pengungsi tanpa diskriminasi. Ketiga, ABI menyerukan penghentian segera segala bentuk kekerasan terhadap warga sipil di Suriah. Ormas Islam tersebut juga mendesak PBB dan seluruh anggota masyarakat dunia untuk segera mengambil langkah nyata untuk menghentikan pembantaian; menjatuhkan sanksi kepada para pelaku kejahatan perang, dan mendorong intervensi kemanusiaan guna menyelamatkan korban dan pengungsi. Keempat, ABI mendukung pembentukan komisi penyelidikan independen di bawah naungan PBB untuk mengusut pembantaian ini dan mengadili semua pihak yang bertanggung jawab melalui Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Kelima, Suriah adalah negara yang kaya keberagaman. “Kami menegaskan bahwa semua kelompok berhak hidup dengan aman, tanpa diskriminasi. Kami mendorong dialog nasional untuk menghentikan konflik dan mencegah perang saudara lebih lanjut,” tegas Ustadz Zahir dalam siaran pers yang dikutip media ini pada Minggu (16/3/2025). Dia berharap tragedi ini segera berakhir, dan Suriah kembali menjadi tanah yang damai bagi semua warganya. “Semoga Allah SWT memberikan pahala dan kekuatan kepada para korban dan membimbing dunia untuk menegakkan keadilan dan perdamaian,” tutupnya. (*) Editor: Ufqil Mubin

AI dan Produktivitas: Peluang, Tantangan, dan Keadilan Ekonomi

Oleh: Dr. Aswin Rivai* Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi salah satu tonggak revolusi industri generasi keempat yang paling berpengaruh dalam dekade terakhir. AI diyakini mampu membawa perubahan besar dalam produktivitas, efisiensi, dan penciptaan nilai tambah di hampir seluruh sektor ekonomi. Di tingkat global, banyak analis dan pelaku usaha menaruh harapan tinggi bahwa AI akan meningkatkan produktivitas secara substansial. Akan tetapi, meskipun peningkatan produktivitas mungkin tercapai, manfaatnya belum tentu tersebar merata dalam bentuk peningkatan pendapatan atau penciptaan lapangan kerja yang inklusif. Hal yang sama berlaku di Indonesia. Indonesia sebagai negara berkembang dengan struktur ekonomi yang kompleks menghadapi tantangan yang unik. Dari sekitar 140 juta angkatan kerja pada tahun 2023, lebih dari 57 persen di antaranya bekerja di sektor informal. Sektor ini mencakup pekerjaan di bidang perdagangan kecil, pertanian skala kecil, dan jasa pribadi yang sebagian besar bersifat non-tradable, atau tidak terhubung langsung dengan perdagangan internasional. Artinya, sektor-sektor ini tidak hanya memiliki produktivitas yang rendah, tetapi juga cenderung luput dari inovasi teknologi skala besar, termasuk AI. Sementara itu, sektor tradable di Indonesia yang meliputi manufaktur, industri padat teknologi, dan beberapa bentuk jasa digital hanya menyerap sekitar 20 persen tenaga kerja, tetapi menyumbang lebih dari 40 persen PDB nasional. Dalam beberapa dekade terakhir, perbedaan produktivitas antara sektor tradable dan non-tradable terus melebar. Contohnya, produktivitas per pekerja di sektor manufaktur besar bisa mencapai Rp 400 juta per tahun, sedangkan di sektor pertanian hanya sekitar Rp 60 juta–Rp 70 juta. Jika penerapan AI hanya terkonsentrasi di sektor tradable, maka kesenjangan produktivitas dan pendapatan antarsektor bisa semakin dalam, memperburuk ketimpangan sosial dan ekonomi. Namun, AI tetap menawarkan potensi besar bagi Indonesia jika diarahkan dengan strategi yang inklusif. Dalam sektor pertanian yang menyerap hampir 29 persen tenaga kerja, AI dapat digunakan untuk memprediksi pola cuaca, mengoptimalkan penggunaan pupuk, dan meningkatkan hasil panen. Di sektor logistik dan transportasi, penggunaan AI untuk manajemen rantai pasok bisa menurunkan biaya distribusi barang hingga 15–20 persen. Sektor kesehatan, yang menghadapi kekurangan dokter di daerah tertinggal (rasio dokter hanya 0,47 per 1.000 penduduk), juga dapat memanfaatkan AI untuk diagnosis awal berbasis gambar dan rekam medis. Di sisi lain, potensi dampak disrupsi akibat AI terhadap tenaga kerja tidak boleh diabaikan. Beberapa studi internasional, seperti laporan McKinsey Global Institute, memperkirakan bahwa sekitar 375 juta pekerja secara global perlu berganti profesi atau meningkatkan keterampilan karena otomatisasi berbasis AI sebelum tahun 2030. Dalam konteks Indonesia, sektor yang paling rentan adalah administrasi, manufaktur berulang, dan pekerjaan jasa sederhana yang mudah dikodekan (codifiable tasks). Dalam data BPS tahun 2022, lebih dari 20 juta pekerja berada pada posisi yang rentan terhadap otomatisasi karena keterampilan rendah dan tugas rutin. Jika tidak dikelola dengan baik, transisi ini dapat menimbulkan lonjakan pengangguran jangka pendek, tekanan terhadap daya tawar pekerja, serta memperbesar jurang ketimpangan. Apalagi, tingkat elastisitas permintaan dalam beberapa sektor di Indonesia cenderung rendah. Artinya, meskipun AI menurunkan biaya produksi dan harga, tidak selalu terjadi peningkatan permintaan yang cukup untuk menyerap pekerja yang terdampak. Untuk itu, arah kebijakan harus menyasar pada tiga pilar utama. Pertama, mengembangkan ekosistem AI yang berpihak pada