BAINDONESIA.CO – Menteri Luar Negeri Iran, Sayyid Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menjadi korban berita palsu.
Araghchi menegaskan Iran sepenuhnya siap menghadapi dua kemungkinan, yakni perang maupun perdamaian, serta mengetahui cara membela diri.
Hal itu disampaikannya dalam wawancara dengan India Today menanggapi pidato terbaru Trump yang memperingatkan Iran.
“Tentu saja kami siap. Kami sepenuhnya siap untuk kedua opsi: perang dan perdamaian,” tegasnya.
Ia mengaku akan bertolak ke Jenewa untuk menggelar putaran ketiga perundingan dengan tim AS. Pada putaran sebelumnya telah dicapai sejumlah kemajuan dan kesepahaman awal yang menurutnya dapat menjadi dasar untuk membangun sebuah kesepakatan.
Araghchi menyatakan bahwa tercapainya kesepakatan yang adil dan seimbang adalah hal yang mungkin. Meski demikian, angkatan bersenjata Iran tetap siap menjalankan tugasnya.
“Kami tahu bagaimana membela diri, seperti yang telah kami lakukan sebelumnya. Dari perang terakhir, kami belajar banyak dan kini lebih siap,” ujarnya.
Menurutnya, kesiapan tersebut justru bertujuan mencegah perang. “Jika Anda siap berperang, Anda bisa mencegahnya. Jika tidak, Anda justru mengundangnya ke rumah sendiri,” katanya, seraya menegaskan dirinya adalah seorang diplomat dan meyakini jalur diplomasi sebagai solusi terbaik.
Dia juga menekankan bahwa tidak ada opsi militer untuk program nuklir damai Iran. Jika ada kekhawatiran atau pertanyaan, Iran siap menjawab dan mengklarifikasinya, namun tidak akan melepaskan haknya untuk memanfaatkan teknologi nuklir secara damai.
Negara-negara Kawasan Menolak Perang
Menanggapi pertanyaan tentang pangkalan militer AS di Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, Araghchi menyatakan bahwa negara-negara kawasan secara tegas menolak perang dan tidak ingin wilayah mereka digunakan untuk menyerang Iran.
Dia mengatakan, jika AS menyerang Iran, maka pangkalan militernya di kawasan akan menjadi target sah.
Namun, ia menegaskan bahwa Iran memandang pangkalan tersebut sebagai milik Amerika, bukan sebagai wilayah negara sahabat.
Araghchi juga membantah klaim bahwa Iran mengembangkan rudal yang dapat menjangkau AS.
Menurutnya, Iran secara sengaja membatasi jangkauan rudalnya hingga 2.000 kilometer dan seluruhnya bersifat defensif untuk tujuan penangkalan.
Tuduhan terhadap Israel
Araghchi menyebut hanya ada satu entitas di kawasan yang menginginkan perang, yaitu Israel. Dia menilai Israel berupaya menyeret AS ke dalam konflik dengan Iran, namun upaya tersebut akan merugikan kepentingan rakyat Amerika sendiri.
Ia juga mengkritik keras tindakan Israel di Gaza, dengan menyebut puluhan ribu warga Palestina telah tewas dan menyebutnya sebagai genosida.
Hubungan dengan India, Rusia, dan China
Terkait hubungan dengan India, Araghchi menyebut India sebagai sahabat lama Iran dengan hubungan historis yang kuat.
Dia berharap hubungan bilateral antara Iran dan India tetap berlanjut di berbagai bidang.
Ia juga menyatakan bahwa Rusia dan China adalah mitra strategis Iran. Namun, dalam hal pertahanan, Iran menegaskan mampu membela diri tanpa bergantung pada negara lain.
Soal Keamanan Dalam Negeri dan Suksesi Kepemimpinan
Menanggapi pertanyaan tentang kerentanan keamanan setelah sejumlah pejabat tinggi tewas dalam serangan, Araghchi mengakui adanya kelemahan di masa lalu, namun menegaskan bahwa Iran telah belajar dan segera mengganti para pejabat yang gugur.
Terkait isu suksesi kepemimpinan, dia mengatakan bahwa mekanisme tersebut telah diatur dalam konstitusi dan dijalankan oleh Assembly of Experts, sebagaimana yang terjadi setelah wafatnya Ruhollah Khomeini.
Bantahan soal Eksekusi
Araghchi juga membantah laporan media internasional mengenai eksekusi terhadap para demonstran.
Dia menyatakan hingga saat ini tidak ada eksekusi yang dilakukan, dan proses hukum masih berlangsung di pengadilan.
Ia menambahkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei secara rutin tampil di televisi dan dalam acara publik, serta berada dalam kondisi sehat.
Di akhir wawancara, Araghchi kembali menegaskan bahwa Iran siap mempertahankan diri sendiri dalam kondisi apa pun, sembari tetap membuka pintu bagi solusi diplomatik yang adil dan seimbang. (*)
Sumber: Mehr News









