Kata 20 Media Internasional Terkemuka tentang Perundingan Iran dan AS di Jenewa

Kajian terhadap media internasional menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka tidak sepenuhnya optimistis maupun sepenuhnya pesimistis. Benang merah laporan-laporan tersebut adalah penekanan pada rapuhnya perundingan Jenewa dan sulitnya mencapai kesepakatan. (Mehr News)

BAINDONESIA.CO – Putaran ketiga perundingan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat mengenai isu nuklir, dengan mediasi Oman, telah dimulai di Jenewa. Media dari seluruh dunia memandang peristiwa ini dari sudut yang berbeda-beda. Tinjauan terhadap laporan media internasional terkemuka menunjukkan adanya semacam kebingungan dan perbedaan pandangan mengenai hasil akhir perundingan.

Media Barat, dari Realisme Hati-Hati hingga Peringatan soal Kegagalan

Reuters menggambarkan perundingan secara dua sisi. Media Inggris ini menulis bahwa Iran memasuki dialog dengan keseriusan dan fleksibilitas, dan mungkin bersedia memberikan konsesi untuk mencegah serangan militer AS. Namun, Reuters juga menyoroti pengerahan militer terbesar AS di Timur Tengah sejak invasi ke Irak, serta upaya Washington menekan Teheran. Mengutip Marco Rubio, Reuters menyebut penolakan Iran untuk membahas program rudal balistik sebagai masalah besar yang harus diselesaikan.

The Guardian mengambil pendekatan analitis dan realistis. Media ini menilai perundingan dalam kerangka keseimbangan antara tekanan militer dan pembukaan diplomatik. The Guardian menilai peran aktif Oman dan partisipasi Rafael Grossi sebagai pengamat teknis meningkatkan kredibilitas perundingan.

Usulan AS untuk membatasi pengayaan uranium di bawah lima persen disebut sebagai tawaran yang relatif lebih fleksibel dibanding posisi maksimalis Washington sebelumnya. Namun, ketiadaan jaminan segera pencabutan sanksi dianggap sebagai kelemahan utama proposal tersebut.

BBC News Arabic menyajikan gambaran berlapis dan seimbang. Di satu sisi, media ini menyoroti nada optimistis Presiden Iran; di sisi lain, ia menekankan sanksi baru AS dan ancaman militer.

BBC membangun narasinya pada simultanitas diplomasi dan tekanan. Saat Teheran berbicara tentang kesiapan mencapai kesepakatan adil, Washington justru menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari 30 individu dan entitas terkait sektor minyak dan pertahanan Iran. BBC juga membahas ancaman militer timbal balik dan potensi dampak regional konflik.

The New York Times mengambil sikap lebih berhati-hati. Media ini menyebut perundingan sebagai penentu arah menuju perang atau kesepakatan. Iran disebut berupaya menawarkan langkah seperti penangguhan sementara pengayaan dan penurunan tingkatnya hingga 1,5 persen untuk tujuan medis.

Namun, tantangan tetap ada: Iran tidak bersedia membahas program rudal dan dukungan terhadap kelompok regional. Media ini juga melaporkan bahwa jika perundingan gagal, Presiden AS mempertimbangkan berbagai opsi militer.

CNN menekankan keseimbangan antara diplomasi dan kesiapan militer. Mengutip Abbas Araghchi, CNN menulis Iran tidak akan mengejar senjata nuklir, namun jika konflik dimulai, pangkalan AS di kawasan dapat menjadi target sah. CNN menyebut momen ini sebagai titik penentu.

Associated Press bersikap lebih netral. Media ini menekankan bahwa Iran ingin fokus perundingan hanya pada isu nuklir dan pencabutan sanksi. AP mengutip penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran bahwa jika fokusnya pada non-proliferasi, kesepakatan cepat mungkin tercapai.

