Apa Rencana Amerika untuk Georgia?

Meski para pejabat Georgia menekankan pentingnya kebijakan luar negeri yang independen, Amerika Serikat membutuhkan kehadiran di negara tersebut untuk melengkapi rencana perluasan pengaruhnya di Kaukasus Selatan. (Mehr News)

Oleh: Ehsan Movahedian*

Di samping menjalankan apa yang disebut sebagai “jalur Trump” di selatan Armenia serta mendukung penyelesaian koridor yang disebut “Zangezur” di wilayah Azerbaijan, Amerika Serikat (AS) kemungkinan akan melaksanakan rencana untuk melemahkan Rusia di Georgia pada masa mendatang.

Memperkuat hubungan dengan Georgia untuk menghadapi poros Rusia–Tiongkok sangat menguntungkan bagi AS. Walaupun pejabat Georgia menegaskan kebijakan luar negeri yang mandiri, Washington tetap membutuhkan kehadiran di negara itu untuk menyempurnakan proyek pengaruhnya di kawasan Kaukasus Selatan.

Ada kemungkinan Donald Trump akan berupaya menghidupkan kembali proyek pengembangan kompleks Pelabuhan Anaklia di Laut Hitam, sebagai bagian dari upaya menguasai jalur perdagangan dan ekonomi yang dianggap mengancam Iran, Tiongkok, dan Rusia—termasuk koridor Zangezur. Keberhasilan proyek ini akan memperkuat posisi Amerika di Georgia dan menciptakan keseimbangan terhadap pengaruh Rusia dan Tiongkok. Kehadiran dagang yang stabil, bahkan pengelolaan koridor darat dan laut utama yang menghubungkan Kaukasus dengan Asia Tengah dan Eropa, akan menjadi perubahan strategis besar di kawasan tersebut serta menantang Tiongkok, yang menghadapi hambatan untuk memperluas kehadiran militernya di laut akibat kerja sama negara-negara Asia Tenggara dengan AS.

Melalui campur tangan Trump dalam konflik antara Armenia dan Azerbaijan, Amerika berupaya menantang Rusia di “halaman belakang” tradisionalnya. Sebuah delegasi Amerika baru-baru ini mengunjungi Armenia untuk memulai proyek yang disebut jalur Trump (TRIPP), yang telah disepakati Washington, Baku, dan Yerevan pada pertengahan musim panas. Delegasi tersebut mengumumkan investasi awal sebesar 145 juta dolar untuk memulai pembangunan jalan itu.

Langkah ini memberi dimensi operasional pada kehadiran Washington di Kaukasus. Meski membutuhkan investasi jauh lebih besar, kebutuhan Amerika akan akses stabil terhadap sumber energi dan mineral penting di Kaukasus dan Asia Tengah—serta mengurangi ketergantungan pada Tiongkok—menjadikan proyek tersebut sebagai kebutuhan strategis bagi pemerintahan Trump.

Selain itu, pemerintahan Trump memperkuat hubungan dengan Kazakhstan dan Uzbekistan, serta berupaya memperkuat elemen-elemen pro-Amerika di kedua negara tersebut guna mempersiapkan suksesi kepemimpinan dari generasi lama yang tumbuh dalam era Soviet.

Peran Kunci Pelabuhan Anaklia di Georgia

Peningkatan kehadiran Amerika di Anaklia akan berdampak internasional, melampaui politik domestik Georgia. Setelah keberhasilan relatif NATO dan Ukraina dalam mengurangi kehadiran armada Rusia di Laut Hitam, Rusia menarik sebagian armadanya dari Sevastopol di Krimea dan membangun pusat angkatan laut strategis di Ochamchira, Abkhazia, guna mempertahankan pengaruhnya di Georgia. Di saat yang sama, Tiongkok melakukan investasi besar di pelabuhan-pelabuhan Laut Hitam untuk memperluas pengaruh ekonomi-politiknya. Kedua proses ini bertujuan membatasi pengaruh Barat di Georgia dan sekitarnya.

