312 Warga Kukar Terjangkit Penyakit Demam Berdarah

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Kukar Supriyadi. (BA Indonesia/J-Steel)

BAINDONESIA.CO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) melaporkan lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada awal tahun 2024.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Kukar Supriyadi mencatat sebanyak 312 warga Kukar telah terjangkit penyakit menular tersebut.

Kukar pun ditetapkan sebagai daerah endemis DBD. “Dihitung dari Januari sampai saat ini, tertinggi ada di Kecamatan Sebulu II 88 kasus, Sebulu II 38 kasus, Muara Kaman 37 kasus, berikutnya di Kota Bangun Darat 37 (kasus),” paparnya, Rabu (31/1/2024).

Dinkes Kukar telah mengerahkan tim medis untuk melakukan pemeriksaan dan penyuluhan di berbagai kecamatan se-Kukar.

Selain itu, dinas tersebut berupaya memperkuat pengendalian faktor penyebab DBD guna meminimalkan risiko penularan DBD.

Warga diimbaunya untuk meningkatkan kebersihan lingkungan agar tempat-tempat yang dapat menjadi sarang nyamuk aedes aegypti, faktor penyebab DBD, bisa diberantas.

Ia meminta seluruh camat, lurah, kepala desa, dan RT di Kukar untuk memberantas sarang nyamuk secara rutin.

“Kalau tidak bisa secara gotong royong, minimal di lingkungan masing-masing. Segala media-media tempat berkembangnya nyamuk itu harus diminimalisir,” imbuhnya.

Supriyadi juga mengimbau masyarakat agar segera mencari bantuan medis apabila mengalami gejala demam tinggi atau tanda-tanda lain yang terkait dengan DBD.

“Memang demam berdarah ini mudah penanganan ketika memang sudah tahu dari awal, tapi kalau sudah terlambat, itulah yang menjadi masalah sehingga bisa mengakibatkan kematian,” jelasnya.

Dia juga mengimbau tim medis di Kukar melakukan tes DBD terlebih dahulu saat menerima para pasien yang diduga terjangkit penyakit tersebut.

Selain itu, ia mendorong warga yang menghancurkan media-media yang digunakan nyamuk untuk berkembang biak.

“Untuk masyarakat lakukan pemberantasan sarang nyamuk dan segera berobat ke fasilitas kesehatan,” sarannya.

Fogging, sambung Supriyadi, bukan satu-satunya cara untuk menanggulangi penyebaran penyakit demam berdarah.

Fogging itu menjadi cara terakhir sesuai dengan pengamatan kita. Yang paling efektif ialah memberantas medianya,” pungkas dia. (jt/fb)

Berita
Lainnya