Peternakan Cacing Tanah, Rekomendasi Usaha Rumahan yang Menjanjikan

Pusat pusat budi daya cacing milik Zikri di Jalan Triyu 2, Nomor 60, RT 42, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong. (BA Indonesia/Ilham)

BAINDONESIA.CO – Hewan pengurai satu ini kerap dianggap sebagian orang sebagai hewan yang menjijikkan, tetapi tidak bagi Aji Zikri Zulfian, salah satu peternak cacing tanah di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Zikri menjelaskan awal mula dia terjun ke bidang usaha peternakan cacing tanah 9 tahun lalu.

“Tiba-tiba diantarin bibit 3 kilo sama teman. Belum persiapan apa-apa. Katanya memang harus ditodong gitu orang itu baru siap. Kalau enggak gitu, orang enggak siap-siap,” ungkapnya, Kamis (7/2/2024).

Pada dasarnya ia memiliki hobi di bidang peternakan. Zukri pun tertarik beternak cacing karena tidak membutuhkan tempat yang luas, biaya yang banyak, dan bisa memanfaatkan makanan sisa di rumahnya untuk pakan.

“Kalau peternakan yang lain kan pasti harus menyediakan tempat yang luas, modal besar, dan juga siap-siap rumah kita menjadi bau,” ucapnya sambil tertawa.

Harga jual cacing tanah pada tahun 2015 mencapai Rp 175 ribu sampai Rp 200 ribu per kilogram. Permintaan juga banyak. Ia pun mengembangkan peternakan cacing tanah.

Harga jualnya yang cukup tinggi membuat orang-orang berlomba-lomba beternak cacing. Namun, setelah banyak bermunculan pembudidaya, harga cacing menurun. Banyak yang berhenti. Mereka tak kuat bertahan terseleksi secara alami.

Saat ini, Zukri mengungkapkan, cacing dijual Rp 90 ribu hingga Rp 100 ribu per kilogram. “Saya biasa menjual di Tenggarong dan sekitarnya, termasuk juga Samarinda menjadi pasar kita,” jelasnya.

Saat ini, dia memiliki 470 kotak budi daya cacing. Target penjualannya 400 kilogram cacing tanah per bulan. Dia menjualnya dengan harga Rp 90 ribu per kilogram.

“Sekitar Rp 37 juta saya bisa dapat. Pakan itu Rp 13 juta. Dengan saya bayar orang. Segitu saya keluarkan. Itu panennya per satu mingguan sekali dengan bobot 100 kilo. Jenis cacing yang saya gunakan sekarang ANC (African Night Crawler). Dia lebih besar. Perkembangan juga cepat ,” terangnya.

Ia menyebutkan bahwa semua orang bisa memulai budi daya cacing. Hanya dengan 1 kilogram bibit cacing, pembudidaya bisa memecahnya menjadi 3 tempat pemeliharaan berukuran panjang 1 meter dan lebar 40 meter. Ini tergolong skala usaha rumahan.

Usaha rumahan tersebut membuat Zikri dapat mempekerjakan satu orang pekerja. Usahanya juga telah berkembang pusat. Kini, dia mempunyai 470 kotak ternak cacing.

“Harapan saya ke depannya kampung ini, di depan sana (Jalan Triyu 2), ada tulisan ‘Selamat Datang di Kampung Cacing,’” harapnya.

Bagi Anda yang ingin berkonsultasi tentang budi daya cacing tanah bisa langsung mendatangi pusat budi daya cacing milik Zikri di Jalan Triyu 2, Nomor 60, RT 42, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong. (ia/um)

Berita
Lainnya