BAINDONESIA.CO – Pakar hubungan internasional Teuku Rezasyah menyatakan bahwa Indonesia saat ini memainkan peran strategis sebagai qualified middle power atau kekuatan kelas menengah yang berkualitas dalam tatanan global. Peran tersebut dijalankan dengan prinsip bebas aktif yang selama ini menjadi tradisi diplomasi Indonesia.
“Kita sudah terbiasa menjalin sinergi melalui konsultasi dan konsensus tanpa memusuhi siapa pun. Ini ciri khas dari diplomasi Indonesia,” ujar Teuku dalam wawancara khusus di Metro TV sebagaimana dikutip media ini pada Senin (7/7/2025).
Namun, dia memperingatkan bahwa tatanan global saat ini tengah berada di ambang ketidakstabilan serius akibat kebijakan sepihak mantan Presiden AS Donald Trump, yang kembali aktif di panggung politik global. “Apa yang dilakukan Donald Trump saat ini benar-benar luar biasa dan membahayakan,” tegasnya.
Dia merujuk pada pernyataan pakar ekonomi Amerika Serikat, Jeffrey Sachs, yang menyebut bahwa Trump is wrecking the world economy. Teuku menyebut kebijakan-kebijakan Trump telah “mempordak-porandakan” stabilitas ekonomi global serta merusak struktur kerja sama multilateral seperti BRICS.
BRICS yang awalnya terdiri dari lima negara utama—Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan—telah mengalami ekspansi besar dalam dua tahun terakhir. Tahun lalu, organisasi ini menambahkan enam anggota baru: Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Tahun ini, anggota baru kembali bergabung yakni Belarus, Nigeria, Thailand, dan Vietnam.
Namun menurut Teuku, harapan besar terhadap BRICS justru berada di bawah tekanan. “Tindakan Trump kini juga menyasar BRICS. Ini bukan hanya tekanan terhadap Indonesia, tapi terhadap seluruh dunia,” jelasnya.
Tahun ini BRICS mengangkat tema besar Strengthening Global South Cooperation for a More Inclusive and Sustainable Governance. Tujuannya adalah memperkuat kerja sama demi tata kelola global yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.
“Tapi harapan itu bisa runtuh karena tekanan unilateral dari Amerika Serikat,” ujar Teuku.
Dia mengungkapkan bahwa Trump bahkan memberikan ultimatum kepada negara-negara yang belum melakukan konsultasi dengan pemerintah AS. “Konon, mereka diberi tenggat waktu hingga Rabu malam,” katanya.
Trump juga disebut-sebut akan memperkenalkan kebijakan tarif sosial yang mulai diberlakukan pada tahun ini.
“Langkah ini jelas akan menekan ekspor negara-negara berkembang dan memaksa negara-negara Global South tunduk dalam relasi yang tidak setara,” paparnya.
Indonesia, lanjutnya, sangat mungkin terkena dampak langsung dari kebijakan ini. “Kita harus sadar bahwa ekonomi Amerika Serikat adalah yang terbesar di dunia saat ini. Tekanan ini bisa berdampak pada ekspor kita, pada pencapaian target ekonomi nasional, bahkan terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi kita secara keseluruhan,” tegasnya.
Namun ia meyakini bahwa Indonesia tetap memiliki peluang untuk memainkan peran penting dalam meredam eskalasi global. “Sebagai qualified middle power, Indonesia harus memperkuat solidaritas dengan sesama anggota BRICS, menjaga prinsip bebas aktif, dan tetap mendorong tata kelola global yang adil dan setara,” pungkasnya. (*)
Penulis & Editor: Ufqil Mubin







