Seorang Pengusaha Tempe di Tenggarong Miliki Omzet Rp 3 Juta Per Hari

Rumah produksi Tempe Cak Dirin yang berlokasi di Jalan Gunung Pegat, Gang Beringin 1, RT 35, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. (BA Indonesia/Ilham)

BAINDONESIA.CO – Warga Tenggarong bernama Nadirin membangun rumah produksi tempe di Tenggarong yang diberinya nama Tempe Cak Dirin.

Dia memulai usaha produksi tempe tersebut pada tahun 2021. Lokasinya di Jalan Gunung Pegat, Gang Beringin 1, RT 35, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Ia menilai tempat tersebut tergolong cocok untuk memproduksi tempe. Tempat itu juga menjadi pusat produksi tempe yang dibangunnya sejak 3 tahun lalu.

“Awalnya saya ikut-ikut kakak saya yang memproduksi tempe juga di Mangkurawang,” ucapnya, Selasa (6/2/2024).

Semula, Nadirin menjalankan usahanya sendiri. Dia melakoni produksi hingga pemasaran tempe secara mandiri.

“Saya cuman sewa rumah dan sediakan alat sendiri. Untuk bahannya saya pakai sistem pakai dulu, baru bayar. (Setelah usaha ini) berjalan, saya mulai merekrut 2 orang sebagai karyawan,” jelasnya.

Saat ini, dia telah mempekerjakan 6 orang di rumah produksi Tempe Cak Dirin. Sebanyak 3 orang di antaranya ditugaskan di bagian produksi dan 3 orang lainnya di bidang pemasaran.

Dia memproduksi 2 jenis tempe di rumah usahanya: tempe putih yang dibungkus plastik dan tempe daun yang dibungkus menggunakan daun pisang.

“Untuk bahan pembuatan tempe cukup kedelai ditambah ragi saja. Kedelainya saya pesan di Samarinda,” bebernya.

Setiap kali produksi, Nadirin membutuhkan 50 karung kedelai, yang beratnya per karung 50 kilogram. Untuk mendapatkan bahan baku utama tempe tersebut, dia harus merogoh kocek Rp 630 ribu per karung.

“Dalam satu hari produksi kami bisa menghabiskan 2 karung kedelai,” jelasnya.

Dia menjual tempe dengan harga yang variatif: 3 bungkus Rp 10 ribu, 3 bungkus Rp 5 ribu, dan Rp 2 ribu per bungkus.

Nadirin mengakui permintaan tempe masih cukup tinggi karena rumah-rumah makan sederhana hingga restoran menyajikan makanan olahan dari tempe.

“Untuk pendapatan saya belum besar-besar banget. Kotornya dalam sehari Rp 3 juta. Itu juga digabung dengan kecambah,” ucapnya.

Selain tempe, ia memproduksi 2 jenis kecambah: rawon dan panjang. Dia memasarkannya kepada para pedagang di Pasar Mangkurawang dan Pasar Tangga Arung.

“Kalau mau beli, bisa juga langsung datang ke rumah produksi saya di Jalan Gunung Belah, Beringin 1, RT 35,” tutupnya. (ia/um)

Berita
Lainnya