Kehadiran Amerika di Anaklia akan menantang ambisi Rusia dan Tiongkok serta menghambat ekspansi ekonomi mereka di Kaukasus dan Asia Tengah. Karena pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Tengah bergantung pada akses perdagangan aman menuju Eropa, kehadiran AS di Anaklia—ditambah implementasi jalur TRIPP—akan meningkatkan ketergantungan ekonomi-politik Asia Tengah pada Barat dan membentuk sabuk darat baru yang melengkapi sabuk maritim dalam menghadapi Rusia dan Tiongkok.

Beberapa tahun lalu, Georgia membatalkan kontrak konsorsium Barat untuk pembangunan pelabuhan Anaklia dan menyerahkannya kepada perusahaan besar Tiongkok. Namun hingga kini belum ada pelabuhan besar baru yang selesai dibangun. Barat menuduh Tiongkok melakukan praktik korupsi yang menyebabkan keterlambatan proyek, sementara pihak Tiongkok menyatakan bahwa pengembalian investasi harus jelas, pemerintah tuan rumah memberi jaminan kuat, serta risiko sanksi dan ketegangan geopolitik harus dibatasi.

Dalam situasi yang ambigu ini, Amerika mungkin akan berupaya merebut kembali kontrak pengembangan Pelabuhan Anaklia. Meski membutuhkan tim negosiasi kuat dan berbagai tekanan keamanan, ekonomi, serta opini publik, langkah ini penting bagi Barat—terutama sekutu Eropa Timur. Saat ini, Koridor Tengah dianggap sebagai jalur paling realistis untuk menghubungkan Tiongkok, Asia Tengah, dan Kaukasus dengan Eropa. Namun Amerika juga mendorong jalur TRIPP untuk mengendalikan perdagangan darat di kawasan tersebut, dengan opsi koneksi melalui Anaklia.

Sikap Negara-Negara Asia Tengah

Negara-negara Asia Tengah, yang ingin memanfaatkan Laut Kaspia untuk perdagangan lebih luas dengan Eropa, akan sangat diuntungkan dari jalur laut yang aman ke Barat. Kekuatan yang mengendalikan jalur ini pada dasarnya akan memegang kendali atas denyut ekonomi Asia Tengah. Uzbekistan, sebagai negara yang terkurung daratan ganda, mengusulkan perjanjian global untuk menjamin transit dan pembentukan forum logistik internasional bagi negara-negara tanpa akses laut. Negara ini juga bernegosiasi dengan tetangga untuk membeli kapal dan mengembangkan pelayaran di Laut Kaspia.

Pembukaan jalur aman dari pelabuhan Laut Kaspia menuju Laut Hitam dan selanjutnya ke Eropa akan menjadi pendorong besar bagi ekonomi Uzbekistan dan negara-negara tetangganya. Pelabuhan yang berfungsi optimal di Anaklia juga akan memperkuat ekonomi Georgia, Armenia, dan Azerbaijan. Mengaitkan proyek-proyek ini dengan jalur TRIPP akan mempercepat integrasi ekonomi Asia Tengah dengan Kaukasus.

Namun, memberikan tawaran dari Amerika yang tidak bisa ditolak Georgia bukanlah hal mudah. Laut Hitam kini menjadi kawasan konflik, dan Partai Georgian Dream memperoleh dukungan publik untuk kebijakan luar negeri yang lebih independen, terutama setelah janji keanggotaan Uni Eropa yang belum terwujud. Meski demikian, kegagalan bertindak akan meningkatkan biaya strategis Washington dan sekutunya dalam menghadapi Rusia dan Tiongkok di Kaukasus dan Asia Tengah.

Jika Anaklia—sebagai lengan maritim konektivitas antar-benua melalui Kaukasus—jatuh ke tangan rival Amerika, mereka dapat memanfaatkannya untuk melemahkan jalur TRIPP dan menghambat pendekatan negara-negara Kaukasus serta Asia Tengah ke Washington dan Eropa.

Persaingan antara Rusia, Tiongkok, dan Amerika bersifat global dan tidak terbatas pada Taiwan atau Ukraina. Moskow dan Beijing bersaing dengan Washington secara luas, termasuk di Asia Tengah dan Kaukasus. Karena itu, Amerika dan sekutunya akan terdorong untuk memperluas kerja sama menghadapi Rusia dan Tiongkok setiap kali muncul peluang strategis, meskipun disertai risiko ekonomi dan politik. (*Pengamat politik internasional)

Baca Juga: