Hak Asasi Manusia dan Ali

Ilustrasi. (Istimewa)

BAINDONESIA.CO – “Demi Allah! Aku benar-benar mengenal kebenaran sebelum segala fakta dihadapkan kepadaku.”

Kita menghadapi masalah yang teramat sulit. Kata-kata kita hanya dapat dimengerti oleh orang yang berhati lurus dan oleh orang-orang yang berpandangan jauh ke depan.

Ali merumuskan peraturan yang begitu kokoh dan menyajikan pandangan yang sangat mantap untuk hak asasi manusia dan kesejahteraan manusia, sehingga akar-akarnya menembus ke dalam bumi dan cabang-cabangnya menjulur ke langit.

Semua ilmu pengetahuan yang sudah lazim pada zaman ini menguatkan gagasan dan prinsip ini, sekalipun ilmu pengetahuan modern mempunyai banyak nama dan ditampilkan dalam berbagai bentuk, namun objeknya hanya ada satu, yaitu umat manusia harus dilindungi dari penindasan, dan harus dibentuk masyarakat yang akan melindungi hak asasi manusia dengan cara yang lebih baik.

Suatu masyarakat yang harus menghormati martabat manusia dan kemerdekaan bersuara serta bertindak, dan jaminan keamanan sampai batas tertentu sehingga tak seorang pun manusia dirugikan.

Kondisi dan keadaan waktu mempunyai efek yang besar pada dunia ilmu pengetahuan sosial. Kondisi dan keadaan seperti inilah yang memperlihatkan ilmu pengetahuan sosial dalam satu bentuk pada saat yang sama, dan pada waktu yang lain memperlihatkan bentuk yang berbeda.

Ketika mempelajari sejarah dan mendapatkan beberapa peristiwa, kita akan tahu bahwa ada satu konflik di antara dua kelompok umat manusia, dan di antara dua pandangan dan ide yang berbeda. Satu kelompok berlaku lalim dan merampas hak-hak rakyat jelata, serta menghilangkan kebebasannya. Sedangkan kelompok lain mengamalkan keadilan, demokrasi, perlindungan hak-hak asasi manusia dan kemerdekaannya.

Sejak dulu semua gerakan yang berarti dimulai oleh kaum mustad’afin dan reformer (pembaharu) selalu bangkit di antara mereka. Mereka berhasil menghentikan penindasan dan ketidakadilan dan mendirikan pemerintahan yang berdasarkan persamaan dan keadilan yang sesuai dengan akal, kondisi dan keadaan masyarakat.

Ali menduduki posisi yang sangat tinggi dalam sejarah hak asasi manusia. Pandangannya ditautkan dengan pemikiran Islam, titik sentral pandangan beliau adalah pedang si penghunus leher para tiran.

Seluruh perhatiannya diarahkan pada penyelenggaraan keadilan dan kejujuran. Pemikiran, sikap, pemerintahan dan kebijaksanaan beliau didedikasikan secara penuh untuk mencapai maksud ini. Bila mana seorang penindas mengganggu hak manusia atau memperlakukan si lemah dengan cara yang hina atau menyepelekan kesejahteraannya dan memberikan beban pada pundaknya, maka Ali akan mengajaknya bertempur.

Pendidikan mental Imam berlangsung melalui pemikiran ini: Kejujuran dan keadilan harus ditegakkan sedemikian rupa hingga terwujud, dan pada akhirnya satu golongan tidak akan menduduki supremasi dari golongan yang lain dan setiap manusia harus menerima apa yang menjadi haknya saja.

Serun Imam tersebut tetap dan akan terus bergema, dan tongkat kebesarannya selalu aktif untuk mencapai tujuan ini. Beliau mengangkat martabat manusia dan selalu siap melindunginya. Pemerintahannya merupakan contoh pemerintahan yang terbaik selama periode tersebut. Pemerintahannya merupakan pemerintah yang adil dan pelindung hak asasi manusia. Ia menggunakan cara yang tepat untuk mencapai tujuannya.

Imam menyadari benar bahwa masyarakat zaman itu didasarkan pada kecurangan dan penipuan dan aktivitas yang jahat. Oleh karena itu, maka harus dilakukan perbaikan. Beliau juga sangat mengetahui cara memperbaiki masyarakat tersebut dan waktu yang dibutuhkan untuk merealisasikannya. Walaupun beliau memikirkan kesejahteraan manusia di segala bidang, hal yang paling ia perhatikan adalah reformasi. Tak satu pun yang dapat menghalangi usaha sepupu Nabi ini. Ali amat bernafsu menegakkan keadilan dan meremukkan kebohongan, dan tak seorang pun dapat menyainginya.