augmentasi atau pelengkap tenaga kerja manusia, bukan sekadar pengganti. Kedua, menyiapkan sistem pendidikan dan pelatihan ulang (reskilling) yang masif dan adaptif. Ketiga, memastikan terciptanya permintaan baru terhadap tenaga kerja, terutama melalui proyek-proyek nasional. Pilar pertama dapat dicapai dengan mendorong pengembangan AI yang bersifat kolaboratif, seperti yang disebut oleh Haupt dan Brynjolfsson melalui evaluasi centaur, yakni sistem di mana manusia dan AI bekerja sama dalam menyelesaikan tugas. Misalnya, dalam sektor pendidikan, AI dapat digunakan untuk membantu guru dalam memberikan evaluasi individual siswa, bukan menggantikan peran guru secara penuh. Pemerintah dapat memberikan insentif kepada startup dan perusahaan teknologi yang mengembangkan AI berbasis kolaborasi, bukan otomatisasi penuh, seperti chatbot untuk layanan pelanggan yang tetap memerlukan supervisi manusia. Pilar kedua, yakni pendidikan dan pelatihan ulang, sangat mendesak. Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam hal kualitas SDM. Data World Bank menunjukkan bahwa skor Indeks Modal Manusia (Human Capital Index) Indonesia pada 2020 adalah 0,54, artinya anak yang lahir di Indonesia hanya akan mencapai 54 persen dari produktivitas optimal jika memperoleh pendidikan dan kesehatan yang maksimal. Oleh karena itu, Balai Latihan Kerja (BLK) dan program kartu prakerja perlu direformasi agar mampu menyasar pelatihan AI dasar, analitik data, dan keterampilan digital lainnya, terutama bagi generasi muda dan pekerja terdampak. Pilar ketiga, yakni penciptaan permintaan tenaga kerja baru, dapat ditempuh melalui proyek infrastruktur digital dan hijau yang masif. Pemerintah Prabowo-Gibran telah mengisyaratkan komitmen untuk mendorong hilirisasi industri, swasembada pangan, dan pengembangan energi terbarukan. Semua inisiatif ini berpotensi menciptakan jutaan lapangan kerja baru jika disertai dengan digitalisasi berbasis AI. Misalnya, pembangunan infrastruktur energi surya dan bioenergi berbasis data cuaca dan konsumsi lokal akan membuka lapangan kerja teknik, konstruksi, hingga perawatan sistem berbasis AI. Pemerintah juga dapat belajar dari pengalaman sebelumnya ketika terjadi transformasi digital di era 2000-an. Banyak pekerjaan rutin tergantikan oleh mesin atau outsourcing ke luar negeri, sementara lapangan kerja baru di sektor digital belum cukup menyerap tenaga kerja eksisting. Agar hal ini tidak terulang, pemerintah perlu menciptakan skenario transisi yang adil. Salah satu pendekatan adalah dengan menyediakan tunjangan transisi dan insentif relokasi kerja bagi pekerja terdampak otomatisasi. Selain itu, pengembangan AI yang etis dan inklusif juga penting untuk menghindari bias dan ketimpangan baru. Misalnya, algoritma penyaluran kredit berbasis AI di sektor keuangan dapat menciptakan diskriminasi jika data pelatihan yang digunakan mencerminkan bias sosial ekonomi tertentu. Oleh karena itu, lembaga seperti OJK dan Komdigi perlu mengembangkan regulasi audit algoritma dan transparansi penggunaan AI di sektor publik dan privat. Sementara itu, potensi besar AI dalam riset dan inovasi juga harus dimaksimalkan. Sebagai contoh, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman atau LIPI dapat memanfaatkan AI seperti AlphaFold milik DeepMind untuk mempercepat riset struktur protein atau pengembangan vaksin lokal. Hal ini sejalan dengan target Indonesia dalam menciptakan kemandirian di bidang farmasi dan kesehatan. Menurut laporan e-Conomy SEA 2023 yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, potensi ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai 360 miliar dolar AS pada 2030, terbesar di Asia Tenggara. Jika AI dimanfaatkan secara strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital tersebut, maka akan tercipta efek berantai yang kuat terhadap produktivitas nasional, lapangan kerja, dan daya saing global. Namun, semua ini memerlukan kerangka kebijakan nasional yang kuat. Pemerintah Indonesia sudah

Inovasi Digital Berkelanjutan: Peran Kontrol Strategis dan Orkestrasi

Oleh: Dr. Joko Rurianto* Dalam lanskap bisnis digital yang semakin kompetitif, inovasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis untuk bertahan dan berkembang. Namun, inovasi yang hanya berfokus pada kecepatan dan teknologi tanpa mempertimbangkan keberlanjutan dapat menimbulkan risiko jangka panjang. Oleh karena itu, penting bagi pelaku industri digital untuk mengadopsi pendekatan inovasi yang berkelanjutan yakni menciptakan solusi digital yang tidak hanya efisien dan adaptif, tetapi juga berdampak positif secara sosial. Dengan demikian, bisnis digital dapat membangun fondasi yang kuat untuk pertumbuhan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Dua konsep yang menjadi kunci dalam keberhasilan inovasi digital adalah strategic control dan performansi orkestrasi. Keduanya berperan penting dalam memastikan bahwa inovasi tidak hanya terjadi, tetapi juga memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi organisasi dan masyarakat. Menjaga Arah Menurut John A Pearce dan Richard B Robinson dalam buku Strategi Manajemen (2003), strategic control merupakan bagian dari manajemen strategis yang berfungsi untuk memantau dan menilai kinerja strategi secara berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa strategi tetap selaras dengan perubahan lingkungan eksternal dan internal organisasi. Pendapat ini ditegaskan lagi oleh Donald L Sull, Profesor dari London Business School, yang dalam artikelnya bersama Alejandro Ruelas-Gossi menekankan bahwa kontrol strategis harus bersifat dinamis dan fleksibel. Ia menyatakan bahwa dalam dunia yang penuh ketidakpastian, organisasi harus mampu mengadaptasi strategi secara cepat berdasarkan data dan insight yang terus berkembang. Dalam konteks digital, kontrol strategis mencakup monitoring terhadap implementasi strategi digital, evaluasi efektivitas teknologi dan proses digital, serta penyesuaian arah strategi berdasarkan data dan insight terbaru. Strategic control memungkinkan organisasi untuk tetap adaptif dan responsif terhadap perubahan teknologi, perilaku konsumen, dan dinamika pasar. Tanpa kontrol strategis yang kuat, inovasi digital berisiko menjadi inisiatif yang terputus-putus, tidak terintegrasi, atau bahkan gagal memberikan nilai tambah. Mengelola Kompleksitas Digital Sementara kontrol strategis berfokus pada arah dan pengawasan, performansi orkestrasi adalah kemampuan organisasi untuk menyelaraskan berbagai elemen dalam ekosistem digital—teknologi, sumber daya manusia, proses bisnis, dan mitra eksternal—agar bekerja secara sinergis. Dalam dunia digital yang kompleks, orkestrasi performansi menjadi krusial karena beberapa hal di antaranya organisasi tidak lagi bekerja secara silo, melainkan dalam jaringan kolaboratif; teknologi digital seperti AI, cloud, dan IoT membutuhkan integrasi lintas fungsi dan sistem; kecepatan inovasi menuntut koordinasi yang efisien dan fleksibel; dan orkestrasi yang baik memungkinkan organisasi untuk mengoptimalkan performa digital secara menyeluruh, bukan hanya pada satu aspek teknologi atau proses. Dalam artikel Strategic Orchestration yang diterbitkan London Business School, dua profesor terkemuka, Donald L. Sull dan Alejandro Ruelas-Gossi, menekankan bahwa orkestrasi strategis adalah pendekatan yang memungkinkan perusahaan untuk masuk ke pasar lebih cepat, beradaptasi dengan perubahan lingkungan, mengurangi kebutuhan modal, serta melayani segmen pasar yang sebelumnya tidak menguntungkan. Mereka mencontohkan bagaimana perusahaan seperti Apple, Nestlé, dan CEMEX berhasil membangun ekosistem mitra yang saling melengkapi untuk menciptakan nilai yang tidak bisa dicapai sendirian. Apple, misalnya, tidak lagi mencoba mengembangkan semua komponen sendiri, tetapi mengorkestrasi jaringan penyedia konten dan aksesori untuk menciptakan pengalaman pengguna yang mulus. Sull dan Ruelas-Gossi menyimpulkan bahwa dalam dunia yang semakin kompleks, kemampuan untuk mengorkestrasi sumber daya eksternal dan internal secara strategis adalah kunci untuk bertahan dan berkembang. Di Indonesia, beberapa perusahaan telah menunjukkan keberhasilan dalam menerapkan strategic control dan orkestrasi performansi dalam inovasi digital mereka. BUMN penyedia layanan digital, Telkomsel misalnya, telah melakukan berbagai terobosan seperti mengembangkan ekosistem digital melalui beberapa platform, mengintegrasikan teknologi AI untuk layanan pelanggan dan analitik data, serta bermitra dengan startup lokal dan institusi pendidikan untuk mendorong inovasi dan pengembangan talenta digital. Kontrol strategis di sini terlihat dalam arah kebijakan digital yang konsisten dan terukur, sementara orkestrasi performansi tercermin dalam kolaborasi lintas sektor yang memperkuat ekosistem digital nasional. Contoh lain adalah Gojek, yang berhasil mengorkestrasi layanan transportasi, pembayaran, logistik, dan gaya hidup dalam satu platform. Layanan transportasi online ini tidak hanya mengembangkan teknologi internal, tetapi juga bermitra dengan ribuan UMKM dan penyedia layanan untuk menciptakan nilai bersama. Tantangan dan Solusi Dalam proses orkestrasi inovasi digital, organisasi menghadapi sejumlah tantangan yang kompleks. Pertama, fragmentasi data dan sistem menjadi hambatan utama dalam menciptakan integrasi lintas fungsi. Ketika data tersebar di berbagai platform yang tidak saling terhubung, pengambilan keputusan strategis menjadi lambat dan tidak akurat. Kedua, kurangnya talenta digital yang memahami strategi dan teknologi menyebabkan kesenjangan antara visi digital dan implementasi teknis. Banyak organisasi memiliki tenaga ahli teknologi, namun belum tentu memiliki pemahaman strategis yang mendalam. Ketiga, resistensi terhadap perubahan budaya organisasi sering kali menghambat proses transformasi digital. Inovasi membutuhkan fleksibilitas dan kolaborasi, namun budaya birokratis dan hierarkis dapat memperlambat adaptasi. Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan solusi yang terstruktur dan berorientasi pada orkestrasi performansi. Salah satunya adalah membangun dashboard strategis berbasis data real-time yang memungkinkan pemantauan kinerja dan penyesuaian strategi secara cepat dan akurat. Selain itu, organisasi perlu menerapkan model orkestrasi berbasis agile dan DevOps, yang mendorong kolaborasi lintas tim dan iterasi cepat dalam pengembangan solusi digital. Terakhir, pelatihan lintas fungsi menjadi kunci untuk meningkatkan pemahaman strategis dan teknis secara bersamaan, sehingga setiap bagian organisasi dapat berkontribusi dalam ekosistem inovasi yang terintegrasi. Dengan pendekatan ini, orkestrasi tidak hanya menjadi alat koordinasi, tetapi juga fondasi untuk menciptakan nilai bisnis yang berkelanjutan. Strategic control dan performansi orkestrasi bukanlah konsep teknis semata, melainkan fondasi manajerial yang menentukan keberhasilan inovasi digital. Di tengah perubahan yang cepat dan kompleks, organisasi yang mampu mengendalikan arah strateginya dan mengorkestrasi sumber daya secara efektif akan menjadi pemimpin dalam era digital. Seperti yang ditegaskan oleh Donald Sull dan Alejandro Ruelas-Gossi, strategic orchestration adalah jawaban atas tantangan inovasi di pasar yang dinamis dan kompetitif. Dengan pendekatan ini, perusahaan tidak hanya menciptakan teknologi, tetapi juga membangun ekosistem yang berkelanjutan dan inklusif. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan digital global. Dengan strategic control yang kuat dan orkestrasi performansi yang cerdas, kita dapat mewujudkan visi digital nasional yang inklusif, efisien, dan berdaya saing tinggi. (*Profesional di PT Telkomsel, aktif menulis jurnal pemasaran strategis dan literasi teknologi digital dalam praktik bisnis modern) Sumber: Antara

Penyucian Jiwa: Strategi Pencegahan dan Revolusi Diri

Oleh: Ayatullah Ibrahim Amini* Mencegah dosa dan perilaku buruk adalah landasan utama dalam penyucian jiwa. Jiwa yang belum ternoda lebih mudah diarahkan untuk berbuat baik. Masa remaja dan muda adalah periode emas untuk menyucikan diri, karena pencegahan lebih sederhana dibandingkan dengan mengubah kebiasaan buruk yang sudah tertanam. Semakin seseorang menjauhi dosa, semakin mudah baginya untuk tetap dalam keadaan suci. Oleh karena itu, penting bagi anak-anak dan pemuda untuk menjaga diri dari dosa dan mempertahankan kesucian mereka. Pepatah mengatakan, “Mencegah lebih baik daripada mengobati.” Mereka harus menyadari bahwa dosa membuka pintu bagi setan, yang kemudian membuatnya sulit untuk berhenti. Setan dan nafsu sering kali membuat dosa tampak kecil agar jiwa menjadi kecanduan. Orang yang peduli dengan keselamatan dan kebahagiaannya harus mampu menolak hawa nafsu dan tidak berbuat dosa. Imam Ali berkata, “Jangan biarkan dirimu mudah berbuat buruk atau jahat.” (Ghurar al-Hikam, 2/801) Imam Ali juga mengingatkan kita: “Kuasailah hawa nafsu sebelum ia menjadi lebih kuat, karena sekali ia menjadi lebih kuat, ia akan mengambil alih kendali dirimu serta menyeretmu ke arah mana saja yang dia inginkan, dan pada saat itu kamu tidak akan mampu melakukan perlawanan kepadanya.” (Ghurar al-Hikam, hlm. 511) “Kebiasaan buruk bagaikan seorang musuh yang memaksakan kekuasaannya kepadamu.” (Ghurar al-Hikam, hlm. 33) “Kebiasaan adalah sifat kedua bagi manusia.” (Ghurar al-Hikam, hlm. 26) “Kuasailah hawa nafsumu bagaikan seorang musuh menguasai lawannya; kobarkanlah pertempuran menghadapinya bagaikan seorang musuh menyerang lawannya, semoga dengan cara ini kamu bisa menguasainya.” (Ghurar al-Hikam, hlm. 509) Tidak melakukan dosa lebih baik daripada bertobat karena syahwat terus menghasilkan kecemasan dan penderitaan yang berkepanjangan. Kematian adalah cara untuk menyingkap sifat buruk dunia ini, yang tidak meninggalkan kesenangan apa pun bagi orang yang cerdik dan waspada. (al-Kafi, 2/451) Imam ash-Shadiq berkata, “Sebelum jiwa meninggalkan badanmu, jangan biarkan dirimu melakukan perbuatan yang mencelakakan. Berusahalah mencapai kebebasan jiwa sebagaimana kamu berusaha mencari kebutuhan hidupmu. Karena, jiwa yang sama akan digadaikan dengan amal perbuatan pada hari perhitungan.” (al-Kafi, 2/455) Allah Swt berfirman, “Adapun bagi orang-orang yang takut hendaknya berdiri di hadapan Tuhannya dan mencegah jiwanya dari keburukan. Sesungguhnya surga akan menjadi tempat tinggalnya.” (QS 79:40-41) Setelah jiwa siap untuk mencegah dosa dan perilaku buruk, langkah berikutnya adalah melakukan pembersihan diri. Cara terbaik adalah melalui revolusi internal dan penolakan langsung. Seseorang yang ingin kembali kepada Allah bisa bertobat, membersihkan hati dari dosa, dan menutup pintu bagi kejahatan. Dengan tekad kuat, mereka mempersiapkan hati untuk malaikat Allah. Setelah melawan hawa nafsu, setan akan tunduk, dan jiwa harus dikendalikan dengan kuat. Beberapa orang yang beruntung bisa mencapai penyucian jiwa melalui revolusi internal dan tetap teguh hingga akhir hayat. Imam Ali berkata, “Untuk meninggalkan kebiasaan, tundukkanlah dirimu, dan bertempurlah melawan hawa nafsu sehingga kalian sukses menawannya.” (Ghurar al-Hikam, hlm. 508) Beliau juga berkata, “Ibadah yang paling baik adalah memperoleh kekuasaan atas kebiasaan.” (Ghurar al-Hikam, hlm. 176) Imam al-Baqir berkata, “Pada hari kiamat semua mata akan menangis kecuali tiga mata berikut: Pertama, mata orang yang menghabiskan waktu malamnya bangun beribadah mencari ridha Allah Swt. Kedua, mata orang yang senantiasa meneteskan air mata karena takut kepada Allah Swt. Ketiga, mata orang yang mencegah dirinya dari melihat hal-hal yang dilarang demi mencari keridhaan Allah Swt. (al-Kafi, 2/80) Imam ash-Shadiq berkata, “Allah berkata kepada Musa melalui wahyu bahwa tidak ada yang lebih efektif untuk mencapai kedekatan kepada-Ku daripada meninggalkan hal-hal yang dilarang. ‘Surga firdaus’ akan dikaruniakan kepada mereka, dan tidak ada orang lain yang diizinkan memasukinya.” (al-Kafi, 2/80) Mengendalikan diri dan menghindari dosa secara total memang bukan tugas yang mudah, tetapi dengan pandangan ke depan, kewaspadaan diri, keyakinan, dan tafakur, hal itu bisa menjadi lebih mudah. Manusia akan didukung dan diperkuat oleh tuntunan Ilahi sebagaimana janji Alquran, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS 29:69) Jika kita tidak cukup berani untuk meninggalkan semua dosa sekaligus, kita bisa memulai dengan perubahan bertahap. Mulailah dengan meninggalkan beberapa dosa sebagai tes kekuatan kemauan. Terus berjuang hingga kita menang atas hawa nafsu dan memotong akar dosa. Lalu, ulangi prosedur ini pada dosa lainnya hingga mencapai kemenangan akhir. Pastikan dosa yang sudah ditinggalkan tidak diulangi lagi. Menolak setiap dosa membuat hawa nafsu dan setan lemah, sementara hati kita digantikan oleh cahaya malaikat Allah. Proses ini harus dilanjutkan sampai jiwa kita mencapai kesempurnaan dan kontrol penuh atas hasrat diri. Saat membersihkan beberapa dosa, kita mungkin mencapai titik di mana kita merasa mampu meninggalkan semua dosa sekaligus. Gunakan kesempatan ini untuk keputusan besar. Dengan memaksa setan keluar, nafsu akan tunduk dan digantikan oleh Allah dan para malaikat. Jika kita berusaha keras mencapai tujuan ini, kita akan menjadi pemenang. Perjuangan jiwa mirip dengan pertempuran melawan musuh. Kita harus terus mengawasi musuh, memperkuat kekuatan kita, dan menggunakan kesempatan untuk menyerang hingga musuh dikalahkan atau dipaksa keluar dari jiwa kita. (*) Sumber: Disarikan dari buku Hijrah Menuju Allah

Ideologi Jurnalis

Oleh: Ufqil Mubin* Jurnalis telah memainkan peran penting dalam proses perubahan sosial-politik di berbagai belahan dunia. Ia tidak hanya bertugas sebagai pembawa informasi laksana tukang pos yang membagikan kiriman dari rumah ke rumah, tetapi ikut mempengaruhi sikap, keputusan, dan langkah-langkah yang diambil masyarakat dan pemerintah di berbagai belahan dunia. Informasi terkait berbagai kezaliman dalam bentuk genosida yang dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina dari masa ke masa tak bisa dilepaskan dari peran strategis jurnalis dalam mengabarkan fakta tersebut kepada masyarakat dunia. Informasi itu digali, diolah, disimpan, dan disebarkan oleh jurnalis-jurnalis dari berbagai media massa, sehingga membawa pengaruh dalam berbagai sikap dan keputusan yang diambil pemerintah dan masyarakat dari negara-negara di dunia. Rezim Zionis Israel yang kini terkucil di mata dunia setelah serangan tak berperikemanusiaan terhadap para pengungsi Rafah, disadari ataupun tidak, merupakan hasil kerja-kerja para jurnalis yang menggali dan mengabarkan fakta yang menyertai genosida tersebut. Karena itu, informasi yang disampaikan setiap awak media membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap proses perjuangan bangsa Palestina dalam meraih kemerdekaan. Di lain sisi, masyarakat dunia kian menyadari kezaliman yang tiada tara yang dilakukan entitas Zionis Israel terhadap bangsa Palestina setelah berbagai media massa di bawah pengaruh entitas kolonial tersebut tidak lagi kuasa menutup fakta di balik penindasan yang tak kunjung berakhir yang dialami bangsa Palestina. Jurnalis beradu nyawa untuk mendapatkan informasi dalam berbagai kondisi yang mewarnainya, baik dalam keadaan damai maupun perang. Dalam kondisi damai, mereka ikut berpartisipasi dalam mengabarkan dan mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap kepentingan publik. Sementara dalam keadaan perang, mereka berusaha menggali informasi berdasarkan fakta empiris yang menyertai detik demi detik dari kedua belah pihak yang saling berusaha menghancurkan satu sama lain. Namun di sisi lain, jurnalis telah berkontribusi terhadap penyebaran berita bohong, tidak akurat, dan melegitimasi penindasan yang dilakukan oleh adidaya dunia serta penguasa-penguasa di negara-negara dari berbagai belahan dunia. Sebagian jurnalis juga menjadi “stempel” informal bagi pemerintah untuk mempengaruhi publik dalam kebijakan-kebijakan tertentu yang sejatinya tak berpihak pada kepentingan dan hajat hidup masyarakat. Tak pelak, jurnalis telah memainkan peran laksana dua mata pisau: satu sisi mempengaruhi masyarakat dunia untuk berpihak pada kebenaran dan