BAINDONESIA.CO – Dalam sebuah pernyataan publik yang terdengar lebih menyerupai respons panik ketimbang strategi diplomatik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan agar perang antara Israel dan Iran segera dihentikan.
Seruan itu disampaikan melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, usai menerima telepon dari Presiden Rusia, Vladimir Putin, seperti dilansir Tasnimnews pada 15 Juni.
“Dia, seperti saya, percaya bahwa perang antara Israel dan Iran harus diakhiri,” tulis Trump, merujuk pada percakapannya dengan Putin, yang tampaknya kini telah beralih peran menjadi penasihat moral dadakan bagi kebijakan luar negeri AS.
Pernyataan ini muncul hanya beberapa jam setelah serangan balasan Iran terhadap wilayah Israel, yang menewaskan tiga orang dan melukai lebih dari 200 lainnya. Waktu yang menarik untuk mendadak berganti haluan, mengingat sebelumnya Trump secara terbuka menyatakan dukungan penuh terhadap agresi militer Israel sejak awal konflik.
Trump mengklaim bahwa Putin menghubunginya “dengan cara yang sangat ramah” untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Namun, dalam gaya khasnya yang mencampurkan basa-basi personal dengan isu global, pembicaraan tersebut segera bergeser ke topik Iran. “Negara yang sangat dikenalnya,” tambah Trump, tanpa menjelaskan apakah yang dimaksud adalah kedekatan historis, jaringan intelijen, atau sekadar nostalgia era Perang Dingin.
Menurut Trump, sebagian besar percakapan mereka berfokus pada situasi di Iran, sementara isu Rusia-Ukraina hanya dibahas sekilas dan “akan dilanjutkan minggu depan” karena, tentu saja, satu perang dalam satu waktu sudah cukup untuk dibahas dalam satu jam percakapan.
Topik pertukaran tahanan antara Rusia dan Ukraina juga disebut sebagai bagian dari agenda diskusi. Trump menyampaikan bahwa Putin tengah mengatur proses tersebut agar “sejumlah besar tahanan” dapat segera dibebaskan. Durasi percakapan dilaporkan berlangsung sekitar satu jam, cukup lama untuk menyentuh tiga konflik, dua benua, dan satu ulang tahun.
Menutup pernyataannya, Trump kembali menegaskan bahwa perang antara Israel dan Iran “harus diakhiri”. Sebuah pernyataan yang terdengar seperti pencerahan moral, atau mungkin sekadar upaya memperbaiki citra setelah jumlah korban sipil meningkat dan grafik elektabilitas menunjukkan stagnasi.
Seruan Trump, refleksi mendalam, atau sekadar manuver komunikasi? Dunia masih menebak-nebak.
Bagaimana tidak? Karena beberapa waktu sebelumnya, Trump justru terang-terangan mendukung aksi Israel menyerang dan “membantai” Iran, sambil menebar semacam ancaman eksplisit bahwa “Iran hanya akan tinggal nama” apabila tidak segera tunduk mengikuti kemauan Amerika dan sekutu terdekatnya.
“Mereka semua MATI sekarang, dan itu hanya akan bertambah buruk! Telah terjadi kematian dan kehancuran besar, tetapi masih ada waktu untuk mengakhiri pembantaian ini, dengan serangan berikutnya yang sudah direncanakan bahkan lebih brutal. Iran harus membuat kesepakatan, sebelum tidak ada yang tersisa, dan menyelamatkan apa yang dulu dikenal sebagai Kekaisaran Iran. Tidak ada lagi kematian, tidak ada lagi kehancuran, LAKUKAN SAJA, SEBELUM TERLAMBAT. Tuhan memberkati kalian semua!” tulis Trump di akun medsos pribadinya, tak lama setelah serangan udara Israel ke Teheran diklaim berhasil “mengeliminasi” sejumlah petinggi Militer Iran.
Pertanyaannya: mengapa setelah serangan balasan Iran tengah berlangsung masif dan membuat Israel kelimpungan, Trump tiba-tiba ngotot mengakhiri perang? (*)
Sumber: Poros Perlawanan