Ali menilai sesuatu yang benar dan mengerjakan tugasnya dengan berani menurut perhitungannya sendiri. Suami Fatimah ini tidak pernah merasa ragu pada urusan kesejahteraan rakyat. Bila pejabat dan gubernurnya menindas rakyat, maka Ali tidak akan bersekongkol dengan mereka dan tidak pula tinggal diam.

Ali tidak pernah berpangku tangan bila ada sekelompok orang memberontak pada pemerintah yang benar. Kadang-kadang beliau merealisasikan cita-cita yang bertentangan dengan keinginan sahabat-sahabatnya, apalagi bagi musuh-musuhnya, namun ia tidak memedulikannya.

Dengan tindakannya di atas maka hak setiap orang untuk hidup secara damai dapat dicapai, dan manusia tidak akan terbagi dua lagi, yang satu senang gembira dan yang lainnya berduka cita.

Ali benar-benar mengerti bahwa akan sangat berbahaya bila membagi manusia menjadi dua golongan dan melebihkan yang satu daripada yang lain. Hal ini akan menghambat intelektualitas, menciptakan kebencian, melibatkan ketidakadilan dan penindasan dalam pembuatan keputusan dan transaksi, dan seluruh bentuk kejahatan serta korupsi akan muncul.

Akibatnya hasrat untuk hidup akan mati, manusia akan selalu pesimis dan berlaku buruk satu sama lain. Konsekuensi lainnya masyarakat akan hancur lebur. Selama dua kelompok ini ada, maka perselisihan di antara mereka tak akan terhindar dan akan memakan banyak korban.

Pada akhir masa kekhalifahan Usman, para pejabat negara dan khususnya anggota keluarga Bani Umayyah (yang merupakan keluarga khalifah Usman) menyeret Usman pada praktik pemerintahan yang bertentangan dengan peraturan dan akidah Islam.

Mereka menganggap rendah manusia, memperlakukannya sebagai budak dan menakut-nakuti rakyat sehingga rakyat tidak berani mengadukan kesusahannya. Mereka mempermainkan kehidupan dan harta masyarakat. Mereka tak segan-segan menumpahkan darah demi kepentingan pribadi dan tak seorang pun yang mampu membalas tindakan mereka. Mereka tidak takut melakukan suap dan merampas harta orang lain.

Kondisi dan keadaan serta aktivitas mereka yang berkelanjutan akhirnya membuka kedok mereka sendiri. Mereka benar-benar berniat melumuri tangan mereka dengan darah rakyat, menginjak-injak hak-hak rakyat dan mengubah kekhalifahan menjadi kerajaan, demokrasi Islam menjadi despotisme (kekuasaan absolut/kelaliman) dan kediktatoran individu.

Bila ketamakan mereka dibandingkan dengan keadilan Ali, maka akan tampak bahwa mereka adalah para penjudi. Pihak Ali bertekad menjalankan kejujuran dan keadilan dengan seluruh kemampuannya, sementara pihak Usman berkehendak memegang kendali pemerintahan oleh mereka sendiri dan mengumpulkan kekayaan serta harta benda sebanyak mungkin.

Dilihat dari dua kondisi yang mencolok ini, maka tampak jelas bahwa mereka mempunyai perilaku penjudi yang menunggu kesempatan untuk berevolusi dan akhirnya memenuhi seluruh kebutuhan mereka serta memuaskan nafsu dan keinginan jahatnya.

Tak syak lagi bahwa tanggung jawab yang dipikul Ali bin Abi Thalib begitu berat dan sukar. Berbagai latar belakang dan keadaan yang berbelit-belit menyulitkan beliau dalam menyelesaikan masalah. Kondisi pada saat itu kacau balau, genting dan menakutkan. Tanggung jawab sepupu Nabi ini begitu besar dan berat.

Oleh karenanya, hidup mati agama dan kekhalifahan bergantung pada beliau. Karena anak Abu Thalib ini mampu menyelesaikan masalah dan kesulitan yang dihadapinya maka dunia pun akhirnya mengenal beliau. Dunia mengakui kebijaksanaan beliau, ia adalah milik rakyat, ia sangat bersungguh-sungguh dalam mencapai kebaikan individu dan masyarakat, ia mencapai semua ini dengan sabar dan tekun.

Kesulitan Ali benar-benar mirip dengan kesukaran Nabi, ketika ia memberitahu kaum Quraish tentang misi kenabiannya, mereka menentangnya. Pada satu sisi terdapat kebenaran dan keadilan. Di sisi lain terdapat pengkhianatan serta kesombongan. Nabi ingin menjalankan kebenaran, keadilan dan kejujuran, sementara orang-orang Quraish mempraktikkan pengkhianatan dan kesombongan.

