Menuai Untung dengan Menanam Timun

Lahan pertanian timun milik Setyo Nugroho di Jalan Kelapa, RT 4, Desa Rapak Lambur, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. (BA Indonesia/Ilham)

BAINDONESIA.CO – Setyo Nugroho (46), seorang petani di Jalan Kelapa, RT 4, Desa Rapak lambur, Kecamatan Tenggarong, mengaku telah menanam semua jenis tanaman sayur-sayuran.

“Kalau menurut saya, tanaman sayur itu enggak ada yang istilahnya tanaman utama atau selingan. Saya sudah mengatur pergantian agar habis tanam ini, tanam itu lagi,” ucapnya, Selasa (20/2/2024).

Menurut dia, perawatan tanaman yang paling ringan adalah timun. Serupa dengan jenis tanaman merambat seperti kacang panjang, buncis, dan pare.

Tanaman sayuran tersebut paling mudah dirawat dibandingkan tanaman cabai dan tomat.

Setelah menanam cabai ataupun tomat, ia kerap melanjutkannya dengan menanam timun.

“Jenis timun yang saya tanam itu timun zatavi cap panah merah,” ungkapnya.

Untuk lahan seperempat hektare, ia bisa menghabiskan 5 bungkus benih, yang dibelinya dengan harga Rp 70 ribu per bungkus. Dalam satu kali masa tanam, Nugroho bisa memanen 18 kali.

“Kemarin itu saya pertama kali petik. Paling umur timunnya sekitar 35 hari itu sudah masuk masa panen. Jarak panen timun selang 1 hari aja. Misalnya kemarin metik, hari ini enggak, berarti besok metik,” terangnya.

“Kalau perawatan dan kesuburan sedang-sedang aja. Ngejar 15 kali panen bisa aja itu. Tanaman timun itu sekitar 70 hari, dan 80 hari itu kalau normal tanamannya. Umur segitu menurut saya sudah enggak produktif lagi. Sudah batasan usianya segitu,” paparnya.

Dalam satu kali panen, dia mengaku bisa mendapat timun sebanyak 400 hingga 500 kilogram.

Ia pernah memanen 18 ton timun dalam satu kali masa tanam di atas lahan seluas setengah hektare.

Nugroho beruntung karena memanen timun saat harganya relatif tinggi dibandingkan masa tanam sebelumnya.

“Kalau harga sekarang bagus. Sedang. Karena sudah kisaran Rp 4 ribu di kebun. Kalau harga pengepul (pengecer) sampai pedagang itu 6 ribuan,” jelasnya.

Harga timun di bawah Rp 2 ribu per kilogram di tingkat petani, sambung dia, akan menimbulkan kerugian bagi petani timun.

Kata Nugroho, harga timun yang rendah karena produksi di tingkat petani tergolong masif sehingga tak terserap oleh pasar.

“Kita produksi terus, pemasarannya lambat, jadi pengepul tidak berani ngambil banyak-banyak,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, tanaman timun memiliki hama yang sama seperti jenis sayuran buah, seperti hama kutu-kutuan, ulat, lalat buah, dan jamur.

Namun, tanaman timun lebih tahan dan cepat memasuki masa panen, sehingga serangan hama tidak terlalu terpengaruh terhadap tanaman tersebut.

Ia berharap pemerintah bisa memperbaiki jalan usaha tani agar saat memasuki masa produksi, para petani bisa dengan mudah mengeluarkan hasil panen mereka.

Dia juga berharap pemerintah daerah menyediakan bahan bakar bersubsidi untuk menunjang pertanian.

Menurutnya, pemerintah pernah mewujudkan program khusus bahan bakar bersubsidi untuk petani dan nelayan. Program seperti itu dinilainya sangat membantu para petani.

“Harapannya bisa dihidupkan lagi atau diadakan lagi program yang serupa agar petani tidak terlalu kesulitan mendapat bahan bakar penunjang pertanian,” harapnya.

“Kebutuhan solar saya dalam satu bulan bisa mencapai 100 liter untuk penyiraman tanaman,” bebernya.

Ia juga meminta pemerintah daerah menjalankan program di bidang pertanian yang dapat menyasar para petani yang mempunyai kapasitas serta benar-benar berprofesi sebagai petani. “Harus benar-benar selektif,” tutupnya. (ia/um)

Berita
Lainnya