Boneka Amerika untuk Menjalankan Proyek-Proyek Regional

Donald Trump dan Benjamin Netanyahu. (CNBC)

Oleh: Muhammad Mahdi Rahimi*

Pada peringatan Operasi Banjir Al-Aqsa, 7 Oktober 2024, Abu Ubaida, juru bicara Brigade Qassam, menyampaikan poin menarik dalam pesan videonya kepada masyarakat dunia:

“Setelah musuh mencapai tahap akhir dalam merencanakan serangan besar terhadap Perlawanan di Gaza, kami melancarkan pukulan pendahuluan terhadap mereka.”

Penilaian kelompok Perlawanan di Gaza ini sangat sejalan dengan rencana komprehensif Amerika Serikat untuk kawasan Asia Barat. Sebuah rencana yang dijelaskan oleh Imam Khamenei dalam pidatonya pada 4 Oktober 2024 sebagai berikut:

“Ketekunan AS dan sekutunya dalam menjamin keamanan rezim perampas hanyalah kedok untuk kebijakan mematikan mereka—yakni mengubah rezim [Zionis] menjadi alat untuk menguasai seluruh sumber daya kawasan ini dan menggunakannya dalam konflik-konflik besar dunia. Kebijakan mereka adalah menjadikan rezim [Zionis] sebagai gerbang ekspor energi dari kawasan ke dunia Barat, sekaligus memfasilitasi impor barang dan teknologi dari Barat ke kawasan ini. Pendekatan ini menjamin kelangsungan hidup rezim perampas dan meningkatkan ketergantungan seluruh kawasan padanya.”

Demi mencapai tujuan ini, dalam dua tahun terakhir, Amerika telah menyajikan “menu terbuka” berupa segala hal yang bisa mendukung mesin pembunuh rezim Zionis, sambil dengan penuh semangat menyaksikan pembantaian terhadap warga sipil dan militer di kawasan—dari Gaza hingga Teheran.

Pemboman tanpa pandang bulu terhadap Gaza dimulai sehari setelah 7 Oktober. Intensitas serangannya begitu tinggi, hingga Kepala Staf Militer Zionis, yang kemudian mengundurkan diri, menyatakan bahwa “dalam 48 jam pertama perang, kami membom 1.500 target,” sementara Netanyahu mengeluh, “Kenapa kita tidak membom 5.000 target?”

Jelas, target-target itu bukan hanya sasaran militer, dan memang tidak diniatkan demikian. Kurang dari 72 jam sejak perang dimulai, sekitar 600 warga Palestina syahid dan lebih dari 1.000 lainnya terluka, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak. Skala penghancuran ini melampaui kapasitas industri militer Zionis sendiri, dan justru sesuai dengan tujuan Amerika di kawasan: pengusiran rakyat Palestina dari Gaza dan pergeseran keseimbangan kekuasaan kawasan ke arah Israel—melalui kampanye genosida dan pembersihan etnis.

Front terbaru yang dibuka Amerika dan Israel adalah Iran. Pada pagi hari tanggal 13 Juni 2025, rezim Zionis menargetkan sejumlah gedung di Iran dengan tujuan membunuh komandan militer dan ilmuwan nuklir. Sebagian besar bangunan tersebut terletak di kawasan padat penduduk. Dalam satu kasus, demi membunuh seorang ilmuwan nuklir di timur laut Teheran, rezim membunuh lebih dari 60 orang, termasuk anak-anak, di dalam kompleks perumahan.

Pada malam terakhir sebelum gencatan senjata, rezim menargetkan rumah keluarga syahid Sayyid Mohammad Reza Sedighi Saber, seorang ilmuwan nuklir, di Iran utara. Ia, istrinya, ketiga anak mereka, dan total sepuluh anggota keluarga tewas. Dalam wacana media Barat, semua ini dibenarkan sebagai “kerusakan sampingan,” padahal dalam banyak kasus serangan langsung menyasar warga sipil.

Contohnya adalah pemboman di Lapangan Quds, Teheran utara, di mana demi menghancurkan pipa air utama, rezim membom jalan yang sedang dipenuhi mobil-mobil menunggu lampu merah.

Meski kejahatan ini terus terjadi, selama perang 12 hari antara Iran dan Israel, serangan roket terhadap target vital di wilayah pendudukan terus berlangsung setiap hari. Di Gaza, operasi kelompok Perlawanan terhadap tentara Israel pun tak pernah berhenti hingga kini. Kegagalan rencana regional Amerika dan Israel menjadi jelas.

Namun, bom tidak hanya jatuh di Gaza dan Teheran. Front Perlawanan adalah penghalang utama proyek regional Amerika. Setelah Gaza dan sebelum Iran, Hizbullah di Lebanon menjadi target kedua bom Amerika. Setelah Hizbullah membagi fokus militer Israel dengan membantu rakyat tertindas Gaza, banyak bom Amerika diarahkan ke Lebanon. Selama hampir setahun bentrokan terkendali dan 66 hari perang penuh, banyak desa di selatan Lebanon hancur total. Dalam dua upaya pembunuhan terhadap Sekjen Hizbullah, syahid Nasrallah dan syahid Safieddine, lebih dari 150 ton bom Amerika dijatuhkan ke Beirut. Lebih dari 3.000 orang terbunuh, dan kerusakan besar terjadi di Beirut, Baalbek, Tyre, dan kota-kota pendukung Perlawanan lainnya. Dengan dalih palsu menargetkan gudang senjata, rezim Zionis justru membom bank, pusat komunitas, rumah warga, dan lahan pertanian.

