BAINDONESIA.CO – Alquran adalah kitab kehidupan. Kedekatan dengannya memberi warna ilahi pada seluruh momen dan relasi manusia: “Shibghatallah, dan siapakah yang lebih baik warnanya daripada Allah?” Warna ilahi ini memudahkan urusan hidup dan menghilangkan berbagai hambatan. Sebaliknya, siapa yang berpaling dari petunjuk Alquran, hidupnya akan dipenuhi kesulitan.
Alquran adalah kitab yang hidup dan menghidupkan. Ia mengajak manusia menuju kehidupan sejati: “Dia menyeru kalian kepada sesuatu yang menghidupkan kalian.” Ia memiliki daya tarik laksana pusat magnet besar yang menarik para pembacanya. Kita hanya perlu menempatkan diri dalam pancaran daya tarik dan hujan kehidupan itu.
Amirul Mukminin, Ali ibn Abi Talib, bersabda: “Sesungguhnya Alquran memiliki lahir yang indah dan batin yang dalam.” Menyelaminya selalu menghadirkan makna baru. Imam Ja’far al-Shadiq juga menyatakan bahwa Alquran selalu baru di setiap zaman hingga hari kiamat.
Alquran adalah jamuan ilahi yang luas. Siapa pun, dengan kebutuhan dan selera apa pun, dapat mengambil manfaat darinya. Rasulullah saw bersabda: “Alquran adalah jamuan Allah, maka pelajarilah jamuan-Nya semampu kalian.” Siapa yang berakhlak dengan Alquran akan dihiasi sifat-sifat luhur; sebagaimana disebutkan tentang Nabi Muhammad saw bahwa akhlaknya adalah Alquran.
Ayatollah Bahjat juga berkata: “Ambillah dari Alquran apa yang kau inginkan untuk tujuan apa pun.” Obat setiap penyakit dan jawaban setiap persoalan ada di dalamnya.
Ayat Hari Ini
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf: 31)
Perbaikan pola konsumsi dan menghindari pemborosan adalah pilar masyarakat yang mandiri. Di tengah tantangan sumber daya seperti air dan listrik, ayat ini bukan sekadar perintah pribadi, tetapi prinsip untuk menetralisir tekanan ekonomi dan menjaga kemandirian. Pemborosan berarti melemahkan diri sendiri dan secara tak langsung membantu musuh.
Kalimat tegas “Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” menunjukkan bahwa menyia-nyiakan nikmat bukan hanya merugikan ekonomi dan keamanan masyarakat, tetapi juga menghilangkan cinta Allah—modal terbesar seorang mukmin. Perbaikan pola konsumsi, menjauhi gaya hidup mewah dan pemborosan, adalah faktor kemajuan, keadilan, dan kemandirian berkelanjutan.
Pemborosan yang Tersembunyi
Pemborosan paling berbahaya adalah yang tersembunyi dalam rutinitas kita: pakaian berlebih yang menumpuk di lemari; pesta mewah demi gengsi; membeli barang hanya demi mengikuti tren—semuanya bisa saja menjadi potongan rezeki yang seharusnya mengenyangkan orang miskin atau membuka jalan usaha bagi yang membutuhkan.
Uang yang dihabiskan untuk mengganti furnitur setiap tahun atau kemewahan tak berguna adalah “uang mati” yang bisa berubah menjadi “modal hidup”. Alih-alih pesta satu malam, uang itu bisa menjadi saham di pabrik, membuka usaha kecil, dan menciptakan lapangan kerja bagi beberapa pemuda.
Namun, apakah pemborosan hanya soal uang dan barang? Apakah berjam-jam berselancar tanpa tujuan di media sosial dan tenggelam dalam konten dangkal bukan bentuk menyia-nyiakan nikmat tak tergantikan bernama “waktu”? Bukankah tenggelam dalam iri, dengki, atau keterikatan berlebihan juga pemborosan atas “modal emosi”? Inilah pemborosan tersembunyi yang lebih berbahaya karena sering tidak terasa sebagai dosa.
Mengapa kita tidak boleh berlebihan? Karena Allah berfirman: “Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Bagi orang yang mencintai Tuhan, kalimat “Aku tidak menyukai perbuatan itu” sudah cukup menjadi alasan untuk meninggalkannya.
Teladan Kesederhanaan
Kesederhanaan Ruhollah Khomeini bukan sekadar slogan. Dikisahkan bahwa beliau tidak membuang setengah gelas air yang tersisa, melainkan menyimpannya untuk digunakan kembali. Kertas yang masih bisa dipakai tidak dibuang. Bahkan saat berwudu, keran air ditutup di sela-sela gerakan agar tak setetes pun terbuang. Bagi beliau, setiap tetes air dan setiap lembar kertas adalah amanah ilahi yang harus dipertanggungjawabkan.
Praktik Nyata
Pertama, bentuk kelompok di sekolah untuk mengumpulkan kertas bekas. Hasil penjualannya bisa dipakai memperbaiki keran air yang bocor.
Kedua, saat menjamu tamu, tak perlu berlebihan. Satu menu berkualitas cukup lebih baik daripada tiga menu yang berakhir terbuang.
Ketiga, batasi waktu tanpa tujuan di media sosial dan beri misi jelas pada setiap jam harian.
Keempat, belanja dengan daftar agar makanan tidak terbuang percuma.
Kelima, kelola makanan berlebih saat acara keagamaan agar segera dibagikan secara layak kepada keluarga yang membutuhkan.
Renungan
Di manakah batas antara “kenyamanan dan kenikmatan yang halal” dengan “pemborosan dan kemewahan yang tercela”? (*)
Sumber: Mehr News