keadilan. Di sisi, ia berperan sebagai pembawa berita bohong, dangkal, dan tidak akurat, yang pada dasarnya bertujuan untuk mengelabui publik demi memuluskan kepentingan penguasa-penguasa sejumlah negara adidaya, negara dunia ketiga, bahkan sejumlah penguasa di level paling rendah dalam struktur pemerintahan sebuah negara. Definisi Ideologi Dilansir dari Kata Data pada Rabu (19/6/2024), berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, ideologi adalah sekumpulan konsep yang tersusun secara sistematis menjadi dasar pemikiran atau pandangan yang memberikan arah dan tujuan bagi kelangsungan hidup suatu golongan atau masyarakat. Istilah “ideologi” dalam bahasa Inggris, masih dari Kata Data, berasal dari kata idea yang artinya gagasan atau pemikiran. Sementara kata “logi” berasal dari bahasa Yunani, logos, yang berarti pengetahuan. Jadi, ideologi merujuk pada pengetahuan tentang gagasan-gagasan atau pengetahuan tentang ide-ide, bisa juga diartikan sebagai ilmu tentang ide-ide atau ajaran tentang pemahaman-pemahaman dasar. Pada awalnya, istilah ideologi diperkenalkan oleh Destutt de Tracy, seorang intelektual asal Perancis, pada tahun 1796. Tracy mendefinisikan ideologi sebagai “ilmu tentang ide-ide”, sebuah program yang diharapkan dapat menghasilkan perubahan institusional dalam masyarakat Perancis. Menurut Gunawan Setiardjo, ideologi merupakan sekumpulan ide dasar tentang manusia dan seluruh realitas yang menjadi landasan dan aspirasi hidup. Sementara itu, Ramlan Surbakti menyatakan bahwa ideologi dapat dipahami dalam dua konsep yaitu ideologi secara fungsional dan struktural. Secara fungsional, ideologi merujuk pada serangkaian konsep tentang kebaikan bersama, masyarakat atau negara yang dianggap ideal. Definisi Jurnalis Dikutip dari Gramedia.co, jurnalis adalah seseorang yang bertugas dan bertanggung jawab untuk melakukan kegiatan jurnalistik, seperti menulis, menganalisis, dan melaporkan suatu peristiwa kepada publik melalui media massa secara teratur. Menurut KBBI, jurnalis merupakan seseorang yang bekerja untuk mengumpulkan informasi serta menulis berita di media massa cetak maupun media massa elektronik. Sementara itu, dikutip dari LSPR, jurnalis adalah istilah yang lebih umum dan mencakup semua individu yang bekerja dalam industri media untuk mengumpulkan, menyelidiki, dan menyampaikan informasi kepada masyarakat. Mereka bertanggung jawab untuk menyampaikan laporan yang faktual dan berimbang kepada pembaca atau penonton. Jurnalis dapat bekerja di berbagai platform media, seperti surat kabar, majalah, televisi, radio, dan media digital. Kesimpulan Dari definisi di atas, saya membatasi pemaknaan terkait “ideologi jurnalis” dalam artikel ini, yakni konsepsi-konsepsi dasar yang menjadi fondasi gerakan jurnalis dalam menjalankan peran dan fungsinya sebagai penghimpun, penulis, penyimpan, dan penyebar informasi. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers memberikan batasan yang cukup spesifik bagi jurnalis—atau istilah yang lebih khusus “wartawan”—dalam menjalankan perannya sebagai penghimpun, penulis, dan penyebar informasi, yang dapat mempengaruhi pandangan, sikap, dan kebijakan pemerintah berkenaan dengan kepentingan publik. Sebagai landasan ideologis dalam gerakannya, jurnalis sejatinya memiliki peran-peran strategis—sebagaimana diuraikan dalam Pasal 6 Undang-Undang Pers—seperti memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui; menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, dan hak asasi manusia, serta menghormati kebhinekaan; mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar; melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum; serta memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Dari uraian tersebut, seyogiyanya jurnalis bukan semata profesi yang bertugas menghimpun, menulis, menyimpan, dan menyebarkan berita, tetapi juga sebagai “penegak” nilai-nilai universal seperti keadilan dan kebenaran, yang tentu saja memuat konsekuensi yang lebih berat ketimbang sebagai penghimpun dan penulis berita yang diterbitkan di media massa. Atas dasar peran-peran strategis inilah para jurnalis yang bertugas di berbagai front meneguk cawan syahadah. Mereka yang berprofesi sebagai jurnalis yang mengambil sikap serta teguh dalam usaha-usaha menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan pada akhirnya harus rela mendapat tekanan, pembunuhan karakter, pengucilan, bahkan dalam banyak kasus dibunuh oleh kaki tangan rezim. Saya akan menutup artikel ini dengan mengutip kalimat singkat terkait keadilan yang begitu singkat namun kaya makna dari Imam Ali bin Abi Thalib as, “Keadilan adalah sesuatu yang paling luas untuk digambar, tetapi paling sempit untuk diamalkan.” (*Direktur Utama BA Indonesia)

Anak dan Kepentingan Politik

Oleh: Dr. Muhsin Labib* Sekadar menyayangi anak bukanlah sebuah prestasi bagi ibu dan ayah. Yang menjadi prestasi insani adalah mendidiknya dan memandunya kepada nilai-nilai luhut kemanusiaan sebagai koridor pandangan dan tindakan, sekaligus menjadi prestasi kehambaan bila mengarahkannya kepada prinsip ketuhanan dan keagamaan. Tanpa fungsi itu, hanya menyayangi anak tanpa parameter logika bisa melenceng dari koridor kepatutan dan kontra produktif bahkan merugikan diri sendiri serta anak yang disayanginya. Akibatnya, ayah dan ibu bisa memperlakukan anaknya sebagai tuhan dan dirinya sebagai hambanya. Anak pun tanpa bimbingan pemahaman rasional tentang agama bisa memperlakukan orang tuanya sebagai tuhan karena mematuhinya secara mutlak. Dalam situasi paradoksal demikian, ayah dan ibu bisa merusak anak, dan anak bisa merugikan secara moral dan spiritual orang tuanya. “Ketahuilah—wahai orang-orang mukmin—bahwa harta dan anak-anak kalian sejatinya merupakan cobaan dan ujian dari Allah untuk kalian. Karena harta dan anak-anak kalian dapat menghalangi-halangi kalian beramal untuk Akhirat dan mendorong kalian untuk berkhianat.” (QS. Al-Anfal : 28). Sebagian pria adalah pribadi baik sampai ketika anaknya menjadi tuhannya yang kedua. Inilah yang terjadi dalam arena politik belakangan ini ketika seorang pemimpin kehilangan semua sifat kenegarawanannya akibat tak mampu membedakan posisinya sebagai pemegang amanat rakyat dan posisinya sebagai ayah bagi anak-anaknya. Dalam psikologi sosial, konsep hubungan orang tua-anak memiliki dampak yang signifikan terhadap pembentukan kepribadian dan perilaku individu. Pemahaman ini juga dapat diterapkan dalam konteks hubungan antara seorang pemimpin dan rakyatnya. Ketika seorang pemimpin memperlakukan anak-anaknya sebagai “tuhannya yang kedua,” hal ini mencerminkan dinamika kekuasaan dan pengaruh yang bisa memengaruhi tindakan dan keputusan politiknya. Dalam hubungan yang sehat antara pemimpin dan rakyat, perlunya batasan yang jelas antara kewajiban sebagai pemimpin dan tanggung jawab sebagai ayah perlu dijaga untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan. Dalam psikologi politik, fenomena di mana seorang pemimpin kehilangan sifat kenegarawanannya karena tidak mampu membedakan peran sebagai pemimpin negara dan sebagai ayah bagi anak-anaknya mencerminkan ketidakseimbangan dalam pelaksanaan kekuasaan. Pemimpin yang memperlakukan anak-anaknya sebagai prioritas utama cenderung mengorbankan kepentingan publik demi keuntungan pribadi atau keluarga. Hal ini dapat merusak legitimasi dan otoritas pemimpin tersebut di mata masyarakat dan mengancam demokrasi yang seharusnya dijalankan dengan prinsip keadilan, transparansi, dan akuntabilitas. Dampak dari memanjakan anak-anak, baik dalam konteks keluarga maupun dalam konteks politik, memiliki implikasi yang signifikan. Anak yang dimanjakan cenderung kurang bertanggung jawab, bergantung pada orang lain, mudah menyerah, dan sulit berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam konteks kepemimpinan politik, perilaku yang memanjakan keluarga atau orang-orang terdekat bisa menyebabkan ketidakadilan, konflik kepentingan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Kesimpulannya, pemimpin dalam demokrasi harus mampu memisahkan peran pribadi dan publik dengan bijaksana untuk menjaga integritas kenegaraan dan keadilan bagi masyarakat. Mengabaikan perbedaan antara menjadi pemimpin negara dan ayah bagi anak-anak dapat mengarah pada konflik peran yang berpotensi merugikan bagi stabilitas politik dan keadilan sosial. Peran dan tanggung jawab sebagai pemimpin harus dilakukan dengan penuh kesadaran akan kepentingan kolektif masyarakat dan menghindari penyalahgunaan kekuasaan demi keuntungan pribadi. (*Cendekiawan Muslim)

Media Sosial dan Algoritma Kebencian

Oleh: Dr. Muhsin Labib* Bila diperhatikan, terlihat sebuah pola tetap di balik konten yang menayangkan perkelahian, pertengkaran, pengeroyokan, tawuran, penganiayaan juga sesumbar atau tantangan yang selalu dibarengi dengan caption dan narasi kebencian. Yang memprihatinkan, konten-konten demikian diminati dan punya sebaran luas. Sekali seseorang menontonnya lebih dari 1 menit, dia akan diingatkan oleh notifikasi dan tawaran dengan konten yang sama bahkan yang lebih keras. Kok bisa? Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan manusia mampu menghasilkan karya-karya yang semakin canggih dan kompleks. Meskipun komputer dapat melakukan perhitungan dengan cepat dibandingkan manusia pada umumnya, namun komputer tidak bisa menyelesaikan masalah begitu saja tanpa diajarkan oleh manusia melalui urutan langkah-langkah (algoritma) penyelesaian yang didefinisikan terlebih dahulu. Selain digunakan untuk pemecahan masalah menggunakan komputer, algoritma juga dapat diterapkan dalam menyelesaikan permasalahan sehari-hari yang membutuhkan sederet proses atau langkah-langkah prosedural. Secara antropologis dan sosiologis sesuai hukum dialektika, tindakan apa pun, termasuk pernyataan di ruang publik dari siapa pun, apalagi punya kekuasaan struktural atau kultural (baca: agama) atau yang punya pengaruh luas karena kaya, tenar atau lainnya pasti mengundang reaksi yang menegasinya. Seorang figur politik yang disegani karena keberaniannya melawam korupsi bisa tumbang seolah tak punya nilai apa