Target bom Amerika berikutnya yang dijatuhkan dari jet Israel adalah Yaman. Fasilitas sipil seperti penyimpanan minyak, pembangkit listrik, pelabuhan, dan bandara dibombardir demi melemahkan tekad rakyat Yaman dalam membela Gaza. Namun, satu tanda kegagalan terbesar Zionis di Yaman adalah bahwa, selain saat gencatan senjata di Gaza, serangan Yaman terhadap rezim pendudukan tidak pernah berhenti.

Bom dan peluru bukan satu-satunya senjata yang diberikan Amerika kepada rezim Zionis. Dalam serangan terhadap Iran, puluhan pesawat pengisi bahan bakar Amerika setiap hari mengawal jet tempur rezim untuk mengebom Iran. Sejak awal perang Gaza, kapal induk Amerika dikerahkan ke kawasan untuk menjaga perbatasan rezim. Mereka bahkan langsung terlibat dalam perang di Yaman untuk melawan ancaman Ansarullah terhadap Israel.

Amerika juga mempersiapkan landasan politik bagi perang rezim Zionis: dengan mengacaukan negosiasi nuklir, mengesahkan resolusi IAEA, dan terus menyebarkan propaganda soal program nuklir Iran, AS membuka jalan politik bagi serangan ke Iran. Empat veto terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB adalah lampu hijau paling terang bagi Israel untuk melanjutkan genosida di Gaza. Di Lebanon, Amerika mendukung kelompok anti-Perlawanan dan menghalangi solidaritas nasional, serta membenarkan agresi Israel sebagai “pembelaan diri.”

Bentuk bantuan lain adalah dukungan intelijen. Satelit dan radar Amerika aktif membantu Israel sepanjang perang dengan Iran. Sejak awal perang, layanan kecerdasan buatan besar seperti Google Project Nimbus digunakan untuk mengumpulkan informasi dan membangun database target Israel.

Di Gaza, AI ini membunuh begitu banyak warga sipil dan anak-anak hingga akhirnya menargetkan satu komandan Hamas. Di Lebanon, skala spionase terhadap perangkat elektronik warga sangat tinggi—hingga CCTV toko kecil pun jadi alat pembunuhan Israel.

Transformasi teknologi menjadi senjata ini memicu protes dari karyawan perusahaan seperti Google dan mahasiswa di kampus-kampus Amerika, yang kemudian dipecat dan dikeluarkan dari kampus.

Akhirnya, Amerika berusaha menutupi kejahatan rezim proxy-nya dalam dua tahun terakhir perang kawasan. Seperti dijelaskan dalam catatan The loosen grip, upaya media Barat—khususnya Amerika—justru menjadi kegagalan terbesar mereka, meski proses dehumanisasi terhadap rakyat kawasan, kelompok Perlawanan, dan para pemimpinnya tetap dijalankan oleh media Amerika.

Seluruh kejahatan dua tahun terakhir ini harus dilihat sebagai bagian dari puzzle besar rencana Amerika di kawasan. Amerika Serikat, sebagai hegemoni yang tengah runtuh, butuh mengonsolidasikan kendalinya atas Asia Barat. Untuk itu, ia melemparkan bonekanya—rezim Zionis—ke atas rakyat kawasan.

Dunia kini telah menyaksikan bahwa hak asasi manusia dan hukum internasional tak berarti apa-apa bagi mereka. Saat bertentangan dengan tujuan, mereka akan menjatuhkan bom bahkan ke Mahkamah Internasional di Den Haag dan kantor PBB. Amerika dan Israel membunuh dari Gaza hingga Teheran tanpa rasa bersalah untuk menciptakan apa yang mereka sebut sebagai “Timur Tengah Baru.”

Bangsa Perlawanan telah mengerahkan seluruh sumber dayanya untuk menggagalkan mimpi Amerika. Rakyat Iran bersatu di belakang angkatan bersenjata mereka selama perang 12 hari, memperkuat persatuan internal dan melawan infiltrasi sebagai bentuk jihad berkelanjutan. Bangsa perlawanan di Gaza bertahan dalam kehilangan, kelaparan, pengungsian, namun tetap setia pada perjuangan. Di Lebanon, rakyat menganggap diri mereka tentara garis depan. Di Yaman, pawai jutaan orang tiap pekan jadi simbol solidaritas mereka untuk Gaza.

Dengan dukungan bangsa ini, front Perlawanan di Iran, Gaza, Lebanon, Yaman, dan Irak telah mampu melawan Amerika dan Israel selama dua tahun.

Seperti kata Imam Khamenei: “Mereka berhasil menerobos pertahanan berlapis dan canggih musuh serta meratakan banyak wilayah urban dan militer mereka di bawah tekanan serangan rudal dan senjata canggih.” (*Jurnalis dan Peneliti)

Sumber: Khamenei.ir