Ali menghadapi tingkat kesukaran yang sama dengan Nabi. Namun, kesukaran seberat apa pun tidak akan menyimpangkan beliau dari misinya. Bila Allah Yang Maha Kuasa memberikan kesabaran dan kekuatan Ali pada seseorang maka orang tersebut akan dapat menyelesaikan masalah dan kesulitannya dengan mudah. Penderitaan yang paling berat bagi suami Fatimah ini adalah ketika dia harus berdiam diri, tidak melaksanakan kejujuran dan keadilan, ketika ia harus meredam semangat kebebasan dan tidak menebarkan benih-benih kebaikan.

Nabi meniupkan suara ke telinga Abu Sufyan, Abu Lahab, Ummu Jamil, dan Hindu si pemakan hati, serta para pedagang Quraish, hembusan suara ini membuat istana impian mereka rusak, bangunannya hancur lebur dan atapnya ambruk. Namun, bagi kaum Muslimin dan para tertindas, suara Nabi merupakan kabar gembira dan pesan kebahagiaan.

Muhammad berkata pada pamannya Abu Thalib, “Wahai pamanku tercinta! Walaupun mereka meletakkan Matahari di tangan kananku dan Bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan seruan Islam, aku tidak akan melakukannya, aku akan terus menyebarkannya sampai Allah memenangkan agama ini atau sampai aku menghembuskan nafas yang terakhir.”

Suatu hari sesepuh Quraish berkata kepada Muhammad, “Bila tujuan penyebaran agama baru ini untuk mengumpulkan kekayaan maka kami akan memberikanmu bertumpuk-tumpuk kekayaan, sehingga kamu akan menjadi orang terkaya di antara kami. Bila tujuanmu untuk menempati kedudukan yang tinggi, maka kami siap menjadi anak buahmu. Bila kamu ingin menjadi raja maka kami siap mengangkatmu.”

Nabi menjawab, “Tujuanku menyeru manusia kepada Islam bukanlah untuk mengumpulkan kekayaan, menempati kedudukan dan menjadi raja kalian semua. Aku menyebarkan dakwah ini sebab Allah telah mengutusku padamu sebagai Nabi, Dia (Allah) telah menurunkan kitab suci padaku, Allah menyuruhku memperingatkan kalian akan siksaan-Nya dan menyampaikan kabar gembira yang serupa surga. Aku telah menyampaikan wahyu Allah pada kalian. Bila kalian menerimanya maka kalian akan beruntung di dunia dan di akhirat, dan bila kalian menolak maka aku akan tetap bersabar sampai Allah memberikan keputusan-Nya mengenai aku dan kamu.”

Lalu bagaimana dengan Ali? Bagaimana sikap beliau terhadap anak Abu Sufyan dan Hindun—si pemakan hati, terhadap para pedagang (yang membeli dan menjual kedudukan serta jabatan), terhadap orang-orang yang secara membabi-buta mengorbankan nyawa mereka demi kepentingan orang lain, dan terhadap orang yang menjual agama dan keyakinan mereka kepada tangan-tangan pendusta?

Ali pun meniupkan satu suara ke telinga mereka, suara ini meruntuhkan istana mimpi mereka, merobohkan bangunan dan atapnya. Suara ini menjadi berita gembira dan pesan kebahagiaan bagi orang yang saleh dan berbudi.

Ayah Hasan ini berkata, “Kaum yang kuat di antara kalian sebenarnya lemah, dan kaum lemah di antara kalian sebenarnya kaum yang kuat. Selama bintang-bintang terus mengitari langit, saya tidak akan menentang keadilan. Demi Allah, aku akan menegakkan keadilan selama penindas dan mustad’afin masih tampak di pelupuk mataku. Aku akan menekan batang hidung para penindas walaupun ia sangat tidak menyukainya. Saya bersumpah demi Allah bahwa saya sudah mengenal kebenaran sebelum saya menemui faktanya. Saya tidak peduli apakah saya berjalan menuju kuburan atau kuburan yang mendatangiku.”

Pada suatu hari beberapa orang berkata kepada Ali, “Kami adalah orang-orang terhormat di masyarakat.” Beliau berkata kepada mereka, “Orang yang hina adalah orang yang baik di mataku sampai aku mengembalikan hak-haknya, dan orang terhormat adalah lemah di mataku, sampai aku mendapatkan hak orang lemah darinya.” (Sumber: Buku Suara Keadilan, Sosok Agung Ali bin Abi Thalib karya George Jordac)

Berita
Lainnya