Le Monde menilai perundingan bertujuan mencegah eskalasi dan mencapai kesepakatan, sembari menyoroti tekanan internal dan eksternal terhadap Iran. Media ini menggambarkan suasana yang kontradiktif: di satu sisi Iran menekankan hak pengayaan damai, di sisi lain AS ingin memasukkan program rudal ke dalam dialog.

Monte Carlo International menyebut perundingan sebagai titik balik dalam penyelesaian sengketa nuklir Iran. Media ini menyoroti kemungkinan kerja sama ekonomi Iran-AS sebagai tanda pendekatan positif Teheran untuk mencegah konflik.

Analisis dari Princeton University, melalui profesor Daniel Kurtzer, mengkritik kebijakan AS dan menyatakan tidak ada bukti jelas tentang rekonstruksi program nuklir Iran. Menurutnya, tekanan lebih ditujukan untuk memperoleh konsesi dalam negosiasi, dan tidak ada kesepakatan ideal yang sepenuhnya menghentikan pengayaan Iran.

Media Arab dan Regional, antara Peluang Diplomatik dan Ancaman Eksistensial

Al Jazeera English menyoroti simultanitas diplomasi dan ancaman militer, serta peran mediasi Oman. Media ini menggambarkan perundingan sebagai peluang, namun tetap dibayangi risiko perang.

Al Jazeera melaporkan bahwa Oman telah menyampaikan proposal Iran kepada pihak AS dan negosiasi berlangsung konstruktif.

Al Arabiya menampilkan pendekatan ganda: judulnya bernada positif tentang peluang diplomatik, namun isi laporannya menekankan tekanan maksimum Washington.

An-Nahar menggambarkan perundingan sebagai hari penentu antara damai dan perang.

Sada El-Balad menyebut dialog ini sebagai “kesempatan terakhir”, menilai situasi berada pada titik krisis.

Anadolu Agency menyoroti peran aktif Muscat dan tuntutan maksimal AS, termasuk penghentian total pengayaan dan pengalihan stok uranium ke luar negeri.

Media Israel: Konsensus Pesimistis

i24NEWS menekankan kekhawatiran atas program nuklir Iran dan menyebut kurangnya kemajuan akan berdampak pada isu rudal.

The Times of Israel menilai hasil perundingan akan sangat memengaruhi keputusan Presiden AS terkait opsi militer atau diplomatik.

Media Lain

RT menggambarkan perundingan sebagai tahap penentu yang dapat membawa dialog ke arah teknis dan substantif.

The Indian Express memandang proses perundingan secara konstruktif dan menekankan fokus Iran pada isu nuklir serta pencabutan sanksi.

Kesimpulan

Tinjauan ini menunjukkan media dunia menyajikan gambaran yang beragam dan kadang kontradiktif tentang perundingan Jenewa. Media Barat menekankan harapan yang berhati-hati serta simultanitas diplomasi dan tekanan. Media Prancis menyoroti fleksibilitas Iran dan tekanan AS. Media Arab berada di antara peluang diplomatik dan ancaman eksistensial. Media Israel secara terbuka pesimistis.

Secara umum, sebagian besar media—dengan sedikit pengecualian—tidak sepenuhnya optimistis maupun sepenuhnya pesimistis. Kesamaan utama dalam laporan-laporan tersebut adalah penekanan pada rapuhnya perundingan, sulitnya mencapai kesepakatan, dan kuatnya opsi militer di balik layar diplomasi.

Perundingan Jenewa memang menjadi peluang untuk meredakan ketegangan, tetapi jalan ke depan tetap berliku dan sangat bergantung pada kemauan kedua pihak untuk mengatasi ketidakpercayaan yang telah terakumulasi selama bertahun-tahun. Iran menyatakan memiliki kemauan tersebut, sementara masih harus dilihat apakah pihak Amerika juga sungguh-sungguh menginginkan kesepakatan atau justru tuntutan berlebihan akan kembali menghambat tercapainya kompromi. (*)

Sumber: Mehr News