Keuntungan Tanam Gambas di Tenggarong

Petani gambas di Jalan Suka Maju, RT 12, Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong. (BA Indonesia/Ilham)

BAINDONESIA.CO – Pertanian hortikultura mencakup pertanian sayuran yang berbuah, salah satunya gambas.

Meskipun gambas hanya dijadikan sebagai tanaman selingan para petani untuk menunggu musim tanam utama, tetapi tanaman ini juga bisa menjadi varietas yang menguntungkan bagi sebagian petani.

Setiawan (61), petani hortikultura di Jalan Sukamaju, RT 12, Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong memiliki pengalaman sejak tahun 2013 sebagai petani sayuran yang berbuah.

Tanaman yang kerap ditanamnya meliputi tomat, cabai, terong, kacang panjang, buncis, gambas, dan pare.

“Jenis gambas yang selalu saya tanam itu jenis anggun tavi. Keunggulannya dia panjang, tampilannya mulus, dan lebih besar dari yang lain,” ucapnya, Senin (9/2/2024).

Dia menggunakan metode pertanian semi modern. Saat pembajakan dan bedengan, ia sudah memakai traktor. Sementara penyiraman dan panen masih manual.

“Jumlah bedengan tanaman yang saya tanami gambas itu ada 62 bedengan,” terangnya.

Sebenarnya, lanjut Setiawan, gambas hanya tanaman selingan, bukan tanaman khusus dan utama.

Gambas merupakan tanaman yang ditanam untuk mengisi kekosongan tanah sebelum ditanami tanaman utama seperti tomat dan cabai.

Tanaman gambas juga memiliki masa pertumbuhan yang terbilang cepat: 40 hari sudah berbunga dan usia 60 hari telah masuk masa panen.

“Tanaman gambas itu mudah bagi kami untuk perawatannya. Yang penting pupuk, racun, dan fungisidanya itu tidak seberapa diperlukan. Hamanya hanya ulat sama serangga,” bebernya.

Ia mengungkapkan bahwa tanaman gambasnya telah berumur 3 bulan. Saat ini, Setiawan telah memanennya 8 kali. Dalam sekali panen, dia bisa mendapatkan gambas 120 kilogram.

“Tanaman gambas bisa bertahan paling sebentar 4 bulan di kondisi perawatan yang kurang maksimal. Kalau perawatan maksimal, tanaman gambas bisa bertahan 7-8 bulan,” terangnya.

Setiawan mempunyai pelanggan tersendiri yang membeli gambas yang dipanennya. Gambasnya dijual Rp 5 ribu per kilogram. Di tingkat pengepul, harganya Rp 7 ribu hingga Rp 8 ribu per kilogram.

“Kalau harga gambas Rp 5 ribu sampai Rp 6 ribu sekarang masih dikatakan untung bagi kami, karena gambas ini perawatannya mudah dan panennya juga cepat. Kalau di harga Rp 2 ribu sampai Rp 3 ribu baru kami merugi,” ujarnya.

Dia pernah mendapatkan hasil panen gambas 150 kilogram dalam sekali panen dengan jeda waktu panen sehari.

“Selang sehari kita sudah panen lagi. Kalau telat juga sudah besar-besaran banget gambasnya. Sudah enggak bisa dijual lagi. Sama kayak timun, buncis, kacang panjang, tapi beda dengan pare. Dia bisa tahan 4 hari. Lambat panen enggak apa-apa,” jelasnya.

Pemanenan gambas juga tak memakan waktu lama. Dalam beberapa jam, dia bersama istrinya bisa memanen 200 kilogram.

“Enggak lama kayak tanaman cabai, buncis, dan lain-lain. Dia lebih cepat karena besar,” pungkasnya. (ia/um)

Berita
Lainnya