pun bila keceplosan membuat sebuah pernyataan yang di-framing oleh satu orang sebagai pelecehan atau diskriminasi di ruang media sosial meski tak bermaksud melakukannya. Seorang artis yang dikagumi bisa jadi gawang hujatan masif karena salah satu video atau fotonya di-framing oleh seseorang sebagai perselingkuhan. Walaupun membantah dan menganggapnya sebagai fitnah, alogoritma tak punya empati untuk mengasihaninya lalu memulihkan posisinya. Framing demikian bisa menimbulkan pengaruh yang lebih kolosal dan engegement-nya lebih luas bila objeknya tidak personal tapi komunal apalagi dibumbui dengan jargon primordial. Dan kecenderungan umum ini menjadi lebih berbahaya dengan sistem algoritma media sosial yang perputaran informasinya hanya pada kelompok masing-masing. Kecenderungan sifat bawaan yang rawan ini, mudah disulut oleh informasi dari media sosial yang memperkukuh fanatisme kelompoknya dan sekaligus menstimulasi kebencian terhadap kelompok lain. Pada dasarnya, algoritma tidak memiliki preferensi moral atau etika. Ia hanya mencerminkan dan memperkuat pola perilaku kita sendiri yang terkadang bisa berujung pada hasil yang merusak. Dengan menggunakan data dari interaksi kita, algoritma ini memperkirakan apa yang ingin kita lihat berikutnya. Sering kali tanpa memperhitungkan dampak jangka panjang dari konten negatif yang terus-menerus kita konsumsi. Ada beberapa alasan mengapa konten kebencian dan kekerasan lebih banyak disukai dan tersebar luas di media sosial: Pertama, sensasi dan klikbait. Konten yang kontroversial dan provokatif cenderung menarik perhatian lebih banyak orang karena menimbulkan emosi yang kuat. Orang-orang cenderung lebih banyak berinteraksi dengan konten yang kontroversial atau menciptakan kekerasan karena ingin menyaksikan atau terlibat dalam situasi yang menegangkan. Kedua, algoritma media sosial. Algoritma dalam platform media sosial sering kali memberikan prioritas pada konten yang mendapat banyak interaksi, termasuk like, komentar, dan share. Hal ini membuat konten kebencian dan kekerasan menjadi lebih mudah tersebar luas karena mendapat lebih banyak eksposur. Ketiga, anonimitas. Media sosial memberikan kesempatan bagi pengguna untuk berinteraksi tanpa harus mengungkapkan identitas asli mereka. Hal ini membuat orang merasa lebih bebas untuk memberikan komentar atau meluapkan emosi negatif mereka tanpa takut mendapat konsekuensi yang nyata. Keempat, dampak psikologis. Konten kebencian dan kekerasan seringkali menghasilkan reaksi emosional yang kuat pada orang-orang yang melihatnya. Beberapa orang mungkin merasa terhibur atau merasa lebih kuat dengan menyaksikan konten tersebut, meskipun sebenarnya hal tersebut sangat merugikan bagi kesejahteraan mental dan emosional mereka. Kelima, kurangnya kontrol. Konten di media sosial dapat tersebar dengan cepat tanpa adanya filter atau kontrol yang ketat. Hal ini membuat konten kebencian dan kekerasan lebih mudah untuk menyebar dan sulit untuk dihentikan. Media sosial bagi sebagian orang adalah sarana komunikasi yang cepat dan mencari informasi yang mudah demi tujuan hidup yang lebih berkualitas, tapi bagi sebagian lain ia adalah ruang ekspresi tanpa batas norma apa pun demi menggantikan fakta diri yang mengutuk nasibnya di dunia real karena kurang beruntung secara sosial, intelektual dan lainnya, dan berusahan menciptakan citra artifisial yang menarik perhatian, eksplosif, sensasional (yang secara algoritma memperbanyak tautan sekaligus mendatangkan keuntungan finansial karena iklan-iklan yang menjeda) seraya mengabaikan efek negatifnya bagi orang lain. Ada tiga hal yang menjadikan entitas digital mempengaruhi proses panjang pikiran manusia, yaitu cyber ghetto, echo chamber, dan filter bubble. Ketiganya adalah konsep yang menjelaskan bagaimana realitas digital kita dibentuk. Cyber ghetto mengurung kita dalam wilayah digital yang homogen. Echo chamber memantulkan kembali pandangan dan opini kita tanpa tantangan. Dan, filter bubble menyaring informasi yang kontras dengan keyakinan kita, sehingga kita hanya diberi makanan pikiran yang sejalan dengan apa yang sudah kita percayai. Semakin kita terbenam dalam lingkungan ini, semakin kita jauh dari realitas yang sebenarnya beragam dan kompleks. Untuk membebaskan diri dari rantai kebencian ini, kita perlu mengambil langkah aktif. Edukasi digital dan literasi media menjadi kunci. Kita harus belajar untuk mengenali dan memahami bagaimana algoritma bekerja dan bagaimana ia mempengaruhi pemahaman kita tentang dunia. Kita harus berani keluar dari zona nyaman kita, mengeksplorasi pandangan yang berbeda, dan berdialog dengan pikiran terbuka. Aneka konten kebencian dan kekerasan tidak seharusnya dibiarkan tersebar di media sosial. Pengguna media sosial perlu lebih bijak dalam memilih konten yang mereka konsumsi dan memberikan respons yang tepat terhadap konten yang merugikan tersebut. Sebagai individu, kita juga memiliki tanggung jawab untuk melaporkan konten negatif dan mendukung promosi konten yang positif dan konstruktif. (*Cendekiawan Muslim)