BAINDONESIA.CO – Menurut laporan kantor berita Mehr yang mengutip Reuters, harga minyak pada perdagangan Jumat (20/2/2026) menguat seiring meningkatnya kekhawatiran tentang potensi konflik di Selat Hormuz; sebuah jalur yang membawa harga mendekati level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Harga minyak mentah Brent Laut Utara naik 30 sen, atau 0,40 persen, menjadi 71,96 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) naik 35 sen, atau 0,53 persen, dan diperdagangkan pada level 66,78 dolar AS per barel.
Setelah Presiden AS, Donald Trump, memperingatkan bahwa “hal-hal yang sangat buruk” akan terjadi jika tidak tercapai kesepakatan dengan Iran terkait program nuklirnya, harga minyak mencapai level tertinggi dalam sekitar enam bulan terakhir.
Di sisi lain, Iran beberapa hari setelah penutupan sementara Selat Hormuz dalam rangka latihan militer, menggelar latihan angkatan laut bersama dengan Rusia; langkah yang semakin meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai keamanan jalur strategis tersebut.
Iran sebagai salah satu produsen besar minyak berada di seberang Semenanjung Arab yang kaya minyak dan di sisi lain Selat Hormuz; jalur perairan yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global. Setiap ketegangan atau konflik di kawasan ini dapat mengganggu pasokan minyak ke pasar global dan memicu kenaikan harga.
Selain risiko geopolitik, laporan mengenai penurunan persediaan minyak mentah serta pembatasan ekspor di beberapa produsen dan eksportir minyak terbesar dunia juga turut menopang harga.
Berdasarkan laporan Administrasi Informasi Energi AS yang dirilis Kamis (19/2/2026), cadangan minyak mentah negara tersebut turun 9 juta barel, sementara tingkat pemanfaatan kilang dan volume ekspor meningkat.
Selain itu, data dari lembaga JODI menunjukkan bahwa ekspor minyak Arab Saudi—sebagai eksportir minyak terbesar dunia—pada bulan Desember turun menjadi 6,988 juta barel per hari, level terendah sejak September 2025.
Dalam perkembangan lain, tingkat inflasi tahunan konsumen Jepang pada Januari mencapai 2 persen, yang merupakan laju paling lambat dalam dua tahun terakhir; hal ini berpotensi mengurangi tekanan terhadap bank sentral Jepang untuk menaikkan suku bunga.
Suku bunga rendah di negara-negara pengimpor minyak besar, termasuk Jepang, biasanya dipandang sebagai faktor pendukung harga minyak mentah, karena dapat memperkuat pembiayaan dan permintaan energi. (*)
Sumber: Mehr News









