Mega Oktaviany Uraikan Ragam Tantangan Pengembangan Ekonomi Syariah di Indonesia

Ekonom asal Indonesia, Mega Oktaviany. (Istimewa)

BAINDONESIA.CO – Ekonom asal Indonesia Mega Oktaviany menguraikan sejumlah tantangan pengembangan ekonomi syariah Indonesia.

Salah satu sebabnya, negara-negara lain tengah meningkatkan ekonomi syariah yang lebih agresif dibandingkan Indonesia.

Selain itu, Indonesia dinilainya tergolong lamban serta kurang agresif dalam mengembangkan wisata halal. Padahal, potensinya tergolong besar.

“Padahal kita memiliki potensi yang sangat besar menjadi pemain dunia,” katanya baru-baru ini.

Ia pun mencontohkan industri mode. Produk busana Muslim di Indonesia diakui sangat berkualitas di tingkat dunia karena didukung oleh kreativitas para perancangnya.

Mega menilai Indonesia sangat kompetitif dalam bersaing di kancah global. Namun, dia menyesalkan bahwa eksportir busana terbesar di dunia saat ini justru ditempati Tiongkok yang belum lama mengembangkan industri halal.

Selain kurang agresif, Indonesia dinilai Mega memiliki banyak kebijakan yang tak mendukung kemajuan industri halal.

“Sebagai contoh, Indonesia berambisi menjadi industri keuangan dunia, tetapi kini market perbankan syariah hanya di kisaran 7 persen,” jelasnya.

“Kebijakan yang digulirkan itu sangat riuh, tetapi tidak substantif. Jika demikian, tentu cita-cita Indonesia menjadi pusat keuangan syariah dunia seperti utopia,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah membenahi sektor industri halal dan keuangan syariah, termasuk pembenahan sektor pariwisata dan ekonomi digital berbasis syariah.

Untuk meningkatkan ekonomi syariah di Indonesia, dia menyarankan pemerintah mengambil beberapa langkah strategis, salah satunya pengembangan sumber daya manusia.

Mega mendorong pemerintah memperbaiki sistem pendidikan Indonesia, penguatan peran agama dalam kehidupan sosial masyarakat, serta peningkatan SDM melalui pendidikan dan pelatihan.

“(Selain itu), pembinaan dan pengembangan masyarakat, terutama pemuda,” sarannya.

Diketahui, pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia mulai memiliki pengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Hal ini dibuktikan dengan posisi ekonomi syariah yang mengalami peningkatan di posisi ketiga dalam State of Global Islamic Economic. Skor ekonomi syariah Indonesia mencapai 68,3 persen.

Mega menjelaskan, ekonomi syariah memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Itu jika dilihat dari aspek keuangan dan industri keuangan non bank yang syariah itu terus meningkat setiap tahun walaupun sedikit,” ungkapnya baru-baru ini.

Dia mengungkapkan, Indonesia merupakan negara yang memiliki penduduk Muslim terbanyak. Hal ini menciptakan peluang untuk meningkatkan ekonomi syariah.

Kondisi tersebut sejalan juga dengan visi Presiden Jokowi yang menginginkan Indonesia menjadi pusat ekonomi syariah pada tahun 2024.

Ia menyebut pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 2,4 triliun USD pada tahun 2024.

Dalam visi Indonesia Emas Tahun 2045, sambung dia, ekonomi syariah masuk dalam rencana pembangunan nasional.

“Dalam tingkat pemerintahan, gerakan ekonomi syariah telah di-support penuh untuk kebermanfaatan masyarakat, khususnya untuk ekonomi yang berkeadilan dan sejahtera,” bebernya. (nh/um)

Berita
Lainnya