Pengepul Disebut sebagai Penghubung antar Petani dan Pedagang

Aktivitas tengkulak sayur di Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong. (BA Indonesia/Ilham)

BAINDONESIA.CO – Tengkulak atau pengepul tidak bisa dipisahkan dalam dunia perdagangan. Karena itu pula pengepul masih menjadi pilihan alternatif bagi para pedagang di Kukar.

Iwan (37), pengepul asal Jalan Triyu Kelurahan Loa Ipuh Kecamatan Tenggarong, menguraikan hubungan antara tengkulak, petani, dan pedagang sayur.

Dia menjelaskan bahwa hubungan antara pengepul dengan pedagang sangat erat.

“Kita ini kan ibarat penghubung bagi petani dan pedagang di pasar. Daripada pedagang capek-capek ke sawah, kita yang bantu antarkan,” ucapnya, Senin (4/3/2024).

Ia menyebut tengkulak memiliki beberapa sebutan, salah satunya tengkulak tembak.

Dalam menjalankan usahanya, sebagian tengkulak terkadang membayar terlebih dahulu hasil panen para petani. Ada pula yang membayarnya belakangan.

Hal ini bergantung pada cara mereka membangun kesepakatan bisnis dengan petani.

Iwan menjelaskan, sebagian tengkulak bahkan memodali para petani dalam menjalakan usaha mereka di sektor pertanian.

“Hasil panennya nanti mereka yang ambil dan mendistribusikan,” jelasnya.

Kelompok tengkulak demikian sudah saling membangun kepercayaan dengan para petani, sehingga hasil pertanian bisa mereka bawa terlebih dahulu sebelum kemudian dibayar kepada petani.

Sedangkan tengkulak tembak, jelas dia, umumnya berasal dari daerah lain. “Misal mereka dari Samarinda. Permintaan pasar di sana sedang tinggi, mereka berani bayar lebih dibanding tengkulak yang ada di Kukar,” terangnya.

Ia menyebut tengkulak tak selalu menuai keuntungan dalam menjalankan usahanya. Iwan pun menghadapi pasang surut dalam usaha tersebut.

“Namanya bisnis pasti ada momen untung ruginya. Rugi itu kalau barang yang kita ambil jelek atau kalau sayur itu layu,” ungkapnya.

Sayur-sayuran yang kurang menarik dan bengkok terkadang menurun harganya saat dijual kepada para pedagang.

Sedangkan petani, menurut Iwan, tak menghadapi risiko tersebut.

“Petani cuman hitung berapa barangnya yang keluar dari sawah segitu yang kita bayar. Sedangkan kalau barangnya tersisa, kita yang tanggung,” ucapnya.

Penentuan harga beli di tingkat petani, sebut dia, tak dipatok dan ditentukan semata-mata berdasarkan keinginan tengkulak.

Ia juga tetap mendasarkan harga beli sayur-sayuran dari petani berdasarkan harga jual kepada pedagang.

“Bukan kami yang mainkan harga itu. Kami juga berdasarkan harga pasar,” jelasnya.

Berbagai hasil pertanian seperti terong, sawi, bayam, dan kacang panjang didistribusikannya kepada para pedagang di Pasar Mangkurawang, Pasar Tangga Arung, dan Pasar Loa Kulu.

Iwan mengambil sayur-sayuran tersebut dari sejumlah wilayah di Kukar. “Petani saya selain di sini (Kelurahan Bukit Biru), kalau ada panen di Bendang Raya juga saya ada petani sayur di sana,” pungkasnya. (ia/um)

Berita
Lainnya