Kenaikan Emas dan Perak ke Level Tertinggi Tiga Pekan Terakhir

Harga emas dan perak mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. (Mehr News)

BAINDONESIA.CO – Peningkatan ketegangan perdagangan dan geopolitik mendorong harga emas ke 5.165 dolar dan perak ke 87 dolar, yang merupakan level harga tertinggi dalam tiga pekan terakhir.

Menurut laporan koresponden Mehr, pasar logam mulia pada hari ini, Senin (23/2/2026), mencatat kenaikan antara 1 hingga 6 persen.

Harga emas naik lebih dari satu persen menjadi sekitar 5.165 dolar per ons, sementara perak melonjak 6 persen dan menembus level 87 dolar per ons.

Kenaikan ini—yang menjadi hari keempat berturut-turut penguatan bagi perak—terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran perdagangan dan geopolitik, yang pada gilirannya mendorong permintaan terhadap aset safe haven (aset lindung nilai).

Gelombang baru kekhawatiran terkait perang dagang global telah mengarahkan investor ke pasar emas dan perak. Ketegangan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada hari Sabtu (21/2/2026) mengumumkan rencananya untuk menaikkan tarif global dari 10 persen menjadi 15 persen.

Keputusan tersebut diambil setelah Mahkamah Agung AS menolak rencana “tarif timbal balik” yang diajukannya. Trump menegaskan bahwa tarif baru ini akan segera diberlakukan, meskipun belum jelas apakah ia telah menandatangani dokumen resmi terkait kebijakan tersebut.

Sebagai respons, ketegangan dalam hubungan transatlantik juga meningkat. Para pejabat perdagangan Eropa pada hari Minggu (22/2/2026) menyatakan bahwa mereka berniat menghentikan proses persetujuan kesepakatan dagang dengan AS. Sementara itu, India juga menunda negosiasi untuk merampungkan perjanjian dagang sementara dengan Washington.

Namun, Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menyatakan bahwa pengaturan perdagangan yang ada dengan mitra-mitra utama seperti China, Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan tetap berlaku.

Faktor lain yang meningkatkan daya tarik logam mulia sebagai aset aman adalah meningkatnya kekhawatiran akan kemungkinan serangan militer AS terhadap Iran.

Perundingan nuklir antara Iran dan Amerika mengalami kebuntuan akibat garis merah masing-masing pihak, sehingga memicu kekhawatiran akan krisis baru di kawasan Asia Barat.

Meski demikian, para diplomat dijadwalkan kembali bertemu pada hari Kamis (26/2026) mendatang di Jenewa, yang dapat memengaruhi pergerakan harga. (*)

Sumber: Mehr News